
Jangan di bully penulisan author yang masih gak beraturan,serta titik koma yang masih berantakan....dan jangan lupa selalu dukung author meski banyak typo bertebaran.
selamat_membaca
.
.
.
.
Ailin dan Nirmala sudah sampai di pekarangan tuan Revan, kedua gadis itu memasuki rumah mewah bernuansa modern dengan interior desain yang unik.
Nirmala menatap seluruh isi rumah itu dengan wajah yg tak percaya, rumah mewah itu mengingatkan rumah miliknya yang di rampas oleh keluarganya.
Nirmala hanya menunduk berjalan sambil menyeka air matanya yang tiba-tiba lolos begitu saja.
Ailin yang melihat gadis itu menangis mencoba menyamakan langkahnya dan menenangkan gadis itu.
"Nirmala, kau harus kuat, aku janji setelah ini tidak ada air mata lagi. Kau boleh nangis sekarang, tapi tidak untuk lain kali, jadi menangis lah, aku akan mendengarkan mu" seru Ailin.
"Hem,"
Hiks hiks hiks
Nirmala menangis pilu dikala sedari tadi dirinya menahan tangisnya yang terdengar menyayat hati.
Dirinya yang sudah ternodai, dan rumah serta harta peninggalan kedua orang tuanya di ambil begitu saja, dan kini hidupnya sebatang kara tanpa memiliki siapapun, serta sisa uang dan juga barang berharga demi kebutuhan hidupnya.
"terimakasih Ailin, jika tak ada kamu, mungkin aku sudah di bunuh oleh pamanku" seru Nirmala menangis.
"jadi, mulai hari ini, kau harus menjadi kuat, kau harus tunjukkan pada dunia, kau pasti bisa dan mampu melawan mereka" ucap Ailin.
"baiklah, aku akan memanggil ayahku, kau duduk di sini ya, aku akan ke kamar ayah" seru Ailin meninggalkan Nirmala di ruang tamu.
****
"kamu yang sabar ya nak, ini adalah ujian kamu, kamu pasti bisa menjalani hidupmu dengan baik lagi setelah ini" tuan Revan sudah mendengar kisah Nirmala dari Ailin, dia begitu kasihan dan prihatin pada Nirmala. Gadis yang harus seusianya, bermain dan bersenang-senang bersama teman-temannya, kini iya harus menjalani pahitnya kehidupan sehari-hari yang dia jalani tanpa orang tua sebagai dukungannya.
Nirmala hanya memiliki baju yang dia pakai saja di badannya, dia bahkan belum merasakan makanan apapun sejak tadi pagi, Ailin membawa Nirmala ke ruang makan untuk mengajak Nirmala makan malam.
"ayah, ayo kita makan, kata bik min makanan sudah siap di meja makan" seru Ailin mengajak ayahnya.
"ayo kamu juga Nirmala, sejak pagi kamu belum makan apa-apa" ajak ailin.
"tapi" Nirmala merasa canggung dan tak enak dengan ailin dan ayahnya.
"sudah lah, anggap rumah kamu sendiri nak, jadi mulai hari ini kamu tinggal di sini ya dengan ayah dan Ailin. Kamu juga panggil ayah sama seperti Ailin" seru tuan Revan.
__ADS_1
"apa boleh tuan eh ayah?" tanya Nirmala
"tentu boleh dong, ayo Nirmala kita makan bersama"
****
Setelah mereka sudah berada di ruang makan, Ailin mengambilkan makanan untuk ayahnya, tuan Revan melarang anak gadisnya itu, tapi Ailin merupakan gadis yang tak bisa di tolak dalam keinginannya yang sederhana ini.
Merekapun memulai menikmati makanan mereka tanpa ada yang berbicara, karena memang begitulah yang di lakukan Ailin dan ayahnya setiap hari.
Nirmala yang melihat pemandangan Ailin dan ayahnya, kini sekilas kembali teringat dirinya bersama papa dan mamanya yang dulu sebelum mereka meninggalkan Nirmala, ayahnya selalu memberikan perhatian lebih padanya.
Mamanya juga selalu memanjakannya dengan barang mewah dan selalu memberikan apa yang dia inginkan.
Meskipun Nirmala selalu di manjakan oleh kedua orang tuanya, dia tak pernah sombong atau tinggi hati. Dia baik hati, dan tak pernah memandang siapapun dari status mereka.
Dia merasa sangat terpukul saat mengetahui kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan tersebut. Nirmala berusaha untuk mengikhlaskan kedua orang tuanya, agar mereka bisa tenang di alam sana.
Nirmala menatap kedua anak dan ayah itu seksama dan melihat tingkah Ailin yang merupakan gadis yang tanpa bermanja-manja pada ayahnya. Ailin terlihat biasa saja pada ayahnya. Namun dalam hati gadis itu, dia begitu menyayangi ayahnya.
Berbeda dengan tuan Revan, pria setengah baya itu memperlakukan anaknya begitu lembut dan menyayanginya. Melihat tingkah Ailin yang biasa saja, iya membiarkan saja dan memahami jika selam ini, hidup anaknya itu selalu berada dalam kesepian tanpa orang tua yang menemaninya memanjakannya.
Tuan Revan juga kadang menangis, melihat anaknya yang sungguh menghadapi hidup yang keras selama dirinya tidak ada di dekat anaknya. Andaikan kecelakaan itu tak terjadi, mungkin dia bisa melihat anaknya tumbuh setiap hari dan mungkin Ailin akan hidup bergantungan padanya.
Tuan Revan bersyukur anaknya tumbuh dewasa, meski tanpa dirinya, Ailin menjadi wanita yang kuat, tangguh dan pemberani.
Nirmala belum mengetahui kehidupan Ailin yang sebenarnya, iya hanya melihat Ailin bahagia bersama ayahnya. Nirmala juga, selama iya berada di rumah itu sejak tadi, tak melihat sosok ibu ailin. Dia bertanya-tanya dalam hati kemana ibu ailin, tapi iya tak ingin bertanya, mungkin suatu saat dia akan mengetahuinya.
****
"Ailin, kamu itu sangat hebat, dengan kehidupan mewah mu, kau tak pernah bermanja-manja pada ayahmu, kau selalu mengerjakan ini semua sesukamu tanpa menyusahkan orang lain" batin Nirmala dan tersenyum.
"kamu kenapa Nirmala?" tanya Ailin tiba-tiba membuat Nirmala kelabakan.
"ah tidak ada, aku hanya melihatmu mengangkat piring kotor itu tanpa memanggil pelayan" seru Nirmala.
"aku sudah biasa begini, ini juga tak terlalu sulit bagiku" ujar Ailin.
"kau memang gadis yang tak selalu mau merepotkan ya" ucap Nirmala.
"selama kita punya tangan yang masih utuh, kenapa tidak kita saja yang melakukan itu semua, aku juga tak terbiasa selalu di layani oleh pelayan" seru Ailin tersenyum memperlihatkan gigi gingsul nya.
Cantik, Nirmala melihat Ailin tersenyum begitu memang sangat cantik dan manis, dia juga selalu apa-apa harus sendiri, dia apa adanya dan selalu bersyukur dengan apa yang dia miliki.
"oh ya Nirmala, besok aku ingin mengajakmu ke suatu tempat" seru Ailin.
"oh ya, kemana?" tanya Nirmala.
"kamu akan tau nanti" Ailin sudah selesai dengan mencuci piring kemudian mengajak Nirmala ke kamarnya.
__ADS_1
"ayah, Ailin dan Nirmala ke kamar ya" seru Ailin.
"iya nak" sahut tuan Revan yang sedang menonton TV di ruang tamu.
"saya permisi ayah" ucap Nirmala sopan.
"silahkan nak" seru tuan Revan.
*****
Keduanya sekarang berada di kamar Ailin. Nirmala yang melihat kamar Ailin menjadi heran, pasalnya Ailin anak gadis tapi sedikitpun kamar itu tak seperti kamar gadis sebaya dengan mereka.
Dan yang membuat Nirmala heran juga,mengapa Ailin begitu menyukai warna gelap sebagai cat dinding kamarnya. Tak seperti dirinya yang selalu penuh dengan barang-barang feminim seperti Boneka, foto animasi sebagai stiker dinding, dan cat dinding berwarna pink serta masih banyak barang-barang yang di sukai gadis sepertinya.
"kamu suka warna gelap ya?" tanya Nirmala.
"begitulah, karena aku tau setiap kehidupan itu, ada sisi gelapnya dan sisi terang. Aku sengaja menggunakn cat warna gelap di dinding, sesuai dengan perjalanan hidupku" seru Ailin dengan nada yang biasa saja namun dalam hatinya nampak menyimpan sesuatu yang sangat tak bisa di umbar kan.
"oke lah Nirmala, kamu mandi lebih dulu ya, aku akan ambilkan baju yang cocok untukmu, kamu kan tidak bawa baju ganti, besok aku ajak kmu beli baju untuk kamu" seru Ailin
Nirmala mengangguk dan tersenyum." terimakasih Ailin sekali lagi, kamu sudah sangat baik padaku" seru Nirmala.
"sudah lah, kita akan menjadi teman dan sekarang kamu mandi dulu" seru Ailin.
"iya, aku mandi" Nirmala segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang terasa sangat lengket.
Setelah keduanya selesai dengan memebrsihkan diri, Ailin sudah tak tahan dengan mengantuk nya.
"aku tidur dulu ya Nirmala, aku sudah tak tahan dan mengantuk sekali" seru Ailin.
"iya aku juga mengantuk"
Tak berapa lama, keduanya perlahan memasuki alam mimpi bersama.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC😘