
Masih banyak lagi penulisan tak beraturan mohon maaf untuk cerita ini jika banyak yang masih gak di mengerti, author harus banyak belajar,semangatin doang biar author jadi semangat buat bikin ceritanya.
.
.
.
.
Sebulan berlalu saat kejadian itu, terlihat aman dan baik-baik saja selama ini. Hubungan antara barra dan Ailin juga semakin dekat dan begitu banyak perkembangan. Mereka sekarang menjalin sebuah hubungan kekasih, dan keduanya kini masih belum siap untuk mengambil keputusan untuk menikah. Lebih tepatnya Ailin yang belum ingin menikah jika kuliahnya belum selsai.
Di tengah-tengah kehidupan mereka yang manis-manis nya, seseorang mulai hadir mencoba untuk menjadi penghalang antara keduanya, begitu banyak permasalahan yang mereka alami, saat hadirnya seorang wanita yang menjadi penghalang kisah cinta mereka.
Kehadiran seorang wanita bernama Lila mileana, gadis yang memang memiliki paras cantik dan terawat, serta kulit putih dan body yang sedikit sintal. Namun tak bisa di bandingkan dengan ailin yang memiliki body idaman para lelaki, serta paras cantik dan juga kulit putih bak Langsat. Banyak pria yang tertarik dengan ailin dan banyak juga para wanita yang minder dengan kecantikan alami milik Ailin. Salah satu gadis yang tangguh dan pemberani serta tatapan datarnya memberikan wajahnya semakin membuat banyak pria penasaran dengannya.
Salah satu wanita yang tak ingin kalah dari Ailin yakni Lila, wanita cantik itu juga memiliki tubuh yang tak kalah Ramping, hanya saja kelakuan wanita itu yang tak secantik parasnya, membuat banyak yang tak menyukai atas sikapnya.
Wanita yang bernama Lila mileana ini merupakan teman sejak kecil barra, teman mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas. Namun karena Lila setelah lulus sekolah, dia di ajak tinggal di luar negri bersama kedua orang tuanya. Selama itulah barra dan Lila berjauhan.
Selama ini, hanya Lila lah yang memiliki perasaan pada barra sejak SMA sedangkan barra hanya menganggapnya teman biasa.
***
Hari ini barra sudah di sibukkan dengan beberapa berkas yang menumpuk di mejanya. Iya mulai berkutat dengan laptopnya dan membaca dan mempelajari banyak berkasa nya dan sesekali terdengar suara hembusan nafas lelah dari pria itu.
Sebentar lagi akan di adakan ulang tahun perusahaan Cristian , mungkin sekitar dua Minggu lagi acara akan di gelar. Barra tak ingin acara ulang tahu perusahaan nya banyak yang ketinggalan semua hasil laporan tahun ini. Sebab itu barra tak berpindah dari ruangannya walau hanya beberapa menit saja.
Jujur saja pria itu begitu sangat merindukan kekasihnya, tapi mau bagaimana lagi dia begitu di sibukkan oleh semua pekerjannya.
Barra sudah mengirimkan pesan untuk Ailin agar Ailin mengerti dengan kesibukannya, dan Ailin sangat mengerti dengan kekasihnya itu yang tengah di pusingkan dengan segudang pekerjaannya.
Ailin hari ini berangkat kuliah menggunakan motor gede yang di belikan oleh ayahnya. Karena tuan Revan melihat sisi lain dari anaknya yang terkesan bukan gadis yang selalu memaerkan body dan juga manja. Tuan Revan hanya mengikuti kehendak anaknya yang sangat sederhana dan selalu membantu siapapun yang sedang membutuhkan. Tuan Revan juga begitu senang melihat anaknya yang tumbuh menjadi gadis cantik yang cerdas.
Sebelum Ailin berangkat kuliah, tuan Revan memanggilnya.
"Ailin?" panggil tuan Revan.
"iya ayah, ada yang biasa Ailin bantu?" tanya Ailin.
"tidak sayang, ayah hanya ingin menunjukkan kamu sesuatu" ujar tuan Revan.
"apa itu ayah?" Ailin penasaran.
"ayo ikut ayah" tuan Revan mengajak Ailin dan dia berjalan lebih dulu.
__ADS_1
"kita mau pergi kemana ayah" ucap Ailin.
"kamu pasti akan tau nanti" seru tuan revan.
Ailin tak ingin bertanya lagi, iya terus mengikuti ayahnya kemana ayahnya pergi. Hingga sampai di belakang rumah, ada sebuah gudang yang cukup terawat, tuan Revan memerintahkan salah satu anak buahnya untuk membuka pintu gudang itu.
"buka pintunya" perintah tuan Revan dan di ikuti oleh anak buahnya.
Nampak di dalam gudang itu terlihat seperti sebuah kamar tidur dan juga meja tak seperti melihat gudang yang banyak benda berserekan dan tempat penyimpanan barang bekas. Ailin masih dengan bingungnya namun tak ingin bertanya sampai ayahnya memberitahu apa hal yang membuatnya di bawa ke gudang itu.
"Ailin, ayah minta maaf sudah membohongi kamu" seru tuan Revan membuat Ailin mengernyit heran.
"maaf" cicit Ailin.
"iya sayang, " tuan Revan memberikan kode untuk dua orang anak buahnya untuk mengeluarkan seseorang dari sebuah bilik kamar yang belum terbuka, kedua anak buah tuan revan mengeluarkan dua orang gadis yang sangat Ailin kenal.
"Alona, Alina" ucapnya terkejut. Pasalnya kenapa dua adik kakak ini berada di gudang ini.
Kedua gadis itu melihat ke arah Ailin dengan tatapan tajam yang siap akan menyerang Ailin.
"hey wanita ******, sekarang kau senang kan sudah membuat kami seperti ini, kamu sengaja ya menghilang agar aku di culik dan di tempatkan di gudang sialan ini" seru Alona dengan kasar.
"ada apa ini ayah?" tanya ailin memasnag wajah datarnya tanpa menyahuti ucapan alona.
"kenapa ayah lakukan ini, Ailin sudah tau ayah ada di kota ini waktu itu, tapi sengaja Ailin menutup diri dan tak mau memberikan siapapun alamat kos Ailin yah, karena Ailin hanya ingin hidup mandiri saja"
"tolong lepaskan mereka, bukan karena Ailin kasian, justru Ailin sangat membenci mereka. Tapi tindakan ayah ini berlebihan, jadi Ailin mohon ayah lepaskan mereka dan antar mereka pulang ke rumah mereka" seru Ailin panjang.
"tapi bagaimana dengan kamu sayang, apa kamu tak ingin membalas mereka yang sudah membuat kamu menderita di luar sana?" tanya tuan revan.
"ayah, Ailin akan membalas mereka dengan cara Ailin sendiri"
"hey sialan, lepaskan kami, kamu itu Ailin ternyata sama seperti ayahmu yang pengecut itu, yang hanya bisa menyandra kami tanpa menggunakan perlawanan pada ayahku, karena kalian tidak akan pernah bisa melawan keluarga mole" ucap Alona sombong.
Plak
plak
plak
"aaaarrrrrrrrrrrrrrhhhhhhhhh" Alona sampai menoleh ke kiri dan kanan akibat tamparan Ailin yang tak menggunakan tenaga, namun tamparan Ailin sungguh membuat Alona meringis kesakitan. Mungkin karena Ailin selalu berlatih dan melatih ototnya hingga meski tanpa tenaga, tamparannya terasa begitu sakit.
"apa yang kamu lakukan" pekik Alina yang sedari tadi hanya diam saja.
"menutup mulut busuk saudari mu yang sungguh tak punya sopan santun" jawab Ailin sedikit menatap tajam membuat nyali Alina menciut.
__ADS_1
"aku akan membalasmu sialan" gumam Alona menatap benci pada Ailin.
"aku menantinya "
Alona dan Alina di bebaskan dan sekarang mereka tengah berada di perjalanan menuju kediaman mole. Ailin mengikuti menggunakan motor gedenya dan mengikuti mobil ayahnya menuju kediaman keluarga mole.
Sekitar satu jam, mobil yang di gunakan tuan Revan memasuki pintu gerbang kediaman mole yang mewah namun tak semewah kediaman tuan Revan.
Setelah mereka sampai, tuan Revan turun dan di ikuti dua orang anak buahnya yang menjaga Alona dan Alina.
Ailin turun dari motornya dan membuka helmnya. Ailin berjalan dengan tas ranselnya yang di belakang bersiap akan berangkat kuliah setelah selsai dengan urusannya di kediaman ayah tirinya.
Pelayan membukakan pintu masuk dan mempersilahkan tuan Revan dan Ailin masuk.
Di dalam terlihat keempat pria dan wanita berbeda usia yang tengah berada di sofa ruang tamu. Melihat siapa yang datang tuan Andres dan nyonya Lin berdiri.
Nyonya Lin melihat kedua anaknya sudah kembali dengan tiba-tiba dan di bawa pulang ke rumahnya. Begitu sangat merindukan kedua anaknya itu.
"Alona, Alina, sayang kau kembali nak" nyonya Ailin berlari dan berhamburan memeluk kedua anak gadisnya itu.
"mama, papa, Alina rindu kalian semua" Alina memeluk erat nyonya Lin dan bergantian memeluk Tuan Andres.
"oh sekarang anak sialan ini sudah kembali, tapi baguslah aku tidak akan kelelahan mencarinya" sindir tuan Andres membuat tuan Revan mengepalkan tangannya, namun Ailin berusaha membuat ayahnya tenang.
"kamu sudah pergi kemana sih Ailin, kamu tau, kami mencarimu kemana-mana dan begitu sedih memikirkan kedua anakku ini kamu jahat sekali, kamu membuat ibumu sedih" nyonya Lin menangis.
"ma, pa aku juga di siksa sama mereka, aku tidak di beri makan sama mereka, bahkan mereka meletakkan kami di gudang dan kami ketiduran tanpa selimut dan alas lantai sebagai tempat tidur kami" adu Alona berniat untuk membuat kedua orangtuanya marah pada Ailin.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC😘
__ADS_1