Gadis Muda Yang Tangguh Milik Tuan Arogan

Gadis Muda Yang Tangguh Milik Tuan Arogan
Anggota penghianat


__ADS_3

Barra memanggil beberapa anak buahnya dan membawa para pria yang menyerang mereka tadi ke markasnya. Kali ini dia tidak tau siapa di balik penyerangan itu. Barra mengepalkan tangan kuat, hampir saja terjadi sesuatu pada gadisnya.


Ailin menghampiri ayahnya dan melihat luka yang ada di kaki tuan Revan. Sedikit bernafas lega meski lukanya tak begitu dalam, namun tetap saja rasa khawatir Ailin sangat besar.


"sayang, aku akan mengurus semuanya, kamu bawa saja paman ke kamarnya setelah di periksa oleh Haris" ucap barra. Dia akan pergi ke markasnya untuk mengintrogasi siapa di balik penyerangan ini.


"aku tak akan membiarkanmu lolos begitu saja bedebah" gumamnya dengan suara yang dingin.


"Jason"


"iya tuan" jawab Jason.


"selidiki siapa dalang semua ini, aku minta dalam satu malam, kalau sampai tak ketemu, kamu akan aku hukum"


glek


Jason susah payah menelan salivanya. Sungguh bos gila, bagaimana dia bisa menemukan sang pelaku penyerangan itu dalam satu malam, sungguh Jason merutuki bosnya itu. Namun tentu hanya bisa dalam hati, karena sungguh iya tak akan berani mengungkapkannya terang-terangan.


"baik bos" sahut Jason dan kembali memerintah beberapa para bawahan barra untuk membawa sang para pelaku untuk di interogasi.


Barra juga sebelum meninggalkan keluarganya, barra menghampiri gadisnya.


"sayang aku akan secepatnya kembali, dan akan membawamu pergi dari tempat ini, tempat ini sungguh berbahaya" pungkasnya.


"iya benar nak Ailin, tempat ini tidak aman, papa dan mama akan membawa kalian ke rumah kami" tuan Zaki menimpali.


"ma,, pa titip Ailin dan paman Revan ya" ucap barra.


"pasti sayang, kamu urus saja mereka, papa dan mama akan membawa Ailin dan tuan Revan segera" ucap tuan Zaki.


"iya nona, meskipun luka di kaki ayah anda terlihat baik-baik saja, tapi takut terjadi pembekakan, sebaiknya anda merawat ayah anda dulu sebelum lukanya semakin parah" ujar Haris sang dokter sekaligus sahabat barra.


'baiklah" Ailin pasrah dan beberapa anak buah barra mengangkat tubuh tuan Revan untuk di bawa ke rumah keluarga crishtian.


****


Sementara itu, barra telah berada di mobilnya akan menuju markas, dia tak henti-hentinya mengepalkan tangan seakan iya ingin terbang saja agar secepatnya sampai di markas miliknya.


"sialan, akan ku habisi kalian" geramnya sembari menatap tajam jalanan yang iya lewati.


"tenanglah tuan, kita sebentar lagi akan sampai" ujar Jason melihat raut wajah tuannya yang tak bersahabat.


"bisa kah kau sedikit cepat, brengsek akan aku hukum kau Jason" serunya membuat seorang Jason ketakutan setengah mati, jika sudah marah, barra tak akan memandang siapapun.


Jason kembali diam tak ingin mengganggu bosnya itu.


Selama menempuh perjalanan 15 menit, kini keduanya sudah sampai di sebuah markas besar dan megah itu. Para bawahan barra segera melihat siapa yang datang segera mereka menyambut sang bosanya yang menginjakkan kakinya di tanah markas miliknya yang beberapa Minggu belum barra kunjungi.

__ADS_1


Barra memandang lurus ke depan, tak berubah semenjak iya tak pernah datang, dia di sibukkan dunia bisnis nya dan belum sempat mengunjungi rumah keduanya itu. Namun saat ini setelah iya menginjakkan kakinya di markas, ada yang berbeda, yakni seluruh bawahannya yang sedikit berbeda. Banyak yang baru dan banyak pula bertambah para anak buahnya.


"aku sudah melewati banyak hal" batinnya.


Barra terus berjalan ke dalam dan siap menuju tempat biasa iya mengintrogasi musunya. Dengan wajah mengeras, gigi bergemelatuk, urat2 tangannya siap akan membunuh para tawanan nya.


Sesampainya barra di ruang interogasi, terlihat dua pria yang tengah bersandar dengan tangan terikat serta kaki dan wajah babak belur membuatnya terlihat sangat menyedihkan.


"aku tidak menyangka atasanmu sangatlah memiliki nyali besar untuk melawanku"


"apa yg ang membuat tuanmu marah hingga hampir membunuh ayah dari gadisku" suara yang dingin dan menusuk itu mengusik Indra pendengaran dua orang pria yang menjadi tahanan.


"keduanya mengangkat kepala dan menatap tajam seorang pria bak malaikat pencabut nyawa di depannya itu. Sedikit meringis dengan luka yang di torehkan para anak buah barra membuat mereka sedikit kesulitan untuk berbicara.


"jelaskan apa maksudmu menyerang di kediaman tuan Revandra dianos" ucapnya.


"saya ti-tidak ta-tau tuan, kar-na kami hanya di perintahkan saja" ucap salah satunya namun barra tak percaya begitu saja.


"membosankan"


blash


blash


Entah sejak kapan barra memegang sebuah katana, hingga kepala kedua tahanan itu menggelinding dengan sempurna. Menurut barra itu hanya membuang-buang waktu saja pikirnya dan tanpa menunggu lama kedua tahanan itu tak bernyawa dengan kepala yang sudah terputus dari tempatnya.


Barra meraih saputangan yang di sodorkan anak buahnya dan mengelap katana miliknya hingga bersih.


Wajahnya yang mengeras tadi terlihat datar sekarang, namun mampu membuat ulu hati sang anak buah terperanjat kaget sekaligus takut. Entah pa yang akan di lakukan bosnya ini.


"Gio" panggil barra pada salah satu anak buahnya.


"iya bos"


"kirimkan tubuh mereka ke tempat asalnya" titahnya lagi.


"baik tuan, tapi maaf siapa?" tanya gio. Namun seketika gio meneguk saliva nya kering karena tatapan tajam sang pria arogan ini.


"baik tuan" ucapnya pasrah dan membereskan seluruh ruangan itu.


Barra keluar dari ruang interogasi, beralih menuju aula dan segera di sambut oleh beberapa petinggi yang berdiri di kiri kanan kursi singgasana nya


"apa semua sudah kumpul?" suara datarnya meyakinkan anak buahnya ada sedikit menganggu tuannya itu.


"sudah tuan" jawab Rainer sang penguasa IT dan merupakan bagian dari sistem dalam pengelola penguasa komputer lah pelacak, serta Hacker terbaik dan terpercaya.


"aku tak ingin berlama-lama, jadi aku datang kesini ingin menyelesaikan apa yang harus aku selesaikan, jadi siapapun dari kalian yang tak hadir di aula malam ini, iya di sebut sebagai penghianat dan aku membenci penghianat" pungkasnya tegas dan tak lupa tatapan elangnya siap akan menggaet mangsanya.

__ADS_1


Beberapa anak buah barra terlihat berbisik-bisik dan gemetaran saat berhadapan dengan bos besarnya. Takut mereka akan melakukan sedikit kesalahan, akan menjadi sebuah majalah besar bagi barra.


Berbeda tatapan yang selalu barra berikan untuk gadisnya, barra kini sudah seperti predator yang siap akan menyambar serta menghabisi mangsa di depannya.


"kalian sudah tau kan, aku tidak suka penghianatan, jadi jangan coba-coba melakukannya" ucapnya membuat beberapa anak buahnya menegang ketakutan.


Berusaha untuk kabur dari seorang Davindra barra Cristian, adalah suatu hal yang sulit dan mustahil, Karena seluruh para petinggi selalu melihat dengan jeli, pergerakan para anak buah barra.


"Rainer"


"iya tuan" jawab Rainer yang ada tak jauh dari barra.


"serahkan semuanya" ucap barra sembari matanya tak lepas dari pergerakan para anak buahnya.


Rainer berdiri dan menyerahkan beberapa berkas yang beberpa hari yang lalu di perintahkan barra.


"ini tuan" menyodorkan pada bosnya.


Barra menyeringai melihat daftar nama anggota penghianat yang sudah selama ini ada di markasnya dan makan minum sesuka hatinya di dalam markas bahkan banyak pula yang di nikmatinya di sana, sebelum barra bertindak.


"enak sekali ya makan minum serta tidur di markas ini, karena sebuah perintah dari pihak lain, cepat sebelum aku panggil nama kalian, yang merasa menjadi penghianat maju ke depan sebelum aku paksa kalian untuk maju" ucapnya dingin.


Tak ada yang maju, bahkan sedikit memundurkan badan mereka, terlihat jelas itu adalah suatu jawaban ketika mereka yang mundur, sudah pasti merekalah penghianat.


"baiklah kalau kalian tak ingin maju"


"Spike" panggilnya pada spike yang menjadi bagian tertinggi juga disana.


"mengerti tuan" ucap spike dan segera memaksa para penghianat itu maju dan dengan kejam mereka di hantam oleh tangan besar spike yang memiliki otak cerdas, badan kekar serta kekuatannya tak tertandingi oleh para petinggi yang lain.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Sekali lagi, mohon maaf jika banyak kata yang tidak di sukai, dan beberapa kata yang belum bisa di mengerti, author masih belajar, masih butuh pendamping sekali lagi mohon maaf🙏🙏🙏


__ADS_2