Gadis Muda Yang Tangguh Milik Tuan Arogan

Gadis Muda Yang Tangguh Milik Tuan Arogan
Kedatangan nyonya Lin.


__ADS_3

Ailin sudah mengganti bajunya dengan baju yang di bawakan para bawahannya tadi, dia sekarang berada di parkiran mobilnya. Hari juga sudah mulai gelap, Ailin harus pulang terlebih dahulu.


Baju yang tadi dia gunakan, kini dia buang entah kemana.


Ailin memutari kemudinya dan berjalan ke arah jalan rumah ayahnya.


Ailin melajukan mobil dengan begitu kencang hingga beberapa menit, Ailin sudah sampai di gerbang miliknya.


"ayah aku pulang" seru Ailin melihat ayahnya yang berada di kursi goyang pria itu.


"kamu kemana saja nak, ayah mencemaskan mu" seru tuan Revan membuka kacamata nya yang di pakai ketika membaca koran atau bekerja di kantornya.


"Ailin mampir ke rumah temanku, karena temanku mengajakku ke rumahnya" seru Ailin.


"apa kamu yakin nak?" tanya tuan Revan memastikan.


Tentu dia tak pernah melihat anaknya membawa teman ataupun memiliki teman. Ailin mendengus memang tak bisa berbohong pada ayahnya itu, iya pun pasrah dan menceritakan semua kejadian yang iya alami hari ini.


"nak, sekalipun kamu membunuh ataupun melakukan penyiksaan pada orang lain, itu bukan murni kejahatan yang kamu buat sendiri. Itu sudah cukup membuat ayah bangga padamu, karena anak ayah ini sudah berkorban menyelamatkan banyak orang" seru tuan Revan.


Ailin menatap ayahnya dan tersenyum."ayah, apa ayah menerima Ailin, sedangkan Ailin seperti ini, apa ayah masih mau menganggap Ailin sebagai anak ayah?" tanya Ailin dengan wajah begitu polosnya.


"tentu saja ayah sangat menyayangi kamu, terlebih lagi kamu sangat pandai menjaga diri kamu sendiri, ayah bangga sama kamu nak" tuan Revan mengelus lembut rambut putrinya.


Ternyata dirinya terlau banyak melewati banyak hal tentang anak gadisnya, dia juga merasa sedih mengingat dulu istrinya tak pernah memberikan kasih sayang pada anak satu-satunya dan lebih memilih pria lain sebagai ayah dari anaknya.


Tuan Revan bersyukur setidaknya, iya masih bisa bertemu dengan gadisnya dan tak membencinya ketika dia pergi meninggalkan anaknya.


Tuan Revan juga tak khawatir lagi melihat kondisinya yang sudah tua, tak mungkin bisa menjaga anaknya lagi.


"nak, ayah hanya minta satu hal untukmu, ayah ingin menikahkan kamu dengan nak barra, ayah rasa dia akan bisa menjadi pelindungmu kelak. Dia juga yang akan menjadi pendamping hidupmu setelah ayah"


"aku mohon kamu mau menuruti keinginan ayahmu ini" seru tuan Revan menatap anaknya sendu.


"tapi ayah, apa barra mau menerima Ailin dengan identitas Ailin yang sebenarnya, apa dia tidak akan kecewa?" tanya Ailin sendu.


"ayah yakin, dia pasti menerima kamu nak, dia adalah pria yang baik dan juga sopan, meskipun kadang sikapnya yang arogan tapi percayalah, dia adalah pria yang terbaik untukmu" seru tuan Revan pada putrinya.


"baik ayah, Ailin akan menuruti keinginan ayah" seru Ailin dan tersenyum manis.


"anak ayah memang cantik, kamu adalah satu-satunya harta ayah yang paling berharga" seru tuan Revan.


"Ailin juga sayang ayah" Ailin memeluk cinta pertamanya itu.


*


*


*

__ADS_1


*


*


Di kediaman mole, nyonya Lin dan juga tuan Andres memiliki rencana untuk mendapatkan rumah dan juga fasilitas yang dulu mereka nikmati, iya ingin mengambilnya kembali.


Dengan cara, nyonya Lin akan mendatangi rumah tuan Revan dan meminta maaf pada mantan suaminya itu lalu dia akan meminta untuk kembali pada tuan Revan.


Awalnya tuan Andres tak menyetujui keinginan istrinya itu, tapi entah bagaimana caranya nyonya Lin membujuk suaminya itu agar suaminya menyetujui keinginan nya.


"pa, aku pergi dulu ya, oh ya jangan beri tahu siapapun tentang rencana kita, kalau ini berhasil baru kita beri tau mereka" seru nyonya Lin.


"Hem" dengan wajah kesalnya, tuan Andres menjawab dengan berdehem saja.


"baiklah sayang, doakan saja semoga kita mendapatkan kembali apa yang sudah kita miliki" serunya memegang tangan suaminya kemudian mengecup singkat bibir suaminya.


Kemudian nyonya Lin keluar dengan memesan taksi untuk menuju kediaman tuan Revan.


Setelah menempuh beberapa menit, nyonya Lin sudah sampai di gerbang besar milik tuan Revan.


"apa ini ya tempatnya" nyonya Lin setelah turun dari taksi melihat alamat yang tertulis di kertas yang dia bawa untuk mencari alamat rumah tuan Revan.


"sepertinya ini benar rumah Revan" serunya menatap kembali pagar tinggi itu. Sungguh mata nyonya Lin berbinar bahagia ketika melihat rumah mewah itu. Dia berfikir kenapa juga dia harus menjadi istri tuan Andres bukankah lebih baik, menjadi istri tuan Revan adalah menyenangkan pikirnya.


"aku akan berusaha merebut semua ini, aku akan membuat tuan Revan memaafkan aku" seru nyonya Lin dan tersenyum licik.


Ning nong,,,,Ning nong,,,,,Ning nong,,,


Ketiga kali bel itu di bunyikan nyonya Lin, salah satu penjaga keluar dan membuka sedikit pagar itu melihat siapa tamu yang datang.


Terlihat wanita setengah baya berdiri di depan pintu gerbang dan berpenampilan sangat cantik. Membuat sang penjaga heran, siap perempuan ini.


"bisakah saya masuk?" tanya nyonya Lin lembut.


"maaf nyonya, saya harus memberi tahu tuan terlebih dahulu" seru penjaga itu.


"tidak perlu, aku sudah ada janji dengan nya tadi" seru nyonya Lin.


"tapi tidak bis-" belum sempat penjaga itu menyelesaikan ucapannya nyonya Lin masuk begitu saja tanpa mendengarkan ucapan penjaga itu.


"nyonya anda begitu lancang masuk tanpa mendengarkan kami" penjaga itu marah melihat tingkah wanita di depannya ini.


"hiks, hiks, hiks kalian semua jahat, kalian tak ingin memberi ku menemui suami dan anakku, kalian jahat huuuuu" nyonya Lin menangis dan berteriak sekencang-kencangnya membuat penjaga itu kelimpungan.


"saya akan memanggil tuan dulu, nyonya tunggu di sini" seru penjaga itu tapi tak di jawab oleh nyonya Lin.


Kemudian penjaga itu masuk ke dalam rumah untuk mencari diamna keberadaan tuannya.


"tuan, maaf di luar ada seorang wanita yang ingin mencari tuan, saya sudah berusaha menyuruhnya keluar tapi dia begitu nekat untuk masuk ke sini" seru penjaga itu.

__ADS_1


"dimana?" tanya tuan Revan.


"Revan, aku merindukanmu" nyonya Lin berhamburan ingin memeluk tuan Revan. Tuan Revan dan penjaga tadi sungguh terkejut melihat nyonya Lin masuk dengan tiba-tiba dan ingin memeluk tuan Revan.


"Lin, berani-beraninya kamu masuk tanpa ijinku, sekarang kamu keluar" tuan Revan marah dan menjauh saat nyonya Lin ingin memeluknya tanpa rasa malu.


"Revan, aku benar-benar menyesal sekarang, aku sadar tenyata aku mencintaimu" seru nyonya Lin menangis.


Wajah tuan Revan sudah merah padam, dia begitu syok dengan kedatangan mantan istrinya itu malam-malam begini.


Tuan Revan menatap tajam wanita yang di cintainya dulu itu. Wajahnya masih cantik dan penampilannya juga sungguh menarik, membuat tuan Revan hanyut dengan wajah cantik manatan istrinya itu. Namun dalam sekejap iya mengingat bagaiamana perlakuan wanita ini pada anak gadisnya dan semua penghianatan yang telah di lakukan wanita itu.


"siapa yang mengijinkan mu masuk ke rumahku, pergi kamu dari sini Lin, belum cukup membuat anakku hidup menderita selama ini hah" tuan Revan begitu murka melihat wajah wanita di hadapannya ini.


"Revan aku mohon, maafkan aku, aku janji aku akan menjadi wanita baik setelah ini, aku juga menyesal telah menyia-nyiakan anak kita selama ini, aku janji aku akan menyayanginya, tapi aku mohon maafkan aku Revan" nyonya Lin dengan berlinang air mata memohon pada tuan Revan.


Tapi tuan Revan tak sudi melihat ke arah nyonya Lin. Dia sangat membenci wanita ini sekarang, meskipun dulu dia sangat menyukainya, tapi sekarang dia malah sangat membencinya.


Ailin yang menjadi terganggu waktu istirahatnya kini samar-samar mendengar ayahnya berbicara pada seorang wanita di bawah. Ailin bangkit dari tempat tidurnya dan mencoba melihat siapa yang membuat keributan di rumah ayahnya.


Ailin begitu terkejut melihat seorang wanita yang telah melahirkannya itu datang ke rumah ayahnya dan sepertinya wanita itu tengah meminta maaf pada ayahnya.


Ailin keluar dan menuruni anak tangga itu dengan perlahan.


"Revan aku mohon, aku sudah sangat menyesal telah menyia-nyiakan anak kita, aku sadar selama ini aku begitu sangat membencinya, aku mohon berikan aku dan Ailin bertemu"


"ada hal apa yang membuat nyonya datang ingin bertemu denganku" seru Ailin.


Membuat keduanya yang tengah ribut itu menoleh ke arah sumber suara yang terkenal dingin itu.


Glek


.


.


.


.


.


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2