Gadis Muda Yang Tangguh Milik Tuan Arogan

Gadis Muda Yang Tangguh Milik Tuan Arogan
Tiger squad


__ADS_3

Selamat merayakan maulid nabi Muhammad SAW. Semoga kita semua di pertemukan nanti dengan beliau nanti. dan semoga mendapatkan syafaat darinya Amiin..


.


.


.


.


.


.


.Happy reading 😊


Barra sejak tadi memikirkan gadisnya yang belum juga muncul. Iya selama menunggu di ruang tamu bersama kedua orang tuanya dan tuan Revan, dirinya merasa sangat bosan mendengar pembicaraan ketiga orang tua itu.


"huh, kemana sih Ailin apa dia tidak peduli denganku, kenapa dia sejak pulang tadi, dia terlihat cuek sekali" batinnya.


Kemudian dia menemukan ide nya, dan tersenyum miring.


"mmm ma, pa, ayah, aku mau ke toilet sebentar ya, barra sakit perut" seru bara berbohong.


"oh sialahkan nak" tuan Revan mempersilahkan barra ke toilet.


Kemudian barra meninggalkan ketiga orang tua itu berbicara membosankan. Barra menaiki tangga dan menuju kamar gadisnya.


Ailin belum mengetahui jika kekasihnya mencarinya ke kamar.


Ailin Baru saja selesai mandi, sekarang dia tengah mengeringkan rambutnya di depan cermin meja rias.


Saat Ailin sudah siap dan selesai mengeringkan rambutnya, aikin melihat kembali penampilannya yang sangat sederhana tapi tak mengurangi kecantikan dan kemolekan tubuhnya.


Saat Ailin memegang gagang pintu dan bersiap akan keluar, Ailin di kejutkan oleh seorang pria berdiri di balik pintu dan menghadapnya lalu tersenyum manis menatapnya.


"kamu kenapa kesini?" tanya Ailin.


"tentu mau cari kekasihku" seru barra bersilang tangan di dada nya.


"ayo kita keluar, nanti mereka semua memanggil kita" seru Ailin.


Namun bukannya menurut, barra bahkan mendorong pelan gadisnya memasuki kamar Ailin dan menutup pintu lalu menguncinya.


"ck, kamu mau ngapain" tanya Ailin gugup saat dirinya satu ruangan dengan barra.


"aku bosan di luar sayang, makanya aku mencarimu di sini, aku ingin kamu menemaniku" seru barra kemudian mengurung Ailin yang bersandar di tembok dengan kedua tangannya, lalu menatap kekasihnya itu lekat.


"kau harum sekali baby, aku menyukai wangi shampo dan sabun yang kau kenakan" barra menatap lekat gadisnya dan memejamkan matanya menikmati wangi shampo yang di pakai Ailin.


"barra tolong jangan seperti ini, nanti mereka bisa melihat kita di sini" seru Ailin.


Namun barra tak menghiraukan kekasihnya itu, iya mendekatkan dirinya dengan wajah Ailin.


"aku datang ke sini, bersama mereka ingin melaksanakan pertunanagn terlebih dahulu sayang, baru setelah itu kita menikah" seru barra membuat Ailin terdiam.


"kenapa kau diam, apa kau menolak ku lagi, apa kau tak mau menjadi istriku" tanya barra lembut mengusap pelan pipi gadisnya.


"bu-bukan begitu maksudku barra" seru Ailin gugup.


"lalu?" tanya barra lagi.


"aku hanya ingin melihat seberapa tulusnya kamu mencintai aku, kau memperlakukan aku memang sangat baik dan di samping itu, kau juga selalu membuatku jatuh cinta berkali-kali tapi, aku tidak yakin kau bisa menerima siapa aku, kau belum tau siapa aku yang sebenarnya" seru Ailin mengeluarkan segala isi hatinya.


"Ailin, aku tak pernah menilai siapapun kamu, aku bahkan sangat mencintai kamu bahkan rasa itu semakin besar setiap hari, tapi aku minta satu darimu, jangan pernah menolak ku, aku tak peduli siapa dirimu" seru barra menatap gadisnya tajam.

__ADS_1


"aku tidak yakin dengan kedua orang tuamu mau menerimaku, aku juga bukan gadis yang selalu bersikap manis dan bisa mengambil hati orang tuamu, aku hanyalah gadis yang selalu di rundung permaslaahan, kau belum tau aku bukan gadis yang selalu bisa bersenang-senang di seusianya, aku hanyalah seorang gadis biasa yang tak memiliki kelebihan seperti gadis-gadis yang lain" ucap Ailin menatap lekat pria itu.


"oleh sebab itu kau menolak ku?" tanya barra dengan raut wajah yang tak bisa di baca.


"maaf" seru Ailin lirih.


Barra mundur dari tubuh Ailin kemudian pria itu membuka pintu lalu meninggalkan gadisnya sendiri di dalam kamar tanpa sepatah katapun pria itu pergi dari kamar itu.


Ailin sebenarnya tak enak hati dengan kekasihnya itu, bahkan Ailin merasa sangat sedih ketika Ailin mengatakan itu pada kekasihnya. Namun iya juga tak ingin membuat barra kecewa setelah mereka menikah nantinya.


"ya Tuhan, apa yang aku katakan sudah melukai hatinya, maafakn aku, aku bukan menolak keinginan mu, tapi aku ingin melihatmu mau menerimaku atau tidak" gumam Ailin.


*****


Di ruang tamu, ketiga orang tua itu masih dengan obrolannya. Mereka melihat barra yang datang dengan wajah yang merah padam.


"ma, ayo kita pulang" seru barra.


"loh kenapa, kamu kan mau bertun-" ucapan tuan Zaki menggantung saat mendengar penuturan anaknya.


"pa, Ailin tak mencintaiku, dia tak menginginkan pertunangan ini, jadi tidak ada gunanya kita datang kesini" seru barra dengan wajah datarnya.


"apa kamu sudah bertemu Ailin nak barra, aku yakin dia gak sembarang bicara" seru tuan Revan.


"maaf ayah, Ailin tak mencintaiku, jadi aku tak akan memaksanya untuk menikah denganku, aku juga bukan pria yang tepat untuknya" seru barra.


"tunggu sebentar nak, ayah akan memanggil Ailin" tuan Revan berdiri.


Namun Ailin sudah turun ke bawah dan menghampiri mereka.


"Ailin, apa benar kamu menolak untuk menikah nak?" tanya nyonya Jihan dengan raut wajah yang sedih.


Ailin hanya diam dan tak menjawab apapun pertanyaan nyonya Jihan.


"nak, aku tidak yakin keputusanmu, apapun alasan nya, kami akan menunggumu" seru tuan Zaki.


"maafkan anak saya tuan Zaki, bukan bermaksud menolak, mungkin ada alasan yang lain, nanti saya tanyakan padanya" seru tuan Revan.


"iya tidak apa-apa, kami pulang dulu ya"


"tuan Revan, saya permisi" seru nyonya Jihan.


"iya silahkan"


Tuan Zaki dan nyonya Jihan pergi dan barra tanpa mengucapkan sepatah katapun, tak menoleh pada gadis nya dan berlalu begitu saja.


****


Di perjalanan menuju pulang, barra berada di samping Jason sang asisten yang siap mengantarkan sang bos kemanapun.


Barra sejak keluar dari rumah Ailin, pria itu menjadi penuh diam, dia hanya hanyut dalam pikirannya sendiri.


Tuan Zaki dan nyonya Jihan, saling pandang dan begitu sedih melihat anak kesayangannya hanya diam tak bersuara.


Jason yang mengetahui raut wajah bosnya yang tak biasa, iya tak berani banyak bertanya dan berbicara.


"aku yakin nak, kamu pasti akan mendapatkan nya, aku melihat cinta yang besar di mata Ailin dan kalian saling mencintai, hanya gadis itu masih menyimpan sesuatu yang tak ingin di ketahui orang lain, bahkan ayahnya sendiri belum mengetahuinya"batin tuan Zaki.


"ehem, barra kamu baik-baik saja nak?" tanya tuan Zaki pada anaknya itu.


"Hem, aku baik ayah" seru barra dengan nada bicaranya yang dingin.


Setelah itu, keheningan meliputi mereka, dan tak ada pembicaraan lagi.


Sesampainya mereka di rumah mewah dan megah itu, barra dan kedua orang tuanya memasuki rumah. Dan barra segera menuju kamarnya. Pria itu membaringkan tubuh kekarnya di atas ranjang.

__ADS_1


****


Di kediaman tuan Revan, Ailin dan ayahnya masih berada di ruang tamu. Keduanya hanya diam dan tuan Revan menghela nafas panjang. Sungguh anak perempuannya ini sangat sulit di tebak apa isi hatinya.


"ada apa nak?" tuan Revan membuka suara dan bertanya pada Ailin.


"apa kamu tak mencintai barra, apa kamu tak pernah memikirkan menikah dengannya?" tanya tuan Revan pada Ailin.


"ayah, bukan ingin mengecewakan ayah atau barra dan kedua orangtuanya, tapi Ailin belum siap" seru Ailin.


"ayah tanya sama kamu, apa alasan kamu belum siap dengan pernikahan nak?" tanya tuan Revan.


"karena"


"apa aku harus cerita semua siapa aku pada ayah, aku takut ayah marah padaku" batinnya.


"karena apa?" tanya tuan Revan.


"karena aku seorang dari dunia kegelapan ayah, aku seorang mafia" seru Ailin membuat tuan Revan syok.


"ma-fia" seru tuan Revan terkejut.


"iya ayah, aku bukan wanita pada umumnya yang selalu bersenang-senang di usianya, dan selalu menjadi gadis yang bersikap lemah lembut dan juga perhatian, aku adalah orang yang yang selalu di rundung permaslaahan dan selalu berurusan dengan dunia bawah, lalu bagaimana mereka bisa menerima Ailin nantinya ayah" seru Ailin sendu.


"hahahaha" tuan Revan bukannya sedih kini tertawa terpingkal-pingkal mendengar anak gadisnya bercerita mengeluarkan keluh kesahnya.


Ailin tentu saja menjadi bingung melihat ayahnya yang tertawa. Sejenak juga iya merasa sedikit kesal karena ayahnya tertawa setelah mendengar ceritanya.


"kenapa ayah tertawa?" tanya Ailin.


"tentu saja ayah tertawa,"


"kenapa" Ailin mengernyit heran melihat ayahnya yang belum juga selesai tertawa.


"ternyata kau belum tau siapa kekasihmu ya" seru tuan Revan mengusap sudut matanya yang berair karena tertawa.


"memangnya barra siapa dan kenapa dengannya?" Ailin sungguh sangat penasaran ingin mendengar cerita barra pada sang ayah.


"dia salah satu mafia yang terkejam di dunia, tuan Zaki merupakan pendiri salah satu mafia yang begitu di segani dan di takuti di seluruh Amerika dan seluruh dunia." seru tuan Revan.


"ayah sudah sangat lama mengenalnya, dia leader yang sangat di takuti, bahkan sekedar lewat di depannya saja banyak yang takut melakukan kesalahan, pembunuh berdarah dingin itu merupakan pendiri mafia pertama di Amerika serikat" sambung nya.


Glek


Ailin meneguk saliva kering saat ketika mendengar bahwa kekasihnya adalah seorang mafia berdarah dingin.


"lalu apa nama organisasinya ayah?" tanya Ailin merasa tak mampu berbicara.


"Tiger squad" sahut tuan Revan. membuat Ailin membelalakkan matanya, karena pendiri yang sesungguhnya dari mafia Tiger squad adalah ayah dari kekasihnya sendiri.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


TBC😘


__ADS_2