
"Ayo semuanya kita makan malam dulu, setelah selesai baru kita lanjutkan lagi mengobrolnya" ajak Alana.
Alana mengajak mereka untuk segera makan malam, karena takut masakannya keburu dingin.
Mereka semua beranjak dari ruang tengah dan mengikuti Alana menuju ke ruang makan.
Di meja makan sudah tersusun rapih dengan beraneka jenis menu makanan.
Semua memilih mendudukan tubuhnya di kursi kosong.
"Silahkan di makan dan habiskan jangan malu-malu" Alana mempersilahkan kepada semua tamunya.
"Ara tidak malu tante, jadi nanti Ara akan menghabiskannya" sahut Ara tak punya rasa malu sedikitpun.
Semua tergelak kecuali Chika, dia malu dengan tingkah putrinya yang tak punya malu itu.
Chika memelototi Ara agar putrinya itu diam tak lagi bersuara.
Ara hanya mengendikkan bahu, dia mengisi piringnya dengan sedikit nasi tapi lauknya yang banyak.
Ara tak mau mengambil banyak nasi karena akan membuat perutnya cepat kenyang, hingga dia tidak bisa menikmati menu makanan yang lain.
Semua mulai menyantap makanannya, tak ada yang mengeluarkan suara sama sekali, di ruangan tersebut hanya ada bunyi suara dentingan sendok dan garpu yang saling bersahutan.
Tak lama mereka semua menyelesaikan acara makan malamnya.
Raka mengajak semuanya menuju ke ruang tengah untuk lanjut mengobrol.
"Saya sengaja mengajak kalian makan malam di sini untuk syukuran kelulusan mereka berdua, dan lusa Narendra akan terbang untuk melanjutkan pendidikannya ke inggris." ucap Raka.
Ara yang sedang memainkan ponselnya langsung mengangkat wajahnya ketika mendengar ucapan Raka kalau Narendra akan segera ke inggris.
"Kenapa tidak kuliah di sini Ka" tanya Alex.
"Tidak, aku ingin sekalian melatih dia mengurus perusahaan cabang yang ada di sana" sahut Raka di sambut anggukan oleh Alex.
__ADS_1
Menjadi satu-satunya penerus perusahaan Wijaya memang harus di persiapkan dengan matang, karena memimpin perusahaan besar seperti perusahaan Wijaya memang tidaklah mudah.
"Lalu Nayla akan meneruskan kemana" tanya Chika.
"Nayla tetap di sini tante, Nayla mau kuliah kedokteran tidak mau bisnis seperti bang Narend" ucap Nayla membuat Narendra menghela nafas panjang.
"Nayla tidak akan kemana mana, karena aku tidak akan membiarkan putriku kuliah di luar negeri. Dia akan tetap di sini dalam pantauanku" ucap Raka posesif.
Dia tak pernah mengijinkan putrinya hidup bebas di luaran sana, ia harus tetap dalam pantauan Raka, karena Raka takut putrinya akan terjerumus kepergaulan bebas.
"Dan aku juga tak mau jauh dari papa" ucap Nayla sambil memeluk sang papa.
Semua tersenyum melihat kedekatam mereka berdua, Raka memang terkenal posesif dengan sang putri.
"Lihatlah, bahkan suamiku lebih sayang dengan putrinya ketimbang dengan istrinya" timpal Alana membuat semuanya tertawa.
*
Ara beranjak dari sofa yang ia duduki, ia memilih ke halaman belakang memisahkan diri dari mereka.
Dia duduk di kursi santai yang ada di taman sambil menegadahkan wajahnya menatap bintang yang ada di langit.
"Kenapa duduk sendirian di sini hmm" ucap Narendra sambil mengusap pipi Ara.
"Ara bosen di dalam, makanya Ara memilih kesini" sahut Ara sambil mengeser tubuhnya dan membiarkan Narendra duduk di sebelahnya.
"Apa ada yang sedang kamu pikirkan? tentang keberangkatanku ke inggria mungkin" tanya Narendra.
Dia sengaja bertanya seperti itu, Narendra ingin memastikan perasaan Ara kepadanya sebelum keberangkatannya lusa.
"Itu kan sudah jadi keputusan abang dan keluarga abang, lalu Ara bisa apa?" sahut Ara sambil menoleh kesamping menatap Narendra.
Narendra memiringkan tubuhnya lalu memengang kedua tangan Ara.
"Ara Levina Ayyara Bastian aku mencintaimu dulu, sekarang, esok hari, maukah kau menungguku hingga kembali ke negara ini"
__ADS_1
Ara tak langsung menjawab, ia menundukkan wajahnya bingung. Sebenarnya Ara takut kalau Narendra hanya mempermainkannya.
"Kalau kau bingung, kau tak usah menjawabnya" ucap Narendra sambil tersenyum getir.
Ia bangun dari tempat duduknya dan ingin masuk kedalam rumahnya, tapi langkahnya terhenti karena mendengar ucapan Ara.
"Ara janji akan menunggu abang kembali" ucap Ara sambil menunduk.
Ucapan Ara membuat Narendra menoleh, ia melihat Ara menunduk mungkin karena malu.
Narendra tersenyum mendekati Ara, dia memegang dagu Ara dan mengangkatnya hingga membuat wajah Ara menatap dirinya.
"Ulangi sekali lagi yang kau ucapkan barusan Ara" pinta Narendra dengan wajah berbinar.
"Ara mau menunggu abang" lirih Ara.
Narendra langsung menarik tubuh Ara dan membawanya langsung kedalam pelukannya.
"Terima kasih, terima kasih sudah mau menunggu abang, abang janji akan menyelesaikan kuliah abang dengan cepat" ucap Narendra sambil menciumi puncak kepala Ara.
"Jaga hati abang, jangan sampai abang tergoda dengan wanita lain yang ada di sana, karena kalau itu terjadi berarti abang membuat penantian Ara menjadi sia-sia" peringatnya kepada Narendra.
"Iya sayang, abang janji akan menjaga hati abang" sahut Narendra.
Dari dalam rumah Chika dan Alana melihat keduanya sedang berpelukan.
"Sepertinya kita akan menjadi besan Chik" ucap Alana.
"Sepertinya memang begitu Al, aku sudah curiga dari awal ketika putramu selalu antar jemput Ara sekolah.
"Aku berharap meskipun jarak memisahkan mereka berdua, semoga mereka berdua akan tetap bersatu" Alana mendoakan hubungan keduanya.
"Amin" sahut Chika mengaminkan doa Alana.
Mereka hanya bisa berdoa yang terbaik untuk keduanya.
__ADS_1
Bersambung
Happy reading guys 🙏