Gadis Muda Yang Tangguh Milik Tuan Arogan

Gadis Muda Yang Tangguh Milik Tuan Arogan
Semakin menggemaskan


__ADS_3

Selamat membaca😘


Pagi yang cerah, matahari yang bersinar masuki celah korden, mengganggu tidur nyenyak seorang gadis yang masih bergelut dengan selimut tebalnya. Meski di luar cuacanya terang dan cerah, namun tak menampik suhunya terasa dingin dan menyejukkan.


Ailin membuka matanya sedikit dan melihat ternyata sudah pagi. Ailin belum sadar sepenuhnya iya berada dimana sekarang. Saat Ailin ingin menutup matanya lagi, iya kembali ingat sesuatu dan membuatnya segera bangkit.


"astaga, kenapa aku bisa ada di sini, semalam kan aku di lantai tidur di kasur itu" ucapnya.


"apa ayah ya yang membawaku ke atas. Tapi tidak mungkin, karena kaki ayah masih sakit" sambungnya.


"oh my God, apa yang terjadi apa mungkin? ah,,tidak tidak, tidak mungkin tuan barra yang mengangkat ku, tapi siapa?"


Dia berbalik dan tak menemukan ayahnya, dia panik Dimana ayahnya sekarang. Langsung saja Ailin bergegas dan berlari untuk mencari ayahnya keluar hingga menuruni tangga dan tak menemukan dimana ayahnya.


"ayah, ayah dimana?" dia belum menyadari dirinya dimana sekarang.


"ayah" teriaknya membuat seisi rumah menemuinya yang masih di bawah tangga tengah duduk memeluk kedua lututnya.


"ada apa sayang, ada apa denganmu" tanya nyonya Jihan panik ketika melihat Ailin memeluk lututnya di tangga.


"hah"


Ailin melihat sekitarnya tengah banyak yang memperhatikan dirinya mulai dari nyonya Jihan hingga tiga orang pelayan yang bertugas disana. Dan seketika juga baru tersadar dirinya berada dimana sekarang, dia berada di kediaman Cristian sekarang.


"maafkan aku Bu, aku panik sekali mencari ayah" sesalnya dan sedikit merasa malu pada nyonya Jihan.


"tidak apa sayang, mulai sekarang panggil mama ya sama seperti barra, dan untuk ayah kamu, dia ada di taman bersama papa, mereka sedang menikmati kopi disana" jelas nyonya Jihan.


"sejak kapan ayah bangun bu- eh mama?" tanya Ailin.


"masih subuh ayahmu sudah bangun dan membiarkan kamu tertidur mungkin kamu sangat kelelahan" ucap nyonya jihan.


"trus bagaimana dia bisa jalan" pikirnya ayahnya pasti tak bisa jalan karena tembakan itu.


"kamu jangan khawatir ya, tadi pagi papa kamu memberikan tongkat untuk ayah kamu, supaya dia bisa berjalan" seru nyonya Jihan.


"apa kakinya ayah sudah baikan ma?" tanya Ailin.


"iya sudah sedikit lebih baik, sekarang kamu mandi dan turun kembali, karena kita sarapan bersama, kamu juga panggilkan barra ya, pasti anak itu belum bangun" ujar nyonya Jihan lagi.


"iya ma, Ailin naik dulu"


"iya sayang"


Ailin akan menaiki tangga kembali seketika teringat sesuatu.


"ma, maaf tapi Ailin tidak punya baju ganti, apa Ailin pergi keluar membeli baju ganti dulu ya" ucap Ailin menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"kamu tenang saja sayang, mama sudah siapkan baju ganti kamu di lemari di kamar kamu, dan kamar itu milik kamu sewaktu-waktu akan terjadi sepeti tadi malam dan ketika kamu akan menginap" ucap nyonya Jihan lembut.

__ADS_1


" makasih ma" cicit Ailin.


"sama-sama sayang, sudah ya kamu mandi dulu sudah bau acem nih" ucap nyonya Jihan bercanda sembari menutup hidunya. Namun Ailin terlihat malu dan segera kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar yang menjadi kamar miliknya dari sekarang.


****


Selesai dengan mandi dan bersiap-siap, Ailin keluar kamar dan melihat pintu berwarna hitam itu yang masih tertutup rapat, sepertinya penghuni kamar itu belum bangun.


Ailin berjalan ke arah pintu itu, tapi ada sedikit takut saat bertemu barra. Entah mengapa Ailin menjadi begitu gugup saat akan memasuki kamar itu. Namun hari yang semakin siang membuatnya mau tak mau dia harus masuk ke kamar barra untuk membangunkan pria itu yang masih tertidur.


Ailin takut nanti nyonya Jihan dan papa serta ayahnya menunggu lama di meja makan. Akhirnya Ailin memberanikan diri untuk masuk ke kamar barra untuk membangunkan pria itu.


Ailin berhasil membuka pintu itu yang tak di kunci dari dalam. Ailin bisa melihat keadaan kamar pria itu yang masih terlihat gelap karena korden kamar yang belum di buka.


Ailin mencium wangi maskulin yang sering di gunakan barra setiap hari, seolah Ailin sudah mengenal wangi itu yang menyeruak memenuhi Indra penciumannya.


Cepat-cepat Ailin menuju ranjang dan melihat pria itu tidur dengan telungkup dengan dengkuran halus yang terdengar samar-samar dan teratur menandakan tidur pria itu tak terganggu dan masih terlelap.


"astaga, pria ini seperti kebo saja, semoga tak ada ilernya di bantal" batin Ailin.


"tuan, bangun anda di tunggu sama papa dan mama di bawah untuk sarapan" Ailin menggoyangkan bahu pria itu, namun Tak ada tanda-tanda pria itu terganggu.


"tuan" ucap Ailin lagi namun belum juga terbangun. Ailin mendekati wajahnya dan melihat lebih dekat wajah barra.


"astaga, pahatan yang sangat sempurna sekali, tapi kenapa kau sungguh menyebalkan saat kau sedang tidak tidur" batin Ailin mengagumi ketampanan barra.


"aah pikir apa sih aku ini, aku kan kesini untuk membangunkan pria kebo ini, kenapa aku harus mengaguminya sih" Ailin menepis segala kekagumannya.


bruk


"mau kemana sayang" ucap barra dengan suara serak khas bangun tidur.


"a-aku mau membuka korden kamarmu, tapi sekarang kau sudah bangun. Mama, papa dan ayah sedang menunggumu di bawah untuk sarapan bersama" ucap Ailin gugup saat dirinya jatuh ke dekapan pria itu. Bahkan matanya terpejam saat terjatuh tadi.


Ailin merasa berbeda pada dirinya sendiri, ada apa dengannya apa dia sedang jatuh cinta, apa jatuh cinta separah ini, mengapa dirinya menjadi tak bisa berkutik saat pria ini mendekatinya dan berbuat sesuatu padanya.


Ailin mengembalikan kesadarannya dan segera menepis semua perasaan yang tiba-tiba mengganggu akal sehatnya. Berusaha menarik tubuhnya pada pria itu, adalah sangat sulit bahkan Ailin mengerahkan tenaganya yang kuat, namun sayang, pria ini begitu kuat.


"lepaskan " serunya.


"tidka akan"


"lepaskan"


"tidak


"lepaskan atau aku teriak" ucapnya.


"silahkan teriak, kau tidak akan bisa lepas sayang, bagaimna kalau kita nikmati saja waktu kita di kamar, bila perlu kita proses pembuatan anak kita di sini" seru barra santai membuat Ailin melotot garang.

__ADS_1


"jangan macem-macem tuan barra, lepaskan" ucapnya berontak tapi pria itu tak sedikitpun melonggarkan pelukannya.


"ya Tuhan, kenapa pria ini sangat senang membuatku kesal, boleh gk sih aku buang pria ini ke laut" batinya tapi sayang yang mendengarnya hanya dirinya sendiri.


"tuan barra, lepaskan aku, aku tidak mau nanti mama dan semuanya tau kita dalam keadaan seperti ini" ucap Ailin.


"baiklah aku lepas tapi berikan aku kiss dulu" seru barra.


"aku tdiak mau" saut Ailin.


"jangan harap bisa lepas dari pelukanku"


"oke-oke, aku akan mencium " ucap Ailin cepat.


Lama-lama berada di dekapan pria ini membuat jantungnya berdebar lebih cepat, dan Ailin tak mau detak jantungnya bisa di dengar oleh barra.


Cup


Ailin mencium pria itu sekilas tapi bukan barra namanya jika tak menekan tengkuk leher Ailin dan memperdalam ciuman itu hingga pasokan udara semakin menipis untuk Ailin.


Hah


hah


hah


Ailin kehabisan nafasnya dan mengambil nafas banyak-banyak setelah ciuman itu terlepas.


"dasar mesum" batin Ailin dan berhasil lepas dari barra.


"aku keluar" ucapnya dan berlari keluar takut pria itu mengambil kesempatan lagi.


"pffft, hahaha, kau lucu sekali sayang, aku semakin gemes denganmu" barra tertawa puas setelah mengerjai gadisnya. Iya beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi sambil bersiul senang setelah mendapatkan kiss dari gadisnya itu.


Menjadi sebuah semangat barunya di pagi Ini sangat berbeda, sungguh sangat di sukai barra. Bibir Ailin adalah candu sekaligus semangat untuknya pagi ini.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


To be continued 😘


__ADS_2