
Di ruangan yang mewah dan megah yang begitu banyak para tamu undangan, Sepasang kekasih yang tengah berpelukan mesra itu menarik perhatian para hadirin yang ada di sana.
Ailin masih diam di tempat tanpa ada pergerakan, pandangannya turun ke pinggang, melihat tangan kekar memeluknya erat.
Ailin mencoba melepaskan diri dari pelukan kekasihnya, namun sayang, pria itu memeluknya lebih erat dan membuat Ailin pasrah.
"kau mau kemana sayang?" tanya barra masih memeluk Ailin dan dagu nya iya letakkan di pundak Ailin. Ailin sedikit risih dengan perlakuan barra, tapi iya juga tak ingin berbohong jika dia merindukan pria di depannya ini.
"a-aku, "
"jangan pergi, aku benar-benar merindukanmu" bisik barra.
Ailin dan barra belum mengetahui, sekarang mereka tengah menjadi tontonan para tamu undangan.
"tuan, pessst" panggil Jason sedikit keras namun barra tak mendengarkan.
"wahh mereka sangat romantis ya"
"aku juga mau dong di peluk tuan barra'
"mereka pasangan yang sangat serasi ya"
"dih,,,tidka punya malu, bermesraan di tempat umum"
"kamu iri ya"
Suara-suara bisikan kagum dan juga sebagian ada yang tak suka, menebar kemana-mana. Ailin kembali dalam kesadarannya, dan menoleh pada sekitarnya. Alangkah terkejutnya iya yang menjadi tontonan para tamu sejak tadi.
Ailin langsung melepaskan pelukan barra yang masih menempel sempurna itu, dan barra pun melepaskan pelukannya.
"isshh, bahkan kita jadi tontonan sekarang" seru Ailin pelan.
Barra melihat di sekitarnya, tapi pria itu terlihat biasa saja.
Namun berbeda bagi Ailin, wajah gadis itu sangat memerah karena malu. Ailin merutuki dirinya sendiri yang terlalu terpesona pada kekasihnya, sehingga pandangannya selalu di hipnotis pria itu.
"sialan, aku merasa malu sekali, tapi aku akan terlihat biasa saja" gumamnya dalam hati.
"sayang, kenapa wajahmu memerah, apa kau sakit atau kau sedang malu" bisik barra dengan senyum tipis gemes melihat kekasihnya yang tengah malu-malu.
"aku tidak apa-apa, aku...aku ingin ke toilet sebentar" ucap Ailin kemudian berbalik.
Tapi secara tak terduga, barra mengeluarkan sesuatu di dalam saku celananya,membuat orang-orang di sekitarnya membelalakkan mata lebar sekaligus terkejut.
Ailin yang melihat reaksi para tamu undangan menghentikan langkah dan berbalik ke arah barra yang tengah memegang pistol dan di arahkan ke Ailin.
Ailin terkejut dan memasang wajah datar tanpa menghindar dari tempat nya. Ailin menatap tajam pistol itu dan melihat barra yang tengah menatapnya.
"apa pria ini mau membunuhku, apa dia telah marah padaku, atau mungkin pria ini ada dendam padaku" pertanyaan di kepala Ailin berputar-putar.
Namun ada yang aneh ketika Ailin meneliti arah pistol yang di pegang barra dengan mata menyipit tajam.
Dor dor
"Aaaarrrrrkkhhh"
Jeritan para tamu menggema di ruangan itu, suara ricuh yang di hasilkan para orang-orang yang ketakutan ketika dua tembakan barra tepat sasaran.
Ailin mematung saat dua tembakan itu melewati wajah sampingnya, suara nyaring pistol itu sungguh membuat jantungnya berdebar. Bukan karena suara tembakan yang membuatnya berdebar, tapi siap orang yang telah melepaskan tembakan itu yang membuatnya merasa berdebar dan juga sakit bersamaan.
Barra berlari memeluk Ailin dengan erat, Barra begitu khawatir ketika dua tembakan itu hampir mengenai kekasihnya.
"kau tidak apa-apa sayang, maaf aku mengejutkanmu" seru barra memeluk Ailin semakin erat.
Tuan Zaki dan nyonya Jihan menutup mulutnya dengan kedua tangan sekaligus ketakutan saat hampir saja tembakan itu mengenai Ailin.
__ADS_1
Tuan Revan nampak biasa saja, pria paruh baya itu tersenyum tipis melihat anaknya yang sudah menemukan pria yang bertanggung jawab untuk putri semata wayangnya.
Ailin masih tak mengerti dengan situasi ini, Ailin mencoba melepaskan pelukan barra dan pria itu melepaskannya. Kemudian Ailin berbalik ke arah dimana sasaran tembakan barra tadi.
Dua kamera tersembunyi berlawanan arah pada panggung, rusak seketika oleh tembakan barra tadi. Ailin sungguh terkejut atas apa yang iya lihat, tapi dirinya mengembalikan rasa terkejutnya dengan wajah datarnya.
"kau ingin membunuhku?" seru Ailin.
"kau ingin aku mati secepatnya"
"apa kau sudah ta-"
CUP
Barra mencium bibir wanitanya dalam durasi yang cukup lama. Membiarkan sensasi hangat menjalar di seluruh tubuh keduanya. Dan tentu bibir kenyal itu menempel dengan sempurna.
Ailin mencoba mengembalikan kesadarannya. Tapi sayang, pria di depannya ini cukup membuatnya menghilangkan akal sehatnya sejenak. Pesona pria itu sungguh tak dapat di hindari Ailin.
Suara yang ricuh kini kembali dihebohkan dengan suara tepuk tangan yang begitu meriah.
Ailin yang mendengar suara tepuk tangan orang-orang di sekitarnya spontan mendorong paksa lelaki yang selalu berhasil membuatnya terhanyut.
"setelah kau tak berhasil membunuhku dengan dua tembakan, sekarang kau mau membunuhku dengan tak memberikan ku bernafas" seru Ailin masih dengan suara nafas yang ngos-ngosan.
"tapi kau menikmatinya kan sayang" bisik barra mengusap bibir Ailin yang basah membuat Ailin melotot kesal.
"baiklah jangan marah, kita akan memulai acaranya sekarang"
Barra melirik Jason dan memberikan kode lewat tatapan matanya dan Jason mengangguk mengerti atas kode yang di berikan bosnya. Dia segera naik ke atas panggung dan memegang mic.
"para hadirin yang telah hadir, mohon perhatiannya. Selamat datang di acara pada Malam hari ini untuk perayaan ulang tahun perusahaan Cristian yang di rintis oleh pemimpin kita Tuan Zakiano Cristian Sekaligus pengumuman perayaan pertunangan calon pewaris perusahaan kita yakni Davindra Barra Crishtian dengan Ailin Alexa dianos, putri dari tuan Revandra dianos. Tepuk tangan untuk mereka semua" suara lantang Jason memeriahkan kembali suasana dan suara riuh tepuk tangan para hadirin di tempat itu menjadi ramai seketika.
Prok
prok
prok
Ailin tak menyangka malam ini adalah malam pertunangannya dengan barra, sungguh ini mengejutkan untuknya.
Ailin merasa bahagia, namun sekaligus bingung dengan kekasihnya, kenapa ini sangat mendadak sekali. Ailin menatap pria di sampingnya ini yang tak pernah melepaskan sedikitpun genggaman tangan padanya.
"ayo sayang, kita naik ke atas panggung"
Ailin kembali tersadar dari lamunannya dan tersenyum sangat manis membuat hati barra berdebar melihat senyuman manis dan seksi itu. Kini kelelakiannya mengatakn ingin sekali menerkam bibir mungil dan berisi itu, namun keadaan yang membuatnya harus menelan lebih dalam keinginannya.
"awas kau gadis nakal, setelah kita menikah nanti, aku akan menghabiskan bibir mungil mu ini" batinnya menatap Ailin.
Keduanya kini sudah naik ke atas panggung bersama dengan tuan Zaki dan nyonya Jihan serta tuan Revan di samping Ailin
Acara itu bukan hanya di saksikan orang-orang di ruangan besar itu saja. Tapi seluruh media yang ada di sana berhasil mencetaknya sehingga di seluruh dunia mengetahui hari spesial untuk barra dan Ailin hari ini.
Tes
tes
tes
Ailin menitikkan air matanya bahagia saat hari ini menjadi hari yang paling begitu berkesan pada dirinya dan kekasih yang iya cintai hampir beberapa bulan ini.
Kini barra dan Ailin sekarang sudah berada di atas panggung untuk bertukar cincin tunangan mereka. Barra tak henti-hentinya tersenyum pada kekasihnya.
Dua cincin tersemat indah di jari manis keduanya. Malam ini sungguh menjadi malam yang begitu berkesan bagi keduanya. Barra dan Ailin menjalin hubungan kekasih selama kurang lebih lima bulan. Dan sekarang mereka kini bertunangan dan menjalin hubungan dalam suatu ikatan.
Semua para tamu undangan tak lupa memberikan tepuk tangan yang begitu meriah. Kini Ailin dan barra sudah resmi bertunangan.
__ADS_1
"sayang, selamat ya sekarang kalian sudah resmi bertunangan, maafkan mama ya karena acara ini mendadak sekali, hari ini tepat hari ulang tahun perusahaan, dan hari ini juga sebagai hari pertunangan Kalian, maaf hari pertunangan kalian di gabungkan dengan hari ulang tahun perusahaan" seru nyonya Jihan mengelus lembut lengan Ailin.
"ma, terimakasih ya, jika bukan karena mama, Ailin dan barra tidak akan bertemu" seru Ailin meneteskan air mata.
"iya sayang, sama-sama. Setelah ini, papa dan mama serta ayah kamu, akan mencari waktu yang tepat untuk melangsungkan pernikahan kalian" seru nyonya Jihan.
"untuk kamu barra, jaga calon menantu mam ini, jangan buat dia menjadi sedih atau apapun itu" seru nyonya Jihan persisi seperti peringatan untuk barra.
"iya ma, barra pasti jaga Ailin" seru nya.
Kini mereka sudah selesai dengan acara pertunangan dan juga sesi pemotretan di atas panggung.
Barra sejak malam ini menjadi sangat posesif pada kekasihnya, dia berjanji akan selalu menjaga calon istrinya ini.
"sayang, jangan jauh-jauh kamu di sini aja, aku tidak mau kehilangan kamu" suara lebay barra membuat Ailin memutar bola matanya malas.
Semua para tamu undangan kini tengah menikmati hidangan yang tersaji di atas meja. Mereka juga tak sedikit mengagumi acara malam ini. Meskipun malam ini malam perayaan ulang tahun perusahaan Cristian, tapi dengan di gabungkan acara pertunangan Ailin dan barra yang berlangsung, cukup membuat suasana di meriahkan dengan sangat antusias para tamu.
Namun salah seorang yang namapk tak senang dengan pemandangan malam ini, seorang pria berwajah dingin duduk di sebuah meja paling pojok dan meneguk beberapa kali minuman di sana sambil matanya tak berhenti menatap seorang wanita yang menjadi bintang di acara itu.
Pria itu menatap dalam Ailin yang berada di atas panggung bersama barra, pria itu nampaknya sangat mengagumi Ailin, sejak kedatangannya di tempat ini, iya merasa tidak senang karena melihat kemesraan dan keromantisan barra dan Ailin.
"kau boleh senang sekarang barra, tapi tidak untuk lain kali" serunya menatap tajam barra yang terus saja tersenyum pada Ailin dan selalu bersikap romantis pada kekasihnya itu.
Pria itu berdiri dari duduknya dan meninggalkan tempat itu.
"Joy, kita pulang" serunya pada asisten pribadinya.
"baik bos" seru Joy.
*
*
*
*
*
*
*
*
Ailin dan barra masih berada di atas panggung, Ailin sebenarnya sudah sangat lelah dan mengantuk. Namun demi acara ini berjalan dengan baik, iya memutuskan untuk selalu bersikap sebaik mungkin karena takut mengecewakan kekasih dan juga calon mertuanya.
Namun barra yang melihat Ailin yang sudah seperti kelelahan, iya menjadi tidak tega pada kekasihnya itu.
"sayang, jika kau lelah, kamu bisa pulang untuk istirahat , aku akan mengantar kamu pulang" bisik barra di telinga Ailin.
"tapi aku takut mengecewakan kamu dan papa mama" seru Ailin.
"nanti aku akan bilang sama mereka, dan aku akan bilang pada ayah aku akan mengantarkan kamu pulang" seru barra.
"baiklah" Ailin memang sudah sangat kelelahan, iya pun menyetujui ucapan. kekasihnya.
Barra memberitahu kedua orang tuanya untuk mengantar Ailin pulang dan para orang tua menyetujui, barra kembali menemui ailin untuk mengantarkan kekasihnya pulang.
"ayo sayang kita pulang, tapi ayah tidak ada di sana" seru barra.
"ayah tadi sudah menelpon, katanya dia berada di bandara untuk ke luar negri dalam dua Minggu untuk menyelesaikan pekerjaan" seru Ailin.
"ooh, baiklah ayo kita pulang" barra dan Ailin bergandengan tangan keluar mencari mobil dan mengantar Ailin pulang.
__ADS_1