Gadis Barbar Dan Pria Kaku

Gadis Barbar Dan Pria Kaku
BAB 6


__ADS_3

Bella berdiri dengan wajah menunduk karena malu, dia merasa di pecundangi oleh adik kelas. Malu? Tentu saja, Bella yang angkuh dan sombong kini malah tersungkur karena ulah Ara hingga dirinya jadi bahan tertawaan semua pengunjung yang ada di kantin.


"Kamu tak apa Bell" tanya Stevi seraya memegang semangkuk bakso yang baru saja ia beli.


Bella tak menjawab ucapan Stevi, dia mengambil bakso milik Stevi lalu berjalan mendekati Ara yang masih tertawa bersama teman-temannya. Ara tak menyadari kala ada bahaya yang sedang mengintainya.


"Ara awass...." teriak Nayla yang melihat Bella ingin menyiram Ara dengan semangkok bakso yang masih terlihat panas.


Byurrr.....


Ara memejamkan matanya, namun dia tak merasakan sesuatu yang menimpa dirinya, tak lama Ara membuka matanya, dia baru menyadari kalau ada seseorang yang memeluk dirinya.


"Abang" ucap Ara sambil mendongakkan wajahnya keatas melihat seorang pria hyang sedang memeluknya seraya menahan sakit di punggungnya.


"Lain kali hati-hati, tetap waspada jangan sampai lengah" ucap Narendra dengan wajah datarnya sambil melerai pelukannya. Ara mengangguk kecil seperti sedang terhipnotis.


Sedangkan Bella menutup mulutnya shock, dia tak menyangka kalau Narendra akan menyelamatkan Ara musuhnya. Bahkan posisi Narendra begitu intim memeluk tubuh Ara.


Narendra menoleh menatap Bella dengan tatapan tajam dan dingin, suasana kantin berupah mencekam.


Bella menelan salivanya melihat aura yang di keluarkan oleh Narendra.


"Berhenti membuat ulah" ucap Narendra dingin. Setelah itu dia pergi meninggalkan kantin menuju ke uks.


Nayla mengikuti kembarannya menuju kelas, dia yakin kalau punggung Narendra terluka akibat kuah panas bakso yang di siramkan oleh Bella.


Sedangkan Ara masih diam terpaku di mejanya, dia tak menyangka Narendra akan menyelamatkan dirinya, bahkan pria kaku itu rela memberikan tubuhnya untuk temeng Ara supaya tidak tersiram kuah panas itu.


"Ra, lo harus kejar kak Narend, punggungnya pasti terluka itu" ucap Marissa menyadarkan lamunan Ara.


"Hah? Bagaimana bisa" ucap Ara tak sadar.


"Ya bisalah, jelas-jelas tadi dia menyelamatkan lo dari Bella" kesal Indri.


"Dasar boneka Anabel, selalu saja membuat ulah" gerutu Ara sambil bangkit dari tempat duduknya.


"Lo mau kemana Ra" tanya Indri.


"Kata kalian gue suruh kejar abang Narend, gimana sih" jawab Ara kesal, Indri sama Marissa terkekeh.


Ara dengan sengaja menyenggol bahu Bella kasar, setelah itu dia pergi dari kantin untuk mencari keberadaan Narendra.


Ara mencoba mencari ke kelasnya, namun dia tak mendapati Narendra di kelas.


"Gimana Ra" tanya Indri ketika melihat Ara keluar dari dalam kelas Narendra.


"Tidak ada" jawab Ara bingung.


"Coba saja lo cari dia di uks, siapa tahu dia ada di sana" saran Marissa.


"Ok deh, gue coba cari kesana, bisa berabe kalak kesayangan aunty Alana kenapa-kenapa" ucap Ara berucap lirih di akhir kalimat.

__ADS_1


Ara beralih menuju ke uks.


"Awww...pelan Nay sakit" ringis Narendra ketika Nayla mengolesi salep ke punggungnya yang memerah.


"Lagian sok jagoan banget jadi orang, itu tuh kuah bakso ya bang, bukan kuah es cendol" omel Nayla.


"Biarin aja, daripada Ara yang kena" sahut Narendra cuek.


"Ya kan ada cara lain menyelamatkan Ara, gak harus badan abang yang di jadikan temeng, berasa punggung sekuat baja kali" omelnya.


Dari dalam uks terdengar suara Nayla yang sedang memarahi Narendra, Ara jadi merasa bersalah dengan mereka. Ara masuk menghampiri Twins.


"Bang, maafin Ara ya" ucap Ara dengan nada sesal.


Narendra dan Nayla menoleh mendengar suara Ara yang minta maaf.


"Tak masalah" cuma itu yang keluar dari mulut Narendra.


Plakkk


Nayla memukul lengan Narendra kesal.


"Ngga usah sok cool di depan Ara, tadi aja abang merintih kesakitan" kesal Nayla.


"Apa lukanya parah kak" tanya Ara.


"Tidak, hanya merah saja Ra" jawab Nayla sambil tersenyum.


"Tidak perlu Ara, biarin aja...lagian salah abang sendiri, siapa suruh menjadikan punggungnya sebagai temeng, begini kan hasilnya." tolak Nayla.


"Tapi kan abang Narend seperti itu karena nylametin Ara" kekeuh Ara khawatir dan merasa tak enak juga


"Tak usah, sebentar lagi juga sembuh, lain kali hati-hati" ucap Narendra sambil memakai seragamnya yang baru.


Narendra turun dari atas ranjang, kemudian ia keluar dari uks meninggalkan Ara dan Nayla yang masih di dalam, Narendra memilih kembali ke kelasnya.


"Sudah tak apa, lebih baik kita sekarang kembali ke kelas" Saran Nayla. Ara pun mengangguk.


Ara dan Nayla menyusul Narendra kembali ke kelasnya masing-masing, mereka mulai mengikuti pelajaran kembali.


Tak lama waktu pelajaran terakhir pun berakhir, bel pulang sekolah pun berbunyi, tanda jam sekolah telah usai.


Semua murid berbondong bondong keluar dari dalam kelas.


"Ra, jalan yuk" aja Marissa.


"Kemana?" tanya Ara.


"Ke sirkuit aja gimana? sudah lama kita tidak balapan" usul Marissa.


"Sepertinya idemu tidak terlalu buruk, yuklah gaskeun" ajak Ara.

__ADS_1


"Tapi bagaimana dengan mata-mata papi lo itu Ra" tanya Indri.


"Kita harus bisa mengecohnya, usahakan jangan sampai mereka tahu kemana kita akan pergi" jawab Ara.


"Kita ketemu di tempat saja, gue akan mencoba mengalihkan mata-mata suruhan papi lo itu" ucap Marissa, "Lebih baik kita tukeran motor saja Ra" usul Marissa.


Ara dan Indri setuju dengan ide Marissa, Ara memberikan kuncinya kepada Marissa begitu juga sebaliknya, tak lupa Ara dan Marissa juga slaing bertukar jaket supaya lebih meyakinkan.


Ara dan Marissa serta Indri menuju ke parkiran untuk mengambil motornya.


Ara dan kedua temannya terkadang ikut balap liar, akan tetapi semenjak Ara ketahuan oleh ayahnya mereka berhenti ikut balapan, karena Andre memantau setiap pergerakan Ara.


"Lo hati-hati Mar, nanti kalau ada apa-apa lo langsung hubungin kita" ucap Ara perhatian. Marissa mengangguk dan tersenyum di balik helm full face nya.


Mereka keluar dari gerbang sekolah secara bersamaan, dari kejauhan bodyguard bayangan Ara langsung mengikuti pergerakan nonanya itu.


Bukan posesif, Andre hanya tak mau putrinya itu bertingkah terlalu jauh lagi, apa lagi Ara seorang perempuan, Andre takut kalau sampai terjadi sesuatu kepada putri sulungnya itu.


Pasalnya Ara menyukai hal-hal yang berbau tantangan, makanya Andre selalu khawatir.


Di persimpangan motor Ara yang di tumpangi Ara berbelok ke lain arah, tentu saja bodyguar Ara akan mengikuti motor Ara, meskipun dia tidak tahi siapa yang mengenderainya.


Marissa menaiki motor Ara dengan kecepatan penuh, Marisaa menyalip semua kendaraan yang menghalanginya.


Bersambung



Visual Ara



Visual Narendra



Visual Nayla


(Kalau tidak cocok, coba kasih saran untuk visul mereka guys🙏)


Jangan lupa


Like


Koment


Vote


Gift🙏


Follow

__ADS_1


Happy reading guys🙏💕


__ADS_2