Gadis Muda Yang Tangguh Milik Tuan Arogan

Gadis Muda Yang Tangguh Milik Tuan Arogan
David mati


__ADS_3

Barra dan Ailin sudah menuju ke ruang tahanan, semua para Mafioso Ailin mempersilahkan para Queen mereka untuk memasuki ruang tahanan itu.


Ruangan yang lebih menyeramkan itu tiba-tiba menjadi sebuah ruangan yang dingin dan mencekam. Kehadiran dua orang berpasangan itu menghadirkan suasana yang mencekam.


Andai semua orang bisa keluar dari tempat itu, mereka akan mengambil nafas banyak-banyak untuk menetralisir rasa takut dan gugupnya saat dua orang yang di takuti dan bergelar sama itu menginjakkan kakinya di atas lantai marmer yang dingin itu.


"bagaimana kabarmu David?" tanya Ailin pada david


David hanya diam dan tak ingin melihat siapapun yang berbicara. Julio yang melihat saudaranya yang sudah sangat babak belur dengan tangan yang hanya tinggal satu kini matanya seketika menjadi mengerikan.


"apa yang sudah kalian lakukan dengan adikku" seru Julio.


"aku hanya melakukan apa yang seharusnya dia dapatkan" seru Ailin santai.


"kau menyiksanya?"


"menurutmu?"


"kalian semua brengsek" seru Julio " tapi kau lebih brengsek" Ailin melihat Julio dengan tatapan membunuh. Dia tak suka berbasa-basi dia akan membunuh siapapun yang sudah melakukan kejahatan padanya.


Begitu juga dengan yang di lakukan barra, pria itu Tak akan pernah mengampuni siapapun yang sudah melakukan kesalahan padanya, ataupun orang terdekatnya.


"Nirmala" seru Ailin.


"baik Q" Nirmala segera memutar sebuah video di layar monitor yang sudah di sediakan olehnya sebelum melakukan eksekusi.


Otomatis layar itu menampilkan gambarnya.


Julio melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana perlakuan adiknya yang mencoba memperkosa gadis yang sangat dia cintai. Memaksa gadis itu untuk memuaskan nafsunya. dan bagaimana gadis itu meringkuk menangis meratapi dirinya yang malang.


Melihat dirinya yang sudah tak baik-baik saja, menatap darah di seprai berwarna putih dan merasakan intinya yang robek seakan hancur begitu saja. Kesuciannya yang di renggut membuatnya putus asa.


Julio juga bisa melihat bagaiamana adiknya meninggalkan gadis itu selama kegelapan malam di bawah lampu jalan sepi setelah adiknya membuat gadis yang di cintainya putus asa.


Meskipun David menggunakan topeng pada malam itu, sudah cukup membuat Julio mengetahui pemilik postur tubuh adiknya.


Julio menatap layar monitor itu tanpa berkedip. Dia kembali melihat saat bagaiamana tragisnya malam itu saat Arunika berlari di tengah jalan saat dirinya dan barra lengah malam itu.


Menabrak truk hingga terpental jauh bahkan kepalanya di Giles langsung oleh truk itu.


Julio sampai-sampai tak Berani menatap bagaimana darah Arunika berceceran di tengah jalan.


Sungguh Julio yang kembali melihat kejadian itu membuat hatinya benar-benar hancur. Hatinya bahkan selama ini iya gunakan untuk dendam pada seorang sahabatnya yang begitu dekat dulu padanya, kini menjadi musuhnya.

__ADS_1


"apa itu benar David, ini tidak benarkan, apa kau yang membuat Arunika sampai seperti itu, jawab David" lirih Julio.


David hanya diam saja, wajah nya sudah tak terlihat sepeti dirinya, sudah lebam dimana-mana. Tangannya yang tinggal satu hanya bisa menumpu tubuhnya yang hampir tumbang. Sungguh iya sangat menyesali perbuatannya yang sudah membuat Arunika putus asa dengan hidupnya.


"jawab David" bentak Julio yang memang memiliki tempramen yang tinggi.


David tak mampu menjawab, iya hanya menganggukkan kepalanya pelan, cukup untuk memberikan jawaban pada saudaranya itu.


Buk


buk


buk


"lepaskan aku, aku ingin membunuhnya, aku ingin dia mati sekarang juga, lepaskan aku sialan" seru Julio yang masih dengan tangannya di ikat dan memukul dadanya kuat.


Sedangkan Ailin dan barra menatap datar kedua saudara yang tengah menjadi tawanan itu. "aku sudah bilang, aku menyesali semuanya, jadi aku mohon bunuh aku" pinta David menitikkan air matanya.


Hidupnya tak berarti setelah kejadian Arunika mati, dia menjadi putus asa. Pernah bertekad untuk hidup lebih baik, tapi rasa penyesalannya yang merambat menghantui malam-malam nya membuatnya ingin segera mati saja. Mungkin saat dia sudah tiada, hatinya tenang dan iya tak akan merasakan penyesalan yang datang padanya selama ini.


"tapi sayang sekali tuan Julio, dia adalah targetku aku yang berhak membunuhnya" ailin melipat kedua tangannya di dada sembari menatap nyalang kedua bersaudara itu.


"kau berani datang merusak markas ku, kau tau berapa kerusakan yang kau buat, aku hampir saja jatuh miskin" sambung Ailin.


"tapi aku akan memberikan kekasihku yang akan membunuhmu, aku malas harus mengotori tanganku" seru Ailin lagi.


"barra, lakukan apapun yang kau inginkan pada keduanya, aku tidak ingin ikut campur, aku harus keluar" seru Ailin tanpa menunggu jawaban barra, gadis itu sudah melenggang pergi bersama para bawahannya.


Tinggallah barra dan dua saudara itu di sana. Barra menatap tajam dua orang yang tengah menjadi tawanan itu di dalam jeruji besi. "apa kau sudah tau kan, siapa yang salah sebenarnya, aku pernah berbicara, tapi tak ada yang mendengarkan, kau seolah buta, terlalu menyayangi saudaramu membuatmu tidak ingin mendengarkan kejahatan apa saja yang adikmu buat" seru barra pada Julio.


"sekarang aku ingin kau mati hari ini juga" barra mengambil pistol di saku jasnya kemudian mengarahkan pada David. Dengan dua kali tembakan mengenai jantung dan juga kepala David,membuat David mati seketika.


Dor Dor


" aarrrrrrrggghhh"


Julio hanya melihat saudaranya mati di depan matanya, iya merasa kasihan pada adiknya itu, tapi iya juga membenarkan ucapan barra, terlihat jasad adiknya yang selama ini selalu menuruti keinginannya, Julio menangis dan ingin sekali memeluk jasad adiknya, tapi terhalang besi dan tangannya yang di ikat.


"barra izinkan aku memeluk adikku untuk yang terakhir kalinya, aku mohon barra" mohon Julio menangis.


Barra memberikan kode untuk Mario untuk membawa masuk ke dalam sel tahanan David.


Julio kemudian masuk dan memeluk adiknya itu dengan penuh kasih sayang. Setelah melakukan itu, Julio segera kembali keluar dan di bawa masuk ke sel tahanan nya.

__ADS_1


"barra bunuh saja aku barra, aku juga tak memiliki tujuan hidup saat ini" seru Julio.


"aku membebaskan mu, tapi tak ingin melihatmu lagi di hadapanku"


"mario" panggil barra pada Mario.


"iya bos"


"beri tahu Maxim untuk siapkan jet, datang kesini untuk mengirimkan pria tidak tau diri ini ke tempat yang jauh" seru barra membuat Julio menatapnya sendu.


"maafkan aku barra, aku tak percaya padamu selama ini" ucap Julio.


Namun pria arogan itu tak sedikitpun menyahuti ucapan mantan sahabatnya itu. Barra menatap ke arah lain, tak ingin menatap Julio. Entah apa yang di pikirkan barra sekarang, tapi yang jelas, iya tak ingin melihat manatan sahabatnya ini.


"barra, sejauh apapun kau buang aku, aku ingin meminta sesuatu padamu, kuburkan adikku dengan layak, berikan dia tampat yang layak untuknya, dan berikan tanda agar aku bisa mengenali nya nanti" seru Julio pada barra namun tetap pria itu tak bergeming sedikitpun.


"hanya itu yang aku minta barra tolong, setelah ini kau bebas membuang ku kemana" seru Julio memohon dan mengatupkan kedua tangannya.


Barra lagi-lagi pria itu tak merespon ucapan Julio. Kaki panjang nya melenggang pergi, tapi sebelum sampai di depan pintu iya tanpa berbalik mengucapkan.


"kabulkan permintaannya, dan setelah itu bawa dia pergi dari negara ini, aku tidak ingin melihat orang itu ada di dekatku dan di negara ini" seru barra membuat Julio hanya menundukkan kepalanya pasrah.


Barra meninggalkan tempat itu dengan hati yang bergemuruh. Entah mengapa iya tak bisa membunuh Julio, entah mengapa di dalam lubuk hatinya masih tersimpan kenangan persahabatan mereka. Barra mengambil tindakan untuk membuang Julio dari negara ini, agar iya tak membunuhnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2