Gadis Muda Yang Tangguh Milik Tuan Arogan

Gadis Muda Yang Tangguh Milik Tuan Arogan
Ciuman keduaku


__ADS_3

Bugh


bugh


bugh


Aksi Ailin menghajar habis-habisan ketiga pengendara motor itu yang sudah mau menabraknya.


Gadis itu sangat lihai dalam menghadapi musuhnya, tatapan tajam bak belati yang siap merobek ketiga pria itu, wajah cantik dan teduh itu berubah menjadi merah bak predator yang siap memangsa.


Iya marah, kenapa hidupnya semakin hari semakin berbahaya, iya tak bisa begini, iya ingin hidup tenang tanpa ada beban dan tanpa ada bahaya. Namun seolah hidupnya sudah di takdir kan menjadi seorang yang selalu berada dalam masalah.


Setelah menumbangkan ketiga pria itu, Ailin berdiri Menatap mereka yang tak berdaya itu kemudian melangkah mendekati salah satunya. Ailin menarik kerah baju pria bertato itu dan bertanya siapa yang sudah berani melakukan ini dan menyuruh mereka membunuh Ailin.


"siap yang menyuruh kalian?" tanya Ailin.


Namun pria itu bungkam tak ingin bicara. Ailin geram karena tak mendapatkan jawaban.


bugh


"siapa yang menyuruhmu sialan" bentaknya dan menghajarnya


"atau kau kan mati beserta keluarga kalian" ancamnya.


"nona saya mohon jangan lakukan itu pada keluarga saya, saya mohon kami hanya butuh uang saja nona" ucap pria itu dengan menyesal.


"cepat katakan" ucapnya karna sudah tak tahan mendengar ucapan pria itu.


"Namanya, Amelia nona" ucap pria itu dan pingsan. Pria itu pingsan begitu juga dengan yang lainnya.


"brengsek, wanita itu memang sudah gila, aku tak pernah mengusiknya selama ini, tapi dia sudah berani melakukan ini" ucapnya dengan sorot mata membunuhnya.


"kita lihat sampai dimana kemmpuan mu" Ailin menyeringai.


#####


Sedangkan di tempat lain, di sebuah apartemen mewah, seorang wanita tengah berpesta se* dengan seorang pria yang iya bayar sebagai pemuas nya.


Wanita itu tengah Mendes*h nikmat di bawah kukungan sang pria yang sebagai candunya. Setiap hari adalah kebiasaan seorang wanita itu mencari pelampiasan hasrat yang bergejolak setiap melihat pria pujaan hatinya datang ke apartemen miliknya untuk segera di puaskan.


Amelia adalah wanita yang tak pernah puas dan selalu candu akan kekasihnya, Ketika hatinya buruk, dia akan selalu meminta kekasihnya untuk menyentuhnya, hingga berakhir dengan peluh membanjiri tubuhnya.


****


"sayang, apa kau sudah melakukan apa yang aku mau?" tanya Amelia.


"tentu, aku sudah melakukannya, sekarang kita tunggu hasilnya saja, aku yakin ketiga anak buah ku pasti sudah menghabisi gadis itu" ucapnya sembari mencium kening sang kekasih yang sudah iya gempur tadi.


"bagus, aku suka itu" serunya dan berbalik ******* daging tebal milik sang kekasih dan tentu menaikkan kembali hasrat keduanya hingga keduanya kembali bergulat dengan lebih ekstrim dan panas.

__ADS_1


*****


Ailin merasa sangat geram dengan Amelia, sebelumnya dia tak pernah berbuat sesuatu untuk merugikan Amelia, bahkan dia selalu diam saat Amelia berbuat jahat padanya, tapi kali kini iya tak akan membiarkan Amelia menang dan Ailin akan membuat Amelia jera.


Gadis itu kemudian pergi meninggalkan ketiga pria itu terkapar, setelah menelpon seseorang, Ailin segera pergi meninggalkan tempat itu.


Sebuah mobil yang berhenti di samping Ailin dan Ailin segera naik dan mobil itupun melaju dengan kencang.


*****


Seminggu berlalu, Ailin juga sudah masuk sebagai sekertaris beberapa hari yang lalu, dengan ancaman barra yang membuatnya selalu kesal dan ingin sekali menendang pria itu.


Setiap hari Ailin selalu bekerja dengan baik, bahkan dia lebih cepat selesai daripada barra, pekerjaan pria itu selalu saja tertunda karena sekarang pekerjaan barunya selalu memandang Ailin setiap saat. Pekerjaannya selalu iya tunda hingga beralasan agar Ailin membantunya.


Ailin hanya bisa pasrah dengan kelakuan pria ini. Meskipun menyebalkan Ailin selalu membantu dan melakukan apapun yang di perintahkan bosnya. Sementara itu barra tak sedikitpun pandangannya beralih ke lain, hanya Ailin yang mengobati hatinya yang tidak mood itu.


Pria itu bahkan mempersiapkan meja kerja Ailin harus ada di dalam ruangannya dan bersama dengannya kemanapun iya akan pergi.


Seperti sekarang ini, barra memperhatikan Ailin sejak dia datang, pekerjaannya selalu tak pernah tuntas, bahkan iya sengaja Agar Ailin membantu nya. Jason yang melihat sang bosnya hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakukan pria itu.


"sudah tingkat bucin, padahal sudah tua" gumam Jason nyaris tak terdengar yang tengah berdiri dan menatap bosnya.


"Jason, apa yang kau lihat" tanyanya saat mata Jason tak sengaja menatap Ailin. Tentu Jason menjadi gugup dan segera mengalihkan pandangannya.


"saya tidak melakukan apapun tuan" ucap Jason.


Barra melangkah ke depan Jason.


"mana berani saya bos" ucapnya tapi dalam hati, iya merutuki bosnya yang super super galak ini.


"bagus, sekarang tinggalkan ruangan ini dan bawa semua ini, ini sebagai hukuman mu karna sudah berani memandang wanaitaku" barra meletakkan beberapa dokumen di tangan Jason dan menghukum pria itu karna sudah berani memandang Ailin.


Jason yang mendengar ucapan bosnya, kini wajahnya menyedihkan sekali, dan sungguh ingin sekali menghajar pria di depannya itu. Bahkan melihat tawa ejekan sang bos membuatnya ingin melempar jauh bosnya itu. Namun itu hanyalah ada di dalam benaknya, karena tak mungkin benar-benar melakukannya, bisa-bisa nyawanya menjadi taruhan.


"baik bos" jawabnya lesu dan tak berdaya meninggalkan ruangan itu.


"huufft bos gila, untung bos kalau tidak sudah aku tendang dia dari gedung tinggi ini sampai bawah" rutuk nya setelah berada di luar ruangan bosnya.


Sementara itu, Ailin merasa tak terganggu dengan pembicaraan barra dan Jason, iya masih berkutat dengan laptopnya, hingga sesekali terlihat keningnya berkerut mengadakan gadis itu tengah berpikir keras.


"baby, apa kau lapar?" tanya barra.


"belum" jawab Ailin singkat.


"kita keluar sekarang, makan di restoran" ucapnya.


"tapi aku belum selesai"


"jangan membantah"Jason menarik tangan Ailin dan gadis itu sekali lagi hanya bisa pasrah dengan kelakuan pria itu.

__ADS_1


"sayang, perutmu harus terisi, kalau sampai kosong, kau tidak akan bisa berpikir" ucap barra perhatian.


"Hem" gadis itu memang sangat irit bicara.


"baiklah, sekarang kita pergi ke restoran dan semua ini kita lanjutkan nanti setelah selesai" ucap barra dan tetap berjalan ke arah parkiran.


Melihat pria di depannya ini begitu perhatian, entah mengapa Ailin menjadi sedikit lebih tenang, dia tak mempersalahkan ucapan barra yang selalu mengancam dan memaksanya, mungkin itu adalah sebuah perhatian terhadapnya, tapi yang membuatnya bingung. Mengapa pria ini sangat perhatian sedangkan hubungannya hanyalah antara bos dan sekertaris saja.


Barra yang merasakan Ailin hanya diam, kini menoleh dan mendapati wanitanya hanya memasang wajah datar.


"sayang, kenapa dengan wajahmu" tanya barra tanpa sadar memanggil Ailin dengan sebutan sayang.


"tuan bisakah anda memberikan jawaban apa arti dari panggilan tuan tadi?" tanya Ailin.


"aku hanya memanggilmu sayang saja, karna memang aku menyayangimu" ucapnya.


"tapi bukannya itu panggilan untuk-"


Cup


Ucapan Ailin terhenti saat benda kenyal itu menyentuh bibirnya.


Ailin membelalakkan matanya saat daging kenyal itu menyentuh bibirnya dan tanpa sadar matanya terpejam menikmati dan meresapi setiap pergerakan pria itu.


"kau terlalu banyak pertanyaan sayang, kau adalah wanitaku, kau adalah pujaan hatiku ingat itu" jawab barra.


"lancang sekali" gumamnya dan di dengar oleh barra.


"maafkan aku sayang aku kelepasan" barra mengusap bibir tipis itu dengan ibu jarinya.


"sialan, ciuman kedua ku sudah di ambil kembali oleh pria arogan ini" batin Ailin.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


TBC😘


__ADS_2