Gadis Barbar Dan Pria Kaku

Gadis Barbar Dan Pria Kaku
BAB 13


__ADS_3

Tidak ada obrolan apapun antara Narendra dan Ara, di mobil itu hanya ada keheningan. Tapi Ara tak mau ambil pusing tentang itu, dia sudah hafal betul karakter Narendra.


Ketika di perjalanan tiba-tiba Ara merasakan perutnya lapar, dia lupa belum sempat makan siang setelah insiden yang menimpanya.


Ara memegangi perutnya sambil sesekali melirik ke arah Narendra yang masih fokus mengemudi.


"Kenapa" tanya Narendra yang kebetulan juga melirik ke arah Ara yang sedang memegangi perutnya.


"Ara lapar bang" cicitnya malu.


"Terus?" tanya Narendra.


"Terus, Ara minta makan abang," pekik Ara kesal. "Begitu saja tidak peka" sambung kesal.


"Kenapa tidak bilang dari tadi" ucap Narendra semakin membuat Ara emosi.


"Ini kan Ara bilang bang, lagian jadi cowok ngga peka banget sih" gerutu Ara.


"Mau makan apa?" tanya Narendra.


"Terserah" ketus Ara sambil membuang wajahnya ke samping, dia lebih memilih melihat keluar jendela, Dari pada meladeni Narendra.


Yang ada semakin membuat dirinya emosi, di tambah lagi dia lagi menahan sakit di kakinya.


Kebiasaan perempuan kalau di tanya mau makan apa selalu jawab terserah,😂


Narendra menghela nafas sabar, perempuan memang susah di mengerti apa lagi kalau sedang merajuk.


"Stopp" pekik Ara tiba-tiba.


Cittttt....


Narendra mengerem mendadak karena kaget mendengar teriakan Ara, udah dia berada pinggir jalan, kalau di tengah jalan sudah pasti akan di tabrak mobil dari belakang.


"Bisa tidak sih jangan mengagetkan, kalau di tabrak dari belakang bagaimana" Narendra memarahi Ara.


"Maaf, Ara hanya ingin membeli itu" ucap Ara sambil menunjuk warung nasi padang yang ada di pinggir jalan.


"Kamu ini kebiasaan ngomongnya mendadak" gerutu Narendra.


"Mau makan pakai lauk apa? biar aku saja yang keluar" imbuhnya bertanya pada Ara.


"Belikan Ara 25 bungkus nasi pakai lauk ayam" jawab Ara.


Narendra membulatkan matanya, ia tak percaya denagn permintaan Ara yang menurutnya sangat tak masuk akal, bagaimana mungkin badan sekecil Ara mau makan 25 bungkus nasi padang.

__ADS_1


"Kamu gak salah? " tanya Narendra memastikan.


"Tidak" jawab Ara singkat.


"Memangnya kamu habis 25 bungkus? " tanya nya lagi, Narendra tak mau kalau nasi itu tidak di habiskan dan akan membuatnya mubadzir.


"Udah beliin aja napa bang, kenapa banyak tanya sih" kesal Ara.


"Ok, tunggu di sini, awas saja kalau tidak di habiskan" ucap Narendra sambil memberikan ancaman kepada Ara.


Narendra keluar dari dalam mobil, lalu mulai berjalan dan melangkah menuju ke rumah makan tersebut.


Narendra membeli semua sesuai pesanan Ara, 25 bungkus nasi dengan lauk ayam.


Setelah semuanya selesai, Narendra kembali ke dalam mobilnya sambil membawa 2 kantong kresek hitam uang berisi bungkusan nasi di dalamnya.


"Ini" ucap Narendra sambil memberikan kantong kresek tersebut kepada Ara.


"Terima kasih abang" balas Ara seraya mengambil kresek dari tangan Narendra.


Ara tersenyum sumringah sambil membuka banyaknya nasi bungkus yang ada di dalam kresek.


"Abang mau tidak" tawar Ara kepada Narendra.


"Tidak, buat kamu aja semua" tolak Narendra.


"Yasudah, kita jalan lurus ke depan ya bang, nanti berhenti di setopan yang dekat bawah jembatan itu" pinta Ara seraya memberi petunjuk kepada Narendra.


"Mau ngapain ke jembatan, mau mulung kamu" tanya Narendra sedikit mengatai Ara. kalau lagi kesal, tanpa Narendra sadari dia akan sedikit banyak bicara.


"Tidak, tapi Ara mau ngemis" kesal Ara.


Narendra tersenyum tipis mendegar jawaban Ara yang menurutnya lucu di telinganya.


Meskipun kesal Narendra melajukan ke tempat yang di minta Ara.


Terlihat beberapa anak kecil sedang duduk sambil membawa kecrekan dan aqua gelas di tangannya. Mereka sedang menunggu lampu menyala merah untuk mengamen.


Narendra menghentikan mobilnya tepat di lampu merah, karena kebetulan juga lampunya sednag merah.


Terlihat semua anak mulai berdiri untuk mengamen, mereka mendekati mobil-mobil yang tengah berhenti sambil menyanyi, Ada juga yang mengemis.


Giliran mobil Narendra yang di ketuk oleh salah satu dari anak-anak tersebut.


Ara menurunkan kaca jendelanya, sambil tersenyum menatap anak tersebut.

__ADS_1


"Kak Ara" panggil anak tersebut yang memang sudah kenal Ara.


Tiap kali ada rejeki atau habis menang balap, Ara selalu memberikan hasilnya kepada mereka dalam bentuk nasi, atau alat tulis dan buku bacaan untuk mereka.


"Hai sayang, sudah makan belum" tanya Ara.


"Belum kak, masih belum cukup uangnya buat beli makan" jawab Anak tersebut sambil tersenyum.


Ara cukup salut di buatnya, meskipun anak itu sedang menahan lapar tapi dia tidak merengek kepadanya, justru dia masih bisa tersenyum di tengah kesulitannya.


"Ini buat kalian, bagi sama yang lain ya" ucap Ara sambil menyodorkan bungkusan plastik nasi jendela mobil, tak lupa Ara juga memberikan beberapa lembar uang merah kepada dia.


"Terima kasih kak, kak Ara tidak mampir" ucap Anak tersebut dengan mata berbinar, dia dan teman-temannya sudah sejak tadi menahan lapar, mau beli nasi tapi uangnya belum cukup.


Datangnya Ara bak super hero bagi mereka, karenanya mereka bisa makan.


Biasanya setiap pulang sekolah kalau melewati jalan itu Ara dan kedua temannya akan mampir sebentar, tak jarang mereka bertiga mengumpulkan sisa uang sakunya untuk membeli makan lalu di bagikan ke mereka.


"Lain kali saja, kaki kak Ara lagi sakit" tolak Ara lembut.


"Semoga cepat sembuh kak, sekali lagi terima kasih" Setelah mendoakan Ara dan mengucapkan terima kasih anak itu pergi menjauh dari mobil Ara, kebetulan lampu juga sudah hijau.


Ara mengangguk dan melambaikan tangan kepada anak itu.


Sejak tadi Narendra hanya diam sambil mengamati interaksi mereka.


Narendra semakin kagum dengan sosok Ara, tak banyak orang yang tahu, ternyata di balik sikap barbarnya Ara mempunyai jiwa peduli yang begitu besar.


Narendra bisa menebak dari komunikasi mereka berdua yang begitu akrab, menandakan kalau Ara sering mengunjungi mereka.


Bahkan putri sulung Andre dan juga Chika itu rela menyisihkan uang sakunya untuk berbagi dengan mereka.


Narendra juga bisa lihat dari kaca spionnya kalau anak itu sedang membagikan nasi yang di berikan Ara tadi kepada teman-temannya yang lain.


Narendra mendapat ilmu baru dari Ara, selama ini dia hanya fokus pada dunianya saja tanpa memperdulikan orang lain.


"Kenapa nasinya di kasih semua" tanya Narendra heran, pasalnya Ara tak menyisakan satu nasi pun untuk dirinya, padahal dia tadi bilang kalau dirinya lapar.


"Tidak apa, sebentar lagi kan sampai, Ara bisa makan di rumah" jawab Ara.


"Oh ya bang, maaf, uang Ara habis.. Ara ngutang dulu ya, besok Ara ganti uang abang yang tadi buat beli nasi" lanjutnya, Ara lupa kalau tadi membeli nasi pakai uang Narendra, dan sisa uangnya sudah ia kasih semua ke anak jalanan tadi.


"Tidak usah di ganti" sahut Narendra.


Bersambung

__ADS_1


Happy reading guys🙏


__ADS_2