Gadis Barbar Dan Pria Kaku

Gadis Barbar Dan Pria Kaku
BAB 15


__ADS_3

Keesokan paginya, Ara terbangun dari tidur nyenyaknya, dia merasa terusik dengan cahaya matahari yang masuk kedalam dari celah jendela kamarnya.


Ara membuka matanya lalu merenggangkan otot tubuhnya yang merasa pegel.


Ara bangun lalu mendudukan tubuh nya sambil bersandar di sandaran ranjang.


"Haisss... mau kencing aja susah, mana masih sakit lagi nih kaki" keluh Ara yang masih merasakan sakit di kakinya.


Dengan hati-hati Ara turun dari atas ranjang. Ara melangkah ke kamar mandi dengan satu kakinya seraya berpegangan dinding. Karena kakinya yang kesleo masih terasa sakit untuk menapak.


Ara sekalian membersihkan tubuhnya, ia hari ini tetap akan masuk ke sekolah.


Ceklek


Chika masuk ke kamar putrinya sambil membawa tongkat alat bantu Ara untuk berjalan.


Dia mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.


Chika duduk di tepi ranjang sambil menunggu putrinya keluar dari dalam kamar mandi.


Lima belas menit kemudian, Ara keluar dari kamar mandi sambil berpegangan pada dinding.


Chika yang melihatnya. langsung berdiri dan berjalan mendekati putrinya.


Chika memapah Ara sampai ke tempat tidur, lalu mendudukan Ara di tepi ranjang.


"Mi tolong ambilkan baju seragam Ara dong" pinta Ara.


Chika mendelik mendengar peemintaan putrinya, bukan Chika tak mau ambilkan seragamnya.


Tapi Chika tak habis pikir dengan pemikiran putrinya itu, sudah tahu masih sakih, masih saja memaksakan untuk masuk sekolah.


"Kamu masih sakit Ara, kamu istirahat dulu aja di rumah sampai kaki kamu sembuh" larang Chika.


"Tapi Ara bosen kalau di kamar terus mi, Ara lebih suka sekolah banyaj temannya" rengek Ara.


"Jangan keras kepala Ara, kaki kamu buat jalan aja belum bisa, terus kamu mau sekolah pakai apa" omel Chika.


"Kan Ara bisa pakai tongkat, atau ngga pakai kursi roda" sahut Ara kekeuh.


Chika menghela nafas sabar.


"Terserah kamu lah" ucao Chika pasrah.

__ADS_1


"Tapi ingat! jangan mengeluh sakit sama mami, karena itu kesalahan kamu sendiri, mami sudah menyuruh kamu untuk istirahat, tamu kamu sendiri yang menolaknya" peringat Chika kepada putrinya.


"Iya-iya mi, Ara tidak akan mengeluh sama mami" sahut Ara sambil mengerucutkan bibirnya.


Chika mengambilkan seragam Ara di walk in closet, lali membawanya kepada Ara.


Kemudia ia membantu putrinya memakai seragamnya, dan juga membantu merapihkan rambut putrinya.


Usai selesai semua Chika berjalan bersama Ara yang memakai tongkat turun ke bawah.


Terlihat di meja makan sudah ada Andre dan juga Shaka yang sedang duduk menunggu mereka berdua.


"Kenapa lama sekali" protes Shaka sambil mengerucutkan bibirnya.


"Kenapa harus menunggu kami, kalau sudah lapar ya tinggal makan saja dulu" ketus Ara.


"Shaka menunggu mami, bukan menunggu kakak" sahut Shaka.


Membuat Ara ingin meremas wajah adiknya yang menyebalka itu, namun ia urungkan, bisa-bisa nanti kena omel maminya.


"Dasar beban, sudah gedhe itu makan sendiri, masih aja minta di suapi" gerutu Ara sambil mengisi piringnya dengan nasi.


"Terserah Shaka, mami nya juga mau, Wleee" ejek Shaka.


"Ara, kamu yakin mau berangkat ke sekolah? apa tidak sebaiknya istirahat dulu di rumah sayang" tanya Andre khawatir.


"Tidak mau pi, Ara mau berangkat aja" rengek Ara.


"Yasudah, nanti kalau ada apa-apa langsung kabari papi" titah Andre.


Ara mengangguk patuh.


Mereka pun akhirnya mulai menyantap makanannya, setelah beberapa menit akhirnya mereka menyelesaikan sarapannya.


"Kamu mau bareng papi atau sama sopir sayang" tanya Andre kepada Ara.


"Ara pakai sopir aja pi," jawab Ara.


"Kamu ini selalu saja menolak, kalau papi antar ke sekolah." ucap Andre mendengus kesal.


"Biar orang tidak tahu kalau Ara putri papi" sahut Ara acuh.


Andre menghela nafas kasar, anak orang lain pasti dengan senang hati memamerkan orang tuanya terlebih kekayaannya, tapi putrinya sangat bertolak belakang.

__ADS_1


Dia selalu saja menyembunyikan identitasnya.


Ara berangkat ke sekolah dengan di antar sopirnya. setelah menemouh perjalanan selama kurang lebih satu jam, mobil yang Ara tumpangi tiba di sekolahan Ara.


Sopir sengaja memasukkan mobilnya sampai ke parkiran.


"Bisa tidak non" tanya sang sopir sambil menoleh ke arah belakang.


"Tolong bantu Ara turun aja pak, nanti biar Ara masuk kelas sendiri" sahut Ara.


Sang sopir pun keluar, lalu membukakan pintu untuk Ara. Setelah itu sang sopir membantu Ara turun dari mobil.


Tak lama datanglah Bella dan kedua temannya, mereka bertiga menggunakan satu mobil milik Silvy.


"Ck, ternyata anak sopir" ledek Bella setelah keluar dari mobil.


Ara merotasi bola matanya malas, masih pagi rivalnya sudah ngajak gelut aja.


"Bapak pulang aja, tak apa Ara bisa jalan sendiri" perintah Ara.


Sang sopir pun mengangguk, lalu masuj ke dalam mobil, setelah itu melajukannya meningglkan area sekolah.


Ara tak menggubris ucapan Bella, ia lebih memilih berjalan masuk ke kelas dengan menggunakan tongkatnya.


"Anak sopir aja belagu lo" teriak Bella mengatai Ara.


"Sudah ayo Bel masuk, percuma saja lo teriak-teriak, dia juga tak akan berani meladenimu" ucap Stevi.


Mereka akhirnya masuk juga, karena sebentar lagi guru akan masuk ke kelasnya.


Tak lama setelah pelajaran berlangsung, Ara, Marissa dan juga Indri di minta menghadap ke ruang kepala sekolah.


"Ada apaan dah gue di panggil ke ruang kepsek" kesal Ara.


"Apa lagi kalau bukan karena Anabell" sahut Indri.


"Lah gue kan korban, kenapa ikut di panggil juga, harusnya kepsek panggil putrinya sendiri bukan gue" ucap Ara tak terima.


Ara berjalan ke ruang kepsek dengan mulut yang tak berhenti ngdumal.


Bersambung


Happy reading guys🙏

__ADS_1


__ADS_2