
Happy reading 😊
.
.
.
.
.
.
.
"ada hal apa yang membuat nyonya datang ingin bertemu denganku" seru Ailin
Membuat keduanya yang tadi ribut kini menoleh ke arah sumber suara yang terdengar dingin itu.
Glek
Tatapan nyonya Lin kini menciut dan berubah pias tatkala menatap manik biru itu menatapnya. Nyali nyonya Lin yang ingin membujuk Ailin dan ayahnya untuk memaafkannya, kini hilang begitu saja.
Kali ini nyonya Lin sungguh benar-benar seolah berhadapan dengan ratu kematian.
"ah Ailin, anakku, maaf ibu datang menemui mu dengan cara seperti ini, tapi ibu sangat merindukanmu nak, ibu ingin minta maaf padamu" seru nyonya Lin gugup melihat Ailin.
"anak, sejak kapan kau amnesia mengakui aku sebagai anak" Ailin menjawab dengan sorot matanya yang tajam.
"maafkan ibu nak, ibu sangat menyesal telah menyia-nyiakan kamu, ibu minta maaf yang sebesar-besarnya, ibu mohon izinkan ibu memelukmu" serunya melangkah ingin memeluk Ailin.
Ailin mengangkat tangannya membuat nyonya Lin berhenti.
"sial, kenapa anak ini tidak mau aku peluk, huh aku harus berusaha untuk mengambil hatinya" batin nyonya Lin yang di dengar Ailin.
"nyonya, jika kau punya niat jahat yang akan membuatmu datang meminta maaf pada ku dan ayahku, aku tidak akan memaafkan mu, jadi sekarang pergilah sebelum aku memaksamu pergi dari rumah ayahku" suara dingin Ailin menusuk hati nyonya Lin.
Sungguh wanita yang serakah akan harta, dia akan dengan suka rela melakukan apapun demi mendapatkan harta melimpah dan kehidupan sosialitanya terjamin aman. Iya tak sanggup akan kehilangan harta yang telah iya punya karena pemberian tuan Revan.
Iya akan berusaha mengambilnya kembali, iya akan terus berusaha. Tapi dia belum tau siapa yang lebih berhak mendapatkannya, dia akan terus menggali semua keinginannya dengan cara yang baik ataupun tidak, iya akan tetap berusaha.
Ailin menatap ayahnya yang terlihat marah saat menatap mantan istrinya itu.
"sungguh kamu tak punya malu sedikitpun Lin, kamu bahkan berusaha untuk datang kesini membujuk Ailin untuk bisa kembali mendapatkan apa yang kamu mau, aku rasa kau akan terus gagal" seru tuan Revan.
__ADS_1
"aku tidak pernah berkata seperti itu" seru tuan Revan.
"kau pikir aku tidak tahu apa niatmu datang kesini" tuan Revan mengepalkan tangannya.
"aku tidak tau maksud mu, aku hanya datang kesini untuk meminta maaf dengan kalian tapi kalian memperlakukan aku seolah aku telah jahat pada kalian" serunya.
"tapi ternyata kau belum sadar, kalau kau sudah terlalu banyak berbuat jahat padaku dan ayah" Ailin menjawab membuat nyonya Lin bungkam.
"apa yang kau niatkan itu tak akan terjadi Lin, karena kau bukalah orang yang benar-benar tulus meminta maaf, meskipun air mata buaya mu itu bercucuran, tapi kau tak bisa membohongi hati yang sudah lama kau sakiti" seru tuan Revan.
Rasanya iya ingin sekali menampar mulut manis wanita di depannya ini, tapi iya tak ingin menyakiti siapapun lagi, cukup dia menahan rasa emosinya sendiri.
"kau yang sudah meninggalkan aku, dulu kamu terlalu egois, saat waktu itu aku ingin kamu tetap di rumah kamu malah pergi ke bandara diam-diam dan pergi ke luar negri untuk memenuhi permintaan bos mu dan membuat kamu kecelakaan dan tak pernah kembali, kamu membuat kami cemas dan khawatir akan keadaan kamu, tapi kamu menghilang begitu saja"
"aku juga pergi dari rumah demi kamu dan juga anakku, tapi selama aku pergi, aku kira kamu merawat anakku dengan baik, tapi ternyata kamu bahkan menyia-nyiakan anak kamu sendiri"
"kamu bahkan menikah dengan kekasih gelap mu selama ini, menikah dengannya dan melupakan anakku, tanpa tau perasaannya akan seperti apa, dia masih kecil, masih membutuhkan kasih sayang, kau setiap hari berada bersama dalam satu atap, tapi kau memperlakukannya seperti orang asing"
"aku tidak bisa membayangkan anakku yang sendirian tanpa ada orang yang peduli padanya, aku bahkan membayangkan bagaimana dulu hari-harinya, bersama siapa dia bermain dan bagaimana dia tumbuh, sungguh aku sangat menyesal telah melihatnya dewasa tanpa tau bagaimana perjalanan hidupnya" tuan revan menitihkan air matanya membayangkan anaknya yang masih kecil harus di asing kan oleh ibunya sendiri.
Nyonya Lin terdiam, dia juga merasa menyesal pada perlakuannya dulu pada Ailin, dia juga tak jarang melihat Alona mencelakainya dulu, namun iya tak pernah membela Ailin bahkan iya selalu membela Alona dan menyalahkan Ailin.
"sayang aku mohon ibu minta maaf padamu, ibu menyesal" entah mengapa nyonya Lin menjadi menangis histeris mendengar penuturan suaminya.
"dulu memang aku sangat menginginkan ibu kembali, tapi ternyata sampai dewasa, aku belum pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, jadi tolong pergi dariku selamanya, dan jangan pernah datang kesini lagi" seru Ailin menatap ke arah lain.
"apa kamu tak menyayangi ibu lagi nak"
"rasa sayang ku sudah tak ada pada orang yang bernama ibu, aku rasa memiliki ibu adalah hal yang mustahil bagiku, pergilah aku dan ayahku akan tetap hidup bahagia meski tanpa seorang ibu" seru Ailin membuat hati nyonya Lin bagai di remuk.
Baru kali ini iya mendengar Ailin berbicara panjang lebar dan tak menerimanya kembali. Hancur, sudah tentu kehancuran hatinya mendengar segala ucapan anaknya. Meskipun memang nyonya Lin membenci Ailin, tetap nalurinya merasa sangat sakit ketika mendengar anak yang iya lahirkan itu, tak menginginkannya lagi.
"penjaga" Ailin memanggil penjaga dan penjaga masuk setelah mendengar panggilan nona mudanya.
"iya nona"
"bawa nyonya ini keluar, dan jangan biarkan dia masuk lagi ke rumah ini" perintahnya.
"siap nona" penjaga itupun menarik tangan nyonya Lin untuk keluar.
"Ailin kau keterlaluan memperlakukan ibumu seperti ini, aku akan membalasmu" teriak nyonya Lin dan tuan Revan hanya menatap kepergian mantan istrinya itu dengan wajah datar.
Ailin tersenyum getir mendengar ucapan ibunya. Sungguh dirinya tidak akan pernah mendapatkan ketulusan seorang ibu, dan dia harus menghilangkan harapan besar untuk mendapatkan cinta seorang ibu.
Tuan Revan dan Ailin sama-sama diam, keduanya hening tak ada yang memulai pembicaraan. Tuan Revan menatap anaknya.
__ADS_1
"anakku" tuan Revan merentangkan tangannya pada Ailin dan Ailin berlari menyambut pelukan ayahnya.
"ayah, hiks hiks hiks"
"menangis lah nak, lepaskan segala yang mengganjal di hatimu nak, ayah akan selalu ada untukmu, ayah masih sehat untukmu, ayah masih kuat untuk membuatmu bahagia nak" tuan Revan mengusap rambut Ailin sayang.
"ayah, apakah aku tidak pantas mendapatkan kasih sayang nya, apa seburuk itu aku di matanya, Ailin manusia ayah, aku juga merasakan sakit saat orang lain di luar sana memiliki seorang ibu yang tulus dan menyayangi anaknya"
Ailin sesenggukan di dalam dekapan ayahnya.
"tidak sayang, kamu harus kuat ya, ayah akan tetap menjagamu" seru tuan Revan yang mendengar tangisan pilu anak gadisnya.
Tanpa siapapun menyadari, seseorang mendengar dan melihat percakapan mereka dan melihat dengan sendu Ailin yang tengah menangis pilu.
"aku berjanji, akan membahagiakanmu, dan akan memberikanmu kasih sayang yang penuh untukmu baby"
Barra mendengarkan semua keluh kesah Ailin, dia juga merasakan hatinya tersayat mendengar tangisan pilu gadis yang dia cintai. Dia semakin ingin melindungi gadisnya itu.
Ingin sekali barra datang menemui gadisnya dan mendekapnya, namun iya tak mau menganggu kekasihnya itu.
"aku tak akan membiarkan mu sedih seperti ini lagi, aku akan membuatmu menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini" seru barra dan berbalik pergi dari balik pintu, tak ingin mengganggu waktu kekasihnya yang tengah menenangkan diri.
Barra kembali keluar menuju mobilnya, dia masuk ke mobilnya dan meminta Jason untuk memutar kemudiannya menuju rumah.
Sebenarnya barra sangat merindukan Ailin, oleh sebab itu iya datang ingin menemui kekasihnya, namun melihat kekasihnya bersedih, iya membiarkan waktu untuk kekasihnya bersama ayahnya.
"besok aku akan datang kembali"
Jason yang mendengarkan ucapan bosnya, dia pun mengangguk dan tak ingin bertanya apa sebab barra kembali.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
__ADS_1