
"Tentu saja, Sayang. Mulai hari ini, aku mengikrarkan janji cintaku padamu, semua waktu, hari, diri, dan semua milikku hanya lah untukmu dan anak kita."
Andah mengulas senyum bahagianya, mengusap janin yang ada di dalam rahimnya. 'Sayang, kamu sudah dengar apa yang ayahmu katakan. Mulai hari ini, kamu harus sehat yah?'
Pada malam harinya, Geon tak berhenti memperhatikan Andah yang masih kembenan, baru saja selesai mandi. Seketika saat itu juga ia mengingat malam indah di mana saat istrinya masih langsing dan begitu mulus. Tubuh yang mulai membulat di bagian perut, membuatnya menjadi penasaran. Memandangi Andah yang sedang duduk di depan meja rias.
Andah yang sedang menyisir rambutnya menyadari arti tatapan itu. Ia membuang muka pura-pura tidak tahu. Geon tersenyum penuh arti dan ia bergerak memeluk tubuh basah itu dan menyibaknya. Leher putih terlihat begitu menggoda hingga tanpa permisi ia memberikan serangan kecupan.
"Aaaah, kamu ...."
Geon mengusap perut bulat milik Andah. "Halo, Sayang. Maaf kan Daddy-mu yang tidak pernah mengunjungimu. Sebentar lagi Daddy akan menengokmu di dalam," bisiknya sembari mengecup cuping istrinya beralih pada bagian bawah.
"Aaah, kamu ... kenapa aaah?" Andah terus mendapat serangan yang membuatnya merasa geli.
Geon mengangkat tubuh yang masih dingin usai mandi. "Hmmm, wangi sekali istriku." Geon menaruh Andah tepat di atas ranjang dan segera membenamkan wajahnya dalam tubuh yang hanya berbalut handuk.
"Huwek!"
Geon mematung lalu melirik Andah yang smemgernyit menutup mulutnya. "Kamu kenapa? Apa kamu lagi mual? Ayo ke rumah sakit."
"Kamu belum mandi!" ringis Andah mengernyitkan wajah.
Geon mengendus tubuhnya yang masih terbalut kemeja. "Masih wangi, aku selalu memakai parfum yang biasa."
__ADS_1
"Huweek!" Perlahan Andah menurunkan kakinya satu per satu, lalu ia menuju ke kamar mandi.
Geon terlihat cemas mendapati istrinya dalam keadaan muntah begini. Ia teringat peristiwa di mana istrinya dibiarkan di bawah pohon di malam hari muntah seperti ini sendirian. Geon mengusap punggung Andah hingga istrinya benar-benar merasa lega.
Ketika Andah telah berkumur-kumur, Geon menutup pintu kamar mandi itu. Perlahan, kancing kemeja bewarna putih, dibuka satu per satu. Andah berencana keluar dari kamar mandi ini, tetapi dihalangi oleh Geon.
"Ojan mau dimandikan Andaaah." Geon memasang wajah seimut mungkin. "Ojan mau ketemu ini." Ia membelai perut bulat istrinya. Menarik handuk yang masih terpasang mengelilingi tubuhnya yang sudah tak ramping lagi.
Perlahan ia berlutut mengecup bola berbahan kulit bewarna putih itu. "Apa kamu sudah tahu jenis kelamin anak kita?"
Andah menggelengkan kepalanya. Ia merasa canggung dan malu berusaha menutupi bagian dada yang selalu ia tutupi itu. "Bahkan, untuk kontrol saja aku sudah tidak pernah lagi. Aku tidak lagi menari di tempat Mamih Lova, semenjak aku tahu diriku tengah mengandung buah cinta kita."
"Kamu tahu sendiri, bagaimana kondisi keuanganku jika tidak bisa menari. Bahkan, hutang yang sudah ditagih Mamih Lova, belum bisa aku angsur sama sekali." Andah memejamkan mata, dalam setiap ucapannya. Geon tengah asik mengecupi perut Andah itu.
"Jangan minta maaf terus, aku ... aku ... Aaah, kamu ...."
"Aku ingin mengunjungi anak kita. Boleh ya?" Mereka pun melakukan pemanasan dengan permainan kecil bersama busa-busa di dalam kamar mendi itu.
Setelah dirasa telah wangi, dan masuk ronde utama, Geon kembali menggendong istrinya naik ke atas ranjang.
"Hati-hati, nanti anak kita—"
Mulut Andah dibekap oleh mulutnya, tak lagi memberikan kesempatan untuk berbicara sepatah kata pun. Beberapa waktu kemudian, tubuh Andah telah terlihat lemas dalam pelukan suaminya.
__ADS_1
"Kamu sungguh-sungguh sekali menghajarku yang mengandung anakmu. Rasanya sakit banget, kayak dulu."
Ojan kembali menarik dagu Andah mengecap bibir istrinya dengan dalam beberapa waktu. "Mungkin karena jarak kita memadu cinta ini terlalu lama, jadi membuatmu kesakitan lagi." Ia kembali menurunkan kecupannya, menyiratkan keinginannya untuk mengulanginya lagi.
"Aaah," Andah mendorong tubuh suaminya yang semakin menggebu. "Apa kamu tidak kasihan pada anakmu?"
Geon menghentikan kegiatannya. "Justru karena aku sangat merindukannya ingin terus bertemu."
*
*
*
Keesokan pagi, Andah tidak bisa bergerak dari pelukan suaminya. "Padahal, aku ingin berangkat ke kampus hari ini. Profesor Yosa memintaku untuk merevisi proposal skripsi yang aku serahkan beberapa waktu lalu "
"Bagaimana kalau kamu di rumah aja? Kamu jangan khawatir, cukup menjadi istri yang baik untukku saja, semua kebutuhanmu pasti akan aku penuhi." Ojan mengecup pucuk kepala Andah yang bersandar dalam pelukannya.
"Jangan begitu, selama ini aku sudah berusaha. Bahkan aku harus menjual tarianku di hadapan laki-laki mata keranjang. Itu karena apa? Karena ibuku berharap aku bisa menjadi sarjana."
Geon membelai perut istrinya ini. "Bagaiamana jagoan? Mommy ngotot untuk melanjutkan kuliahnya. Tapi Daddy masih belum puas untuk bertemu denganmu di dalam sana."
...****************...
__ADS_1