Gadis Muda Yang Tangguh Milik Tuan Arogan

Gadis Muda Yang Tangguh Milik Tuan Arogan
Mengunjungi kakek fang


__ADS_3

Selamat membaca


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ailin sudah sampai di kampusnya sekitar satu jam yang lalu, iya hanya sebentar di kampusnya hanya ada keperluan kecil saja, setelah itu, dia melajukan kembali motornya untuk pulang.


Ailin kembali berencana untuk segera mengunjungi kakek fang meski hari ini masih belum terlalu siang, supaya iya bisa dengan cepat membawa barra bersamanya kembali ke markas.


Setelah memikirkan banyak hal rencana hari ini, Ailin memutuskan keluar lagi dari rumahnya mengendarai mobil meski matahari terasa sangat menyengat di kulit, tapi Ailin begitu bersemangat saat melajukan mobilnya.


Namun macet pada lampu merah memperlambat perjalanan nya. Ailin berdecak kesal, mengapa tiba-tiba jalanan kini menjadi macet dan Ailin menggerutu kesal dan beberapa kali memukul setirnya sendiri.


"huufft, membosankan" serunya.


****


Setelah setengah jam lebih, akhirnya macetpun berkurang, Ailin kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi sampai iya sudah sampai di jalan yang menuju hutan timur kota yang terkenal tak ada seseorang yang berani masuk ke sana.


Ailin memasuki hutan itu lebih dalam. Namun keadaan hutan itu yang tak memungkinkan untuknya bisa membawa masuk mobil ke dalam hutan. Akhirnya Ailin memutuskan meninggalkan mobilnya yang tak terlalu jauh dari tempat tinggal kakek fang.


Ailin sebelumnya juga menyempatkan diri memasuki toko dan supermarket untuk membawakan berbagai oleh-oleh untuk kakek, nenek dan Karin adik angkatnya.


Ailin menenteng beberapa paper bag di tangannya dan berjalan menyusuri jalan kecil hingga rumah tua itu terlihat di mata Ailin.


Ailin melihat Karin dan kakek fang berada di halaman rumah tengah berlatih. Kemampuan Karin sekarang lebih banyak kemajuan.


"selamat siang kakek, Karin!" seru Ailin membuat kakek fang dan Karin menoleh. Seketika raut wajah keduanya terlihat bahagia melihat kedatangan Ailin.


"Kak Ailin wah kapan kau sampai?" tanya Karin begitu antusias dan meninggalkan kakek fang yang tengah melatihnya dengan menggelengkan kepala, di tinggal saat memasang kuda-kuda.


"kau ini benar-benar anak pemalas" kakek fang membatalkan kuda-kuda nya dan menghampiri Ailin.


"kakek, aku merindukanmu, maaf aku hanya bisa datang sekarang, karena akhir-akhir ini aku sangat sibuk" seru Ailin.


Ailin menyalami tangan kakek fang dan memeluk kakek tua itu sebentar. "oh ya, aku bawakan banyak oleh-oleh, untuk kakek dan nenek dan untuk kamu Karin, oleh-oleh mu di paper bag yang paling kecil itu" seru Ailin menunjukkan papar bag yang dia beli tadi.


"waah apa isinya kak, aku sangat penasaran" seru Karin.


"lihat saja"


"oh ya nenek dimana?" tanya Ailin.


"nenek sedang tidur di kamar, kamu pergilah ke dalam katanya nenek sedang sedikit pusing saja di dalam" seru kakek fang.


"kasian nenek, baiklah ayo di buka doang oleh-olehnya kek" Ailin memberikan sebuah paper bag besar untuk tuan zayyan. dan satu paper bag lagi untuk nenek Moza.


"kek, aku mau menemui nenek dulu ke dalam, aku ingin melihat keadaannya"

__ADS_1


"masuklah, siapa tau setelah melihatmu nenek menjadi sehat" seru kakek fang.


"apa dia sangat merindukan aku kek?" tanya Ailin.


"iya, nenek kamu merinduaknmu, dia selalu saja ingat padamu setiap malam"


"baiklah aku akan masuk ke dalam dan menemuinya" Ailin memasuki rumah itu dengan melewati pintu kecil yang memang terlihat sudah reot, tapi di dalam seperti sebuah istana kayu yang begitu indah.


Terbuat dari papan kayu tapi terlihat seperti rumah mewah dengan semua ukiran estetik dan juga bunga segar dimana-mana. Rumah yang bersih dan terawat di setiap sudutnya, terdapat bunga yang beraneka ragam warna menyejukkan mata.


Ailin melihat salah satu pintu kayu yang di tutup berwarna hitam dengan ukiran unik paling ujung. Ailin berjalan ke sana dan mengetuk pintu itu.


tok tok tok


Tak berapa lama pintu terbuka, keluarlah sosok yang di cari Ailin.


"Hay nenek" sapa Ailin.


"Hay Ailin sayang, nenek rindu padamu nak" seru nenek Moza menangis dan memeluk Ailin.


"Ailin juga rindu nenek, bagaimana kabar nenek?" Ailin sembari mengusap air mata nenek tua itu.


"nenek jangan sedih, sekarang Ailin sudah datang" seru Ailin menghibur dan menepuk pelan pundak nenek tua itu.


"kabar nenek baik saja" seru nenek Moza.


"kata kakek, nenek tengah pusing apakah itu benar?" tanya Ailin.


"iya benar, tapi sudah lebih baik, karena ada kamu di sini menjenguk nenek" suara nenek Moza memang sedikit lemah tapi wanita tua itu menyambut Ailin dengan begitu senang dan tak lagi merasakan pusing.


nenek tua itu memang menanti cucu angkatnya ini setiap hari dan selalu menatap tempat biasa Ailin duduk berharap gadis itu datang menemuinya.


"sekarang ayo kita ke ruang tamu, aku akan buatkan kamu sup kesukaan kamu" seru nenek Moza.


"no nek, jangan buat apapun, nenek butuh istirahat, nenek tidak boleh mengerjakan apapun" seru Ailin.


"ayo sekarang kita ke ruang tamu, ajak Karin dan kakek masuk juga, kita makan bersama di ruang tamu" seru nenek Moza dan Ailin mengangguk kalau memapah nenek Moza keluar kamar menuju kursi kayu sebagai kursi ruang tamunya.


*****


Karin dan kakek fang memasuki rumah dan duduk di ruang tamu bersama setelah Ailin memanggil keduanya.


"apa kalian sudah membuka paper bag oleh-olehnya?" tanya Ailin.


"sudah kak, aku sangat suka dengan hadiahnya" seru Karin gembira.


"kakek?" tanya Ailin.


"tentu, kakek juga suka dengan hadiah yang kamu berikan"


"benarkah"


"hadiah?" tanya nenek Moza.


"iya nek, dan Ailin juga sudah belikan hadiah untuk nenek" selendang mewah berwarna emas yang lembut dan motifnya yang unik, tentu di sukai nenek Moza setelah Ailin membuka paper bag satunya dan di berikan pada nenek moza. Selendang terkenal dari butiknya.


"ah ternyata ini sangat cantik sayang, terimakasih" seru nenek Moza senang dengan pemberian Ailin.


"kakek juga berterimakasih padamu sudah memberikan jam tangan mewah dengan harga fantastis untuk tuan zayyan yang sudah lama merindukan barang-barang berharga.


"kak, aku juga senang dengan hadiah yang kakak berikan" Satu paket skincare dan beberapa pakaian yang mewah dan modis di berikan pada Karin karena menurut Ailin, Karin lebih suka dengan alat make up dan segala kesukaan para gadis lainnya.


"nak, kami jadi tidak enak menerima semua ini" ucap nenek Moza.


"tapi Ailin suka memberikannya pada kalian, ini adalah bentuk terimaksih ku karena nenek dan kakek sudah memberikan aku banyak hal ilmu pengetahuan alam dan juga ketrampilan bela diri dan segala yang telah kakek berikan padaku.


Jika bukan karena kakek, tadi malam aku tidak bisa menikmati kesuksesan ku dalam mengalahkan mafia nomor dua di negara ini" seru Ailin membuat kakek fang melebarkan mata dan kemudian tersenyum.


"apa itu benar?" tanya kakek fang senang.

__ADS_1


" iya kek, itu benar" seru Ailin.


"aku sangat berterimakasih padamu, pada kalian berdua yang sudah dengan suka rela mengajarkan aku banyak hal pada saat aku kesulitan, kalian dengan tangan terbuka mengulurkannya padaku, aku sangat berterimakasih padamu kek, nek" seru Ailin.


Lalu kemudian mereka saling bertukar cerita dan Ailin menceritakan pada saat mulai penyerangan pada black Snacks tadi malam hingga semua tak terlewatkan.


****


Barra baru saja keluar dari ruang rapat, setelah menghadiri rapat dengan beberapa orang dari perusahaan lain yang datang mengajukan kerja sama dengannya. Dan dengan melalui begitu banyak pengenalan produk dan juga pencapain bulanan serta kinerja para karyawan perusahaan tersebut barra meneliti dan melihat dengan teliti surat kerja sama itu sebelum iya tanda tangani.


Dan setelah sekian jam melakukan rapat, barra sudah selesai dengan rapatnya siang itu. Barra memasuki ruangannya dan alangkah terkejutnya melihat seseorang yang sangat dia benci datang menemuinya dan duduk anggun di kursi kebesarannya.


Wajahnya yang menampakkan lelah tadi, kini menjadi murka dan merah padam saat tau siapa wanita yang sudah berani menduduki kursinya.


"siapa yang menyuruhmu duduk di sana brengsek" barra memeprlihatkan raut wajah murkanya.


"oh sayang, kau mengapa tak begitu senang saat aku mengunjungimu" wanita itu berdiri dan menghampiri barra yang berdiri di dekat pintu ruangannya menatap wanita itu dengan benci.


"hey, mengapa wajahmu begitu menakutkan, apa aku kurang cantik lagi di matamu" wanita itu maju beberapa langkah hingga mendekati barra lalu dengan lancang memegang dada bidang barra yang terlihat dasinya sedikit berantakan. Wanita itu merapikan dasi barra.


"apa karena Pela*ur itu yang membuatmu menjadi dingin padaku, sekarang aku sudah menetap di negara dan tak akan ke luar negeri lagi, apa kau tak ingin kembali padaku sayang"


Sambil bergelayut manja, Lila memeluk lengan barra hingga pria itu merasa sangat muak melihat tingkah wanita itu.


Bruk


" aku tidak Sudi di sentuh oleh wanita brengsek seperti mu, pergi kamu dari ruangan ku, sebelum aku menyuruh satpam menyeretmu pergi" tatapan dingin barra membuat Lila sedikit takut, tapi berusaha untuk tetap terlihat santai.


"barra aku akan buat gadis jalan* itu membayar semua perlakuanmu" seru Lila tanpa malu membuka sedikit kancing bajunya untuk memancing hasrat barra. Mungkin menurutnya barra akan tergoda dengan kemolekan tubuhnya.


Bukannya tergoda, barra merasa geram oleh tingkah wanita itu.


Buk


brakk


Lila di dorong oleh barra hingga terjatuh ke lantai.


"kau pikir aku akan tergoda oleh tubuh murah mu itu, aku tidak Sudi cuih" barra meludahi wajah Lila membuat Lila kesal dan geram.


"aku akan membalasmu barra" Lila segera keluar dari ruangan barra setelah merapikan pakaiannya, dan berlari menangis memancing perhatian para karyawan agar para karyawan mengira Lila sudah di lecehkan oleh bosnya.


Tentu para karyawan hanya merasa kasihan pada Lila yang sudah berusaha terlihat seolah di lecehkan oleh atasan mereka. Jason kemudian datang, pria itu memutar bola matanya malas dan mendekati Lila.


"makannya jangan cari Maslah, lihatlah siapa yang kau tipu, kau ingin menipu karyawan dengan cara menjijikkan itu, hanya karyawan bodoh yang bisa menilai semuanya" Jason berlalu pergi dan bersiul melewati Lila yang tengah geram dengan ucapan Jason tadi.


"awas kalian semua" Lila yang sudah malu segera pergi dari kantor barra. dan di tertawa kan oleh seluruh karyawan yang melihatnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


TBC😘


Harap memberi saran pada kata-kata dalam cerita kurang bagus atau kurang di mengerti🙏

__ADS_1


__ADS_2