
Suara langkah kaki menggema di ruang tamu, sang pemilik rumah menoleh melihat siapa yang datang, tentu membuat empunya rumah menyambut dengan hangat tamu yang datang itu.
Berbeda dengan Ailin, gadis itu mengernyit melihat siapa yang datang itu, bukan karna tak mengenalnya, hanya saja bingung ketika melihat sang ayah begitu menyambut tamunya dengan penuh kehangatan.
"selamat malam tuan Zaki, senang bertemu denganmu, bagaimana kabar kalian?" tanya tuan Revan pada tuan Zaki.
"kami baik tuan, tapi maaf baru bisa menemui mu sekarang, karena semenjak kau kembali, kami selalu di sibukkan dengan urusan di perusahaan" pungkas tuan Zaki.
Berbeda dengan dua orang yang sejak tadi saling diam tanpa ada yang saling bicara, karena belum sepenuhnya mengerti apa yang di bicarakan tuan Revan dan tuan Zaki.
"senang bertemu denganmu tuan Revan" nyonya Jihan menyapa.
"senang bertemu denganmu nyonya Jihan" sahut tuan Revan.
"Ailin, senang bertemu kembali sayang" nyonya Jihan melihat Ailin yang sedari tadi seperti tengah kebingungan.
"ah, iya Bu" jawab Ailin canggung.
"apa anda mengenal putri saya sebelumnya?" tanya tuan revan
"saya sangat mengenalnya, bahkan kami juga sangat dekat dengannya" tutur nyonya Jihan
"ailin yang sudah membantuku ketika aku di serang oleh beberapa preman di jalan, dia juga mengantarku pulang dengan selamat, Ailin sangatlah pemberani dan tangguh tuan" puji nyonya Jihan bangga.
"ah hahaha,,,,maaf saya tidak tau, karena saya bertemu dengannya beberapa hari ini, saya begitu banyak melewati banyak hal" sesal tuan Revan.
Kedua orang tua barra mengetahui semua masa lalu tuan Revan dan cerita perjalanan hidup Ailin. Namun barra tak tau itu semua karena iya tak pernah mendengar orang tuanya bercerita. Mereka juga mengetahui Ailin sejak pertemuan pertama mereka waktu itu saat bawahan tuan Zaki mencari identitas milik Ailin.
"ayah, jangan bicara begitu, sekarang kan kita hidup bersama sekarang, aku ingin ayah mengetahui semua tentang Ailin mulai dari sekarang" ucap Ailin menatap ayahnya.
"iya sayang, ayah juga senang karena kamu bukan lah gadis yang selalu merpotkan dan tak bisa berbuat apa-apa, kamu adalah anak yang pemberani" tuan Revan sedikit mengusap kristal bening yang siap jatuh itu di sudut matanya.
"oh maaf saya terbawa suasana" sambungnya.
"tidak apa, tuan saya mengerti, oh ya ini putra saya yang pertama tuan, namanya Barra, dia sebagai pemimpin di perusahan sekarang menggantikan ku, dan inilah yang menjadi pembahasan kita beberapa hari yang lalu" ujar tuan zaki
Membuat mereka yang ada di depan meja makan itu bingung
"oohh begitu, baiklah kita bahas nanti saja ya setelah makan, " tuan Revan menimpali.
"ada apa dengan para ornag tua, sungguh aku tak mengerti" batin Ailin.
__ADS_1
"apa benar dia?" batin barra.
"semoga saja ya tuhan" batin nyonya Jihan.
"ayo silahkan duduk dan kita makan malam bersama dulu" ajak tuan Revan.
Dan makan malam antara dua keluarga itu berlanjut, dengan hangat dan penuh canda tawa.
****
Setelah tuan Revan dan keluarga crishtian selesai dengan acara makan malam, kini mereka sedang berada di ruang tamu. Namun barra yang memang sejak tadi ingin sekali menemui gadisnya itu, kini beralaskan untuk mencari dimana toilet. Ailin memang sedang berada di dapur bersama beberapa pelayan yang lain untuk membantu mengerjakan tugas dapur.
"maaf paman, apa boleh saya izin ke toilet sebentar?" tanya barra.
"tentu boleh barra, jangan sungkan silahkan saja" sahut tuan Revan.
"terimakasih" jawab barra dan berlalu pergi menghindari pembicaraan orang tua dan mencari dimana keberadaan gadisnya berada.
Barra memasuki dapur yang terlihat mewah itu, bisa iya dengar suara beberapa pelayan dan juga Ailin yang tengah berbicara entah apa yang mereka bahas. Namun barra belum pernah melihat gadis nya bisa berbicara banyak sebelumnya, entah apa yang membuat gadisnya bisa bicara panjang lebar begitu pikirnya.
"ternyata kamu sangat suka disini daripada bersamaku di luar" suara bariton yang sangat di kenal Ailin itu seketika iya menoleh dan mendapati seorang pria yang beberapa hari ini membuat jantungnya olah raga ternyata datang menghampirinya.
"tuan barra, kenapa anda ada di sini?" tanya Ailin. Namun barra tak ingin menanggapi ucapan gadisnya, iya justru menarik lengan gadisnya hingga Ailin menabrak dada bidangnya.
"menurutmu, aku akan melakukan apa?" shaut barra dan menyelipkan anak rambut Ailin ke belakang telinga. Ailin tak menolak, entah mengapa dia begitu senang dengan perlakuan barra padanya.
Barra mengangkat sebelah tangannya agar para pelayan meninggalkannya berdua.
Setelah para pelayan pergi, tinggallah keduanya yang masih dengan posisi yang terlihat sangat romantis.
"apa kau tak merindukanku baby?" pertanyaan barra membuat Ailin tersentak lalu memutar bola matanya malas.
Sejak kapan dia punya hubungan yang lebih pada pria ini sehingga dengan mudahnya iya merindukan pria itu pikir Ailin heran.
"maaf tuan, saya tidak punya alasan untuk merindukanmu" ujarnya memalingkan wajah.
"kau itu wanaitaku, kau harusnya merindukanku kau harus memperhatikan aku, kau juga harus selalu berada di dekatku" ucap barra.
"maaf tuan, sekali lagi aku tidak punya alasan untuk itu semua" jawab Ailin lagi membuat barra mengerti akan isi pikiran gadisnya.
Barra memeluk Ailin dengan erat. Ailin yang mendapatkan pelukan hangat itu iya membeku dan bibirnya tak bisa bicara, tubuhnya tak bisa berontak meski sekuat hati ingin terlepas dari pria ini, kini tubuhnya tak bisa menolak pelukan hangat pria itu.
__ADS_1
"baiklah, kau akan mengerti setelah kita kembali ke ruang tamu sekarang" perlahan barra mengusap lembut rambut panjang Ailin yang tergerai.
"ayo, kita kembali bersama" ajak barra dan Ailin pun menurut.
Sejak mengenal pria itu, Ailin seolah lupa siap dirinya sendiri, dirinya yang dulu terkenal tangguh dan dingin kini perlahan menghangat karena perlakuan pria itu. Dirinya yang di sebut tak banyak bicara dan tak begitu peduli pada keadaan apapun, sekarang iya berbeda. Dan semenjak iya menjadi sekretaris di perusahaan Cristian, iya nampak memiliki banyak perubahan.
Jiwanya yang dulu kelam, sekarang iya berubah, terlebih lagi saat ayahnya kembali, dia menjadi sedikit ceria dan bersemangat. Dulu saat masih tinggal di keluarga mole, setiap hari tiada lain makanan sehari-hari nya selain caci maki. Dulu iya sempat bingung apa alasan keluarga mole tak menyukainya bahkan mencoba untuk mencelakainya, tapi setelah tau alasan yang sebenarnya melalui salah satu sahabat baiknya iya menjadi mengerti dan mencari tahu apa saja perjalanan hidupnya semasa ayahnya meninggalkannya dulu.
Semua iya tahu melalu dari orang tua sahabatnya yang berada jauh dari kota tempat tinggalnya.
Kini barra dan Ailin sudah duduk di ruang tamu, para ornag tua menatap keduanya menjadi Herna dan sedikit curiga, tapi menurutnya ini adalah langkah awal untuk mereka berdua untuk lebih dekat lagi karena rencana yang di susun beberapa bulan dari kedua pihak keluarga belum di ketahui oleh Ailin dan barra.
"baiklah, Ailin dan barra Karena kalian sudah ada di sini, saya akan menyampaikan ingin menjodohkan putra sulung saya Davindra barra Cristian, dengan Nak Ailin Alexa dianos. Apakah nak Ailin menerima lamaran anak saya" tanya tuan Zaki tanpa basa-basi dan dengan satu tarikan nafas.
Deg deg deg
Serasa jantungnya berdebar kencang mendengar dirinya yang di lamar oleh seorang pria yang beberapa Minggu ini bersamanya. Dan pria yang memperlakukannya dengan lembut itu melamarnya. Sungguh hatinya antara bahagia dan juga sedih karena tiba-tiba di lamar mendadak begini.
Terlihat raut wajah barra yang harap-harap cemas yg takut akan mendengar penolakan dari bibir manis gadisnya.
"sayang aku mohon terimalah lamaran ini" batin barra yang kini tatapannya bertemu dengan sang pujaan hati.
"apakah anda menerima lamaran kami nak Ailin?" tanya tuan Zaki memastikan. Ailin yang di sebut namanya seketika tersadar.
"ah maaf, maksud saya, apa boleh saya meminta waktu beberapa bulan untuk kami saling mengenal lebih lama, bukan maksudku untuk menolak, hanya saja kami ingin mengenal lebih lama" jelas Ailin.
Nampak sedikit raut wajah kecewa dari barra, tapi dia tak ingin memaksa kehendaknya, dia juga masih bisa mengikatnya dengan pertunangan saja.
"ah Hem, tidak apa ma pa, paman, saya mengerti maksud Ailin, mungkin dia belum bisa menerima lamaran ini karena kami ingin saling mengenal lebih jauh sebelum kami menikah nanti" ucap barra memberi pengertian pada kedua orang tua dan ayah Ailin.
Terlihat para orang tua yang hanya mengangguk dan mendukung ucapan barra dan Ailin.
"baiklah, kami tidak memaksa, itu semua keputusan kalian saja" ucap tuan Zaki dan di tanggapi dengan baik oleh tuan Revan.
"sayang, kalian kan bisa bertunangan dulu, dan pasal pernikahan, kalian tentukan nanti setelah waktu yang tepat" ucap nyonya Jihan menimpali.
"iya ma aku setuju, kalau kamu Ailin?" tanya barra.
"baiklah" jawab Ailin membuat barra senang.
Maafkan kata-kata dan penulisan yang masih belum jelas atau tak banyak yang di mengerti, semoga kedepannya author lebih baik lagi, tetap dukung author ya🥺ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1
TBC😘