Gadis Muda Yang Tangguh Milik Tuan Arogan

Gadis Muda Yang Tangguh Milik Tuan Arogan
Seperti Dewi perang


__ADS_3

Melihat sang kekasih duduk sendiri di tepi danau, barra menjadi sangat kasihan dan bergitu prihatin akan keadaan sang kekasihnya. Barra berjalan menghampiri gadisnya itu.


"sayang" suara yang sangat di kenal Ailin dan tangan menyentuh pundaknya lembut.


Ailin menoleh pada pria itu, seketika itu iya berhamburan memeluk barra dan menumpahkan segala emosinya. Hatinya masih pilu saat melihat kedatangan pria yang beberapa Minggu ini mengisi hati nya.


"menangis lah sayang, aku sudah tau semuanya, maafkan aku yang baru tau semuanya dari papa kamu"


Barra melepaskan pelukannya pada Ailin dan menangkup wajah gadisnya itu.


"maaf aku terlalu sedih hingga tak bisa menahan diriku untuk tak memeluk mu" ucap Ailin lirih.


"sssttt, sayang kau bicara apa, ingat ya aku akan selalu ada di samping kamu" seru barra dan seketika itu juga Ailin menjadi terharu dan kembali menangis memeluk barra.


Hujan semakin deras kedua pasangan kekasih itu masih betah menikmati rintikan hujan yang semakin lama semakin membasahi seluruh tubuh mereka.


Lama mereka berpelukan dan saling menghangatkan di bawah rintikan hujan hingga barra mengajak Ailin pulang.


"sayang, ayo kita pulang, aku khawatir nanti kamu sakit. Ayah kamu juga nanti pasti cemas memikirkan kamu" Seru Barra.


"Hem, baiklah, terimakasih sudah menemaniku di sini" ucap Ailin.


"iya sayang, itu karena aku sangat mencintaimu" barra mencium kening kekasihnya lembut.


"ayo kita pulang" barra menggandeng tangan Ailin dan mengajaknya memasuki mobil.


"tapi aku bawa motor kesini tadi" ucap Ailin.


"jangan khawatir sayang, motor kamu biar Jason yang akan membawanya" ucap barra.


"baiklah" Ailin hanya pasrah dan pintu mobil sudah di bukakan oleh barra dan Ailin langsung masuk, begitu juga dengan barra, iya duduk di samping Ailin dan tak berapa lama mobil pun melaju dengan di kemudikan oleh supir pribadi barra.


****


Sementara di kediaman mole, kini mereka sedang menunggu tuan mole sadar, iya mencoba untuk membawa tuan mole ke rumah sakit tapi entah mengapa mobil mereka di ambil oleh salah seorang suruhan tuan Revan.


Tuan Andres begitu gusar saat ini, semua yang pernah iya nikmati itu ternyata bukan murni milik sang istri, tapi milik mantan dari sang istri.


Suara pintu kamar di buka, nyonya Lin memasuki kamar dan melihat suaminya yang tengah duduk bersandar. Sesekali terdengar hembusan nafas berat dari pria itu.


"ada apa sayang, kenapa kau terlihat gusar seperti itu?" tanya nyonya Lin pada suaminya.


"bagaimana tidak gusar seperti ini, ini semua gara-gara kamu, kamu membohongi aku dan membohongi mama dan papa kalau semua ini milik kamu" ucapnya menatap istrinya malas.


"pa, aku kan memang belum menjelaskan semuanya, dan kamu juga menikmati semua ini kan, kita itu sama-sama senang menikmati kemewahan ini juga, jadi jangan salahkan aku juga. kedua orang tua kamu juga begitu" ucap nyonya Lin tak terima.


"tapi ini semua berawal dari kamu" geram tuan Andres.


"trus bagaimna sekarang, bukannya mikir malah marah-marah tidak jelas" seru nyonya Lin.


Keduanya kembali terdiam dengan pikiran masing-masing, hingga nyonya Lin menemukan ide brilian untuk merencanakan sesuatu.


"ehm, sayang aku punya ide" ucap nyonya Lin mendekati suaminya.


"apa itu?" tanya tuan Andres malas menanggapi istrinya itu.


"bagaimana kalau aku berusaha membujuk Ailin atau tuan Revan dan aku berpura-pura baik lalu memintanya untuk mengembalikan semua harta miliknya pada kita" nyonya Lin mencoba untuk membuat suaminya bisa mendukung niat jahatnya.


"ah, itu hanya akal-akalan kamu saja supaya kamu bisa kembali padanya dan meninggalkan aku yang sudah miskin sekarang, secara memang kamu itu wanita yang sangat matre sekli" ungkap tuan Andres.


"bukan begitu sayang, tapi aku akan memanfaatkan Ailin untuk bisa mendapatkan semua itu kembali" ujar nyonya Lin lagi.


"terserah kamu saja, aku malas bicara sama kamu" tuan Andres meninggalkan istrinya di kamar.


"yah, aku akan merebut kembali apa yang sudah menjadi hakku, kau juga sudah menyerahkan semuanya padaku, dan itu semua akan ku ambil kembali" batin nyonya Lin tanpa tahu apa yang akan menimpa dirinya nanti.


****

__ADS_1


Barra dan Ailin sudah sampai di kediaman tuan Revan, barra membawa Ailin masuk ke dalam rumah dan di sambut oleh tuan Revan.


"terimakasih nak barra, sudah mengantar anak ayah. Tadinya ayah begitu khawatir sekali dengan keadaan Ailin" tukas tuan Revan.


"iya sama-sama ayah, itu juga sudah menjadi tugas barra untuk menjaga Ailin" seru barra.


"baiklah kamu tunggu disini ya, ayah akan menyuruh pelayan membawakan teh hangat untuk kalian" tuan Revan berjalan memasuki dapur tempat para pelayan nya.


"buatkan teh untuk ailin dan barra" titah tuan Revan pada salah satu pelayan.


"baik tuan" ucap pelayan itu.


Sementara barra dan Ailin sekarang masih berada di ruang tamu.


"kamu masuk kamar ya, ganti baju kamu yang sudah basah, nanti kamu sakit" ucap barra begitu perhatian.


Ailin mengangguk namun melihat baju barra juga sama basah.


" kamu juga basah, kamu ganti baju dulu, aku akan carikan baju ayah ya" ucap Ailin


"tidka usah, pak Tara akan membawakan baju ku kesini, kebetulan di mobil ada baju ganti ku di sana, aku selalu menbawa baju ganti" seru barra.


"Hem, baiklah aku masuk dulu ya" Ailin meninggalkan barra di ruang tamu.


"iya sayang"


Setelah menunggu beberapa menit, Ailin sudah terlihat lebih segar dan keluar dari kamar menghampiri sang kekasih. Terlihat dari tangga atas, Ailin sudah melihat barra yang sudah berganti pakaian dan duduk bersama ayahnya entahlah mereka membicarakan apa.


Di atas meja juga sudah ada teh hangat untuk barra dan dirinya sendiri, kemudian Ailin turun melalui tangga dan menghampiri dua pria berbeda usia itu di ruang tamu.


"Ailin sini duduk nak" tuan Revan mempersilahkan anaknya duduk di sampingnya.


"sayang, ayah tau kamu pergi menghindar dan menenangkan diri di danau sendiri tadi, ayah tak bisa kamu bohongi. Ayah juga sudah menelpon dosen di kampusmu untuk mewakilkan kamu meminta maaf karena tak mengikuti kelas hari ini" seru tuan Revan.


"ayah, Ailin minta maaf telah membuat ayah cemas" sesal Ailin.


"nak barra, ayah tinggal dulu ya ada yang ingin ayah kerjakan" ucap tuan Revan.


"iya ayah"


Kini Ailin dan barra yang tersisa di sana.


"terimaksih ya sudah mengantr pulang, tapi apa mama sama papa tau kalau kamu datang kesini, dan bagaimana dengan pekerjaan kamu" pertanyaan beruntun dari Ailin tiba-tiba membuat barra tersenyum tipis.


"sayang, kau ternyata cerewet sekali ya sekarang, hm" mencubit dagu Ailin membuat gadis itu meringis.


"aw, kenapa kamu cubit aku sih"


"habisnya aku gemes banget sama kamu, oh ya untuk pertanyaan kamu tadi, aku sebenarnya masih ada pekerjaan di kantor, tapi aku akan mengerjakannya nanti di rumah, aku hanya ingin bersama kekasihku saat ini" seru barra.


blusss


Pipi Ailin bersemu merah, namun sebisa mungkin terlihat biasa-biasa saja.


"kau tunggu di sini ya, aku mau masak buat kamu" Ailin berdiri ingin ke dapur untuk membuatkan barra makanan karena Ailin yakin pria itu belum makan siang sedari tadi.


"ah tepat sekali aku sangat lapar, bagaimana kalau kita masak bersama dan makan bersama" ucap barra.


"Hem ide bagus" Ailin dan barra pergi ke dapur bersama dan memulai acara memasak dengan sedikit canda tawa membuat Ailin sejenak melupakan kesedihannya.


*****


Seminggu berlalu, setelah kejadian Ailin yang meluapkan emosi dan juga masalah yang iya hadapi seminggu yang lalu, Ailin sudah terlihat baik-baik saja dan tak memikirkan lagi apa yang pernah terjadi dengan dirinya seminggu yang lalu.


Hari ini Ailin ingin menemui kekasihnya di kantornya sekaligus ingin membawakan makan siang untuk sang kekasih.


Ailin menggunakan kemeja berwarna biru Dongker serta celana jeans dan sepatu boot kesukaannya membuat gadis itu terlihat lebih cantik dengan stelan yang iya kenakan, terlihat lebih dewasa dan elegan.

__ADS_1


Ailin mobilnya menuju gedung perusahaan Cristian. Ailin tak lupa mengenakan kaca mata hitam dengan rambut tergerai indah bergelombang.


Sekitar 25 menit, Ailin sudah sampai di gedung pencakar langit milik keluarga crishtian. Ailin membuka pintu mobil dan berjalan melangkah menuju resepsionis. Setelah iya sampai di meja resepsionis, Ailin bertanya pada salah seorang wanita yang sebagai resepsionis.


"permisi nona, pakah tuan barra sedang sibuk?" tanya Ailin pada wanita itu.


"maaf tuan barra tak ingin di ganggu siapapun" ucap wanita itu ketus menatap remeh pada Ailin.


Ailin yang melihat wanita di depannya mendelik tajam.


"apa kau yakin?" tanya Ailin memastikan.


"iya, dia itu selalu sibuk dan tidak ada waktu untuk melayani tamu yang tidak penting" sindir wanita itu.


Ailin melihat wanita itu memang berbeda, mungkin yang sebelumnya sudah tak bekerja di sini lagi.


"oh ya, kalau begitu bagaimana kalau aku telpon tuan barra, memberitahukan jika aku kekasihnya sudah datang" ucap Ailin.


"hey nona, jangan bermimpi anda itu kekasih tuan barra, apa mungkin anda sengaja ingin menjual tubuh anda pada tuan Barra" sarkas wanita itu.


bruk


Ailin tak ingin banyak bicara, iya segera menarik rambut wanita itu dan menghantukkannya di meja resepsionis itu.


"aahh, dasar ******"


Semua mata tertuju pada Ailin dan resepsionis itu dan seketika mereka menegang mungkin beberapa menit lagi akan ada bencana di kantor ini.


" *berani sekali wanita itu meremehkan pacar bos kita"


"wh cari mati ya wanita itu Beranai sekali berbuat Maslah"


"aku yakin wanita itu pasti akan di keluarkan dari perusahaan ini*"


Bisikan yang terdengar saat para karyawan menyalahkan wanita sebagai resepsionis itu yang sudah melawan kekasih bos mereka.


"apa yang kau lakukan hah, kau Berani denganku" teriak wanita itu.


"apakah hanya resepsionis sepertimu adalah hal istimewa, sungguh kau sombong sekali"


"Jason" panggil Ailin pada Jason.


"eh nona, silahkan nona anda di tunggu di dalam oleh bos" ucap Jason.


"urus wanita ini, dan pasti kan wanita ini mendapat hukuman bila perlu keluarkan dia dari perusahaan ini" tegas Ailin.


"anda tidak bisa begitu nona, anda bukan bos disini" ucap wanita itu menatap Ailin tajam.


"baiklah, maka dari itu kau harus berhadapan dengan bos mu sekarang"


"ada apa ini" tiba-tiba barra datang dan melihat kejadian itu.


"pecat dia atau aku yang akan membunuhnya" ucap Ailin menatap tajam wanita itu bak seperti Dewi perang.


.


.


.


.


.


.


.TBC😘

__ADS_1


__ADS_2