
Selamat membaca😊
.
.
.
.
.
.
Ailin, Nirmala dan wanita bernama Sisil yang menyerang Ailin tadi, kini mereka berada di sebuah ruangan yang begitu nampak alat-alat untuk melatih fisik di sana.
Terlihat ruangan yang luas dan bersih dan rapi dengan berbagai alat-alat yang sudah tersedia di sana. Namun mereka tak akan menepati itu, mereka berjalan ke arah sebuah pintu berwarna abu. Mereka memasuki ruangan itu.
Dia dalam sana nampak begitu luas lagi, dengan tersedia matras dan sarung tangan petinju (itulah, author nggak ngerti apa namanya, kalau salah ketik tolong di kritik hehe😁).
Ailin kemudian mempersilahkan Nirmala masuk.
"nona, Nirmala kami bisa saja mengambil bantuan pada pelatih terbaik di tempat khusus pelatih untuk melatih seseorang, tapi aku sendiri yang akan melatih mu sekarang sampai kau bisa" seru Sisil.
"sebelum kita mulai berlatih, kita pemanasan lebih dulu agar otot mu tidak tegang dan latihan mu tidak kaku" seru Sisil.
Sedangkan Ailin, kini sudah berada di salah satu kuris duduk di dalam ruangan itu yang tak jauh dari tempat kedua wanita itu berdiri.
Ailin bersilang tangan di dada memerhatikan gerakan pemanasan yang di tunjukkan oleh Sisil pada Nirmala.
Saat semua sudah selesai dengan pemanasan, barulah Sisil sedikit demi sedikit mengajarkan tekhnik bela diri dasar terlebih dahulu. Beberapa kali Nirmala terlihat kesulitan dan persendian di tubuhnya sudah seperti ingin terputus dari tempatnya.
Namun Nirmala justru sangat bersemangat ketika mendengar ucapan demi ucapan semangat dari wanita bernama Sisil itu yang cukup membuatnya begitu bersemangat.
Cukup satu jam Nirmala dan Sisil sudah selesai dengan pelatihannya hari ini. Keduanya sudah tepat di lantai.
Kemudian Ailin berdiri melangkah pada salah satu samsak yang ada di ruangan itu. Ada tiga samsak yang di biarkan di sana, karena khusus untuk pelatih terhandal yang akan menggunakan itu.
Ailin membuka baju luarnya saja dan tersisa baju dalaman saja. Ailin menaruh baju miliknya di sebuah kursi dan memulai pemanasan tubuhnya. Iya akan berlatih menggunakan samsak, dia juga sudah lama tidak berlatih di tempat ruangan ini.
Ailin hanya mengenakan teng top saja dan terlihat punggung mulus dan leher putihnya terekspos. Nirmala melihat Ailin yang berjalan ke arah samsak, memperhatikan gadis itu dengan seksama.
Hingga beberapa gerakan dengan brutal Ailin seolah membayangkan jika samsak itu adalah tubuh musuhnya. Nirmala begitu terpukau melihat keahlian Ailin dalam melakukan setiap gerakannya.
Nirmala menjadi bangkit semangat lagi, kini iya kembali bangun setelah dia merasa sudah tak lelah lagi. Iya mencoba gerakan demi gerakan yang di ajarkan oleh Sisil tadi, meski hanya dasarnya saja, tapi cukup membuat Nirmala bisa dengan mudah memahami gerakan tersebut.
Sisil yang melihat semangat Nirmala yang kembali ingin berlatih, begitu tersenyum tulus dan melihat gadis itu melakukan gerakan berulang.
****
Tak terasa jam menunjukkan jam 2 siang. Ailin dan Nirmala sekarang berada di ruang tamu di markas itu.
Sebotol air putih menenangkan dahaga keduanya. Ailin sejenak memajamkan matanya di sofa hingga suara Sisil mengejutkannya. "apa kau akan pulang?" tanya Sisil.
"Hem, aku harus pulang, aku juga akan mengerjakan bebrpa tugas kuliahku" seru Ailin.
__ADS_1
"hey, dengan IQ tinggi yang kau punya, seharusnya kau tidak usah belajar" seru Sisil.
"oleh sebab itu kau menjadi bodoh tak pernah bisa belajar" seru Ailin mengejek.
"sialan kau, begini juga otakku cerdas" seru Sisil.
Ailin tak memperdulikan ucapan Sisil.
"apa dia juga akan ikut ke rumahmu?" tanya Sisil.
"hm, dia akan ikut denganku dan tinggal di rumah ayahku" seru Ailin terganggu istirahat nya karena Sisil terus bertanya.
"kalau boleh, biarkan Nirmala tinggal di sini, aku ingin melatihnya setiap waktu luangku setelah bekerja, aku ingin dia tetap berlatih" seru Sisil.
Ailin mebuka kembali matanya dan melihat ke arah Nirmala.
"apa kau mau tinggal di sini sementara waktu?" tanya Ailin.
Terlihat Nirmala sedang berpikir kemudian mengangguk.
"baiklah aku setuju untuk tinggal di sini" seru Nirmala. iya lebih baik tinggal di sini daripada di rumah Ailin. Bukan tak nyaman tinggal di sana, hanya saja iya terlalu canggung untuk berada di tengah-tengah Ailin dan ayahnya.
"apa kau yakin?" tanya Ailin memastikan.
"iya aku yakin" seru Nirmala.
"baiklah kalau begitu, aku akan bilang ayah kalau kamu tidak tinggal di rumah, melainkan di kos" seru Ailin.
"aku akan sering datang mengunjungimu nanti" ulang Ailin.
"sekali lagi terimakasih Ailin, kamu sudah banyak membantu" seru Nirmala.
"iya, iya tapi mau bagaimana lagi, aku sangat banyak merepotkan mu" seru Nirmala.
Kemudian Ailin melihat jam di pergelangan tangannya. Jam menunjukkan pukul 15:30.
"baiklah, sekarang aku akan pulang, barra pasti akan datang ke rumah sore ini, aku tidak mau mengecewakan nya" seru Ailin.
"wow, ternyata pria itu berhasil mengambil hatimu dan mencintaimu, kau yakin dia benar-benar tulus menyayangi mu?" tanya Sisil.
"itu akan menjadi urusanku, urus saja dirimu yang menjomblo akut itu" seru Ailin membuat Sisil kesal.
"lihat saja, aku pasti akan dapat kan pria yang lebih tampan dari mu, setelah itu aku akan jadikan dia sebagai pangeran dalam hidupku" seru Sisil.
"dapat pun belum tentu, kau sudah berhayal Sampai ketinggian. Terserah kau saja, kau itu terlalu banyak bicara" cerca Ailin.
"hemm" Sisil memejamkan matanya menghayal pria tampan dan milyader sebagai sandingan hidupnya membuat Ailin yang berada di dunia nyata hanya memutar bola matanya malas dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu.
"aku pergi ya, ingat Sisil jaga dia untukku, kalau kau berani menyakitinya, aku akan menghukum mu" seru Ailin.
"tenang saja Q, aku akan melindungi dia, kamu itu seperti tidka tau aku" celetuk Sisil.
"Nirmala, kau baik-baik saja kan" tanya Ailin memastikan sebelum benar-benar dia pulang.
"iya Lin, aku baik-baik saja" sahut Nirmala.
__ADS_1
"okelah aku pergi dulu" Ailin berjalan melewati ruangan demi ruangan dan menaiki lift khusus di gedung itu. Para bawahannya yang melihat bosnya akan keluar segera berbaris rapi dan memberikan selamat pada para bawahannya.
Di dalam gedung itu tak ada seorang laki-laki yang tinggal di sana sebagai bawahannya, mereka semua adalah para wanita. Mulai dari sebagai pengawal, penjaga pintu gerbang, dan menjadi pelatih, menjadi pasukan khusus dan segalanya.
Sengaja Ailin merekrut anggota wanita sebagai pasukannya, karena memang Ailin memilih sendiri dan melatih sendiri para pasukannya.
Bukan apa-apa dia memilih wanita sebagai pasukannya, karena memang Ailin tak suka melihat wanita di tindas para laki-laki dan selalu lemah. Dan Sisil juga tak keberatan jika pasukan yang di rekrut Ailin semuanya perempuan.
Ailin memasuki mobilnya dan segera pergi dari tempat itu, meninggalkan Nirmala di sana. Meskipun Nirmala meninggalkan Nirmala di tempat itu bersama Sisil, Ailin yg takut Nirmala tidak akan betah tinggal disana, secara sahabatnya Sisil adalah wanita yang suka menyebalkan, namun sebenarnya dia selalu peduli.
*****
Ailin sudah sampai di rumahnya sekitar jam 4 sore. Entah bagaimana gadis itu melajukan mobilnya hingga dia bisa cepat sampai dalam setengah jam.
Ailin memang terkenal handal dengan mengemudi mobilnya, selama dia hidup tinggal di keluarga mole, iya tak di bolehkan memakai segala fasilitas, oleh sebab itu dia tak pernah menggunakan mobil atau motor.
Ailin hanya jalan kaki, pulang dan pergi ke kampusnya. Namun tak pernah mematahkan semangat nya untuk kuliah dan bekerja.
Sesampainya Ailin di rumah, iya melihat ada sebuah mobil yang sangat dia kenal. Ailin yakin di dalam pasti sudah ada kekasihnya.
Ailin segera memasuki rumah mewah ayahnya itu dan benar saja Ailin melihat barra datang bersama kedua orang tuanya.
"ayah aku pulang" seru Ailin dan mereka semua yang berada di ruang tamu menoleh kearah Ailin.
"Hay nak, cepat kemari" seru tuan Revan.
Namun berbeda dengan barra yang melihat penampilan kekasihnya yang sedikit berantakan dan mungkin karena latihannya tadi. Tapi tak mengurangi kecantikan dan ke seksian Ailin di mata barra.
"kamu darimana nak, mana Nirmala?" tanya tuan Revan.
"aku dari rumah sahabatku dan Nirmala katanya dia ngekos, dia tidak mau tinggal di sini" seru Ailin
"Hay ma, pa apa kabar kapan kalian datang?" tanya Ailin mengalihkan topik karena iya akan membahasnya nanti setelah barra dan kedua orang tuanya pergi.
"kami baik saja sayang, dan kami baru saja datang bersama" seru nyonya Jihan.
"emmm, Ailin mau naik dulu ya ma pa, mau bersih-bersih dulu, setelah itu Ailin turun" seru Ailin. Sedangkan barra dia mendengus kesal karena kekasihnya hanya menyapa kedua orang tua nya sedangkan dirinya di abaikan.
"awas ya kamu gadis nakal" batin barra.
Ailin meninggalkan mereka semua yang ada di ruang tamu, untuk memasuki kamar dan membersihkan seluruh ditubuhnya yang sangat lelah.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
TBC😘