
Happy reading 😊
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Barra masih dalam perjalanan menuju apartemennya. iye memilih beristirahat di apartemennya, karena sudah lama iya tak mengunjungi apartemen mewah nya.
Setelah beberapa menit, barra dan Jason sudah tiba di besment apartemen nya. Melangkahkan kaki lebarnya menuju lift yang akan mengantarkannya ke kamar apartemennya.
Saat barra sudah keluar dari lift, barra berjalan dengan santai. Namun penglihatannya menatap sosok yang sangat dia kenal berdiri di samping pintu apartemennya.
"kenapa kamu ada di sini?" tanya barra mengernyit kan dahinya.
"aku hanya ingin mengunjungimu" seru wanita itu yang atak lain adalah Lila.
"ada apa kamu mencariku?" tanyanya mengernyit bingung.
"aku hanya merindukanmu, apa aku tidak boleh datang ke apartemen mu" seru Lila dengan wajah yang sendu.
"bukan seperti itu, tapi ini sudah malam, seharusnya kamu pulang , tidak baik seorang wanita keluar malam-malam" seru barra.
"barra, kenapa sih kamu selalu menghindar dariku" Lila menatap wajah pria yang dia cintai.
"Lila, kita itu hanya teman dari kecil, dan tak ada yang lebih, apa itu belum cukup untuk membuatmu mengerti" seru barra menata gadis di depannya ini.
"tapi aku mencintaimu barra, tidakkah kamu mau sedikit saja memandnagku" seru Lila.
"Lila, aku mohon, hentikan omong kosong mu itu, aku sudah memiliki pasangan hidup dan sebentar lagi aku akan menjalin sebuah hubungan dengannya dan kami akan menikah" seru barra mengingatkan Lila.
"aku mohon barra, aku sangat mencintai ku, aku berharap suatu hari nanti kamu dapat mencintaiku" seru Lila dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"maaf Lila, aku tidak bisa, aku hanya mencintai kekasihku" tatapannya tajam pada Lila.
"kamu jahat barra, kamu tak peduli dengan hatiku, aku sudah lama mencintai mu" ucap Lila meneteskan air mata.
"Lila pergilah dari sini, pulanglah nanti mama kamu mencarimu" barra membelakangi Lila dan menyuruh Lila pergi dari apartemen nya.
Namun Lila bukannya pergi, wanita itu memeluk barra dari belakang membuat barra terlonjak kaget." apa yang kamu lakukan Lila, aku menyuruhmu pergi, kamu jangan seperti ini, lepaskan" barra berusaha melepaskan pelukan gadis itu yang cukup kuat.
"aku tidak akan melepaskanmu barra sebelum kamu menerima cintaku, aku hanya ingin kamu barra, aku mencintaimu barra" Lila begitu nekad terus memeluk barra erat dari belakang.
Barra yang sudah kehilangan kesabarannya. Barra menghempaskan kasar tangan Lila membuat Lila sedikit mundur dan tangannya terlepas.
"kau mendorong ku barra, kau menyakitiku" Lila berkata dengan lirih.
"aku tak akan berbuat kasar padamu jika sikap kamu tak melampaui batas. Aku tidak suka dengan wanita seperti mu, dari dulu aku menganggap mu teman biasa, tapi rasa obsesi mu bahkan semakin tinggi membuat aku semakin tak menyukaimu" seru barra dengan tatapan datar.
"pergi dari sini sebelum aku menyuruh Jason menyeretmu" barra tak memperdulikan air mata dan wajah menyedihkan Lila. Pria itu memasuki pintu apartemen nya dan meninggalkan Lila yang masih mematung di depan pintu.
Wanita gila itu akan terus melakukan apapun yang dia inginkan, kedatangannya ke apartemen barra untuk kembali mendapatkan hati barra, justru barra tak pernah memandang ya sedikitpun. Dia mengingat jika gadis yang menjadi kekasih barra beberapa waktu lalu, dia semakin membencinya. Kobaran api di dalam hati Lila sudah begitu membara.
"aku akan mendatangimu langsung gadis sialan, aku akan membunuhnya, jika aku tak bisa mendapatkan barra, kamu juga tidak boleh mendapatkan nya" matanya menyorot tajam menyala.
Giginya bergesekan wajahnya mengerikan, Lila sudah tak peduli lagi akan keadaannya, dia akan mencoba menemui Ailin besok lusa di kampusnya dan akan memberi gadis itu pelajaran yang membuat Ailin tak akan melupakannya sampai seumur hidupnya.
Lila bukanlah wanita biasa, dia juga menguasai bela diri yang mumpuni, tapi hanya sekedar bela diri biasa. Mengingat dirinya adalah super model terkenal di negara A membuatnya lebih mengenal lingkungan di sekitar negara A. Negara yang paling banyak persaingan entah itu dari segala bisnis maupun kehidupan sehari-hari.
Namun Lila belum bisa menguasai pengendalian senjata tajam dan senjata api, dia belum pernah belajar memegang segala jenis senjata.
"aku akan mencarimu gadis sialan" serunya menakutkan.
Lila berbalik meninggalkan apartemen mewah barra keluar dengan hati yang kesal dan marah. Iya berjanji pada dirinya sendiri akan membalasnya pada Ailin.
*
*
*
*
*
Ailin sekarang berada di kamarnya, hatinya yang kembali sedih meluruhkan air mata yang sempat kering beberapa waktu lalu.
Air mata Ailin menggambarkan dia sosok yang rapuh. Dalam hidupnya, iya selalu menderita berkali-kali dengan harapannya yang tak pasti.
__ADS_1
"ternyata harapan itu tinggal harapan saja, jika begini, aku akan dengan tenang menghapus semua harapan ku padanya" lirihnya menatap malam penuh bintang.
Jam menunjukkan pukul 1 dini hari, Ailin sudah mencuci wajahnya dan mendinginkan kulit wajah dengan air dingin.
Manik birunya menatap sendu pantulan dirinya di cermin besar yang ada di kamarnya.
"ternyata kamu memang di takdir kan hanya untuk menjadi seorang yang sangat menyedihkan" serunya tertawa kecil lalu berjalan menuju ranjangnya dan merebahkan tubuh lelah dan otaknya agar esok hari dia mendapati hari yang menyenangkan.
Tak berapa lama, Ailin memasuki alam mimpi.
*
*
*
*
*
Pagi hari yang cerah menyapa, Ailin mengerjapkan matanya, rasa kantuk kembali menyerang namun matahari yang menyingsing masuk menerobos persinggahan gadis itu membuatnya mau tak mau bangkit dari tidurnya.
Ailin terduduk dan berkali-kali menguap menetralisir rasa kantuknya, dan mengumpulkan nyawa.
Ailin merenggangkan semua ototnya dan berjalan ke arah westafel untuk mencuci wajahnya yang masih terlihat sedikit bengkak akibat menangis semalam.
Ailin mengabaikan matanya yang bengkak itu dan segera menyelesaikannya mencuci wajahnya dan berjalan menuju ruang ganti dan mencari baju yang pas untuknya karena pagi ini Ailin akan berolah raga dan melakukan lari pagi.
Setelah Ailin berganti pakaian, dia keluar dari kamarnya dan berjalan keluar. Karena hari ini hari Minggu, terlihat pintu kamar ayahnya masih tertutup rapat, iya yakin ayahnya masih tertidur.
Ailin tak ingin mengganggu tidur ayahnya, dia segera keluar menuju halaman besar dan berlari kecil di sana. Ailin juga keluar dari gerbang menuju jalan raya, dia akan mencari tempat yang cocok untuk berolah raga.
Ailin menuju sebuah lapangan yang terlihat Ramai karena banyak para muda mudi yang berlalu lalang mengitari lapangan dan lari pagi di sana.
Ailin mengurungkan niatnya kesana, karena dia lebih memilih menyendiri dan tak terlalu suka dengan keramaian.
Ailin menemukan jalan yang tak terlalu banyak orang melewati jalan itu. Ailin berlari ke sana. Udara di pagi hari memang snagat menyegarkan, Ailin menghirup udara pagi itu dan memejamkan matanya.
Iya kemudian kembali melanjutkan lari paginya, sesekali dia juga melompat menggunakan tali dan memutarnya di tubuhnya dari atas ke bawah.
Ailin melakukan gerakan itu berkali-kali, bahkan keringat di tubuhnya membasahi seluruh pakaiannya.
"selamat pagi" sapa seseorang membuat Ailin menoleh dengan cepat.
( kira-kira siapa ya yang menyapa Ailin😊)
__ADS_1
Oke lanjuuut👌
Ayo lah, jangan cuman di baca dong, tingglkn jejak juga ya please author mohon sekali🥺