
Andre mengajak Chika dan Ara berbicara, dia ingin membicarakan tentang pertunangan Narendra sama Ara.
"Ada apa pi" tanya Chika ketika melihat wajah serius suaminya.
Andre mengambil nafas dalam lalu menghembuskannya, sebenarnya Andre belum siap membahas masalah ini dengan keluarganya.
"Ada yang ingin papi bicarakan sama kamu mah" jawab Andre.
"Tentang apa pi? apakah ini masalah serius?" tanya Chika dengan muka yang terlihat sedikit cemas.
"Ini sangat serius mih, lebih serius dari jatah bulanan mami" timpal Ara asal, sehingga Chika melemparkan bantal sofa ke arah putrinya.
Ara cekikikan melihat wajah kesal maminya, ia sudah bisa menebak kalau papi nya mau membicarakan masalah pertunangannya dengan sang kekasih.
"Diam Ra! papi mau ngomong" tegas Andre, seketika Ara langsung menghentikan tawanya.
Ara dan Chika memperhatikan Andre denagn seksama, mereka berdua menunggu sang kepala keluarga berbicara.
"Raka memintaku untuk merestui pertunangan Ara dan Narendra" ucap Andre.
"Lalu apa masalahnya" sahut Chika mengeryitkan dahinya. "Bukannya itu bagus pi, dengan begitu mami dan Alana bakal jadi besan" lanjutnya mendukung pertunangan putrinya dengan putra sahabatnya.
Andre menjatuhkan rahangnya mendengar respon istrinya, ia tak habis pikir dengan jalan pikiran istrinya yang ternyata berbanding balik dengan dirinya.
"Tuh denger kata mami, pi, tidak masalah Ara bertunangan sekarang juga, toh jodohnya kan jelas" ujar Ara.
Dahlah, kalau sudah begini Andre bisa apa? mau tak mau dia terpaksa merestuinya, dia tak akan menang melawan istri serta putrinya itu.
"Papi akan merestuimu bertunangan dengan Narendra, tapi papi minta kamu tak akan pernah mengabaikan pendidikanmu. Kamu putri sulung papi, papi berharap banyak sama kamu, ngerti?!" tegas Andre.
"Siap pih" jawaban Ara tak kalah tegas dengan papinya.
__ADS_1
"Terus kapan pesta pertunangannya akan di selenggarakan pi" tanya Ara tidak sabaran
"Kamu ini jadi perempuan kenapa tidak sabaran banget sih Ra. Minimal jual mahal dikit lah" sahut Chika kesal dengan putrinya.
"Jangan terlalu jual mahal mih, nanti kalau lakinya kabur bagaimana, Ara harus bisa mempertahankan milik Ara supaya tidak di ambil sama boneka Anabell" seru Ara.
Ara berpikir kalau statusnya sudah berubah menjadi tunangan Narendra, Bella tidak berani lagi mengganggu hubungannya dengan Narendra.
Ara tidak tahu aja kalau jaman sekarang banyak pelakor, jangankan tunangan, yang sudah nikah aja bisa di rebut sama pelakor.
Sementara di keluarga Wijaya mereka juga sedang membahas masalah yang sama.
"Kapan papah akan datang ke rumah om Andre pah" tanya Narendra tak sabaran sama seperti Ara.
"Laki sama perempuannya sama aja, sama-sama ngebet pingin nikah" cibir Nayla.
"Biarin aja, dari pada lo tidak laku, cantik doang tapi masih jomblo" balas Narendra.
"Ternyata kulkas 2 pintu sudah bernar-benar mencair, inikah yang di namakan the power of love" cicit Nayla sambil mengeleng gelengkan kepalanya.
PLETAKK...
Narendra mwnjitak kepala kembarannya.
"Haiss... sakit tau bang, ini kepala di fitrahin kenapa main jitak-jitak aja sih" gerutu Nayla sambil mengusap usap kepalanya yang terasa sakit.
"Besok papah akan tanyakan sama om Andre dulu son, apakah dia sudah merestui pertunangan kalian atau belum" ucap Raka melerai pertengkaran kedua anaknya.
"Memangnya om Andre tidak merestui hubunganku sama Ara pah" tanya Narendra sedikit panik.
"Om Andre hanya takut dengan masa depan Ara, ia masih ingin melihat putrinya melanjutkan pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi." jawab Raka.
__ADS_1
Narendra mengangguk paham.
🍀🍀🍀
"Pah gimana dengan om Raka? apa dia mau menerima perjodohanku dengan Narendra atau tidak" tanya Bella kepada papahnya.
"Mending kamu cari laki-laki yang bisa mencintai dan menerimamu apa adanya Bella. Pasalnya Raka Wijaya bukanlah orang yang mudah di bujuk, kecuali kalau Narendra memang menyukaimu maka keluarga Wijaya dengan senang hati akan menerimamu" sahut Seno yang sudah lelah mengikuti keinginan putrinya.
Seno tak ingin ambil resiko, karena keluarga Wijaya bukan tandingannya.
"Kenapa papah menyerah, kalau Bella jadi menikah dengan Narendra yang beruntung bukan hanya Bella, melainkan keluarga ini juga" kekeuh Bella keras kepala.
"Bukan masalah untung dan rugi Bella. Masalahnya karir dan perusahaan papah akan di pertaruhkan, jika kita terus memaksa keluarga Wijaya dan membuat mereka marah maka dengan sekali jentikan jari kita bisa jadi gembel saat itu juga," sahut Seno.
"Kalau begitu biar Bella usaha sendiri, tapi kalau nanti Bella berhasil meyakinkan keluarga itu jangan sekali pun papah mengakui Bella sebagai anak lagi" ucap Bella susah di kasih tahu.
Kemudian Bella pergi ke kamarnya meninggalkan kedua orang tuanya di ruang keluarga.
Seno menghela nafas sabar, inikah hasil dari didikannya yang terlalu memanjakan putrinya, sehingga putrinya itu menjadi keras kepala dan harus mendapatkan apa yang dia mau. Karena sebelumnya Seno dan istrinya selalu menuruti kemauan putrinya, maklum sjaa karena Bella putri satu-satunya mereka.
"Bagaimana ini mah" tanya Seno kepada istrinya.
"Ini salah kita yang selalu memanjakannya pah, sehingga membuat dia tumbuh menjadi gadis yang keras kepala dan sulit untuk di kasih tahu" sahut istri Seno.
"Tapi ini yang ia hadapi tuan Raka mah, setahuku tuan Raka bukan orang yang murah hati, dia tak pandang bulu dalam menghukum seseorang. Aku takut terjaid sesuatu dengan putri kita nanti mah" ucap Seno sambil menghela nafas pelan.
"Biarin saja pah, kita sudah memperingatinya namun dia maish saja keras kepala" sahut istri Seno tak mau ambil pusing.
Yang terpenting mereka sudah menasihati putrinya.
Bersambung
__ADS_1
Happy reading guys 🙏