Gadis Muda Yang Tangguh Milik Tuan Arogan

Gadis Muda Yang Tangguh Milik Tuan Arogan
Aku membenci penghianatan


__ADS_3

Barra dan Ailin masih berada di ruang tengah markas the Queen of the darkness, Ailin masih menunggu barra untuk segera meredakan kemarahannya. Ailin memegang tangan barra dengan lembut, dia mengusapnya memberikan ketenangan pada kekasihnya.


Ailin tau, pria ini sedang merasa hancur sekaligus kehilangan sosok sahabatnya yang selama ini meninggal karena sebuah keslahan seseorang bahkan tak lain adik dari sahabat barra sendiri.


Namun iya nanti akan mencari Julio, dan akan memberi tahu kan masalah ini padanya, jika dia menolak dan tak percaya, barra sendiri yang akan membunuh pria itu.


David juga akan di bunuh oleh barra sendiri dengan tangannya, sebagaimana iya mengingat hancurnya iya ketika melihat sahabatnya berlari ke tengah jalan dan di tabrak truk malam itu.


"lihat saja kau David, akan ku buat kau meminta mati daripada harus bertahan hidup, aku tidak percaya semua ini" seru barra memandang dingin ke depan.


"ingat, aku juga punya bagian dari membunuhnya, dia yang sudah menghancurkan markas milikku, kau lihat, semua ruangan di bagian timur, baru di perbaiki lagi, sebegitu luasnya markas ku di hancurkan olehnya, tapi aku akan menghukumnya dengan caraku sendiri" Ailin menyeringai mengerikan membuat barra yang di sampingnya menoleh pada gadis yang bermanik biru itu menatap tajam.


"apa yang akan kau lakukan?" tanya barra penasaran.


"mau lihat?" tanya Ailin.


Entah mengapa barra merasa aneh dengan tatapan kekasihnya dan ajakan Ailin.


"Hem" tanpa menunggu, barra menjawab dengan berdehem saja.


"ayo" Ailin menarik tangan barra menuju sebuah ruangan yang tersembunyi dibalik lemari kayu yang tak terllau besar. Ketika iya memutar salah satu kepala patung di lemari itu, kemudian lemari itu terbuka otomatis menampilkan suasana gelap di dalam.


Barra takjub dengan sebuah ruangan dan kecanggihan markas milik kekasihnya itu. Iya juga mengikuti Ailin dari belakang dan kembali secara otomatis pintu itu tertutup kembali.


Ailin menyalakan lampu dan dalam sekejap, ruangan itu menjadi terang benderang.


"apa kau yang meminta di bangunkan ruangan khusus begini Baby?" tanya barra.


"bukan" jawab Ailin.


Barra mengernyit dahi mendengar jawaban kekasihnya.


"lalu?" tanya barra lagi.


"kau akan tau nanti"


grep


Barra menarik tangan Ailin langsung dan gadis itu menabrak dada bidang kekasihnya lalu barra memojokkan Ailin ke tembok dan merapatkan wajahnya.


"apa yang kau lakukan?"

__ADS_1


Barra menyelipkan anak rambut Ailin ke telinganya, membuat Ailin merasa sedikit geli.


"aku ingin, setelah menikah denganku, tak ada rahasia yang kau sembunyikan dariku" serunya merapatkan wajahnya pada wajah Ailin hingga kedua hidung mereka menyentuh sempurna.


Ailin tersenyum dan ternyata barra merasa Ailin merahasiakan sesuatu. Kemudian Ailin dengan berani mengecup bibir barra dan lelaki itu membelalakkan mata lalu menikmati sentuhan lembut itu dan melihat apa yang akan kekasihnya lakukan.


"setelah ini kau akan tau luar dalamnya aku, asal kau tak menghianati ku, aku akan selalu punya cara sendiri untuk membunuhmu, dan ingat aku sangat membenci sebuah penghianatan" seru Ailin sambil senyum dingin itu terlihat di mata barra.


"penghianatan itu ada pada orang bodoh saja, dan betapa bodohnya aku jika aku sampai menghianati mu sayang" tanpa berbicara lagi, barra dan Ailin kembali saling menyesap dan mengecap satu sama lain, dan terlihat sangat ganas dari sebelumnya.


Ailin begitu kewalahan menghadapi keganasan kekasihnya, jujur saja Ailin sangat menikmati sesuatu yang belum pernah iya rasakan sebelumnya dan sebelum mengenal pria ini yang membuat dirinya jatuh cinta berkali-kali.


Sungguh pria ini membuatnya mabuk akan cinta, terbang bersama awan putih yang menguasai langit biru di siang hari. Membuat adrenalin kedua insan itu bergetar di aliran darah yang terdalam menggoyahkan isi hati yang saling memberi batas.


"cukup barra, jika kau terus menerus melakukan ini, sampai kapan kita bisa membunuh pria itu," Ailin mengehentikan kegilaan kekasihnya.


"maaf, aku hampir tak bisa mengendalikan diri" seru barra.


"Hem, ayo kita masuk" Ailin mengajak pria itu masuk dan memeprlihatkan begitu banyak layar monitor yang di hidupkan oleh Ailin.


"ini adalah ruang rahasiaku di markas, aku menyimpan beberapa bagian terpenting dalam suatu sistem canggih yang aku miliki salah satu yang ini"


Ailin memeprlihatkan pada barra sebuah VCD yang di copy dari penyimpanan data yang sudah sangat lama.


"apapun yang kau suka, aku juga akan menyukainya" seru barra menatap gadisnya.


"barra lihatlah" Ailin memutar VCD itu membuat barra semakin mengepalkan tangannya dan kembali pada mode marahnya.


"ternyata dari segi kumpulan bukti yang sudah di temukan, David memang menyukai Arunika dan melakukan hal kotor itu dan menodai Arunika agar Arunika bersedia untuk menikah dengannya. Tapi siapa sangka Arunika lebih dulu meninggal karena bunuh diri, jadinya David waktu itu memang ada di sana, tapi iya bersembunyi dan sempat meninggalkan Arunika sendiri di pinggir jalan sebelum kamu datang menemui Arunika" seru Ailin memperlihatkan sebuah informasi lewat VCD di layar monitor milik Ailin di ruangan itu.


"aku tidak akan membiarkan pria itu hidup, aku akan membunuhnya hari ini" barra benar-benar sangat murka saat mendengar dan melihat sendiri bukti-bukti David yang sudah menodai sahabatnya bahkan sampai-sampai david merusak masa depan sahabatnya sendiri tanpa bertanggung jawab.


"menurutku, hukuman yang tepat untuk David adalah kematian, dan untuk Julio, kau harus membuat pria itu melihat dengan mata kepala sendiri adiknya di bunuh di depan mata" ucap Ailin yang benar-benar sadis tak berperasaan.


"aku akan menyuruh beberapa pengawal untuk membawakan Julio kesini, biar dia bisa melihat adiknya di bunuh di depan matanya. Tapi sebelum itu, Julio harus bisa melihat ini semua" seru barra.


"ya kau benar, Julio harus melihat semua ini, agar dia tak menyesal saat melihat adiknya mati nanti" ucap Ailin.


"baiklah, sekarang hari sudah sore, sepertinya kita akan melakukan eksekusi besok pagi saja, kamu juga harus istirahat, aku akan mengantarmu pulang" seru barra.


"aku ingin bermalam disini" ucap Ailin.

__ADS_1


"kenapa?" tanya barra mengernyit.


"iya, aku ingin bermalam disini, di rumah ayah belum pulang, tinggal beberapa hari lagi dia akan pulang" ucap ailin.


"jadi aku merasa sangat bosan" sambungnya.


"kalau begitu, aku juga akan ikut denganmu bermalam disini" seru barra.


"no, kamu harus pulang nanti mama dan papa pasti mencarimu" ujar Ailin.


"tak ada yang akan mencariku, jadi malam ini aku ingin tidur disini denganmu" bisik barra di telinga ailin.


"tapi-"


"aku tak mau mendengarkan alasan apapun aku akan tidur disini, titik" barra benar-benar pria pemaksaan dia tak akan membiarkan gadisnya tidur di sini sendiri. Meski penjagaan di markas itu ketat, dan tempatnya nyaman dan mewah, tetap saja barra tak membiarkan Ailin tidur di sini sendirian.


"terserah, kau sangat suka memaksa" Ailin tak memperdulikan lagi ucapan kekasihnya kemudian iya kembali berkutat dengan beberapa alat-alat di depannya. Dan sesekali Ailin tengah melakukan perancangan pembuatan senjata api.


Barra benar-benar mengagumi kecerdasan dan bakat kekasihnya, iya benar-benar kagum akan kesempurnaan yang di miliki gadis itu. Cantik, baik, cerdas, dan yang paling menarik, iya sangat pandai bela diri dan merakit senjata api.


"ternyata kau sangat pandai merakit senjata api. Bahkan Axel kepercayaan ku yang pandai merakit kini otaknya masih terlalu minim untuk merakit lebih cepat senjata. Dia akan membaca beberapa teori cara bagaimana melakukan perakitan senjata api yang lebih akurat.


"aku hanya belajar, dan semua senjata api yang di gunakan oleh para Mafioso ku adalah hasil rancangan ku seperti ini" Ailin memberikan sebuah sniper elite yang iya rancang khusus untuk para Mafioso nya pada barra. Bahkan di ujung senjata itu terdapat ukiran nama markas the Queen of the darkness dengan mahkota yang di ukir di atas tulisan itu.


Benar-benar menakjubkan dan sungguh-sungguh canggih senjata milik Ailin.


"aku akan membunuhnya dengan ini" Ailin mengeluarkan dua buah Katan kesayangannya yang di berikan kakek fang pada saat dia baru saja bisa belajar bela diri pemula.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2