
Tuan Mahendra heran sekaligus terkejut karna Ailin menyeret anak semata wayangnya dan menghempaskan ke lantai.
"ada apa ini, kenapa kamu membawa Amelia kesini?" tanya tuan Mahendra.
"aku hanya ingin melihat bagaimana anda menanggapi putri anda ketika melihat pertunjukan ini" ungkap Ailin.
"maksudmu?" tanya tuan Mahendra.
Ailin segera memberikan ponselnya pada tuan Mahendra dan menunjukkan sesuatu di ponselnya. Tuan Mahendra membelalakkan matanya seperti mau copot.
Matanya menyorot tajam ke arah Amelia, anak yang di banggakan serta puja-puji ternyata suka bermain ranjang bahkan bergonta-ganti pasangan. "sungguh memalukan sekali kamu, apa ini kenapa kamu berbuat seperti ini, papa menyesal menganggap mu sebagai putriku" sergah tuan Mahendra.
Tuan Mahendra melihat aksi anaknya di tas ranjang mewah bersama seorang pria, tentu membuatnya begitu malu akan kelakuan anaknya itu. Dirinya yang sebagai pemimpin kedua Karena pemilik fakultas yang sebenarnya masih di rahasiakan.
"apa maksud papa?" Amelia belum mengetahui yang sebenarnya dan berdiri dari duduknya dan melihat ke arah Ailin dengan tatapan membenci.
"lihat ini" tuan Mahendra memperlihatkan aksi nakal Amelia di atas ranjang king size di sebuah apartemen miliknya bersama seorang pria yang terlihat sedikit tua. Sungguh menjijikkan aksi nakal gadis itu.
"kau sengaja memfitnahku Ailin, kenapa kau melakukan itu padaku, kenapa" ucap Amelia berlinang air mata. Lebih tepatnya air mata buaya.
"tuan Mahendra" Ailin sengaja menyebut nama itu dan menatap pria paruh baya itu dengan lekat.
"baik, saya mengerti" ujarnya dan menarik paksa ameli sebelum para dosen yang lain melihatnya.
"ayo kita pergi dari sini" tuan mahendra menarik paksa anaknya untuk keluar dari ruangan nya dan meninggalkan tempat itu.
"saya permisi nona" pamitnya pada Ailin dan gadis itu hanya mengangguk.
Amelia heran dan terkejut saat papanya berpamitan pada Ailin bahkan menunduk bak seperti berhadapan dengan seorang yang tertinggi, tuan Mahendra terlihat begitu sopan pada gadis itu.
Banyak pertanyaan di dalam otak Amelia saat melihat dengan jelas bagaimana sang papa begitu menghormati dan menghargai seorang gadis yang tak sebanding dengan nya menurut Amelia.
****
Ailin masih diam di ruangan itu, melihat suasana sudah sepi, barulah gadis itu berjalan ke sebuah rak buku yang cukup besar itu dan menekan salah satu tombol di belakang buku-buku yang ada di sana. Hingga suara decitan pintu terbuka, tapi bukan pintu masuk, melainkan pintu bilik yang ada di sebalik rak buku.
Tempat rahasia? ya, gadis itu begitu misterius, bahkan hanya dirinya yang tau ruang itu, tak ada satupun orang yang mengetahui tempat itu, itu artinya Ailin yang pemilik sebenarnya kampus itu.
Gadis itu menuruni anak tangga menuju ruang rahasianya. Ketika sudah sampai, maka rak buku itu akan kembali seperti semula dan semua buku-buku akan kembali ke tempat biasa.
Ailin mengitari ruangan yang penuh dengan layar monitor serta berbagai alat-alat rakitan miliknya, mulai dari komputer dan sejenisnya, hingga senjata api yang iya rakit sendiri.
Entahlah siapa gadis ini yang sebenarnya dan bagaimana dia mengetahui tempat ini sebelumnya, bahkan semua dosen yang ada di kampus itu tak ada satupun yang tau tempat itu.
Ailin tersenyum miring melihat hasil karyanya yang cukup memuaskan, Ailin menyimpan begitu banyak senjata di dalam ruangan itu, mulai dari senjata tajam hingga senjata api.
Ruangan cctv juga sudah ia kendalikan di sana, sehingga Tak ada satupun yang tak Ailin tau.
*****
__ADS_1
"kemana kau gadis nakal, kenapa kau belum juga datang" ucap barra yang belum juga melihat batang hidung Ailin.
"ah apa aku telpon saja ya astaga barra, kenapa tidak di pikirkan sejak tadi bodoh" rutuk nya pada diri sendiri.
Beberapa kali benda pipih itu iya tempelkan di telinganya, tapi tak sedikitpun ada jawaban dari gadisnya.
"Jason" teriak barra.
"iya tuan" Jason berlari ke ruangan bosnya dengan tergesa-gesa.
"ada apa bos?" tanya Jason.
"Carikan Ailin, dimana dia sekarang" titahnya "dan segera bawa dia kemari" imbuhnya lagi.
"kemana tuan?" spontan barra ingin sekali menghajar pria di depannya itu. Bahkan barra tak tau dia harus mencari kemana tentu membuatnya mendelik kesal kenapa Jason harus bertanya padanya.
"ke Arab Saudi" sungut barra.
"oh, kenapa jauh sekali, dan sejak kapan nona Ailin ke sana" tanpa rasa bersalah Jason bertanya yang membuat darah bosnya mendidih.
"Jason" teriak barra membuat Jason tersentak kaget dan tersadar akan ucapannya.
"oke tuan, baiklah saya pergi" secepat kilat Jason keluar dari ruangannya, bahkan tak sengaja membanting pintu dan membuat barra kaget bukan main.
"brengsek, mau ku tendang kau Jason" pekiknya lagi.
****
"ayah, aku sebelumnya tak mengetahui kau dimana, aku kira kau sudah tiada ayah, aku akan segera menemui mu" gadis cantik itu menatap layar monitornya saat melihat seseorang yang beberapa hari ini mendatangi kediaman keluarga mole.
"aku akan mencarimu ayah, tenanglah , dan kita akan kembali bertemu ayah" lirih Ailin menangis ketika ayahnya masih hidup. Dia juga sebelumnya belum yakin jika ayahnya sudah meninggal, dia yakin ayahnya masih hidup karena kematian ayahnya tak meninggalkan jasad berarti Ailin yakin ayahnya masih hidup.
Ailin keluar dari ruangan itu, dan melihat sekeliling masih seperti semula tak ada seorang pun yang sudah memasuki ruangan khusus pemilik kampus.
Dengan tekad yang kuat, serta keyakinan yang masih besar, Ailin melangkahkan kakinya menuju ke suatu tempat yang akan mempertemukannya dengan seseorang yang selama ini iya rindukan.
"ayah aku datang" gumamnya sembari melukiskan senyum manis.
*****
Di tempat lain, tuan Revan tengah memarahi beberapa anak buahnya, karena tak bisa menembus akses dimana letak anaknya. Dengan wajah marah, dia membanting seluruh isi ruangannya ke arah para ank buah yang menjadi sasaran kemarahannya.
"kenapa bisa hilang seperti itu, aku sudah katakan jangan pernah lengah, untuk mengawasinya" tegas tuan Revan.
"tapi tuan, waktu itu memang kami bisa menembus dan mencari dimana tempatnya, namun sayang, sepertinya di tutup oleh nona sendiri" pungkas salah satu bawahan tuan Revan.
"sepertinya nona Ailin mengetahui, jika kita sedang mengawasinya tuan" ujar salah satunya lagi.
"baiklah Kalian boleh pergi" tegasnya dan kembali ke ruangan pribadi miliknya.
__ADS_1
"kemana kamu sayang, ayah sangat merindukanmu, ayah ingin mencarimu tapi kenapa kamu menutup data diri kamu sendiri nak" gumamnya sembari menitikkan air mata yang sejak tadi iya tahan.
Namun saat tuan Revan tengah menatap sendu foto seorang gadis kecil yang tengah duduk di sebuah kursi ayunan, wajahnya yang terlihat ceria dan penuh semangat itu tergambar jelas sampai detik ini di penglihatan tuan Revan.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian nya. Siapa yang telah berani mengganggunya.
"masuk" teriaknya.
"tuan ada yang ingin bertemu dengan anda" salah satu bawahannya memberitahu.
"katakan padanya aku sedang sibuk" ucap tuan Revan tanpa menoleh.
"tapi tua-"
"katakan saja aku sedang tak ingin menerima tamu" bentaknya membuat sang bawahannya mengerti dan keluar.
"baik tuan"
"apa ayah tak ingin bertemu denganku?"
Deg
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.TBC😘
tempatkan di favorit kalian, jangan pergi sebelum tinggalkan jejak kalian😁
I love you😘
__ADS_1