
Happy reading 😊
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pagi menyapa, kedua gadis itu masih bergelut dengan selimut tebalnya, Ailin dan Nirmala masih berselancar di alam mimpinya. Kedua gadis itu belum ada tanda-tanda untuk membuka matanya.
Hingga ponsel Ailin berbunyi nyaring membuat sang empunya perlahan meraba di sekitar nakas tempat ponselnya berbunyi.
"ish, berisik"
Ailin membuka sedikit matanya dan melihat siap yang menelpon mengganggu tidurnya.
"Hem"
"sayang, kau belum bangun Hem" suara pria kekasih hatinya menyapa melalui benda pipih itu.
"aku baru bangun karena mendengar deringan panggilan kamu" ucapnya serak.
"ayo sayang bangun, aku rindu denganmu kau akan datang kan hari ini ke kantor?" tanya barra di sebrang sana.
"mmm sepertinya aku tidak bisa" sahut Ailin.
"kenapa?" tanya barra sedikit tak bersemangat.
"nanti aku ceritakan, dan mungkin kalau aku sempat, sore ini aku datang ke kantormu" ucap Ailin.
"tidak apa sayang, aku yang akan datang ke rumah mu nanti" seru barra.
"mau ngapain?" tanya Ailin memicingkan mata.
"rahasia" seru barra.
"terserah padamu saja, aku mau mandi dulu" seru Ailin.
"oke sayang, bye muaach" ucap barra membuat Ailin tersentak dan geli mendengar kecupan jauh yang di berikan barra.
Tut Tut Tut
Ailin tersenyum setelah iya matikan ponselnya sepihak, iya merasa senang barra mencintainya dan memperlakukannya dengan sangat baik.
Ailin teringat ucapan barra tadi di telpon saat barra mengatakan ia akan datang ke rumahnya. "dia mau ngapain ya datang ke rumah, biasanya kita kan bertemu di kantor sudah cukup" seru Ailin.
"ah masa bodoh aku harus secepatnya mandi" serunya menggaruk kepala.
"Ailin kamu sudah bangun?" tanya Nirmala yang tiba-tiba sudah bangun.
"Hem, aku mandi dulu setelah ini kita akan pergi ke suatu tempat seperti yang aku katakan semalam" seru Ailin.
"Hem ya" jawab Nirmala bangun dan merapikan tempat tidur Ailin.
Nirmala melihat dirinya di pantulan cermin, iya tersenyum manis.
"Nirmala, kamu harus kuat dan pemberani, kita akan menjalani kehidupan baru" seru Nirmala menyemangati dirinya sendiri.
****
Ailin dan Nirmala sudah siap dan rapi pagi itu, mereka berdua segera turun ke bawah untuk sarapan bersama.
Sesampainya di meja makan, tuan Revan sudah menunggu kedua gadis itu.
__ADS_1
"selamat pagi ayah" seru Ailin dan Nirmala bersama.
"selamat pagi sayang, Nirmala" seru tuan Revan.
"ayo nak kita sarapan" ajak tuan Revan.
Ketiganya sudah selesai dengan sarapannya dan tuan Revan lebih dulu berangkat ke kantor, sedangkan Ailin dan Nirmala juga sudah bersiap akan berangkat ke tempat tujuan.
Ailin menggunakan mobil sport menuju ke tempat yang akan iya tuju.
Ailin dan Nirmala sudah berada di perjalanan.
"sebenarnya kita mau kemana Ailin?" tanya Nirmala penasaran.
"aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang selalu aku kunjungi selama belasan tahun, menumpahkan segala kesedihan ku" seru Ailin menatap lurus ke depan dan fokus menyetir.
"memangnya kamu selama ini kenapa, kamu sedih kenapa ?" tanya Nirmala.
Ailin tersenyum tanpa menoleh ke arah Nirmala. "aku tidak bisa menceritakan nya sekarang, kau akan tau nanti" seru Ailin dan Nirmala yang cukup penasaran, kini iya menahan dirinya lagi untuk bertanya.
Tak terasa mobil Ailin menembus perjalanan yang cukup sepi dan gelap, sebab banyak pohon rindang di sisi jalanan.
Sebenarnya Nirmala sangat takut melewati jalan itu, tapi Ailin seolah sudah biasa dan berekspresi biasa saja tanpa terlihat ketakutan.
Setalah menempuh perjalanan sekitar 25 menit belum juga keluar dari jalan itu. Terlihat jalan itu tak pernah di lalui orang sembarangan dan tak ada yang berani melewatinya karena gelap tanpa ada Sinar matahari yang menerangi jalan itu.
Ailin mengerti ketakutan yang di rasakan oleh Nirmala. Ailin merasa bersalah telah membuat Nirmala ketakutan seperti itu.
"kamu jangan takut ya, aku ada di sini" seru Ailin.
"iya" ucap Nirmala.
Setelah Ailin mengemudi cukup jauh, Ailin sudah sampai di sebuah tembok tinggi dan di penuhi lumut dan juga tanaman merambat di sekelilingnya.
Ailin turun dari mobil dan melangkah ke arah tembok itu.
Ailin memandangi tembok tinggi itu dan gadis itu melakukan sesuatu pada tembok itu hingga tembok itu tiba-tiba terangkat ke atas dan membuka jalan untuk Ailin masuk.
Ailin kembali ke mobil dan membawa mobilnya masuk ke dalam lalu setelah itu tembok itu kembali tertutup otomatis.
Mobil Ailin menuju ke sebuah pelataran yang cukup luas. Di sekitarnya ada banyak pohon-pohon Pinus, dan rumput yang hijau dan terawat. Ailin mengendarai cukup jauh setelah masuki pelataran itu hingga kini gedung tinggi berlantai tiga itu terlihat di sana.
Nirmala juga melihat bentuk gedung yang megah dan mewah itu dengan mata tak berkedip. Sungguh indah gedung itu dan terlihat sangat terawat.
Ailin memarkirkan mobilnya di sebuah halaman yang khusus tempat memperkirakan mobil.
Ailin menatap Nirmala." Nirmala, kau harus janji setelah ini kamu tidak boleh memberi tahu ayah tempat ini dan semua yang kita lalui hari ini pada siapapun" seru Ailin.
"maksud kamu?" tanya Nirmala.
"ini adalah gedung satu-satunya tempat aku menghibur diri" seru Ailin belum mau menceritakan yang sebenarnya pada Nirmala.
"baiklah, aku janji, semua akan menjadi rahasia untukku" seru Nirmala tersenyum.
"ayo kita turun dan menuju seseorang yang sudah lama belum aku kunjungi" seru Ailin.
Ailin dan Nirmala turun dari mobil dan memasuki pintu utama yang menjulang tinggi di gedung itu.
"selamat pagi Q" ucap para wanita yang berjejeran rapi di samping kiri dan Kanan Ailin untuk menyambut kedatangan nya.
"Hem" kini raut wajah Ailin berubah drastis saat sudah memasuki pintu utama. Stelah di sambut oleh beberapa wanita di sana.
Tak seperti biasanya, Ailin akan terlihat ramah dan juga biasa saja saat berbicara pada Nirmala. Nirmala yang melihat raut wajah Ailin yang berubah 180 derajat menjadi dingin dan mengerikan. Nirmala menjadi bingung dan sedikit penasaran pada gadis yang sudah semalam menyelamatkannya.
"sebenarnya ini tempat apa, kenapa begitu menyeramkan, padahal tempatnya sangat bersih dan rapi, tapi kenapa hawa di sini dingin dan menyeramkan. Siapa sebenarnya Ailin" batin Nirmala dan di dengar oleh Ailin.
Ailin, gadis itu menyeringai saat mendengar batin Nirmala berbicara.
Ailin sudah sampai di sebuah ruangan yang masih tertutupi itu. Ailin mengetuk pintu perlahan.
tok tok tok
"masuk" suara seorang wanita menyahut dari dalam. "huuft" Ailin menghembuskan nafas panjang sebelum membuka pintu itu.
Ailin membuka pintu itu dan mendadak mendapatkan serangan secara tiba-tiba, reflek Ailin mengelak dari tendangan serta tinjuan dari seorang wanita yang ada di dalam ruangan itu.
__ADS_1
Ailin sudah menduga jika dia akan mendapatkan serangan saat akan membuka pintu, dan benar saja sudah terjadi.
Nirmala yang melihat itu menjadi takut dan sedikit gemetaran ketika Ailin di serang begitu saja. Dan anehnya Ailin langsung saja mengelak semua tendangan dan tinjuan wanita itu.
bugh
bugh
krak
"aarrrhhhkkhh" kesakitan dan teriakan wanita yang melawan Ailin tadi menggema di ruangan itu. Bahkan Nirmala sampai menutup mata ketakutan.
"wow, setelah menghilang begitu lama, kekuatanmu tak luntur juga ya Q" seru wanita yang menyerang Ailin tadi.
Ailin memutar bola matanya malas melihat wanita yang tadi menyerangnya memperlihatkan deretan gigi yang putih itu.
"ternyata kau memang tak berubah, semakin menyebalkan" seru Ailin.
Serangan secara mendadak itu adalah cara mereka saat bertemu setelah lama pergi. Ailin sudah tau bagaimana sikap wanita di hadapannya ini.
"siapa dia" tanya wanita itu.
"ini temanku," jawab Ailin.
"sejak kapan kau punya teman Q" tanya wanita itu.
"sejak aku mau punya teman" sahut Ailin membuat wanita itu mencebik kesal.
"sudahlah, bicara padamu membuat darahku meninggi" seru wanita itu.
"namanya Nirmala, aku ingin kau mengajarnya bela diri dan sejenis memegang senjata, aku ingin di menjadi wanita pemberani" seru Ailin dengan tatapan serius pada wanita itu.
"apa kau yakin semua ini bisa aman setelah kau bawa dia kesini?" tanya wanita itu.
"hm, aku yakin" seru Ailin yakin.
"baiklah, tapi aku ingin bertanya, apakah dia sanggup dengan pelatihan ini, aku tidak yakin jika dia akan mampu" seru wanita itu.
"aku yakin, jika dia akan mampu menjalankan latihan ini" seru Ailin yakin.
Sedangkan Nirmala hanya menatap melongo melihat interaksi kedua wanita di depannya ini. Baru saja mereka saling menyerang, sekarang mereka sudah baikan. Kini membuat Nirmala menjadi heran.
Wanita itu melangkah ke arah Nirmala, wanita itu mengelilingi tubuh Nirmala dan melihat Nirmala dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"apa kau siap mengikuti pelatihan yang akan kami berikan nona, kami akan memastikan langsung jika kau berani, kami akan mengajarkanmu bela diri, tapi jika tidak, kau bisa pulang dan jangan pernah datang ke sini lagi" seru wanita itu membuat Ailin yang melihatnya hanya mencebikkan mulutnya.
Bisa-bisanya dia menakuti Nirmala. Bahkan Nirmala semakin gemetaran saat wanita itu melihatnya dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"sa-saya berani nona" seru Ailin.
"kau yakin" tanya wanita itu memastikan.
"yakin nona" seru Nirmala masih dengan suara yang gugup.
"hm"
"bisa kah kau terlihat manis sebagai perempuan, aku yakin laki-laki tak ada yang mau menjadikanmu pacar" seru Ailin mengejek.
"sialan kau" umpat wanita itu dan Ailin tersenyum melihat tingkah sahabatnya yang sudah belasan tahun bersamanya itu.
.
.
.
.
.
.
.
TBC😘
__ADS_1