
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya, author sangat membutuhkan jempol kalian para Kaka readers 🥺.
"dasar anak sialan kamu Ailin, kamu sudah berani datang kesini memperlihatkan bagaimana ke arogannya kamu sebagia gadis yang tidak tau sopan santun. Kamu akan mendapatkan balasannya nanti" nyonya arrabella menatap benci Ailin yang sudah berada ada di ambang pintu masuk.
Seketika Ailin menoleh dan memperlihatkan tatapan membunuhnya, nyonya arrabella merasa sedikit takut pada Ailin saat melihat tatatpannya saja.
"mungkin kalian lah yang akan mendapatkan penyesalan nantinya, Apa yang kalian tanam itulah yang akan kalian tuai" seru Ailin dingin dan tersenyum miring melihat raut wajah marah mereka.
"dan ingat, sebelum aku melakukan tindakan yang akan membuat kalian menyesal. Cepat angkat kaki dari rumah ini, karena ini bukanlah milik kalian, tuan Andres telah menipu Kalian kalau rumah ini milik dia. Rumah ini milik ayahku, dan kau" Ailin menunjuk nyonya Lin.
"kau yang bertanggung jawab atas semuanya, harta yang di serahkan oleh ayahku padamu, belum sepenuhnya milikmu, jadi jangan suka menggunakan harta milik orang lain demi kemewahan hidup mu" tegas Ailin membuat nyonya Lin terdiam dan tak berkutik.
"apa maksudmu hah" tuan mole berbicara dengan suara tinggi.
"jangan berbicara dengan suara tinggi tuan mole, kau kan tau kondisimu yang tak berdaya dan tak bisa berbuat apa-apa"
"bukankah tadi sudah jelas aku katakan, harta dan fasilitas serta rumah ini bukanlah murni milik nyonya Lin, karena ayah belum menandatangani surat persetujuan pembagian Tanah miliknya pada nyonya Lin dulu sebelum ayah menghilang" ucap Ailin tegas.
Tuan Andres, tuan mole dan juga nyonya arrabella begitu terkejut hingga tuan mole memegang dada kirinya yang mulai kambuh, jantungnya kambuh. tuan mole memegang kuat dada kirinya.
"ini tid-dak mung-kin, aarrahh" tuan mole pingsan detik itu juga.
"diam kamu Ailin, kamu belum puas ya mempermalukan ku, mempermalukan ibumu ini" nyonya Lin berderai air mata saat mendengar penuturan anaknya sendiri yang memperlakukan dirinya.
"nyonya, saya bukanlah anakmu lalu untuk apa aku membiarkan harta milik ayahku di bagi untuk orang lain"tak ada rasa iba, rasa kasihan Ailin pada wanita yang melahirkannya.
Bukan Ailin tak menyayangi ibunya, tapi mengingat bagaimana perjuangan dirinya hidup tanpa kasih sayang ibunya, membuat hatinya tak menerima dirinya di perlakukan keji oleh ibu kandungnya sendiri.
Ailin hidup sampai dewasa, bukan karena kasih sayang ibunya, melainkan asisten rumah tangga yang bekerja tiap hari dan tiap malam selama belasan tahun. Wanita tua yang berumur sekitar lima puluh tahun, berjuang merawat Ailin hingga tumbuh menjadi gadis cantik dan manis. Ailin di rawat dari baru lahir oleh asisten rumah tangga yang bernama mbok min.
Ailin di rawat mulai dari bayi hingga berumur sekitar 19 tahun lamanya, wanita yang banyak berjasa itu kini menghembuskan nafas terakhir karena sering sakit-sakitan. mbok min juga begitu menyayangi Ailin sama seperti anak sendiri, Ailin juga begitu menyayangi mbok min. Hingga wanita tua itu meninggal, Ailin sangat terpukul atas kehilangan orang yang dia sayang, mulai dari ayahnya hingga mbok min.
Ailin memang memiliki seorang ibu yang tak menginginkannya. Nyonya Lin dulu sebelum kecelakaan tuan revan, sikapnya sebagai ibu baik-baik saja pada Ailin, ketika saat ada suaminya di rumah. Namun saat tuan Revan dulu pergi bekerja, nyonya Lin selalu menyerahkan Ailin kecil pada mbok min dan menyuruh wanita tua itu merawat anaknya. Sementara nyonya Lin selalu meluangkan waktu untuk menelpon dengan selingkuhannya.
Tuan Revan memang tak mengetahui semua itu, tapi seiring berjalannya waktu, dia banyak mengetahui semuanya pada orang kepercayaannya selama ini.
Tuan Revan juga tak mengungkapkan identitas yang sebenarnya dulu pada istrinya, karena iya ingin melihat perkembangan hubungan mereka dalam pernikahan mereka.
__ADS_1
Tuan Revan menyerahkan sebagian fasilitas dan juga rumah miliknya pada nyonya Lin, demi cintanya pada wanita itu. Namun belum sempat tuan Revan tanda tangan pada surat persetujuan itu, terjadilah sebuah kecelakaan pesawat saat tuan Revan pergi ke luar negri.
Beruntung pesawat itu belum terlalu tinggi, dan terjatuh namun tak melukai banyak korban. Banyak juga yang meninggal di tempat tapi lebih banyak yang selamat.
"hahaha,,,hey nyonya kau bilang ibuku, ibuku yang mana, aku tak memiliki ibu di dunia ini. Kau tau, sejak aku keluar dari rahim mu, ibuku sudah mati dan tak ada yang menjadi ibuku hingga saat ini" tegas Ailin dengan nafas yang menderu dan wajah yang penuh kebencian.
"aku membenci yang namanya ibu, sejak saat aku masih bayi, aku kehilangan sosok ibu" ucapnya lagi membuat hati nyonya Lin terhenyak.
"Ailin, tapi itu adalah kesalahan ayahmu, dia yang sudah memaksa ibu untuk menikah dengannya, andai pernikahan itu tiada, mungkin kamu juga tak ikut tersiksa" seru nyonya Lin sedangkan keluarga mole yang lain hanya menyimak ucapan antara anak dan ibu itu.
"hahaha,,,,andai aku tau sebelumnya, aku juga akan melarang ayahku menikahi wanita tak memiliki perasaan sepertimu nyonya, tapi sayang sekali, ayahku terlalu mencintai wanita tak memiliki perasaan sedikitpun sepertimu"
Ailin langsung memegang tangan ayahnya dan tanpa memperdulikan ucapan nyonya Lin yang berbicara, Ailin tak melihat ke belakang dan segera berlalu pergi meninggalkan rumah itu.
****
"ayah, ayah pulang dulu ya, Ailin masih harus ke kampus untuk menemui dosen. Ailin akan menjelaskan kenapa Ailin tak masuk mengikuti kelas hari ini" seru Ailin pada ayahnya.
"kamu tidak apa-apa kan nak, kmu baik-baik saja kan" suara cemas tun Revan pada anak gadisnya.
"tidak yah, setelah itu Ailin akan ke kantor barra menemuinya dan sekalian mengantarkan makan siang" jelas Ailin agar ayahnya tak khawatir.
"bye ayah"
Ailin melambaikan tangan pada ayahnya setelah ayahnya sudah manaiki mobil dan mobil pun melaju meninggalkan kediaman mole lebih tepatnya keluarga mole hanya menumpang di rumah milik tuan Revan.
Setelah kepergian ayahnya, Ailin juga mengendarai motor gedenya menuju kampus. Di sepanjang perjalanan, Ailin menangis, iya menangis untuk yang ke sekian kalinya, selamanya tak mendapatkan perlakuan baik dari ibunya, kini dia merasa hidupnya hanya menjadi beban orang lain.
Tangisnya tak dapat di lihat oleh siapapun, bahkan pengendara yang lain tak dapat melihatnya karena Ailin menggunakan' helm tutup.
"aku akan berjuang demi ayah, aku ingin ayah bahagia, tujuanku hidup saat ini, aku ingin memberikan ayah kebahagiaan, meskipun dalam bentuk pernikahan nanti bersama calon suamiku, aku akan tetap memberikan kebahagiaan yang tak akan pernah ada di dunia ini suatu hari nanti" batin Ailin dan air mata yang kembali bercucuran hingga penglihatannya sedikit buram akibat air mata.
Ailin berhenti di sebuah danau yang cukup luas, iya memarkirkan motornya dan di turun berjalan ke pinggir danau itu.
Tes tes
Kembali lagi air mata itu turun dengan derasnya membasahi pipi mulus gadis itu. Inilah takdirnya, inilah dirinya yang hanya di rundung dengan masalah dan kesulitan dalam setiap hidupnya.
__ADS_1
Entah apa lagi Yang akan iya temui nanti setelah ini, dia sudah pasrah akan kehidupannya. Dirinya yang hanya seorang wanita biasa begitu di benci oleh orang yang seharusnya dekat dengannya. Orang yang seharusnya menjadi panutan hidupnya, cahaya hatinya dan sebagai memberikan kasih sayang penuh padanya, kini menjadi orang yang harus iya benci seumur hidupnya.
"tuhaaaaan, kenapa aku di lahirkan dari wanita yang tak menginginkan aku menjadi anaknya, tuhaaann, apa hidupku akan selalu berada dalam kesalahan"
"kenapa tuhan, kenapa, apa yang salah dengan diriku, kenapa semua ini terjadi padaku tuhaaaaaaan" teriak Ailin di tepi danau itu.
"orang yang seharusnya menjadi panutan hidupku, kenapa justru mengajarkan aku sebuah kebencian, apa salahku tuhan" Ailin menangis dan berteriak sekuat-kuatnya. Beruntung di tempat itu tak ada siapapun. hanya ada beberapa tapi tempatnya agak jauh dan tak akan mendengar teriakan Ailin.
Ailin menunduk dan duduk di sebuah bangku besi yang ada di sana, iya merasa dunia ini tak adil padanya. Bertepatan saat itu hujan turun begitu deras seolah mewakili tangis menyedihkan Ailin. Gadis berusia 25 tahun itu bersandar di bangku itu dan menatap jauh.
Sedih bercampur menjadi satu Ailin mengungkapkan segala emosinya yang belum juga reda. Ailin menatap air hujan yang jatuh ke tengah danau dengan tatapan kosongnya.
Dari kejauhan sosok pria berlari menggelar payung untuk mencari kekasihnya. Barra mencari Ailin setelah di ketahui Ailin berada di sebuah danau, dan barra dengan cepat ke tempat itu dengan bantuan GPS di kalung Ailin yang beberapa hari lalu iya berikan pada kekasihnya itu.
Barra melihat gadisnya tengah menangis dan meluapkan emosinya dan berteriak sekuat-kuatnya di tepi danau. seolah mengeluarkan segala isi hati dan ke rapuhan nya selama ini.
"maafkan aku sayang, aku selalu melihatmu menangis, entah itu apa permasalahannya tapi aku mengerti keadaanmu. Aku berjanji setelah kita menikah, aku akan memberikanmu separuh hidupku untuk kebahagiaan mu. Aku berjanji untuk tak membuatmu menangis dengan cara apapun itu" gumam barra yang melihat kesedihan kekasihnya. "dan aku mengerti sekarang dengan sikap dinginku yang dulu semenjak kita baru pertama bertemu" ucap barra.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC😊😘