
Selamat membaca, jangan lupa tinggalkan jejak kalian, berikan semangat membangunnya ya🥰. Jika ada yang tidak di sukai, jangan di buli, kritik boleh, tapi kritikan yang positif. Karena author punya hati dan perasaan 😩...
.
.
.
.
.
Sepeti yang di katakan Ailin, malam ini Ailin dan barra mereka berdua bermalam di markas milik Ailin.
Barra benar-benar tak ingin berpisah dari kekasihnya, bahkan lelaki itu tak berhenti melepaskan pelukannya dari Ailin.
Malam ini Ailin dan barra tidur bersama, padahal di samping kamar Ailin sudah ada Kamarvyang biasa di tempat oleh Sisil, tapi pria itu memaksakan untuk tidur bersama kekasihnya.
Mau tak mau, Ailin hanya pasrah dengan kekasihnya yang keras kepala itu.
"makasih baby kau memberikan aku tidur di sampingmu, aku janji tidak akan macam-macam, aku hanya tidur" seru barra.
"Hem" Ailin hanya diam dan hanya menjawab dengan deheman saja.
"apa kau tak setuju aku tidur bersama mu, apa kau mau aku tidur bersama nyamuk di kamar lain, aku tidak bi-"
"stop barra, aku mengantuk, jika ingin mengoceh, simpan saja kata-kata mu keluarkan besok, mataku sudah tak bisa bekerja lagi, aku tidur dulu" Ailin membelakangi barra dan pria itu hanya diam sambil memeluk gadis ya yang terlelap baru dia menyusulnya.
"baiklah kau tidurlah sayang"
****
Pagi hari menyapa, suasana di pagi itu terlihat sangat mendung sepertinya akan segera turun hujan.
Ailin membuka matanya dan melihat ke sampingnya, barra masih terlelap. Ailin menatap wajah tampan kekasihnya, iya begitu mengagumi pesona pria itu, bahkan sedikitpun tak ada Cacat di wajah tampannya.
"kau sudah bangun?" barra membuka matanya dan yang iya lihat,, mata biru milik Ailin yang tengah menatapnya juga.
"kenapa kau menatapku, apa ada yang aneh pada wajahku" barra merapatkan wajahnya di wajah Ailin, dan gadis itu mundur ke belakang.
"ada apa?" tanya barra.
"tidak ada, aku hanya tak biasa tidur satu kamar dengan seorang pria" jawab Ailin.
"dan biasakan sekarang sepeti ini, karena sebentar lagi kita akan menjadi suami istri" ucap barra
Barra memeluk kekasihnya kemudian barra menarik Ailin ke dalam pelukannya, hingga wajah mereka tanpa jarak, hidung mereka saling bersentuhan.
cup
Barra mencium bibir kekasihnya, kemudian iya sedikit demi sedikit Ailin mencoba membalas ciuman itu yang lama-kelamaan menjadi sebuah hasrat yang ingin segera di salurkan.
Kedua sepasang kekasih itu melupakan sejenak apa yang menjadi tujuannya datang ke markas. Keduanya masih menikmati pagutan daging kenyal yang beberapa hari ini menjadi candu untuk mereka berdua.
"aku janji sayang, setelah urusan kita selesai, kita akan segera menikah, dan akan membawamu honeymoon ke suatu tempat yang sangat indah" seru barra pada Ailin.
"Hem, sekarang kita selesaikan dulu urusan kita, aku tidak mau ada sesuatu yang membuat pernikahan kita terganggu" seru Ailin.
"ayo bangun, sekarang kita harus pergi mengeksekusi Julio dan adiknya" Ailin membuka selimut dan beranjak dari tempat tidur. Namun mata barra salah fokus pada bra yang di taruh di atas tempat tidur.
"kamu tidak pakai bra?" Ailin terlonjak kaget dengan pertanyaan barra, Ailin merasa sangat malu saat barra melihat bra yang ada di atas tempat tidur.
"akan lebih bagus tak menggunakannya, karena itu bentuk menjaga peredaran darah lebih lancar saat tertidur" seru Ailin menyembunyikan rasa malunya.
"aku mandi dulu, kau cepatlah bangun kita harus segera pergi ke ruang tahanan" Ailin meninggalkan barra memasuki kamar mandi dan dengan sangat malu, iya menutup wajahnya setelah iya sudah sampai di kamar mandi.
"aduh, kenapa juga aku taruh bra di atas tempat tidur" rutuk Ailin.
Sedangkan barra, pria itu masih menatap bingung gadisnya yang sudah menghilang di balik pintu kamar mandi.
"ukurannya sangat pas di tangan, besar dan bulat" otak barra mengembara seketika dan melihat kepalan tangannya yang seolah tengah mengukur benda bulat milik kekasihnya.
__ADS_1
Pria itu beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu balkon kamar Ailin. Merasakan hembusan angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah tampan pria itu di pagi hari yang seketika menjadi cerah setelah hujan semalaman menemani tidur.
Barra sangat mengagumi tempat itu, Dia bahkan sangat menyukai tempat ini sangat mirip seperti di tengah hutan dan di tepi pantai di atas villa yang tinggi di atas tebing.
Suasana di tempat itu sangat sejuk dan asri, tak kalah indah dari tempat markasnya.
Setelah cukup lama barra berada di balkon itu, kini iya melihat kekasihnya yang sudah selesai dengan membersihkan diri, barra menghampiri kekasihnya.
"mandi dulu, kita akan pulang hari ini setelah urusan selsai" ucap Ailin.
"tapi aku sangat betah berada di tempatmu ini" seru barra.
"kenapa?"
"karena disini ada kamu dan disini sangat indah" seru barra.
Barra mendekat pada Ailin kemudian mencium bau shampoo yang di pakai ailin menyeruak di Indra penciuman barra.
Sabun dan shampo beradu membius barra membuat pria itu tanpa sadar mencium kekasihnya dan semakin turun ke leher.
"barra" suara Ailin tercekat dan tak bisa mengeluarkan suara saat barra dengan liar menjelajah leher jenjang itu hingga Ailin merasa geli.
"barra, sudah" tak ingin melakukan lebih jauh, Ailin melepaskan diri dari pria itu dengan cepat.
"kenapa menghindar?" tanya barra.
"kalau tidak, bagiamana aku bisa menghentikan singa lapar menyerang ku" seru Ailin membuat barra tersenyum.
"setelah kita menikah nanti, aku akan membuatmu tak bisa tidur sampai pagi" bisik barra membuat Ailin meremang , bulu kuduk gadis itu berdiri dia bergidik ngeri mendengar bisikan barra.
Kemudian barra berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.
*****
Barra dan Ailin sudah selesai bersiap-siap, mereka tengah menikmati sarapannya di bawah.
"Nirmala, bagaimana perkembangan mu saat ini?" tanya Ailin.
"iya kak, ada kemajuan, mungkin saat kakak akan mengajakku berperang, aku bisa mengalahkan beberapa orang sekaligus" seru Nirmala sembari melahap nasinya.
"Sisil, cari tau informasi hari ini pada Riyana, cepat beri tahu aku setelah kalian mendapatkan informasi"
"Kanaya dan Fanny, akan ada tamu dari TQ akan datang hari ini, akan ada tawanan yang akan di bawa kemari untuk di interogasi, kalian harus menyambut mereka dengan baik dan bawa tawanan untuk masuk ke dalam ruangan bawah tanah ruang tiga" seru Ailin.
"siap Q" seru Kanaya dan Fanny.
****
Seperti yang di perintahkan barra dan ailin, Kanaya dan Fanny sudah berada di depan pintu menyambut kedatangan pasukan dari TQ yang membawa seorang tawanan.
Dengan tatapan tajam serta wajah dingin, kedua gadis itu memastikan tak ada keslahan yang di buat oleh beberapa Mafioso lainnya dalam penyambutan tamu.
Tibalah tiga buah mobil berwarna hitam mengkilat memasuki halaman markas the Queen of the darkness.
Ailin sekarang berada di sebuah ruangan pengendalian bersama barra. barra melihat di sebuah Cctv kedatangan pasukannya barra melihatnya dengan seksama.
"ayo kita keluar" ucap barra.
"kau tunggu sebentar, kita lihat apa yang akan terjadi" seru Ailin.
Kembali ke halaman markas.
Sekarang Fanny dan Kanaya keluar dari halaman dengan sebuah pedang di punggung kedua gadis itu.
"baru saja Julio di keluarkan dari mobil, iya menyerang beberapa pasukan dan menendang mencari kelemahan anak buah barra.
Barra yang melihatnya mengepalkan tangan. Ingin seklai pria ini keluar dari sana tapi Ailin tetap menghentikannya.
"kita lihat apa yang akan terjadi" seru Ailin.
Setelah Julio menghajar beberapa pasukan barra, Jason dan William menghentikannya memukul wajah Julio hingga benar-benar babak belur.
__ADS_1
Saat Julio punya kesempatan untuk melarikan diri, tiba-tiba sebuah pedang mengayun di depannya yang di mainkan seorang gadis muda bersama seorang gadis satunya lagi.
"Julio berusaha untuk bisa segera melarikan diri, tapi sayang, Fanny dan Kanaya menjulurkan pedangnya pada leher Julio, membuat sedikit keadaan lehernya tergores akibat pedang runcing milik Kanaya.
William segera menekuk dan menendang kedua persendian Julio, dan pria itu berlutut seketika.
"bawa dia masuk" seru William.
Dan beberapa pasukan membawa masuk Julio.
"terimakasih nona-nona" William dengan mata genitnya menatap Kanaya dan Fanny yang terlihat sangat jijik sekali dengan pria tampan di depannya ini.
."cepat jalan, sebelum pedang keduanya merobek mata dan mulutmu" tiba-tiba Mario menarik paksa tangan William yang masih berdiri di depan Kanaya.
William dan Mario berjalan mencari dimana letak ruangan yang menjadi tempat Julio berada.
"tempatnya sangat indah tapi menyeramkan," seru William.
"seperti tak pernah tau tempatnya saja yang lebih menyeramkan dari ini" cibir Mario.
"kemana bos?" tanya William.
"mana aku tau, kenapa kau tidak telpon saja dia" Mario dengan santainya duduk di ruang tamu dan melihat beberapa wanita cantik di tempat itu.
"bukankah ini yang di maksud Maxim tempat mafia para ladis" ucap William.
"sudah tau kan jawabannya, lihat saja mereka tidak ada yang pria, hanya pasukan perempuan saja" seru Mario.
"bahkan mereka lebih menyeramkan dari pria ya" seru William.
"makanya jangan asal bicara di sini, kau bisa di tendang oleh mereka. Badan mereka **** dan bohay semua, tinggi dan kekar, jika satu kali berbuat kesalahan, kau akan di tendang keluar" ucap Mario sembari memakan apel yang di sediakan di atas meja.
"enak ya makan di tempat orang" William mencibir.
"masalah buat Lo" ucap Mario yang berjalan kembali ke ruang tamu dan duduk di sofa.
Tiba-tiba sepasangan kekasih itu menampakkan diri dan turun ke lantai dasar menggunakan lift.
" Hay tuan William, Hay tuan Mario" sapa Ailin.
Kedua pria yang di sebutkan namanya seketika menoleh dan melihat seorang gadis berparas cantik tengah bergandengan tangan dengan bos mereka.
"hay nona Ailin, "
"apa yang kalian lakukan di sini" ucap barra seketika menatap keduanya dingin.
"eehh bos, iya bos kami lapar dan kami belum sarapan kami ambil apel di meja, maafkan kami nona" seru Mario.
"bukan aku, tapi kamu Mario" ucap William.
"tidak apa-apa selagi kalian nyaman, aku akan menyuruh Fanny dan Kanaya mengajak kalian sarapan di meja makan"
prok prok
Ailin menepuk tangan dua kali dan Kanaya yang melihat Queen mereka memberikan isyarat, Kanaya mengerti dan mereka di bawa oleh Fanny dan Kanaya ke dapur untuk sarapan. Benar-benar tidak tau malu keduanya memakan sangat rakus seperti tak pernah makan satu tahun.
Sedangkan Sisil sudah berada di ruang tahanan bersama beberapa pasukan barra setelah mereka memasukkan Julio ke dalam terali besi yang berhadapan langsung dengan David.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....