Gadis Muda Yang Tangguh Milik Tuan Arogan

Gadis Muda Yang Tangguh Milik Tuan Arogan
Siapa yang telah berani mengusik ku


__ADS_3

Jam masih menunjukkan jam 9 malam, barra dan kedua orang tuanya belum juga pulang, barra beberapa kali mencuri pandang pada Ailin, tapi Ailin hanya mengalihkan tatapnya ke arah lain.


Barra memutar otak untuk mencari alasan agar dia bersama Ailin bicara empat mata. Dan akhirnya barra mendapatkan ide brilian untuk mendekati gadisnya itu.


"paman, bolehkah aku berjalan-jalan di sekitar rumah paman, aku hanya ingin melihat-lihat dan mencari angin di luar saja" ungkap barra.


"tentu barra, kau boleh berkeliling sampai kau puas, dan Ailin yang akan menemanimu" seru tuan Revan.


Entah barra seperti mendapatkan angin segar saat tuan Revan mengatakan gadisnya yang akan menemaninya berkeliling rumah tuan Revan.


"Ailin ayo nak temani barra, dia perlu tau setiap sudut rumah ini" seru tuan Revan.


Dan Ailin, sungguh gadis ini merasa kesal oleh permintaan barra, dia yakin itu hanyalah akal-akalan barra saja yang ingin berkliking rumah ayahnya.


Mau tidak mau, Ailin hanya menurut, membantah pun rasanya tidak mungkin karena pasti akan ada ribuan alasan yang pria itu gunakan. Triknya memang licik, tapi kalau tidak licik bukan barra namanya.


****


Disinilah Ailin dan barra berada, di tepi kolam renang yang luas dan taman kecil di sekitar sekeliling kolam. rerumputan lebat yang menghiasi taman kecil itu, dan bangku besi berwarna putih seolah memanggil Ailin untuk duduk di sana.


Keduanya dalam keadaan hening, sampai barra membuka suara.


"ehem, kau baik-baik saja?" tanya barra.


"Hem" jawab Ailin.


"aku sengaja mengajakmu kesini, menurutku perbincangan orang tua tak begitu cocok untuk kita" ungkap barra.


"cih, kau juga akan merasakannya nanti, kau juga akan tua" cibir Ailin.


"tapi, aku hanya belum saatnya saja, kita nikmati saja masa muda kita sebelum itu semua berlalu" seru barra.


"ah, sudah lupakan, sekarang aku ingin bertanya padamu, apa kau memiliki seorang kekasih?" tanya barra.


"untuk apa anda bertanya?"


"aku hanya memastikan kau tak memiliki seorang kekasih" jawab barra.

__ADS_1


"kalau aku sudah punya bagaimana" tanya Ailin dengan mata mendelik.


"aku akan merebut mu darinya" ucap barra.


"kau gila" ucap Ailin.


"ya, saat aku bertemu denganmu, aku sudah menjadi gila" ungkapnya namun Ailin tak menjawab bahkan memalingkan wajahnya yang bersemu merah ke arah lain.


Grep


Barra meraih pinggang ramping Ailin hingga menabrak dada bidangnya. "besok aku ingin kau datang lebih pagi, dan tak ada penolakan" ucap pria itu menekan kalimatnya.


"ta-pi" Ailin gugup karena perlakuan barra yang tiba-tiba mendekatkan tubuhnya dengannya.


"sssttt, aku tak akan menerima penolakan apapun" ucapnya sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Ailin. Membuat jantung Ailin berdetak lebih cepat. Karena wangi mint dari mulut pria itu sungguh memabukkan.


Saat barra akan mendaratkan bibirnya ke bibir merah ceri itu.


dor


Suara derap langkah kaki memenuhi Indra pendengarannya, mereka bersembunyi di balik pohon besar, dengan penglihatan yang tajam, barra meneliti siapa yang sudah berani mengusik ketenangan nya.


"****,,,,siapa mereka berani sekali mengganggu ketenangan ku" umpatnya kesal.


"tenanglah, kita awasi saja dulu" Ailin meraih alat komunikasi milknya di saku celana, yang sempat iya bawa dan alat pendeteksi yang kecil sebesar telapak tangan itu. Iya gunakan untuk mencari siapa yang telah menganggu nya.


"kau bisa menggunakan ini?" tanya Ailin memperlihatkannya dengan barra.


Barra mengambilnya dan mengangguk, "aku akan menggunakannya" sahut barra.


"kini alat canggih itu mulai di mainkan, dengan mata elangnya barra melihat dimana titik merah lokasi orang yang melayangkan pluru nya tadi.


dor


Kembali terdengar suara tembakan itu terdengar tak ada di sekitarnya melainkan di dalam rumah. Ailin dan barra sejenak saling memandang, namun seketika mereka berlari cukup kuat memasuki rumah untuk melihat apa yang terjadi.


"ayaaahh" teriak Ailin membuat beberapa orang disana melihat ke arahnya.

__ADS_1


Tuan Revan tengah meringis kesakitan saat peluru itu menembus kakinya. Ailin yang melihat tajam para pelakunya kini amarahnya naik seketika saat sang ayah tak bisa berdiri dan di tembak di tempatnya.


"Ailin, ayah tidak apa nak, kamu pergilah mencari tempat aman, barra tolong selamatkan Ailin, saya mohon" ucap tuan Revan di sela kesakitan ya.


Tuan Zaki dan nyonya Jihan berdiri dan di todong kan senjata api ke arah keduanya.


"shiit,," umpat barra yang melihat kedua orang tuanya dia todong senjata.


"aku tidak akan menerimanya, aku akan membunuh kalian sekarang juga" sorot mata Ailin berbeda, kini dia menjadi dirinya kembali, sejenak ingatan berputar dikala ayahnya meninggalkannya kini iya merasa tak terima jika ayahnya hilang untuk yang kedua kalinya.


"mau apa kau gadis nakal, jangan pernah mendekat kalau tak ingin peluru ini bersarang di otakmu" ucap salah satu pria pelaku penembakan itu. Sekitar tujuh orang yang berada di sana tengah menodongkan senjata ke arah mereka.


Ailin tak peduli dengan keadaannya sekarang, dia harus bisa menyelamatkan ayah dan juga orang tua barra.


"sayang, kita jangan gegabah, aku punya rencana lain" bisik bara di telinga Ailin. Ailin pun terdiam namun sesak di dadanya semakin memuncak dan amarahnya sudah semakin ingin meledak saat orang tersayangnya di tembak begitu saja. Apa salahnya, kenapa semua orang begitu mempermainkannya.


Ailin pasrah, dia tak bisa bergerak dan begitu juga barra, mata elang pria itu seolah mengintimidasi musuhnya sekarang, wajah tampannya seketika berubah menjadi mengerikan sekarang.


Saat sedikit lengah, kedua pria yang menodongkan senjata pada barra dan Ailin, kini Ailin dan barra mengangguk dan memutari tubuhnya secepat kilat, serta gerakan yang sama, Ailin dan barra sudah memegang senjata milik dia pria itu yang sejak tadi ada di belakanganya dan menodong senjata ke arahnya.


Tanpa menunggu lama, keduanya menembak dan berguling-guling di are sofa dan juga lantai seketika beberapa banyak musuh mereka yang tumbang sekaligus terkejut secara bersamaan.


"aku sudah bilang, kalian hanya tikus kecil yang sudah berani menyia-nyiakan nyawa menghadapi ku " ungkap Ailin masih dengan aksinya.


Barulah dalam hitungan detik, barra dan Ailin menumbangkan semua musuhnya hingga hanya bersisa satu.


"sudah ku bilang, aku bukanlah lawanmu" ucap Ailin terkesan sombong, namun dalam dirinya kobaran api menyala siap untuk di ledakkan.


Sedangkan barra, membebaskan kedua orang tua dan juga ayah Ailin dan di duduk kan di sofa kembali.


Barra meraih ponselnya untuk menghubungi dokter pribadinya


"ke alamat ini lima menit, jika tidak kepalamu ku penggal" ancam barra pada seseorang yang di telponnya membuat yang di sebrang telpon kocar-kacir.


sekali lagi mohon maaf karena penulisannya kurang rapi sa banyak typo, semoga seterusnya novel ini bisa menjadi lebih baik lagi😊


tetap like komennya ya, biar author lebih semangat

__ADS_1


__ADS_2