Gadis Barbar Dan Pria Kaku

Gadis Barbar Dan Pria Kaku
BAB 27


__ADS_3

"Bolos yuk, gue males ikut pelajaran matematika" ajak Ara.


"Bolos kemana?" tanya Marissa.


"Kemana aja lah, nonton juga boleh" sahut Ara.


"Kau mau ikut ngga Ciel?" tawar Marissa.


"Gue ngikutlah, males juga di kelas kalau tidak ada kalian, pasti nanti akan sepi" sahut Aciel.


Dari dulu Ara paling males sama pelajaran matematika, dia sering bolos pelajaran tersebut, biasanya dia akan ke kantin atau ngga cabut dari sekolah.


"Gakeun guys"


Mereka beranjak dari kantin setelah itu pergi ke kelasnya untuk mengambil tasnya.


"Kita lewat mana woy? tidak mungkin bawa mobil kan, yang ada nanti ketahuan sama pihak sekolah" tanya Aciel sambil mengambil tasnya yang ada di atas mejanya.


"Kau tenang aja Ciel, gue punya pintu rahasia yang biasa kita lewatin untuk bolos" Sahut Ara.


Aciel menggeleng, dia tak menyangka punya teman perempuan yang barbar seperti mereka, ternyata Ara dan kedua temannya tak sesuai dengan pemikirannya, awalnya Aciel sempat ragu berteman dengan mereka, Karena dia males kalau nemu perempuan modelan menye-menye gitu. Tapi ternyata Ara dan kedua temannya berbeda, bahkan sifat mereka hampir sama dengan dirinya yang sering membuat ulah.


Ara melempar tasnya keluar lewat jendela kelas, begitu juga dengan yang lain, mereka mengikuti cara Ara.


"Ras, nanti kalau ada guru bilang saja kita sedang di uks ya, kita mau bolos...males gue ikut pelajaran matematika" pesan Ara kepada Rasya sang ketua kelas.


"Beres, aman sama gue" sahut Rasya.


Ara mengangguk, setelah itu ia melompat keluar lewat jendela, beruntung kelas Ara ada di lantai dasar, jadi tak membuat mereka patah tulang.


Aciel, Marissa dan Indri pun ikut melompat menyusul Ara.


Usai semuanya melompat, mereka mengendap-endap menuju ke belakang sekolah, Ara berjalan paling depan memimpin ketiga temannya sambil menggendong tas dipunggungnya.


Di belakang sekolah terdapat taman dan di situ ada sebuah dinding berlubang yang tembus ke jalan raya, Ara menutupnya dengan mengunakan tumpukan rumput dan sembarang kayu, Ara sengaja menutupinya agar tak terlihat oleh pihak sekolah.


"Ciel cepat bantu gue singkirkan ini semua" pinta Ara sembari menyingkirkan beberapa tumpukan rumput yang menutupi lubang tersebut.


Aceil pun dengan sigap langsung membantu Ara, tak Ketinggalan Marissa da Indri juga ikut membantunya, mereka bekerjasama agar cepat selesai.


"Sudah, ayo cepat lo keluar dulu Mar, ntar gue belakangan" titah Ara.


Marissa mengangguk, dia keluar dari lubang itu sambil membungkukan badannya, di susul dengan Indri dan Aciel.


Kini giliran Ara yang hendak melewati lubang tersebut.


"Khemm" dehem Narendra sambil menahan tas Ara supaya berhenti.

__ADS_1


Ada suara dehem yang membuat langkah Ara terhenti. Dengan keringat dingin Ara mencoba memberanikan diri untuk menoleh melihat tersebut.


Dengan perasaan campur aduk Ara mulai membalikan tubuhnya.


"Eh, bang Narend"


"Mau kemana kamu"


"Mau bolos, abang mau ikut?" jawab Ara justru menawari Narendra untuk ikut.


"Masuk kelas sekarang, atau abang akan adukan sama aunty Chika" titah Narendra memberikan ancaman kepada Ara.


Ara mengendikkan bahunya tak menjawab, setelah itu ia menepis tangan Narendra dari tasnya.


Setelah tangan Narendra terlepas Ara langsung berlari melewati lubang tersebut.


"Aduin aja Ara tidak takut," teriaknya dari balik dinding.


Narendra menghembuskan nafas panjang, ternyata ancamannya tidak membuat Ara takut.


Habis keluar dari kamar mandi Narendra tak sengaja melihat Ara dan ketiga temannya berjalan sambil mengendap endap, ia yang merasa curiga akhirnya diam-diam Naredra mengikutinya hingga ke belakang sekolah. Dan ternyata dugaannya benar kalau mereka ingin bolos sekolah.


*


"Cepat Ra, gue udah pesan taksi online ini" teriak Indri kepada Ara yang sejak tadi baru keluar.


"Hah? terus gimana kalau dia aduin ke nyokap lo". ucap Indri kaget.


"Tidak mungkin, gue tahu mulut bang Narend tidak ember" sanggah Ara.


Ara tahu, kalau tadi ucapan Narendra tidak beneran, dia hanya menggertak dirinya saja.


"Cepetan woy, ini taksinya sudah nungguin" teriak Marissa dari dalam mobil.


Ara dan Indri pun segera masuk menyusul Marissa dan Aciel yang sudah lebih dulu masuk kedalam mobil.


Setelah masuk semua akhirnya taksi yang mereka tumpangi melaju meninggalkan sekolah mereka. Taksi itu meluncur menuju ke sebuah Mall yang ada di kota tersebut.


Sampai di Mall mereka berempat langsung masuk kedalam. Mereka semua memakai jaket untuk menutupi seragamnya.


"Kita mau nonton film apa nih?" tanya Ara.


"Film komedi saja Ra," sahut Indri.


"Kalian bagaimana?" tanya Ara kepada Aciel dan Indri.


"Kita ngikut aja, tak apa nonton komedi juga, biar stress kita hilang" sahut Indri mewakili.

__ADS_1


Akhirnya Ara membeli tiket untuk mereka, berhubung masih jam sekolah jadi antriannya tidak terlalu panjang.


Sedangkan Indri dan Aciel mereka berdua antri membeli cemilan untuk mereka berempat.


Usai itu mereka berempat langsung masuk kedalam studio theater untuk menonton.


Hampir dua jam lebih akhirnya mereka keluar dari studio.


"Kemana lagi nih Ra?" tanya Aciel.


Ara melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ternyata waktu belum menunjukkan jam pulang sekolah.


"Kita makan dulu lah, setelah itu baru kita ajak lo ketempat lain" sahut Ara.


"Baiklah, ayo" kata Aciel, dia ingin tahu tempat seperti apa yang ingin Ara tujukan kepadanya.


Mereka memasuki ke sebuah restoran yang ada di mall itu, mereka masuk ke restoran dan memesan menu yang mereka inginkan.


Hingga tak lama makanan yang mereka pesan datang, mereka sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya di sela-sela obrolannya.


Butuh lima belas menit akhirnya makanan yang mereka pesan habis.


Mereka keluar dari Mall, lalu naik taksi untuk menuju ke tempat lain.


"Stop, kita turun di sini aja pak" kata Ara sambil menyodorkan beberapa tiga lembar uang puluhan kepada sang sopir.


Sopir menghentikan taksinya di dekat lampu merah yang biasa Ara datangi berasam kedua sahabatnya.


"Kita ngapain di lampu merah Ra?" tanya Aciel bingung.


Ini baru pertama kali Aciel jalan bersama Ara dan kedua temannya, sebelumnya ia belum pernah, ia hanya antar jemput Ara sekolah doang dulu.


"Ngamen Ciel" sahut Ara nyleneh.


"Hah? serius lo?" kaget Aciel.


Mereka bertiga kompak menganggukkan kepalanya.


Membuat Aciel tak habis pikir dengan mereka bertiga, bukankah mereka berasal dari kalangan berada, lalu ngapain ngamen di lampu merah, bukankah tadi mereka juga bisa bayar taksi dan bayar tiket nonton, pikir Aciel bertanya-tanya.


Mereka naik taksi, makan,,nonton, tidak satu orang yang bayar, tapi mereka berempat patungan.


Bersambung.


Maaf baru muncul guys, bulan ini bakal rutin, karena gara-gara bulan kemarin jarang up membuat level nya turun.


Happy reading guys 🙏

__ADS_1


__ADS_2