
"pecat dia atau aku yang akan membunuhnya"ucap Ailin menatap tajam wanita itu bak seperti Dewi perang.
.
.
.
.
.
Barra menjadi kebingungan, namun menurutii keinginan kekasihnya akan sangat sulit mengangkat pegawai baru.
"sayang, aku nggak bisa pecat dia" seru barra.
"kenapa tidak bisa, dia sudah melakukan hal yang sangat melanggar peraturan, dan dia juga sudah menghina aku " ucap Ailin.
Nampak senyum wanita itu mengembang karena barra membelanya.
"tapi sayang aku tidak tau mau cari kemana lagi karyawan yang bersedia sebagai resepsionis kantor aku" ucap barra.
Salah satu wanita yang melihat perdebatan mereka adalah Nina, wanita itu tersenyum puas melihat barra dan Ailin bertengkar.
"itu belum seberapa gadis sialan, aku bisa buat lebih dari ini" batin Nina.
Ailin tak sengaja melihat Nina yang tersenyum mengejek di belakang salah satu karyawan yang lain.
"oh, oke aku akan tunjukkan siap yang kau lawan Nina" batin Ailin seketika tatapannya bertemu dengan Nina membuat wanita itu menciut.
"baiklah jika kau kesulitan untuk mengangkat pegawai baru, aku sendiri yang akan melakukannya" seru Ailin.
"alaaaahh, kau sengaja ya ingin mencari perhatian bos, secara kamu itu sudah berlagak menjadi pacar bos" ketus Nina.
"oh tentu, karena apa, karena dia kekasihku bukan bosku" ucapnya membuat Nina geram.
"pak barra, kenapa sih bapak mau pacaran sama gadis kampungan ini" seru Nina.
"cukup Nina, kalau kau sampai menghina kekasihku lagi, aku akan memecat mu" ucap barra membuat Nina terdiam.
"sayang, sudah ya aku ingin-"
"sayang, tunggu" barra belum selesai bicara Ailin memutar balikkan tubuhnya dan keluar dari perusahaan dan barra mengejar kekasihnya.
"sayang tunggu, aku bukan bermaksud seperti itu aku hanya ingin tenang dalam bekerja" ungkap barra.
"kau ingin tenang bekerja, sementara aku di hina oleh karyawan kamu" seru Ailin.
"aku minta maaf sekarang, oke aku akan memecat dia tapi aku mohon aku ingin kamu kembali ke kantor bersama aku" barra menarik tangan Ailin dan memintanya untuk ikut masuk ke dalam kantor.
Barra dan Ailin kembali, setelah mereka sudah sampai di meja resepsionis, barra memecat wanita itu yang sudah berani menghina gadisnya dan sudah membuat gadis nya marah.
Nina ziana adalah salah satu wanita yang terobsesi ingin memiliki barra, tapi barra tak pernah memandangnya meskipun wajah cantik serta tubuh seksi wanita itu terlihat menggoda, barra tak pernah tertarik oleh wanita seperti itu.
"loh kok anda mencat dia bos, bukannya dia adalah resepsionis yang sangat baik, kenapa bos memecatnya" tanya Nina.
" karena aku tidak suka wanita ku di ganggu" tegas barra pada Nina dan Nina begitu terkejut oleh ucapan barra.
"ish,,apa pentingnya sih gadis ini, sampai-sampai tuan barra membelanya, bahkan tuan barra tak mau memandangku" batin Nina.
"itu karena, dia kekasihku, dan untuk apa dia memandnagmu, kamu itu terlalu percaya diri" seru Ailin membuat barra mengernyit bingung.
Sedangkan Nina bungkam tak berani bicara karena suara hatinya di dengar oleh Ailin. Dia juga kesal kenapa Ailin mendengar ucapannya tadi.
"kamu bicara apa sayang,?" tanya barra.
"tidak ada," jawab singkat Ailin dan barra tak ingin bertanya lagi.
__ADS_1
"baiklah ayo saynga kita ke ruangan ku" ajak barra.
"Hem" Ailin hanya berdehem membuat barra menghela nafas panjang. gadisnya kembali dengan sifat yang sebenarnya, sikap dingin yang dulu selalu Ailin perlihatkan kini kembali padanya.
Mereka berdua menaiki lift khusus untuk menuju ruangan CEO yang paling teratas.
Setelah mereka sampai, Ailin duduk di sofa yang tak jauh dari meja kerja barra.
"oh ya barra, aku akan menelpon seseorang" ucap Ailin.
Barra yang mendengar kekasihnya menelpon seseorang mulai menyelidiki.
"kau jangan khawatir, aku tidak selingkuh tapi ingin mencarikan mu seseorang yang bersedia menjadi resepsionis di kantormu" seru Ailin dan barra pun bernafas lega.
Ailin hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kekasihnya.
Setelah panggilan tersambung, Ailin berbicara pada seorang wanita di sebrang sana dan memintanya bekerja di kantor barra. Sesekali terdengar seseorang itu berbicara di sebrang sana dan terdengar sepertinya orang itu menyetujui tawaran Ailin.
"baiklah aku tutup dulu, kau mulai datang bekerja besok pagi" seru Ailin.
"baik nona" suara seorang wanita itu dan kini panggilan terputus.
"kau sudah tau dan kau dengan mudah mencarikan ku seorang resepsionis untuk perusahaan ku" ucap barra menyelidik.
"kau akan tau nanti" ucap Ailin menatap sang kekasih.
Kemudian Ailin mengeluarkan box makanan yang iya bawa tadi, dan membukanya. Terlihat makanan favorit barra membuat perut barra menjadi lapar setelah melihat isi box makanan yang di bawa Ailin.
"wh sayang, kelihatannya ini sangat lezat sekali" seru barra.
"kau belum mencobanya, sudah memuji saja" seru Ailin.
"aku tidak harus mencicipi dulu baru mengatakan lezat, dari wanginya saja aku bisa tau kalau ini sangat lezat, apa lagi yang di masak oleh kamu sayang" seru barra.
"kamu kenapa jadi menggombal sekarang, cepat makan, aku mau istirahat dulu ya" barra mengangguk dan membiarkan gadisnya tertidur di atas sofa panjang di sebelahnya. Tadinya Ailin ingin makan bersama bara, tapi moodnya terlanjur tak senang akibat perdebatan dengan seorang resepsionis tadi jadinya barra makan dengan sendiri dan membiarkan Ailin tidur di sofa dan tak ingin mengganggunya.
"masuk" ucapnya dingin.
"siapa sayang?" tanya Ailin.
"aku juga tidak tau" sahut barra.
Tak berapa lama pintu terbuka dan memperlihatkan seroang gadis cantik yang memasuki ruangan barra. Nampak gadis itu mengukir senyum di wajah cantiknya.
Kaki jenjangnya melangkah ke arah dimana tempat barra dan Ailin berada, gadis yang beberapa hari lalu datang menemui barra dan sempat membuat Ailin dan barra saling diam dan bertengkar beberapa hari yang lalu.
#Flasback on
Barra dan Ailin berada di sebuah cafe yang mewah, keduanya menikmati pemandangan kota di cafe yang berada di sebuah bukit yang tak terlalu tinggi namun cukup memperlihatkan sebuah pemandangan asri di atas bukit itu.
Keduanya menikmati makan siang di sana berdua. Awalnya mereka saling menatap bahagia dan begitu romantis sesuai dengan lagu yang sedang di mainkan oleh seseorang penyanyi cafe tersebut. Namun tak berapa lama kedatangan seorang wanita yang menghampiri mereka dan menyapa barra dan memeluk serta mencium kedua pipi barra, membuat Ailin marah.
"Hay barra, ketemu lagi kita sekarang, bagaimna kabar kamu, aku sangat merindukan kamu" seru wanita itu yang tak lain adalah Lila mileana. Yang sengaja datang di cafe itu untuk sekedar melepas penat setelah seharian berkeliling kota.
"aku baik, kamu? " tanya balik barra.
Dan Ailin hanya menatap datar kedua sosok wanita dan pria di depannya ini.
"ah, aku baik-baik saja," seru Lila.
"kapan kamu pulang, kenapa kamu sekarang berada di sini" seru tanya barra.
"aku pulang seminggu yang lalu dan ingin kembali satu bulan lagi aku pulang karena aku merindukanmu" jelas lila dan tak sengaja melihat ke arah Ailin lalu bergelayut manja di lengan barra.
"dia siapa, apa dia pacar kamu?" tanya Lila.
"iya dia kekasihku" ucap barra melihat ekspresi wajah Ailin yang terlihat sedang terbakar cemburu.
__ADS_1
Barra tak menyangaka jika Lila akan memeluknya erat dan duduk di samping barra sembari bergelayut manja di lengan barra.
"barra aku sangat merindukanmu" ucap Lila.
"lepaskan aku Lila" seru barra.
"biarkan seperti ini, aku ingin bersama kamu"
"lepas" barra tak ingin kekasihnya salah paham.
Ailin yang sudah muak melihat pemandangan menjijikkan itu, Ailin berdiri dan segera pergi dari tempat itu tanpa mengucapkan sepatah katapun meninggalkan kekasihnya yang tengah melepas rindu dengan Lila.
Hingga barra memanggil dan mencoba mengejarnya dan menarik tangan Ailin.
"sayang tunggu, itu bukan seperti yang kamu lihat, aku dengan Lila bukanlah kekasih, tapi teman dari kecil saja" tutur barra.
"baiklah, kau temani saja teman kecilmu itu disana, sepertinya kalian saling merindukan" ucap datar Ailin.
"sayang, aku mohon dengarkan aku, aku tak bermaksud menyakiti kamu, jujur sayang aku sangat mencintai kamu" barra terus saja mengejar kekasihnya.
"sayang aku mohon jangan marah"
"cukup barra, kau juga menikmati ciuman dan pelukan wanita itu kan, kau munafik barra" ucap Ailin tajam.
"sayang aku juga tidak menyangka dia akan memelukku" seru barra.
"awas aku mau pulang, aku cari taksi saja, kau pulang dengan teman kecilmu itu, sepertinya dia masih merindukanmu, lihatlah dia di atas sana" ucap Ailin dan menunjuk Dimana tempat Lila melihat mereka berdua yang sedang bertengkar.
Ailin menghentikan taksi dan segera masuk, namun barra tak membiarkan supir taksi itu pergi dan barra ikut masuk ke dalam mobil taksi itu.
Barra memeluk kekasihnya dan meminta maaf sudah mengabaikan dan menerima pelukan pada wanita lain.
"lepas-"
Cup
Ailin terdiam sejenak saat bibirnya di bungkam oleh barra dengan bibirnya. Sesaat mereka masih terdiam dengan bibir menempel, kemudian barra perlahan mulai menjelajahi rongga bibir gadisnya dengan decapan saling bersahutan. Supir taksi yang melihatnya, langsung saja keluar dan membiarkan sepasang kekasih itu menikmati decapan demi decapan yang di buat oleh mereka berdua.
Barra menempelkan kening mereka berdua dan sekilas bibirnya kembali mengecup bibir Ailin dengan penuh kasih sayang.
"sayang, tiada wanita lain yang akan menggantikanmu di sini" barra membawa tangan Ailin di dadanya.
"aku mohon maafkan aku, aku mencintaimu" ucap barra tulus membuat Ailin luluh seketika melihat mata memelas milik kekasihnya.
"huufft, baiklah aku maafkan, tapi jangan ulangi lagi seperti yang tadi" seru Ailin.
"iya sayang, aku janji" balas barra kemudian mereka turun dari taksi dan menuju mobilnya dengan keadaan sudah membaik.
Tak lupa barra memberikan 5 lembar uang kertas pada sopir taksi itu dan meminta maaf padanya.
#Flashback off
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.TBC😘