Gadis Muda Yang Tangguh Milik Tuan Arogan

Gadis Muda Yang Tangguh Milik Tuan Arogan
Dasar pria mesum


__ADS_3

Selamat membaca


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ailin membuka matanya saat sinar matahari pagi menerpa wajahnya, iya menatap Seisi kamarnya dnegan mata masih mengantuk dan terlihat belum menyadari dengan siapa iya di sampingnya.


Melihat pergelangan tangan kekar di atas perutnya, Ailin menoleh ke samping kiri dan menemukan pria berparas tampan yang masih terlelap, terdengar dengkuran halus dari pria itu.


Hidung mancung, bibir merah dan juga jambang tipis menghiasi dagu seksi barra. Ailin melotot saat mengetahui dan menyadari apa yang terjadi dengannya tadi malam.


Ailin kemudian perlahan menurunkan tangan pri itu di perutnya dan memandang sejenak wajah yang masih terlelap itu.


Sedikit rasa penasaran pada hati Ailin dan kemudian mengulurkan tangan lentiknya pada bibir manis pria itu dan sedikit mengelus membuat sang empu terganggu namun tak bergerak ataupun membuka matanya.


Ailin terasa seperti gadis nakal saat ini yang dengan beraninya mengelus bibir seksi itu tanpa seizin sang empunya.


Namun saat tangan nakal itu ingin berhenti, tiba-tiba tangan kekar pria itu menariknya lagi kemudian mencium tangan Ailin.


"ternyata kau nakal juga ya" suara serak pria itu membuat Ailin menatapnya dan rona merah wajahnya terlihat lebih menggemaskan untuk barra.


"a-aku, aku hanya ingin membangunkan mu, ini sudah pagi dan kamu harus pulang, kasian mama dan papa pasti cari kamu" seru Ailin gugup dan memberikan alasan yang tentu membuat barra tersenyum. Mana mungkin kedua orang tuanya mencarinya sedangkan dia semalam telah menghubungi keduanya.


"Hem, kamu benar tapi aku tidak ingin pulang" seru barra membuat Ailin kembali menatapnya.


"hey, ini rumah siapa, dan kamu tidak berhak tinggal di sini tanpa seizin tuan rumah" seru Ailin.


"oke baiklah kalau aku perlu izin, aku akan menghubungi ayah Revan saja lalu meminta izin dan bilang kalau kamu tak mengizinkan aku tidur di sini"


Ailin melotot kan matanya, dan bibirnya bergerak-gerak memikirkan ucapan barra tadi.


Ailin tentu tak ingin melihat barra menghubungi ayahnya, bisa-bisa nanti dia ketahuan sedang bersama barra dan mungkin pria itu akan memberi tahu jika dia tidur bersama semalaman.


"stop, oke aku izinkan"


Ailin yang malas berdebat di pagi buta memutuskan untuk mengizinkan barra tinggal di sini. Dia pun segera melenggang pergi dan menuju kamar mandi untuk menghilangkan sakit kepalanya yang di buat oleh pria arogan itu barangkali kepalanya bisa dingin dengan guyuran air shower.


Barra yang mendengar ucapan kekasihnya tentu tersenyum lebar. Ini kesempatannya untuk selalu bersama dengan gadisnya.


Barra bangkit dari tidurnya dan meraih ponselnya di atas nakas lalu menekan nomor Jason untuk mengantarkan pakaiannya ke rumah Ailin karena semalam iya hanya mengenakan piyama tidur yang di berikan oleh Ailin yang pas di tubuhnya yang tinggi dan lebar itu.

__ADS_1


Tak berapa lama suara bel berbunyi, barra segera turun dari kamar Ailin menuju pintu masuk. Barra membuka pintu dan melihat Jason yang berdiri sambil menenteng sebuah paper bag di tangannya.


"tuan, ini semua yang tuan Pasan, di dalam juga ada sepatu tuan" seru Jason memberikan papar bag itu pada barra.


"Hem"


"tuan, apa tuan tidur di sini semalam, apa tun sudah mencobanya sebelum sah ya tuhan, tuan sangat berdosa" seru Jason yang mulutnya memang sangat lemes itu.


Duk


"aww ampun tuan jika saya salah bicara"


"ck,,,kau menuduhku seperti pria penjahat kelamin" seru barra menatap tajam Jason yang tengah kesakitan akibat sendal rumahan yang di gunakan barra memukul kepala Jason.


"ampun tuan, saya salah bicara, soalnya tuan hanya memakai piyama saja keluar kamar"


"memang kenapa kalau aku pakai piyama saja?" tanya barra.


"hehe tidak ada tuan, aku hanya bercanda" Jason nyengir kuda.


"bonus mu ku potong"


Duk dik Duk


Jason mengalihkan tatapannya dan mencoba lebih tenang berpikir bagaiman cara mengambil hati bosnya.


"apa tuan butuh sesuatu, aku akan pesankan makanan, dan tuan hari ini biar aku saja yang mewakili tuan rapat dengan kolega bisnis lokal kita" seru Jason


"bonus mu ku potong"


glek


Bagi Jason, memotong bonusnya adalah suatu musibah yang sangat besar, tapi iya tak berani berbuat apa, memang dirinya yang salah bicara dia berulang kali menampar mulutnya yang seperti emak-emak penggosip.


"baiklah tuan saya permisi" seru Jason yang tak bersemangat lalu berbalik pergi setelah berpamitan.


"Hem"


Barra mana mungkin tega memotong bonus asistennya ini, Jason adalah asisten yang sangat gercep, dia akan selalu ada saat barra membutuhkan sesuatu, namun gertakan barra adalah sebuah candaan semata.


"huh, dasar bos galak, dia selalu saja mengancam" jason menggerutu kesal karena selalu di ancam bahkan tak segan bonusnya di potong barra namun nyatanya tidak pernah. Mana mungkin barra memotong bonus hanya gara-gara Maslah kecil, namun barra senang dengan asistennya yang penurut dan penakut di depannya itu namun masih selalu siap melayaninya dari pagi hingga pagi lagi.


"kau mengumpat ku" suara dingin dan tegas itu seolah menyapu telinga Jason membuat atmosfer manjadi dingin dan menyeramkan.


"ma-mana be-berani aku mengumpat mu tuan muda, saya hanya memikirkan sesuatu" Jason berbalik dan berbicara terputus-putus takut akan suasana menjadi menyeramkan.


"baiklah tuan, saya permisi jika ada yang tuan perlukan segara hubungi Jason Greyson" seru Jason yang membentuk tangannya hormat lalu mundur dan dalam sekejap lari sekuat tenaga takut mendengar ucapan barra yang akan segera memotong bonusnya, dia pun segera menghilang di balik pintu gerbang.


Barra yang melihat tingkah asisten nya, menggelengkan kepala dan sedikit tertawa melihat tingkah Jason yang penakut di depannya namun ketika dalam keadaan serius dan menghadapi musuhnya, dialah yang paling pertama mengorek dan menghabisi lawannya. Jason akan mencari informasi lawan dan menghabisi tanpa sisa. Seperti itulah Jason.


Di kamar


Ailin sudah keluar dari kamar mandi dan menuju ruang ganti, namun iya tak melihat siapapun di dalam kamarnya, dia berpikir jika pria itu sudah pulang tapi dia salah, justru Jason masih ada dirumahnya.


Dengan hanya menggunakan handuk sebatas dada, Ailin menuju ruang ganti dan untuk mencari pakaiannya. Namun sebelumnya dia melihat dirinya di pantulan cermin yang ada di meja riasnya.


Dikala dia menatap dirinya di cermin, dia sungguh terkejut melihat seseorang yang juga menatap ke arah cermin itu.


Spontan Ailin membalikkan tubuhnya dan melihat siapa yang ada di belakangnya. Barra membeku dan darahnya berdesir melihat pemandngan di depannya ini.

__ADS_1


Ailin tak sadar dengan keadaannya, dia juga ikut terdiam di tempat melihat barra yang tengah menatapnya dengan tatapan yang aneh.


Ailin baru tersadar jika dia hanya menggunakan handuk pendek di atas paha saja, dengan rambut basahnya membuat dirinya semakin terlihat menggoda.


Ailin semakin terkejut dan melihat barra yang kini semakin mendekat. Perlahan dia mundur hingga menyentuh meja riasnya dan barra semakin mendekatinya.


Ailin gugup saat mata pria itu tak berhenti menatapnya dengan tatapan yang aneh.


"kau mau a-pa" Ailin gugup saat pria itu sudah dekat dan tak menyisakan jarak di antara mereka berdua.


"kau cantik sayang" suara yang sederhana namun terasa sangat berbeda bagi Ailin, tatapan mata barra sungguh berbeda.


Ailin mengeratkan handuk di dadanya dengan tangan tapi barra memegang tangan itu yang tengah bergetar.


Barra mendekatkan wajahnya dengan ailin dan menghirup wangi sabun mandi cair yang Ailin gunakan sungguh memabukkan. Barra mendekatkan wajahnya dan mencium bibir manis itu dengan lembut.


Ailin semakin di landa kegugupan, jantungnya sudah tak bisa bekerja sama lagi, dan matanya perlahan tertutup dan menikmati ciuman lembut itu, tapi alangkah terkejutnya Ailin merasakan sebuah kain yang menempel di pundak nya diapun membuka matanya.


Melihat sebuah selimut menutupi tubuhnya. Barra mengambil selimut dan menutupi tubuh gadisnya yang membuat sesuatu di bawah sana ingin segera di tuntaskan.


"ternyata kau menikmatinya sayang" seru barra tersenyum membuat Ailin malu seketika. Rona wajahnya terlihat jelas di pipinya dan sungguh jantungnya tak bisa berhenti berdetak.


"dasar pria aneh" gumam Ailin yang masih di dengar barra. Pria 30 tahun itu tersenyum lalu kembali mendekat dan Ailin segera kembali mundur.


"kau mau apa?"


Wajah barra sudah ada di depan wajahnya dan berbisik


"cepat pakai bajumu sebelum aku yang akan memakaikannya untukmu" bisik barra membuat Ailin merinding.


Dengan senyum lebar barra meninggalkan Ailin yang masih dengan rona wajahnya yang merah bak kepiting rebus itu.


"dasar pria mesuuum" teriak Ailin saat barra sudah masuk ke dalam kamar mandi dengan bersiul ria


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2