Gadis Muda Yang Tangguh Milik Tuan Arogan

Gadis Muda Yang Tangguh Milik Tuan Arogan
Aku mengetahui semuanya


__ADS_3

Aku mengetahui semuanya part 66#


Hari sudah sore, Ailin masih berada di dalam hutan dan masih memberikan banyak cerita pada kedua orang tua itu.


Ailin tersadar dia terlalu lama berada disana dan menghabiskan waktu bersama nenek dan kakeknya.


Ailin melihat jam tangan yang bertengger manis itu menunjukkan pukul lima sore, Ailin merasa bertemu kedua orang tua itu terasa begitu singkat. Ailin berpamitan untuk pulang pada nenek Moza dan kakek fang.


"nek, kek, Ailin pulang ya, hari sudah sore, aku akan segera pergi ke markas sekarang" seru Ailin meminta izin untuk pulang.


"kak, sebenarnya aku ingin ikut dengan kakak, tapi sekarang kondisi nenek sedang tidak baik, aku tidak bisa meninggalkannya" seru karin.


"lain kali aku ajak kamu pergi ya, kamu jaga nenek dan kakek disini saja, kalau kakek dan nenek sudah sembuh, aku akan datang dan membawamu pergi bersama" seru Ailin.


"siap kak" Karin gadis itu tersenyum dan mengangguk.


"Baiklah kek, nek aku pamit ya"


Ailin segera keluar dari rumah dan menuju dimana mobilnya berada. Ailin setelah ini akan menemui barra karena sudah berjanji dengan pria itu akan membawanya ke markas, namun barra entah pria itu hanya mengikuti kemana kekasihnya akan pergi.


Ailin melajukan mobilnya menuju apartemen barra, berharap pria itu sudah pulang dari kantornya. Ailin seperti biasa akan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh Agar cepat sampai pada apartemen barra.


Setelah sampai di besment apartemen barra, Ailin menaiki lift menuju kamar barra. Ailin juga sudah tau akses masuk kamar pria itu, karena pria itu memberitahukannya pada Ailin.


"barra" panggil Ailin namun pria itu tidak ada di ruang tamu, Ailin bergegas memasuki kamar kekasihnya mencari dimana barra. Sesampainya disana, Ailin masuk dan mendengar gemercik air di kamar mandi. Mungkin pria itu tengah mandi.


Ailin duduk di atas sofa kamar pria itu, dan tak berapa lama pria itu keluar dengan handuk melilit di pinggang nya membuat wajah Ailin memerah dan mengalihkan pandangannya.


"Hay sayang, kenapa kau berpaling, aku disini, kamu kan yang tadi mencariku sekarang kenapa tidak melihatku" ucap barra menggoda kekasihnya.


Kemudian barra mendekati Ailin yang wajahnya sudah Semerah tomat itu. "stop, jangan mendekat, pasang bajumu dulu barra" seru Ailin.


"pasangkan boleh" suara manja pria itu membuat Ailin menjadi sedikit tersipu.


"barra jangan menggodaku" ucap Ailin yang masih memalingkan wajahnya.


Saat suara pria itu menghilang barulah Ailin menghadap ke depan dimana tadi pria itu berada, ternyata barra sudah memasuki ruang ganti.


"aku tunggu di luar" ucap Ailin berlalu pergi "dan cepatlah, kita berangkat sekarang" serunya sebelum menghilang di balik pintu kamar.


Barra pria itu hanya diam tak menjawab, dia langsung memakai pakaiannya dan tak berselang lama, pria itu sudah siap dengan stelan nya.


Kemudian barra menghampiri kekasihnya yang tengah berada di ruang tamu sedang memainkan ponselnya.


"sayang, ayo"


"sudah"


"hem"


Kemudian mereka berdua berangkat bersama menggunakan mobil Ailin.


****


"kamu habis darimana sayang?" tanya barra ketika sudah memasuki mobil.


"aku ke tempat kakek fang dan memberi tahu tentang acara pernikahan kita akan sebentar lagi di adakan" ucap Ailin sambil menghadap kekasihnya.


"aku lihat akhir-akhir ini, kau sangat sibuk, sampai-sampai tak ada luang menghubungi kekasihmu ini" seru barra.


"aku, aku ah ya benar, aku sangat sibuk jadi aku tak punya waktu untuk menghubungimu"

__ADS_1


Ciiitttt


Barra mengerem mendadak di tengah jalan yang sepi membuat Ailin terkejut dan hampir terhantuk kepalanya ke depan.


"kamu kenapa, kenapa ngerem mendadak" tanya ailin bingung dengan kekasihnya.


Cup


Mendarat kan ciuman di bibir mungil kekasihnya barra sembari meluapkan perasaan cintanya yang semakin hari semakin bertambah.


Lama mereka saling bertukar Saliva menyesap dan melimpahkan kerinduan yang beberapa hari mereka tak bertemu, keduanya hanyut dalam rasa yang menciptakan sensasi berbeda dari kedua insan itu.


Barra melepaskan pagutan daging kenyal itu dan menatap dalam kekasihnya. "aku mengetahui semuanya" barra menatap dalam nerta biru itu yang kini menatap nya balik.


"apa maksudmu" Ailin tak bisa membaca isi hati barra kali ini seolah keistimewaan yang selama ini iya punya sudah habis terkikis oleh pria yang membuatnya mabuk cinta ini.


"aku mengetahui semua tentangmu, dan aku mengetahui siapa kamu, aku sudah mengetahui"


deg


Ailin menatap kembali mata hitam pekat milik barra kemudian dia menghela nafas.


"maaf" suara itu membuat barra yang sudah menoleh ke arah lain kembali menatap kekasihnya.


"suuuttt,,, aku sudah tau semuanya bukan berarti membencimu, aku tidak membencimu, aku hanya ingin kau mencintaiku dengan kejujuran itu saja" suara pria itu menenangkan.


"kita sama, tapi aku rasa kau juga mengetahui semua tentang ku" seru barra.


"Hem, aku tau karena ayah memberitahu ku" seru Ailin.


"jadi, benar kau sudah tau?" tanya barra.


"aku juga minta maaf tak jujur padamu, tapi aku benar-benar tulus mencintaimu"


"setelah kita menikah, aku ingin menggabungkan kedua organisasi itu mnejadi satu dan aku yang akan mengelolanya sendiri" seru barra. "apa kau setuju?" tanyanya.


Ailin mengangguk lalu kemudian tersenyum menatap netra hitam kekasihnya.


"baiklah, ayo, aku akan tunjukkan sesuatu yang belum kau ketahui" seru Ailin.


Kemudian barra melajukan mobil menuju markas Ailin. Bahkan Ailin tak perlu menunjukkan arah jalan menuju markas pada barra, karena pria itu sudah tau semuanya. Dan benar saja, pria itu sudah mengetahui jalan ke markasnya, entah bagaimana caranya pria itu mengetahui letak markas miliknya.


" ternyata kau benar-benar sudah tau semuanya


" Ailin berbicara sementara barra hanya tersenyum tipis sembari meletakkan tangannya pada pipi gadisnya.


"aku akan selalu tau tentangmu, apapun itu" Ailin dan barra sudah sampai di gerbang tinggi markas The Queen of the darkness. Mereka memasuki pelataran halaman luas itu, lalu memarkirkan mobil mewah itu pada tempat khusus milik Ailin.


Setelah keduanya sampai, keduanya keluar dari mobil dan melihat gedung berlantai 4 itu menjulang tinggi dengan bercat putih dan hitam adalah lambang kehidupan sang pemimpin.


"ayo" Ailin mengajak barra menuju pintu utama, beberapa Mafioso wanita berjaga di sana memberikan hormat pada keduanya.


"selamat sore Q, salam hormat kami" keempat Mafioso wanita itu menundukkan kepalanya 90 derajat.


"Hem,"


"silahkan Q" para Mafioso mempersilahkan pemimpinnya masuk.


Terlihat dari dalam gedung itu ruangan yang luas, ada aula khusus yang terlihat seperti lapangan bundar di tengah gedung dan ada berjejeran taman kecil atau sejenis tempat bunga-bunga tumbuh di sana. Ada akuarium yang berjejeran rapi di sana dan di bawahnya kolam ikan serta air mancur di tengahnya taman kecil itu.


Sungguh barra mengagumi markas ini, tempat yang indah dan rapi serta bersih. Namun yang mengherankan, barra selama berjalan mengikuti langkah Ailin, pria itu tak pernah satupun bertemu dengan Mafioso laki-laki, semua adalah perempuan saja

__ADS_1


Barra berpikir jika Ailin hanya merekrut Mafioso wanita saja, entah apa tujuan kekasihnya merekrut anggota wanita sebagai Mafioso nya.


Barra terus saja berjalan mengikuti Ailin hingga keduanya sampai di sebuah ruangan khusus dengan pintu tertutup. Para Mafioso nya membukakan pintu ruangan yang akan iya masuki.


Setelah pintu terbuka, Ailin memasuki lebih dulu ruangan gelap itu . Hanya ada lentera yang ada di dalam ruangan itu. Ailin mengambil lentera di samping tangga dan menuruni tangga hanya menggunakan lentera saja.


Barra yang mengikuti kekasihnya tak ingin bertanya, sampai iya sudha tiba pada tujuan kekasihnya.


Ailin menuruni tangga sekitar 2 tingkat anak tangga. Hingga Ailin menemukan ruangan yang berada di sana, bertuliskan ruang tiga barulah Ailin membuka ruangan itu.


Di dalam ruangan itu terdapat cahaya seperti lampu lentera yang banyak di setiap sudut ruangan. Dan sebuah jeruji besi memfokuskan mata elang barra.


"siap dia sayang" faktanya barra terkejut melihat seorang pria dengan keadaan lemah dan tangan terpotong berada di dalam jeruji besi gelap itu dan wajahnya tak terlihat


"apa kau mengenal gelang itu" tanya Ailin pada barra seketika bara mengalihkan pandangannya pada gelang yang di kenakan oleh pria itu. Seketika wajahnya memerah, rahangnya mengeras dan nafasnya turun naik.


Ingatan masa lalu membuat pria itu kembali mengingat apa uang terjadi dengan sahabatnya yang sudah lama meninggal.


"barra secepatnya mendatangi pria itu dan..."


bugh


bugh


bugh


Hantaman kepalan tangan barra menghantam wajah lebam pria itu. Seketika pria itu melirik ke arah barra dengan wajah terkejut.


"siapa kau" pria itu berteriak.


Ailin hanya diam sambil melihat apa yang akan kekasihnya lakukan dengan pria buntung itu.


"kau yang sudah membuat sahabatku meninggalkanku, kau juga yang sudah menodai sahabatku, kau pria brengsek" barra sekali lagi memberikan hantaman pada wajah pria itu sehingga pria itu tak berdaya, iya hanya punya satu tangan, iya tak bisa melawan.


"apa maksudmu"


"Arunika, kau yang sudah menodai Arunika hingga dia memilih mati dengan bunuh diri"


Tiba-tiba pria itu menangis mengingat masa lalu saat iya mengambil kehormatan Arunika dan menyaksikan kematian Arunika setelah iya ambil kehormatannya.


"Arunika, maafkan aku, aku tak bermaksud melakukannya, tapi aku memang bodoh yang terlambat mengungkapkan perasaan ku dulu " ucap pria itu menangis pilu.


Barra terdiam mendengar penyesalan pria itu, tapi sungguh penyesalan pria itu tak berguna dan tak bisa mengembalikan Arunika lagi.


Dia adalah adik dari Julio galaxy yaitu Davidson galaxy adik kandung Julio galaxy.


"sekarang kau harus menjelaskan keslahan pahaman antara aku dan saudaramu" ucap barra dingin.


"itu tidak perlu barra, karena aku sudah punya ini" Ailin menyodorkan rekaman yang baru saja iya rekam di ponselnya.


"baiklah dan tunggu pembalasanku, aku akan membunuhmu dengan tanganku" seru barra menatap tajam David yang meringkuk masih dengan suara tangisnya.


Ailin dan barra keluar dari ruangan itu menuju ruang tengah untuk menetralkan perasaan barra yang terkejut dan kecewa.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.....


__ADS_2