Gadis Penari & Tuan Amnesia

Gadis Penari & Tuan Amnesia
78. TAMAT


__ADS_3

Geon terlihat begitu terharu menyadari perkembangan pesat ayah mertuanya ini. "Baik, Yah. Ayo kita sama-sama berdoa."


Ketiga orang itu menangkupkan kedua tangan berharap penuh pada Sang Maha Pencipta. Semoga, ibu dan bayi yang mereka cintai, segera kembali pada kondisi terbaik.


Pintu ruang operasi telah dibuka. Para perawat mulai mendorong brangkar yang membawa Andah, yang masih setengah sadar. Namun, ia melihat sosok yang sedari tadi menunggunya dengan lelah.


"Anak kita ..." rintihnya di antara rasa mengantuk.


Geon langsung mengikuti menggenggam tangan Andah menganggukan kepalanya. "Kamu jangan mengkhawatirkan itu. Kamu harus segera pulih!"


Andah dibawa ke dalam ruang rawat mewah yang disiapkan oleh sang suami. Semua peralatan disiapkan dengan serapi mungkin. Andah masih belum bisa mengendalikan rasa kantuknya karena efek bius, belum juga habis.


"Jika ada perlu apa-apa, Bapak bisa memanggil kami dengan menekan tombol ini." Perawat tersebut menunjuk sebuh tomhol yang tertempel di nakas samping brangkar istrinya terbaring.


"Baik lah."


Setelah itu, tinggal lah keluarga yang menunggu Andah untuk sadar sepenuhnya. Sekitar tiga jam kemudian, terdengar suara rintihan Andah.


"Kenapa? Kamu kenapa?" tanya Geon khawatir.


"S-sakit," rintihnya.


"Bagian mana yang sakit?" Geon menekan bel yang dikatakan oleh perawat tadi.


Tak lama kemudian, muncul dua perawat dalam ruangan itu. "Selamat sore, Pak. Apa ada yang bisa kami bantu?"


"Kalian ini kenapa kerjanya tak becus begini? Apa yang kalian lakukan pada istri saya?"


Perawat tersebut menengok jam yang terikat pada pergelangan tangannya. "Sepertinya efek biusnya sudah habis ya, Pak. Jadi, istri Anda harus bisa menahan ini."


"Bagaimana caranya agar istri saya tidak kesakitan? Saya tidak mau tau, pokoknya kalian lakukan apa pun agar dia tidak kesakitan lagi!"


Kedua perawat itu saling tatap. Mereka juga bingung tidak tahu harus bagaimana selain dengan minum obat penghilang rasa sakit.


*


*


*


Keesokan harinya, Andah sudah berada dalam posisi duduk ditemani oleh perawat yang membimbingnya untuk banyak bergerak.


"Meskipun Ibu baru saja melakukan operasi berat, jangan kebablasan tidur saja ya, Bu? Harus banyak bergerak, supaya tidak kaku."


"Sakit, Sus," ringisnya.


"Iya, saya mengerti. Apa Ibu tidak tertarik untuk menengok baby yang sudah kangen ketemu dengan ibunya?"


Andah mengangguk cepat. "Aku, ingin segera bertemu dengan bayi kami."


Andah menggenggam tangan perawat tersebut. "Tolong jujur kepada saya, bagaimana harapan hidup anak kami?"


Perawat tersebut menghela napas panjang. "Bukan kuasa kami yang menginformasikannya, Bu. Lebih baik tunggu dokter spesialis yang akan menjelaskan kepada Anda."


Pintu baru saja dibuka dari arah luar. Kedua orang tua Andah muncul bersama Yana dan mereka terlihat cukup sumringah.

__ADS_1


"Kamu baru saja menengok anakmu. Dia sungguh sangat tampan, mirip denganmu," ucap Yana.


"Masa mirip dia? Aku rasa malah mirip Geon," ucap Inggrid tidak mau kalah.


"Mirip dengan Andah, menurutku." Yana lebih menekankan suaranya lagi.


"Diharap jangan membuat kericuhan ya Bu-Ibu." Perawat yang menuntun Andah tadi memberi peringatan.


Inggrid memutar bola matanya. Ia sedikit mencabik dan berjalan menuju jendela. Andah menatap keadaan ayahnya yang semakin membaik.


"Hari ini ada jadwal terapi kan, Yah?"


Ayah mengangguk. Ia melirik istrinya yang tampak sedikit kesal. "Buk?" Yanto memanggil dengan sedikit tertatih.


Inggrid tersentak ketika suaminya itu memanggilnya. "Kenapa? Kamu membutuhkan sesuatu?"


"Hari ini jadwal Ayah terapi, Bu." Andah meringis dalam ucapannya.


Inggrid melirik jam dinding yang ada di dalam ruang tersebut. "Aah, ya? Aku hampir lupa. Terapisnya pasti akan datang sebentar lagi ke rumah. Ibu harus bawa ayahmu pulang dulu."


Andah mengangguk. Meskipun ia bisa merasakan Inggrid bukan istri yang tulus untuk ayahnya, setidaknya setelah tinggal bersama Geon, sikap Inggrid saat ini jauh jadi lebih baik.


Semenjak pagi, Geon belum muncul karena ia harus meeting dengan rekan bisnisnya. Namun, ia telah berjanji jika semua pekerjaannya usai, ia akan segera ke rumah sakit menemani Andah kembali.


Inggrid bergerak cepat mendorong kursi roda suaminya itu, dibantu Yana membukakan pintu. Geon sengaja memfasilitasi mereka dengan supir agar memudahkan mobilitas untuk bolak balik rumah dan rumah sakit.


"Baik lah, Bu. Latihan kita cukup sampai di sini dulu. Nanti sore akan kita lakukan lagi untuk bisa berjalan."


"Tapi saya ingin segera berjalan, Sus. Saya ingin melihat anak kami. Dia pasti sangat kesepian di sana," lirih Andah, wajahnya sayu.


"Akan tetapi, saat ini saya harus melaksanakan pekerjaan yang lain." Perawat itu melirik Yana.


"Baik lah, nanti jangan terlalu dipaksa ya, Bu. Kalau sudah capek, istirahat aja." Wanita berseragam putih atas bawah itu keluar dari kamar ini.


Tinggal lah Andah berdua dengan Yana. Andah menatap panjang pada Yana, banyak sekali pertanyaan yang muncul tentang putranya yang lahir dalam usia kandungan masih 25 minggu.


Yana seakan mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh Andah. Kedua tangannya memegang bahu junior yang sudah dianggapnya bagai adik itu. "Mari sama-sama kita berdoa, semoga dia diberi umur yang panjang hingga dewasa bersama kalian."


Air mata Andah jatuh begitu saja. Dengan cepat ia mengusapnya. "Aku sempat mendengar percakapan para nakes ketika aku dipoerasi. Meskipun antara sadar dan tidak, mereka terdengar menangis. Bayiku sangat kecil, harapan hidupnya sangat lah kecil."


Tubuh Andah bergetar hebat, kali ini air mata mulai jatuh dengan begitu derasnya membasahi pipi. "Aku ingin segera menemui anakku. Aku ingin memberinya semangat. Agar ia tahu, ada kami yang menantinya untuk segera tumbuh dengan semestinya," tekadnya.


Andah dengan gigih melawan rasa sakit pada bagian di bawah pusar. Semangatnya sangat tinggi agar bisa berjalan. Ia ingin segera melangkahkan kakinya memasuki kamar tempat putranya berada. Hingga Andah merasa yakin, ia mengajak Yana untuk ke ruang bayi mereka.


"Apa kamu yakin? Bagaimana kalau kita naik kursi roda saja?" tawar Yana.


"Tidak usah, Kak. Jalan kaki saja. Aku ingin dia tahu bahwa perjuanganku tidak lah mudah untuk bertemu dengannya. Karena itu, aku ingin dia juga berjuang untukku. Orang yang mengandungnya meskipun tidak cukup waktunya.


"Tapi, kamu—"


"Kak, ayo?" Andah menarik tangan Yana keluar ruang rawat itu menuju ruang khusus NICU.


Geon baru saja kembali dari kantornya dan kantor polisi. Keluarga Lenanda marah besar atas apa yang telah dilakukannya karena memenjarakan putri satu-satunya. Anita menangis memohon agar Jonathan dilepaskan.


"Apa kamu tidak kasihan membiarkan Mama sendirian di sana?" tangis Anita.

__ADS_1


"Atau, kamu mau menemaninya di sana? Ingat! Saya tahu bahwa kalian lah dalang semua perkara hilang ingatanku! Jadi aku bisa menuntut kalian berdua sampai tak akan pernah melihat matahari lagi! Sekarang, anakmu itu terus saja memengaruhi Lenanda. Biarkan saja mereka berdua di sana! Siapa tahu mereka bisa menyatu di sana!" Geon beranjak kembali ke temat istrinya berada.


Namun, alangkah terkejutnya ia ketika memasuki ruang rawat sang istri. Tak satu pun yang ada di sana. Geon panik dan berlari menuju nurce center.


"Sus, di mana istri saya? Jangan katakan kalian tidak tahu kalau istri saya kabur dari rumah sakit ini?" bentaknya.


Perawat menghela napas memandang tingkah Geon. "Istri Anda sedang menengok bayi kalian!"


Mendengar itu semua, Geon menghela napas panjang. "Saya juga ingin bertemu, tolong berikan pakaian steril!"


*


*


*


Diam-diam, Geon memperhatikan istrinya menangis menatapi putra mereka yang berada dalam box khusus. Geon juga tidak kalah sedih, karena merasa tidak bisa menjaga istrinya dengan baik.


"Sayang, kamu harus bertahan yaa. Mommy di sini di dekatmu. Kamu harus banyak minum ASI. Mommy akan memakan makanan bergizi agar bisa memberikan ASI yang banyak untukmu." Anda mengusap box yang tertutup sepenuhnya dengan kaca.


Suara detak jantung dangkal milik putra mereka terdengar tak beraturan. Yana yang berada di sisi Andah menyadari kehadiran Geon pun memberikan tempatnya dan keluar membiarkan mereka bertiga di dalam sana.


"Hanya satu harapan Mommy saat ini padamu, kamu terus bernapas hingga esok, esok, minggu depan, bulan depan, dan sampai kamu dewasa," ucap Andah lagi sendu.


"Dan Daddy berjanji, akan mencarikan uang yang banyak untuk semua biaya," sela Geon mendekap istrinya.


*


*


*


Satu tahun kemudian, Andah tampak sumringah mendorong kereta bayi melewati lorong rumah sakit. Hari ini, baby Geovand sudah diizinkan pulang bersamanya setelah satu tahun perawatan jantung, hati, dan seluruh organ pada bayi mungil itu hingga sempurna.


Geon baru usai menangani biaya perawatan anaknya. Dengan riang memawarkan diri untuk menggantikan Andah mendorong kereta bayi itu.


"Biar kan aku saja yang membawanya. Kamu tahu, aku sudah memimpikan ini semenjak lama," tolak Andah terus mendorong stroller menuju bagian depan rumah sakit.


"Aah, Ayah, Ibu?" sorak Andah mendapati kedua orang tuanya baru saja datang.


"Waah, cucu kakek akhirnya pulang ke rumah. Kakek sudah tidak sabar untuk bermain dengan kamu," ucap ayahnya menunduk menengok sang cucu. Ayah sudah bisa berjalan dengan baik kembali.


"Waaah, nanti main sama Nenek juga yah?" sela Inggrid tak mau kalah.


Geon mendekap Andah dengan penuh kasih. "Setelah Geovand di rumah, kita akan mempersiapkan adiknya," bisik Geon tepat di telinga Andah.


Andah menggeleng cepat. "Kasihan Geovand. Masa baru keluar dari rumah sakit, kasih sayang untuknya langsung terbagi. Aku masih ingin main-main dengannya," elak Andah.


"Jadi umur berapa baru kita kasih dia adik? Tahun depan aja?" tawar Geon lagi.


"Jangan!" tolak Andah


"Kenapa jangan? Aku ingin memiliki banyak anak. Karena sendirian itu tidak menyenangkan," ucap Geon.


"Jadi kau tak menganggapku sebagai saudara sama sekali ternyata?" Jonathan muncul menggandeng tangan Lenanda.

__ADS_1


"Woh, Bro! Akhirnya datang juga!" Geon menyambut sepasang pengantin baru itu.


...-SELESAI-...


__ADS_2