
"Andah, ya? Kenapa ia tidak masuk hari ini?" Pupil Jonathan terlihat sedikit ke atas gara-gara mabuk. Kepalanya mulai terasa sangat berat.
"Ya, namanya di sini juga freelance, Tuan. Ia bisa datang sesuka hati kapan pun ia mau. Jika lagi pengen punya uang, ia bekerja. Jika uangnya lagi banyak. ia tidak bekerja. Beberapa waktu lalu, Andah mendapatkan uang yang sangat banyak karena semua orang yang menyaksikannya, memberikan uang karena tariannya yang luar biasa."
Kepala Jonathan mengangguk meskipun terlihat cukup berat. "Kalau begitu, aku mau booking dia. Aku ingin melihat penampilannya itu." Mata Jonathan semakin lama terlihat semakin berat. Lalu ia ketiduran di meja bar cafe tersebut.
"Sepertinya dia benar-benar baru pertama kali minum yang seperti ini," lirik Mamih Lova tersenyum sinis.
*
*
*
Kembali pada kelanjutan BAB 21, Ojan menarik Andah kembali masuk ke dalam kamar dan langsung memberikan ciuman bertubi-tubi kepada Andah. Apalagi Andah baru saja selesai mandi, membuat semangat pria yang baru diajarkan menjadi dewasa itu menjadi semakin bersemangat membuat Andah sesak.
Sebelumnya, Ojan memang sering menciumnya, tetapi ia tidak menyangka bahwa kali ini sang suami begitu lihai membuat Andah kelabakan. Tangan Ojan mulai liar menyentuh bagian kulit istrinya yang terasa dingin dan basah, merambat ke area yang dilarang oleh Andah kemarin.
Andah yang tadinya masih menerima setiap kecupan liar sang suami, akhirnya menahan tangan Ojan dan menggelengkan kepala, meski bibir mereka masih saja saling bertautan. Akan tetapi, Ojan memilih tidak peduli dengan apa yang dilarang oleh Andah. Dia mencoba menarik pengait handuk istrinya, hingga jatuh melorot ke bawah.
Andah tersentak kaget mendapati perlakuan sang suami yang tiba-tiba menjadi aneh begini. Andah sangat malu, melihat tatapan suaminya yang tiba-tiba berubah menjadi liar. Ojan bagai terhipnotis tak memedulikan air muka sang istri yang mulai berubah. Ia mulai meraba, membuat Andah merasakan sebuah sentruman yang membuat angannya melambung setinggi langit.
"Ojan," Andah berusaha menolak, tetapi tak kuasa bagai mendapat sesuatu yang begitu mendadak. "Ojan? Apah yangh kamuh lakukanh?" Air mata Andah mulai terjatuh. Dia mulai pasrah, tetapi tidak rela.
Ojan kembali menautkan bibirnya pada mulut sang istri, tetapi kali ini Andah mendorong Ojan dengan kuat, hingga Ojan, suami jatuh terduduk. Andah segera menarik handuk dan memasangnya kembali. Air matanya telah memenuhi pipi. Ojan melihat reaksi yang tidak terduga yang dilakukan Andah.
Andah membuka lemari, mengambil pakaian luar dan dalam, setelah itu keluar dari kamarnya meninggalkan Ojan yang termangu dalam keadaan hasrat tinggi tanpa pelampiasan. Setelah itu, Ojan melongo melihat sepinya suasana kamar mereka tanpa Andah.
Ojan bangkit melirik ke bagian bawah miliknya. "Ah, ini gara-gara mereka. Mereka pasti mengerjai Ojan," gumamnya merasa sedih teringat Andah menangis karena kelakuannya itu.
__ADS_1
Setelah itu, Ojan bangkit meemegang bagian bokongnya yang sakit terhempas di lantai saat didorong oleh Andah tadi. Ojan memegangi pinggangnya yang turut merasa sakit. Ojan mengambil handuk lalu diselempangkan pada salah satu pundaknya, berjalan ngengkang karena area pinggang ke bawahnya terasa sangat sakit.
Ojan membuka pintu kamar mandi seperti biasa, tetapi ternyata sedang dalam keadaan terkunci. "Andah di dalam ya?"
Akan tetapi tak terdengar jawaban dari arah dalam. "Andah marah ya?" tanyanya dengan sedih. Namun, masih belum ada jawaban.
"Huhuhuhu, Andah, Ojan minta maaf," tangisnya di balik pintu.
Sang istri memilih hening tanpa mengatakan satu apa pun. Pakaian di tubuhnya telah terpasang. Akan tetapi ia masih teringat apa yang baru saja dialami. Itu adalah rabaan yang pertama kali ia rasakan. Andah malu mengatakan sejujurnya bahwa sebenarnya ia sangat menikmati itu.
"Andaaah, maafin Ojan?" tangisnya kembali.
"Kamu kenapa, anak bodoh?" tanya Inggrid, yang berdiri di dekat Ojan karena penasaran mendengar pria dewasa itu menangis seprti anak kecil.
"Andah marah pada Ojan, Bu."
"Kenapa dia marah?" Kedua alis itu tertaut dengan mata yang menyipit.
Pintu kamar mandi terbuka dengan tiba-tiba. Andah mendorong Ojan masuk ke kamar mandi. "Kamu mandi dulu sana!" Andah khawatir prianya yang polos itu akan membocorkan kejadian memalukan yang barus saja mereka alami. Setelah itu, Andah berlalu membiarkan ibu tirinya yang masih memasang wajah kepo.
Tak beberapa lama kemudian, Ojan pun telah menyelesaikan proses membersihkan dirinya. Dengan bersarung handuk, Ojan menuju kamar dan segera masuk ke kamarnya. Di dalamnya, tampak Andah sedang duduk memeluk bantal di atas ranjang.
Ojan memutar bola mata membuang muka, menggaruk rambutnya yang masih basah. "Pe-permisi, Ojan mau cari pakaian dulu. Tadi Ojan lupa membawa baju salinan yang bersih." ucap Ojan dengan canggung.
Ojan membuka lemari dan mencari pakaiannya. Sejenak Andah melihat Ojan mengernyit terlihat kesakitan. Namun, ia masih bingung harus memulainya dari mana.
Come On, Andah! Ojan itu suami kamu! Dia itu berhak atas segala yang kamu miliki!
Andah bangkit, membuang rasa malu yang masih menggelayut di dalam hatinya. Dia mendekati Ojan, memegang pinggang sang suami. "Kamu kesakitan gara-gara terjatuh karena aku dorong tadi ya?"
__ADS_1
Ojan tersentak mendapat perlakuan istrinya yang kembali berubah. "Nggak apa-apa kok, Ojan laki-laki. Ini sudah biasa."
Andah keluar dari kamar, ia mencari sesuatu di kotak kesehatan yang ada di rumahnya. "Huuufftt, sepertinya ini cocok." Andah menemukan sebuah koyok cabe, yang biasa digunakannya jika jatuh dari tiang saat beratraksi.
Saat masuk kembali ke kamar, pakaian Ojan telah terpasang. Andah hanya bisa menahan senyuman saat menyadari bahwa suaminya ini sedang ketakutan karena perlakuannya beberapa saat yang lalu. Tadi itu dia benar-benar merasa sangat terkejut, karena baginya adalah yang pertama, ia pun belum siap sama sekali.
"Ojan, aku mempunyai ini. Kamu bisa mengatakan kepadaku bagian mana yang sakit. Aku akan membantu memasangkannya untukmu."
Ojan langsung naik ke atas ranjang dengan posisi tengkurap. Ia menunjukkan bagian yang sakit kepada Andah. Andah menyingkap baju kaus oblong yang dipakai Ojan membuat sang pria membulatkan matanya.
"Apa bagian ini yang sakit?" tanya Andah meraba pinggang Ojan.
Ojan menggelengkan kepala, menarik tangan Andah mengarahkan pada dua bagian yang terasa sakit. Andah langsung membuka bungkus koyok cabe dan kembali memastikan posisi yang benar.
"Di sini kan?"
"Iya."
Andah memasangkan koyok cabe pertama. Setelah itu menekan bagian yang sebelah. "Di sini ya satu lagi?"
"Iya."
Tak lama kemudian dua koyok cabe ukuran yang besar telah terpasang pada bagian pinggang Ojan. Setelah itu Andah mengajak suaminya duduk. Ojan duduk tepat menghadapnya. Tanpa aba-aba, Andah langsung beringsut manja dalam dada bidang Ojan.
"Maafkan aku ya, Ojan. Aku belum siap menyerahkannya kepadamu."
Ojan terlihat bingung, tetapi ia hanya mengangguk. "Seharusnya Ojan yang meminta maaf. Karena Ojan tiba-tiba saja melakukan itu kepada Andah. Tapi Ojan takut kalau Andah nangis kayak tadi."
Andah mengangguk dan tersenyum. "Nanti, jika aku siap, aku akan memberikan semuanya padamu." Lalu mereka berdua kembali menikmati ciuman manis yang membuat mereka merasa saling memiliki. Namun, ciuman tersebut semakin lama semakin panas - panas - daaan keringat Ojan mengalir dengan deras.
__ADS_1
"Panaaassssss!"
"Pinggang Ojan panas banget!" teriaknya gelinjangan karena koyo cabe yang dipasangkan Andah tadi