
Ailin masih dengan wajah datarnya dan terus menatap ke luar jendela menghindari pria arogan itu.
"hey ada apa, kenapa kau diam saja, apa di luar sana ada yang lebih menarik dari wajah tampan ku ini?" ucap barra yang tanpa dosa membuat Ailin benar-benar kesal oleh pria itu.
Ailin sendiri memilih diam dan mengacuhkan pria itu dan terus memikirkan apa yang terjadi pada dirinya sendiri yang tak melakukan perlawanan pada barra tadi saat barra menggendongnya.
Bahkan Ailin tak bisa berbuat sesuatu untuk melawan pria itu, rasanya otak Ailin sudah penuh dengan pertanyaan. Dirinya yang terkenal tangguh dan pemberani, bahkan banyak pria Lain yang sudah dia kalahkan, tapi mendadak dirinya kalah dari pria di dekatnya ini.
****
Mobil barra sudah sampai di restorannya, dia segera turun dari mobil dan berniat membukakan Ailin pintu mobil tapi Ailin sudah lebih dulu keluar tanpa bicara segera menjauh dan meninggalkan barra. Namun belum sempat iya sampai di pintu masuk, barra mencekal tangannya dan membuat Ailin berhenti.
"lepas, dasar pria aneh!" seru ailin berusaha melepaskan diri dari tangan barra.
"tidak semudah itu nona, aku tidak akan melepaskan mu sebelum kamu berhenti dan mendengarkan ku" ucap barra.
Ailin memutar bola matanya malas, dia sebenarnya sungguh tak ingin menanggapi pria ini, tapi jika terus tak di pedulikan, pria itu akan tetap memaksanya dan akan membuat sesuatu yang pastinya membuat Ailin kesal, dengan malas Ailin pun menuruti ucapan barra.
"ada apa tuan Davindra barra Cristian" Ailin menekan ucapannya.
"nah kalau kau jadi penurut, kau sangat terlihat cantik" puji barra membuat Ailin semakin malas mendengar ucapan barra. Mungkin jika itu pujian untuk wanita lain, mereka akan melambung tinggi dan serasa seperti ratu, tapi ini adalah Ailin, yang setiap akan mendengarkan pujian dari mulut barra, akan membuatnya ingin sekali melenyapkan pria di depannya ini.
"bisakah kau tidak banyak basa-basi tuan" geram Ailin
"oke baiklah, mulai besok kau harus memanggilku sayang dan aku besok malam akan mengajakmu berpesta bersama di rumah keluarga rekan kerjaku, dan aku ingin membawamu pergi ke sana sebagai kekasih meski pura-pura dan kita bisa berdansa disana" seru barra.
__ADS_1
Ailin mengernyit mendengar ucapan barra, namun kemudian Ailin menatap pria itu kesal dan ingin sekali meninju wajah menyebalkan pria itu. Namun Ailin tak bisa bicara karna jika iya menolak dan memukul pria di depannya ini, sudah pasti pekerjaannya menjadi ancaman baginya.
Ailin memutar bola matanya malas.
"kalau aku tidak mau kau mau apa?" tanya Ailin memancing pria itu ingin mengatakan apa jika iya menolak ajakannya.
"tidak apa-apa jika kau tidak mau nona cantik, tapi ingat setelah kau menolak ajakan ku, kau akan menjadi sekertaris pribadiku, maka kita akan semakin dekat dan setiap hari kita akan bertemu" ucap enteng barra. Namun berbeda dengan Ailin, Ailin membelalakkan matanya mendengar ucapan pria itu, yang benar saja, jika aku menolak ajakannya, barra akan menjadikannya sekertaris pribadinya.
Yang artinya Ailin akan tetap berada di dekat barra setiap hari dan setiap detik, bahkan di luar pekerjaan Ailin akan tetap melayani barra. Tentu saja Ailin menolaknya, bagaimana bisa dia akan menjadi seorang sekertaris pribadi.
Jikapun dia akan menjadi sekertaris biasa, dia akan bekerja dan melayani bosnya saja di dalam kantor sedangkan di luar tidak.
Sungguh-sungguh membuat Ailin merasa geram dengan kelakuan pria ini yang benar-benar arogan sekali.
Ailin sudah tak punya pilihan, sebenarnya bisa saja Ailin menolak dan memukul pria tak tau malu ini, tapi selain pekerjannya terancam, dia juga tak mau menjadi sekertaris pribadinya. Dan Ailin pun setuju namun tetap dengan nada bicara yang tak ikhlas.
"Hem" begitulah jawaban Ailin membuat barra tersenyum puas dan seolah hatinya ingin berloncat-loncat seperti kodok saat ini.
"terimakasih baby, aku akan senang sekali berpesta dansa bersamamu" barra dengan genitnya menoel pipi Ailin dan Ailin pun menepis kasar tangan pria yang tengah merasakan cinta monyet itu.
Tepisan Ailin tak membuat barra tak berhenti tersenyum dan terus tersenyum lebar membuat Ailin semakin sebal, dan saat iya punya kesempatan untuk kabur dari pria itu saat barra sibuk dengan merentangkan tangan menikmati hatinya yang sedang berbunga-bunga.
Sedangkan barra belum mengetahui kalau Ailin sudah kabur dan meninggalkannya, hingga dalam beberapa menit, barra menoleh dan tak menemukan Ailin di sana, tapi karna hatinya terlanjur senang, diapun membiarkan Ailin pergi.
"biarlah yang penting dia mau di ajak pesta, oh sungguh ancaman yang sangat hebat untuk mengancam gadisku ini, sampai dia mau bersamaku pergi ke pesta itu" ucapnya lalu memasuki mobilnya sambil bersiul gembira dan tak hentinya tersenyum.
__ADS_1
Ailin sudah terlepas dari pria pemakasa itu, tapi dia juga masih kesal kenapa dia harus mengikuti ajakannya. Sebagai pria seperti barra pasti bukan hanya memiliki banyak teman dan rekan kerja biasa, mungkin pria arogan itu juga punya banyak pesaing yang akan hadir di tempat itu, karna memang perusahaan Cristian sangat berpengaruh di negara ini, oleh sebab itu tak akan ada yang barra tak kenal meski ada banyak pesaing-pesaing di bawah nya yang akan hadir di pesta nanti.
Ailin yakin untuk keputusannya meskipun dalam hati dia benar-benar menolak saat barra mengajaknya. Namun entah perasaan apa yang iya rasakan saat ini antara menolak atau menerima . Jika dia menerima, Ailin bukanlah siapa-siapa barra pikir Ailin. Namun jikapun dia menolak, ada sedikit perasaan yang tak baik saat pesta nanti yang akan barra hadiri.
Ailin juga heran kenapa dia bisa merasakan sesuatu perasan yang tak biasa seolah-olah ada sesuatu yang akan terjadi di pesta itu, sebab itulah Ailin menerima ajakan barra untuk mencari tau apakah perasaannya benar atau salah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
😘TBC
__ADS_1