
"Saya memiliki kafe khusus wanita yang kekurangan kasih sayang. Bagaimana kalau kau yang menggantikan Andah melakukan pekerjaan itu?" Mamih Lova masih meraba tubuh Geon yang terbalut rapi dalam setelan jas bewarna senada.
Andah merangkul lengan Geon. "Tidak! Dia tidak boleh melakukan itu!" Andah mengeluarkan nada tingginya.
Mamih Lova tersenyum sinis. "Jadi kamu sudah berani membentak saya, sekarang ya?"
Geon tersenyum penuh arti memandangi wanita berperut buncit yang ada di sampingnya ini. "Apa kamu keberatan jika aku menari-nari dengan pakaian minim seperti yang kamu lakukan, Sayang?" bisik Geon tepat di telinga Andah.
Andah mengerucutkan bibir menyandarkan diri merangkul lengan suaminya. "Tentu! Aku nggak akan rela jika kamu melakukan itu."
"Nah, itu lah yang aku rasakan ketika kamu melakukannya menari-nari di atas panggung. Semua mata memandangimu dengan tatatapan lapar. Kamu tahu, aku sangat tersiksa melihatnya." Geon mengusap pucuk kepala Andah.
"Ekheeem ... Kenapa kalian malah mesra-mesra di sini? Jadi, bagaimana? Apa kau mau menggantikannya sebagai mesin uang bagiku?"
Geon melirik istrinya kembali dengan senyum yang penuh arti. "Tentu!"
Mendengar jawaban Geon, Mamih Lova seketika terlihat antusias. "Bagus lah! Jadi, kapan kau akan melakukannya?"
"Saya belum selesai bicara," ucap Geon dengan wajah datar menatap Mamih Lova.
Raut wajah Mamih Lova kembali berubah. "Lalu?"
__ADS_1
"Tentu saja TIDAK! Kau dengar sendiri, bukan? Andah tidak memberikan izin untuk pekerjaan demikian. Lagian, saya tidak membutuhkan uang dari pekerjaan itu. Jadi, saya tidak akan pernah melakukannya!" Geon mengecup pucuk kepala Andah. Wajah Andah tampak sangat sumringah.
"Huh! Bagaimana hutan Andah sebesar lima belas juta beserta bunganya 25 persen?"
Geon kembali tersenyum sinis. "Oh begitu? Sebutkan saja nomor akun keuanganmu! Saya akan segera membayarnya!"
Beberapa waktu kemudian, mata Mamih Lova terperangah memandangi angka yang dikirim oleh Geon yang jauh berkali lipat lebih banyak dari jumlah yang dipinjam oleh istrinya.
Andah yang melirik ponsel Geon, mengerutkan keningnya. "Kenapa kamu kasih segini banyak? Hutangku cuma lima belas juta," sungutnya.
"Eiiit! Apa kau melupakan bunganya?" potong Mamih Lova.
"Tidak apa, Sayang! Setidaknya aku bisa membebaskanmu dari jerat yang tak pernah putus ini. Kamu jauh lebih berharga dibanding angka-angka itu."
"Nah, kalian boleh keluar dari tempat ini! Atau, mau mencoba fasilitas VIP di tempat kami?" tawar Mamih Lova.
Geon melirik Andah kembali. "Bagaimana, Sayang? Apa kamu mau mencobanya?"
Andah menggeleng cepat. "Ogah! Ngapaian juga kita melakukannya di sini? Kenapa tidak di hotel bintang lima sekalian?"
Geon menahan senyumnya. Sungguh ia merasa geli mendengar ucapan istrinya itu, tetapi ia tidak bisa mengekspresikannya di depan wanita asing yang ada di hadapan mereka.
__ADS_1
"Baik lah, kami akan pergi. Hutang istri saya sudah lunas, dan jangan sekali-kali datang dan mengganggu kami!" Geon menarik istrinya keluar dari ruangan itu.
"Siapa tau kau menelantarkan Andah kembali? Tangan saya akan terbuka lebar menerimanya jika ia sudah berubah jadi langsing." Mamih Lova tertawa sumringah melambaikan tangannya.
"Tidak akan!" guman Geon menggandeng tangan Andah.
"Andah? Itu kamu?" Sebuah seruan membuat wanita hamil itu menoleh ke arah belakang.
"Kak Yana?" Andah melepaskan genggamannya dan segera berjalan mendekati rekan yang sudah bagai saudaranya itu.
"Syukur lah, kamu baik-baik saja. Aku sempat khawatir kamu kenapa-napa karena pintu rumahmu tertutup dalam beberapa waktu terakhir." Yana pun melirik pria berpakaian rapi yang berdiri di belakang Andah.
"Kamu? Orang yang sudah menelantarkan adikku?" bentaknya dengan muka masam.
...****************...
Yuk kakak semua mampir juga pada karya teman Author. Ceritanya tak kalah seru lho?
Judul: Benih Cinta 13 Hari di Stadion Qatar
Napen: As Cempreng
__ADS_1