
Selamat membaca
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Seorang pria berparas tampan berdiri di depan jendela kaca transparan melihat pemandangan kota yang perlahan mulai padat dengan banyaknya hiruk pikuk kehidupan manusia yang berlalu lalang di sepanjang jalan dan ada juga yang beraktivitas dan melakukan pekerjaan di sekitarnya.
Wajah pria itu nampak sangat dingin, matanya menatap tajam pemandngan di depannya. Namun pikirannya entah melayang kemana. Garis rahang nya terlihat mengeras mengingat sesuatu yang membuatnya murka.
"kau akan mati ku bunuh Davindra Barra Crishtian" seru pria itu dengan tatapan yang sangat mengerikan, entah dendam apa yang iya punya pada barra hingga terdengar gigi-giginya bergemelatuk dan bergesekan.
Namun kini lamunannya di kejutkan oleh seseorang yang mengetuk pintu ruangannya.
Tok tok tok
"masuk" serunya pada siapa yang mengetuk pintu.
"tuan" sapa sang asisten menyapa bosnya setelah menutup pintu ruangan.
"Hem" tanpa menoleh dan mengalihkan pandangannya, pria itu masih dengan tatapannya ke luar.
"saya sudah mendapatkan apa yang tuan minta, dan jadwal tuan hari ini menemui rekan kerja tuan yang akan segera datang dari luar kota menuju cafe dekat perusahaan kita, apa tuan akan datang?" tanya sang asisten.
"aku akan datang, tapi ubah waktu yang tepat, aku ingin melihat laporan yang aku minta kemarin" seru pria itu.
"baik tuan, ini dia laporannya" seru asisten.
Pria itu kemudian melangkah menuju kursi kebesarannya dan duduk dengan elegan.
Menarik sebuah map yang di sodorkan asisten nya dan membaca secara rinci apa yang tertulis di dalam map itu.
"dia gadis kekasih barra?, sejak kapan pria itu kembali menjalin kekasih, bukannya dulu dia menjalin hubungan dengan Lila?" serunya.
"saya hanya mendapatkan itu tuan, selebihnya tentang gadis yang menjadi kekasih tuan barra sekarang, saya belum detil mendapatkan informasinya, sepertinya ada yang sengaja menutupi akses lengkap dari gadis itu" seru sang asisten.
__ADS_1
"baiklah, kau harus tetap memantau gadis itu, aku hanya ingin tau selepas barra meninggalkan Lila, kenapa begitu tertarik pada gadis yang terlihat biasa-biasa saja" seru pria itu. Tangannya melambai membuat asisten nya pergi.
"saya permisi tuan"
*
*
*
*
*
*
*
Barra hari ini sudah siapa dengan stelan jas berwarna navy. Pria itu menemui kekasihnya yang tengah berada di dapur tengah memasak untuk mereka sarapan.
Kemudian senyum cerah dari bibir manis pria itu melihat gadisnya yang begitu lihai dalam memasak dengan tangannya yang sudah seperti chef internasional yang begitu terkenal, iya menemui kekasihnya dan memeluknya dari belakang, membuat Ailin terlonjak kaget beruntung wajan yang iya gunakan tak melayang di kepala pria itu, tapi Ailin menyadari kekasihnya tengah memeluknya iya pun tak jadi melempar wajan pada kekasihnya.
"kau mengejutkanku" seru Ailin dengan tangannya menekan dada.
"kau selain cantik, sangat pandai sekali memasak" seru barra mencium leher kekasihnya tanpa menjawab ucapan Ailin membuat Ailin risih dan geli dengan perlakukan barra.
"stop, ini geli barra" seru Ailin.
Barra hanya duduk dengan patuh tak ingin membuat gadisnya marah.
Melihat itu, Ailin tersenyum tipis nyaris tak terlihat oleh barra.
"sayang, katanya kamu sebentar lagi akan wisuda, apakah itu benar?" tanya barra.
"Hem, jadi sebelum pernikahan, aku ingin menyelesaikan tugas dan juga wisudaku" seru Ailin.
"baiklah, kita akan menikah setelah kamu wisuda" seru barra dan di angguki Ailin.
"ayo sarapan" Ailin mengambilkan makanan pada barra dan dia hanya memakan salad buah, karena dia jarang sekali sarapan dengan makanan berat. Waktu masih di keluarga mole, jadi dia sudah terbiasa makan makanan ringan di pagi hari agar perutnya tak bermasalah.
Berbeda dengan barra, ketika pria itu menyuapkan nasi goreng sederhana di mulutnya, dia berhenti sejenak.
"apa itu tidak enak" Ailin sedikit merasa kecewa melihat tatapan barra yang tak ada ekspresi ketika mencicipi nasi goreng buatannya.
"ini sungguh sangat enak sayang, hemm, aku suka ini aku ingin ini setiap hari" pria itu bukan lagi memujinya tapi memberikan semangat kekasihnya dan meminta kembali untuk di buatkan nasi goreng setiap hari.
Wajah Ailin begitu ceria melihat kekasihnya menyukai nasi goreng buatannya, bahkan pria itu menghabiskan nasi goreng itu tanpa sisa di piringnya.
"ini benar-benar enak sayang, ini lebih enak dari nasi goreng buatan chef di restoran" seru barra memuji masakan Ailin.
"kamu berlebihan"
__ADS_1
"no sayang, aku tidak berlebihan, ini benar-benar enak" serunya tersenyum.
Kemudian mereka berdua dengan cepat menghabiskan sarapannya dan bersiap berangkat bersama.
***
Di kantor
Jason menggerutu kesal dengan bosnya yang membuatkan dirinya hanya menaiki taksi menuju perusahaan. Bagaimana tidka kesal, barra menyuruhnya datang membawakan mobilnya menuju rumah Ailin pagi ini, tapi setelah dia sampai di rumah Ailin, Jason di suruh kembali menggunakan taksi dan membuat Jason begitu kesal dan mengumpat bosnya di sepanjang jalan menuju perusahaan.
Tapi dia hanya Berani mengumpat dalam diam, tanpa seorang pun yang mendengar.
"dasar bos galak, bisa-bisanya menyuruh aku ke perusahaan menggunakan taksi, di juga tak memberiku ongkos taksi, jadinya uangku yang jadi sasaran" ucapnya kesal.
Dia sendiri yang naik taksi, kenapa bosnya yang harus memberikan ongkos memang Jason asisten pelit, dia yang naik taksi enak saja minta ongkos pada bosnya. Andaikan barra mendengar dirinya di umpat oleh sang asisten, sudah tentu bonusnya benar-benar akan di potong.
"husff, untung kau bosnya, kalau aku menjadi bos, aku akan dengan senang hati menghukumnya dengan menyuruhnya jalan kaki atau merangkak juga lebih menarik" Jason berhayal jika dirinya menjadi bos.
"siapa yang merangkak Jason"
Tiba-tiba suara dingin menerpa telinga dan tengkuk Jason membuat dia merinding. Suara yang sangat dia kenalnya tiba-tiba berada di dekatnya entah datang dari mana pria yang sejak tadi di umpat oleh Jason datang menghancurkan hayalan nya untuk menjadi bos.
"eh tu-tuan, selamat pagi tuan hehe" Jason menjadi kikuk melihat bosnya sudah ada di dekatnya.
"secepatnya datang ke ruangan ku, ada yang ingin aku bicarakan" seru barra dan secepatnya berlalu pergi.
Sedangkan Jason, pria itu ingin sekali berjingkrak senang melihat bosnya yang terlihat biasa saja dan tak mendengarkan umpatannya tadi, dia merasa begitu lega.
"huuft, untung saja si bos tak mendengarkan ucapan ku, huuh aku jadi lega" Jason mengusap keringat di dahinya yang sempat keluar tadi saat barra mendengar ucapan nya.
Diapun dengan sangat gentelman berjalan dengan langkah yang seperti biasa tebar pesona pada karyawan wanita, membuat para karyawan wanita tersenyum malu-malu padanya.
Memang Jason adalah orang yang sangat suka tebar pesona, membuat para wanita menjerit mengagumi ketampanannya yang tak kalah tampan dari barra. Tapi meski begitu, Jason merupakan pria yang jomblo akut, tak pernah menjalin kekasih dengan wanita
manapun. Dia belum menemukan wanita yang tepat untuk dirinya sendiri.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC