Gadis Penari & Tuan Amnesia

Gadis Penari & Tuan Amnesia
70. Bagai Saudara


__ADS_3

Geon yang mendapat bentakan dari seseorang yang tak dikenalnya secara tiba-tiba merubah raut wajah karena merasa sangat kesal.


Andah yang menyadari hal mengusap lengan Geon agar sang suami tidak tersulut emosi oleh ucapan wanita yang sudah dianggap sebagai kakaknya ini. "Oh, sekarang kami sudah bersama Kak," ucap Andah mencoba menenangkan Geon memberi kode kepada Yana.


Yana baru saja sampai di sana. Melihat satu tangan Andah sedang merangkul lengan Ojan, Yana kembali terlihat memikirkan sesuatu. "Kamu lihat, perjuangan Andah selama kau tidak ada?"


Geon melirik Andah dan akhirnya hanya bisa berdehem. Kali ini ia mulai mengerti siapa wanita yang ada di hadapannya ini. Yana adalah seorang wanita yang begitu sangat dekat dengan istrinya.


"Ya, maafkan saya," ucapnya singkat.


Yana melangkah mendekati Andah. Ia menarik Andah menjauh dari pria ini, sejenak. "Apa kalian benar-benar sudah bersama?" tanya Kak Yana kembali.

__ADS_1


"Seperti yang Kakak lihat. Kami sudah kembali bersama."


"Lalu, sekarang ngapain di sini?" bisik Yana melirik ke segala arah.


"Kami datang ke sini untuk melunasi hutangku pada Mamih Lova. Mulai hari ini, semuanya sudah lunas," terang Andah. Ia menarik tangan Yana dan menggenggamnya.


"Terima kasih, Kak. Terima kasih atas segala kebaikan Kakak selama ini. Setelah ini, aku tidak akan datang ke sini lagi. Tapi, apakah boleh aku menghampiri Kakak ke rumah? Atau, Kakak juga bisa datang ke rumah kami tiap hari. Kapan pun Kakak suka." Andah melirik sang suami yang berdiri mematung di tempat yang sama.


Andah menatap Yana dengan dalam. "Aku tahu Kakak mengkhawatirkanku. Namun, saat ini dia sudah berubah, Kak. Dia memang bukan lah sebagai Ojan yang aku kenal. Akan tetapi, ia orang yang sama dengan pria yang mengucapkan ikrar suci demi menghalalkanku."


Yana menghela napas sejenak. "Syukur lah kalau kamu memang merasa yakin untuk menjalani semua dengannya. Aku hanya tak ingin melihatmu terus terluka. Kamu sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri, hingga membuatku turut sakit jika melihatmu menderita."

__ADS_1


Andah merasa terharu mendengar ucapan Yana begitu tulus merasuk ke dalam hati. Meskipun ia terjebak dalam pekerjaan yang tak sehat ini, sama sekali ia tak pernah merasa jijik dengan semua rekan yang bekerja di tempat seperti ini. Di sini lah mereka menyatu, sama-sama mencari penghasilan meskipun itu haram. Akan tetapi, mereka sudah layaknya keluarga yang tak pernah saling menjatuhkan.


Para wanita yang bekerja di sini rata-rata memiliki alasan yang sama. Himpitan ekonomi dan biaya hidup yang besar, tetapi tak satu pun pekerjaan yang mereka dapatkan. Hingga membuat mereka terpaksa melakukan cara ini agar bisa mendapatkan uang secara instan.


"Terima kasih, Kak. Kakak adalah orang yang paling baik dari semua orang yang aku kenal." Mata Andah berkaca memandang Yana.


Yana terkekeh mendengar ucapan Andah dan memegang pundak Andah. "Kamu baik-baik ya? Kamu harus bahagia, karena kamu berhak untuk mendapatkan kebahagiaan itu."


Andah menganggukan kepalanya. "Kakak juga harus bahagia. Atau, Kakak berhenti saja dari pekerjaan ini." Kepala Andah berputar ke arah suaminya.


"Sayang, bagaimana kalau Kak Yana dipekerjakan di perusahaanmu saja? Kamu harus memberinya gaji yang besar!"

__ADS_1


__ADS_2