
Hari begitu cepat berlalu, menyingsing siang menjadi malam. Pernak pernik lampu malam berjejer indah di sepanjang jalan. Bintang-bintang bertaburan di atas sana menjadi penerang di antara malam gelap tanpa rembulan.
Pria bertubuh tinggi, berperawakan atletis,dengan wajah menghipnotis para wanita manapun, tengah menatap pantulan dirinya di depan cermin, menyungging senyum indah dan manis.
Sembari bercermin, tangan jantan berurat itu memasang kancing jas mahal dan mewah itu.
Dengan stelan jas formal yang iya gunakan berwarna hitam dengan kemeja putih serta tak lupa dasi tuksedo yang melekat di leher pria itu membuatnya terlihat benar-benar menawan.
Barra menatap dirinya di pantulan cermin dengan senyum tipis yang menghiasi wajah tampannya.
"aku tidak tau kau akan menerimaku atau tidak setelah ini, tapi aku akan terus berusaha untuk tetap memelukmu, meski kau menyimpan banyak sesuatu yang bahkan sudah lebih jauh aku ketahui" ucapnya sendu.
Dan dalam sekejap senyum itu memudar, wajah tampan itu memandangi kotak kecil berwarna biru di atas meja.
"aku tidak tau, apakah benda ini, kau terima apa tidak, tapi aku sudah siap akan apa yang kau ucapkan nanti"
Sekali lagi, wajah tampan itu tersenyum, namun menatap pilu kemudian.
.
.
.
.
.
.
.
Sedangkan di tempat lain, seorang wanita menggunakan gaun berokat mahal berwarna hitam sangat kontras dengan kulitnya yang seputih susu. Gaun hitam rancangan terbaik di butik termewah dan termahal di dunia.
Ailin, gadis itu menatap dirinya di cermin sembari memutar tubuhnya di sana dengan high heels yang tak terlalu tinggi dan tak terlalu rendah menapaki lantai dengan sempurna.
Wajah indah itu tak pernah berhenti tersenyum, entah apa yang membuat gadis itu tersenyum lebar malam ini setelah menatap dirinya di depan cermin.
"ayah sangat hebat memilih gaun ini untukku, ayah memang terbaik" seru Ailin masih dengan senyum indahnya.
Sedangkan tun Revan, berdiri di ruang tamu menunggu putri semata wayangnya turun ke bawah dan pergi bersama ke tempat tujuannya.
tak
tak
tak
Suara high heels yang menyatu dengan marmer tangga menapaki jejak kaki indah seorang gadis yang tak pernah berhenti tersenyum itu.
"ayah" panggilnya pada sang ayah dan melangkah mendekati ayahnya.
"sayang, apa kamu sudah siap?" tanya tuan Revan.
mengangguk cepat dan tersenyum Ailin menjawab.
"iya ayah, Ailin sudah siap, terimakasih ayah, gaun ini sangat indah, aku sampai tak mengenal diriku sendiri setelah memakainya" seru Ailin.
Wajah pria paruh baya itu tersenyum dan mengusap pelan rambut anaknya, memiliki arti.
__ADS_1
"anak ayah memang sangat cantik, kau menggunakan gaun apapun tetap cantik nak" tuan Revan kembali merapikan anak rambut Ailin yang sedikit berantakan.
"ayo sayang, kita berangkat nanti kita terlambat" seru tuan Revan.
Ailin dan ayahnya bergandengan tangan berjalan. Ailin, bukan seperti dirinya, dia setiap hari terlihat ceria dan bahagia. Dia seperti berputar 180 derajat setelah iya bersama ayahnya.
Dia tak seperti dulu yang selalu berwajah dingin dan datar. Sekarang kenacntikann nya semakin meningkat lebih jauh membuat banyak para gadis seusianya menjadi iri saat melihat Ailin.
Ailin dan tuan Revan memasuki mobil mewah yang di bawa pergi jauh oleh sang supir.
.
.
.
.
.
.
Setelah menempuh beberapa menit perjalanan, Ailin dan ayahnya turun dari mobil dan menapaki kakinya di halaman yang luas dan bersih serta menatap gedung yang menjulang tinggi dengan mata tak berkedip.
"ayah, kenapa kita ke sini, inikan gedung milik Cristian ayah" seru Ailin
"bukankah ayah akan mengajak Ailin ke suatu tempat" seru Ailin lagi yang membuat tuan Revan terkekeh melihat raut wajah anaknya yang kebingungan.
"ayah kan tidak pernah menyebutkan nama tempat yang akan ayah kunjungi, jadi ya disini lah tempatnya nak" seru tuan Revan membuat Ailin kembali bingung. Namun iya mengingat sesuatu yang membuat hatinya gugup dan bergetar.
Baru pertama kali Ailin merasakan gugup akan memasuki gedung yang sangat familiar baginya. Bahkan ketika Ailin mengingat siapa pemimpin gedung ini, sungguh jantungnya berdebar semakin kencang.
"ayo nak, kita masuk"
Tatapan mata Ailin menyapu sekeliling gedung yang begitu menjulang tinggi.
Banyak para media yang mengelilingi hanya untuk sekedar mencari informasi tentang acara malam ini. Nampak banyak orang yang berlalu lalang di sekitar gedung itu.
Ailin berjalan untuk memasuki gedung yang sudah di sulap itu menujuj tempat acara akan di laksanakan.
"ayah, kenapa kita ada di sini, memangnya ini acara apa ayah?" tanya Ailin penasaran.
"nak, kau akan tau nanti" seru tuan Revan.
Tanpa banyak bertanya lagi, Ailin mengikuti langkah ayahnya melewati para tamu undangan.
Mata Ailin tertuju pada layar besar di sebuah panggung yang ada di dalam gedung itu dengan meneliti setiap kalimat yang tertulis disana.
Ailin kemudian membelalakkan matanya membaca kalimat itu.
Hari ulang tahun perusahaan Cristian yang di gelar di gedung Cristian dengan begitu mewah dan megah.
Ailin tak percaya ini, Ailin benar-benar tidak mengetahui acara ini, Ailin merasa malu untuk datang kesini, Ailin begitu malu saat mengingat dirinya menjadi kekasih pemimpin perusahaan Cristian namun iya tak mengetahui acara ini.
Apa sebegitu bencinya barra pada Ailin hingga barra tak pernah memberi tahu tentang hari ulang tahun perusahaan.
"ayah" nada suara Ailin menjadi datar.
"ada apa nak?" tanya tuan Revan.
__ADS_1
"aku harus pulang ayah, aku.....aku harusnya tidak datang ke tempat ini, aku malu ayah, aku tak pernah di undang untuk datang ke sini" seru Ailin yang masih dengan wajah kecewanya.
"apa yang kamu bicarakan nak, ini memang hari ulang tahun perusahaan Cristian, dan ayah mengajakmu kesini untuk ikut merayakan ulang tahun perusahaan Cristian" seru tuan Revan yang bisa membaca raut wajah anaknya.
"ayah, apa ayah sadar, aku bukan siapa-siapa di sini, aku tak pernah saling menghubungi dengan barra, aku tidak mau hadir di sini, dia membenciku" seru Ailin yang mulai berkaca-kaca.
"ayah, apa ayah tidak mengerti bagaimana perasaan Ailin, Ailin malu ayah, dia membenci Ailin sekarang, bagaimana Ailin bisa mengikuti acara ini" Ailin melemah dengan nada bicara yang bergetar.
"siapa yang bilang aku membencimu"
Deg
Suara itu, suara yang sangat Ailin kenal. Setelah dua mingguan, Ailin tak mendengar suara itu, kini kembali mendengar suara itu yang terdengar lembut namun begitu tegas.
Ailin menatap sumber pemilik suara itu, dan kini mata mereka bertemu.Bahkan Ailin tak sadar jika pria itu mendatanginya.
Ailin begitu terpesona melihat pria di depannya dengan tatapan yang teduh dan juga suara yang menenangkan.
Ailin tersadar dari terpesonanya dan memalingkan wajah ke sembarangan arah. Ailin mencoba menghindari kontak mata dengan pria itu membuat pria itu tersenyum tipis.
Ailin berniat akan berbalik dan pergi menghindari pria itu. Dia kecewa dan Malu saati itu karena dalam keadaan hubungan yang tak baik-baik saja, kini Ailin menghadiri acara tanpa undangan untuknya. Baginya itu sangat memalukan
Namun saat iya berbalik...
Grep
Barra menarik tangan Ailin sampai Ailin menabrak dada bidang pria itu dan memeluknya erat.
"sayang, kau mau kemana, aku merindukanmu"
Suara lembut itu membuat hati Ailin melemah, air matanya tumpah saat dengan susah payah melepaskan pelukan pria itu, justru pria itu membawanya semakin dalam di kehangatan pelukan yang begitu Ailin rindukan.
Tes
Tes
Tes
Air mata itu kini terjatuh tanpa mengenal tempat....
"aku merindukanmu sayang"
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC 😘
__ADS_1
Author:
Belum bisa tetap aktif update, karena di rumah banyak kesibukan dan kemarin-kemarin juga ada acara maulid di rumah jadinya, tidak bisa update dan tidak ada sempat buka hp🙏🙏