Gadis Muda Yang Tangguh Milik Tuan Arogan

Gadis Muda Yang Tangguh Milik Tuan Arogan
Berangkat ke kantor bersama


__ADS_3

Selamat membaca😘


Barra turun ke bawah dengan stelan jas bersiap akan pergi ke kantornya. Ailin yang mengalihkan tatapannya pada pria itu begitu terpaku melihat ketampanan yang begitu sempurna seorang barra. Dia tak bisa menampik dirinya begitu mengagumi pria itu.


Namun tatapannya segera iya alihkan ke sembarang arah agar tak ketahuan sedang mengagumi sosok barra.


"pagi papa, mama dan paman" ucap barra dan seperti biasa mencium pipi mamanya. Dan Ailin begitu iri melihat pemandangan itu, Jangankan mencium ibunya, mendekatinya saja sudah membuat ibunya marah dan tak pernah sedekat itu dengan ibu kandungnya sendiri. Tuan Revan sendiri melihat ke arah Ailin, mengerti akan keadaan hati anaknya itu.


"selamat pagi barra, kau terlihat lebih segar sekarang" ucap tuan Revan membalas ucapan barra.


"bagaimana keadaan paman sekarang" tanya barra.


"paman baik-baik saja, sekarang berkat Kalian yang sudah membantu merawat saya" ucapnya.


"jangan seperti itu, kita adalah keluarga" ucap tuan Zaki menimpali.


"iya tuan, kita ini adalah satu keluarga apapun yang kalian lakukan kami siap membantu kalian" ucap nyonya Jihan.


"ah sekali lagi saya minta maaf sudah merepotkan kalian" ucap tuan Revan.


"iya sama-sama, sama sekali tidak merepotkan. Ayo silahkan di mulai sarapannya" ucap tuan Zaki.


Mereka semua memulai sarapan bersama. Ailin yang terus fokus menikmati sarapannya tak melihat ke arah barra yang selalu memandangnya.


"Ailin, apa kamu kuliah hari ini nak?" tanya nyonya Jihan.


"iya ma, Ailin kuliah dan masuk sekitar jam sembilan" jawab Ailin menghentikan kegiatan sarapannya sebentar.


"kalau begitu, kamu bisa berangkat bersama barra ke kampus, biar barra yang mengantarkan kamu" ucap nyonya Jihan.


"tidak apa-apa ma, masih satu jam lagi, masih banyak waktu, Ailin berangkat saja dengan mobil ayah, biar Ailin pulang pagi ini bersama ayah" seru ailin.


"no sayang, kamu dan ayah kamu tinggal beberapa hari lagi di sini, kalau kalian pulang, Taka ada yang menjaga ayah kamu di rumah" ucap nyonya Jihan tak setuju dengan keputusan Ailin.


"iya Ailin, ayah kamu harus banyak istirahat, lagian di rumah kamu hanya ada pelayan saja disana, sebaiknya biarkan dulu ayah kamu di sini satu hari lagi" ucap tuan Zaki.


Mendengar tuan Zaki dan nyonya Jihan menghawatirkan ayahnya, dia menjadi tidak enak hati untuk menolak ucapan kedua tuan rumah itu.


"baiklah ma, pa, Ailin akan bawa ayah pulang besok saja, setelah ayah sedikit lebih baik keadaannya" ucap Ailin.


"nah gitu doang" nyonya Jihan menimpali membuat Ailin tak bisa bicara lagi.

__ADS_1


****


Kini sarapan sudah selesai, Ailin mengambil beberapa piring kotor di atas meja dan akan membersihkannya, namun nyonya Jihan melarangnya melakukan pekerjaan apapun di rumah ini, baginya Ailin sudah seperti anaknya sendiri.


"sayang, jangan lakukan itu, biar nanti para pelayan yang akan melakukannya, kamu bersiap saja untuk berangkat bersama barra ya, barra sudah menunggumu di luar" ujar nyonya Jihan.


"baik ma" Ailin menurut dan segera kembali ke kamarnya dan mengambil tas dan beberapa buku penting miliknya.


Setelah Ailin turun, Ailin berpamitan pada nyonya Jihan dan kedua pria paruh baya yang ada di sofa ruang tamu, ayah dan papanya.


"ma, aku berangkat ya" ucap Ailin mengambil tangan nyonya Jihan dan menciumnya.


"sebentar ya sayang, tolong bawakan ini untuk kalian, kalau jam kuliah kamu sudah selesai, barra akan menjemputmu ke kampus dan kalian pulang bersama ya setelah itu"


"kalian makan bersama di kantor barra ya" sambungnya lagi memberikan box nasi yang menjadi bekal untuk keduanya, nyonya Jihan yang memasak sendiri untuk barra dan Ailin.


"terimakasih ma" lagi-lagi Ailin tak bisa menolak apapun yang di lakukan nyonya Jihan padanya, wanita itu sangat begitu menyayanginya. Bahkan dia sangat ingin Ailin menjadi menantunya nanti.


Setelah berpamitan kepada para orang tua, Ailin dan barra segera berangkat menggunakan mobil barra yang hanya di kemudikan oleh barra sendiri. Barra sengaja tak menggunakan sopir, karena ingin berduaan saja dengan gadisnya itu.


"kau terlihat akrab sekali dengan mama, bahkan sekarang kau memanggil mama padanya" barra membuka suara memecahkan keheningan itu melanda saat perjalanan berlangsung.


"dia yang memintaku memanggilnya mama, dan aku paling tidak bisa menolak permintaan orang tua" ucap Ailin jujur.


"oh ya, bagaimana mama bisa tau kalau aku baik" serunya.


"entahlah, mama sangat menyukaimu. Dan kau tau, karir seseorang tak membuatnya terpengaruh pada siapapun. Meskipun seberapa banyak kekayaan orang itu, melihat attitude mereka yang masih minim, mama akan spontan mengatakan dia tidak suka" ujar barra membuat Ailin diam dan berselancar dengan pikirannya sendiri.


"iya, mama memang sangat lembut dan banyak perhatian. Aku juga melihat sisi kedua orang tuamu begitu peduli dan sangat mengutamakan kenyamanan seseorang. Bahkan aku juga melihat kedua orang tuamu begitu romantis dan mesra" tanpa sadar Ailin mengungkapkan jika kedua orang tua barra begitu romantis dan mesra.


Barra tersenyum penuh arti dan menarik tangan Ailin dan menaruhnya di pahanya.


"kamu jangan sedih sayang, setelah kita menikah nanti kita juga akan melakukan apa yang seperti mama dan papa lakukan, kita akan lebih romantis dan mesra" ucap barra menarik turunkan alisnya.


Seketika Ailin menoleh dan bergidik ngeri mendengar ucapan barra, sungguh dia akan tersiksa saat mereka menikah nanti, ailin sudha membayangkan ke mesuman pria ini yang tingkat akut. Ailin mengalihkan pandangannya ke luar jendela.


"ada apa sayang kenapa kau menatapku seperti itu, apa kau setuju dengan ucapan ku?" tanya barra.


"fokuslah menyetir" Ailin menatap tajam barra. Namun yang di tatap dengan santainya mencium punggung tangan Ailin membuat Ailin jengah atas kelakuan barra.


"baiklah sayang aku akan fokus menyetir dan kita lanjutkan kemesraan kita di kantor ya" seru barra lagi membuat Ailin ingin sekali mencabik mulut pria ini.

__ADS_1


"terserah" ucapnya dan kini suasana kembali hening.


****


Tak berapa lama, barra dan Ailin sudah sampai di kantor Cristian group. Mereka melewati loby dan berjalan beriringan bahkan barra tak sedikitpun melapaskan pinggang Ailin membuat Ailin kesal oleh pria ini.


Beberapa karyawan yang melihat bosnya berjalan dan menggandeng seorang wanita, membuatnya terkejut dan heran. Pasalnya bosnya dan Ailin adalah sebatas sekretaris dan bos tapi apa ini, mereka bahkan melihat kemesraan bos mereka pada gadis yang menjadi sekertaris bosnya.


"apa Ailin menggoda tuan barra?"


"sepertinya Ailin sangat spesial untuk tuan barra"


"ah pasti Ailin menjual tubuhnya pada tuan barra


"brengsek, gadis itu beraninya merebut tuan barra, ini tidak boleh terjadi, tuan barra hanya milikku"


Ailin mendengar ucapan yang di lontarkan para karyawan yang lain. dan salah satunya, Ailin mendengar gumaman kebencian seseorang padanya. Ailin bisa mendengar ungkapan isi pikiran orang yang selama ini membencinya, siapa lagi kalau bukan Nina, wanita yang sebelumnya menjadi sekertaris barra dan kini turun jabatan menjadi stap biasa.


"aku tunggu permainannya" Ailin menyeringai tanpa sepengetahuan barra.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


TBC😘


__ADS_2