Gadis Penari & Tuan Amnesia

Gadis Penari & Tuan Amnesia
43. Pilihan Sulit


__ADS_3

Andah duduk di kamarnya dengan tatapan kosong menatap laptop dan sebuah pisau tajam yang ia ambil dari dapur. Mengingat cobaan yang tiada akhir, membuat Andah berkeinginan untuk mengakhiri hidupnya dan menyudahi segala penderitaan yang alami selama ini.


Pekerjaan, calon anak, suami, dan rumor tak benar yang beredar benar-benar memberikan pukulan telak bagi Andah yang tengah berusaha keras bertahan di tengah terpaan badai. "Badainya terlalu kencang ... sepertinya aku tidak akan sanggup bertahan," gumam Andah.


Sebelum mengambil pisau dapur, wanita itu menyempatkan diri untuk membuka laptop dan kembali melihat-lihat pekerjaan yang bisa ia lakukan. Sayangnya, masih belum ada tanda-tanda wanita itu akan bisa berpenghasilan dalam waktu dekat.


Andah melihat-lihat kembali situs pekerjaan lepas yang ia incar dan mencari project yang sekiranya bisa ia ambil. Wanita itu pun menemukan satu project mudah, meskipun dengan bayaran murah.


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Andah pun memberanikan diri untuk menghubungi orang yang menawarkan project tersebut. Tanpa berharap lebih, Andah kembali berselancar di situs tersebut dan mencari project lain yang bisa ia kerjakan.


"Apa yang kau lakukan, Andah? Sudah ada pisau di depan matamu, tapi kau masih ingin mengurus pekerjaan?" gumam Andah sembari tersenyum sinis pada dirinya sendiri.


Tanpa disangka-sangka, tak lama kemudian Andah ternyata mendapatkan balasan dari orang yang dihubungi olehnya sebelumnya. Dan yang lebih mengejutkan lagi, orang tersebut mulai tertarik untuk menerima bantuan Andah dalam mengerjakan project.


"Aku, tidak salah membaca pesan, kan?" gumam Andah tak percaya.


Wanita itu bergegas membalas calon client pertamanya dengan antusias. Setelah berkirim pesan selama beberapa saat, calon client-nya itu pun meminta portofolio dan berbagai macam informasi yang diperlukan sebelum menggunakan jasa Andah.


Tentunya wanita itu merasa girang bukan main dan mulai disibukkan dengan laptop, hingga ia melupakan pisau yang hendak ia gunakan untuk mengakhiri hidupnya. Alih-alih mengurus pisau, wanita itu justru sudah mengalihkan perhatian pada pekerjaan baru yang akan mulai ditekuni olehnya.

__ADS_1


Meskipun belum mendapatkan banyak project dan belum mendapatkan banyak penghasilan, tapi Andah cukup bersyukur usaha kecilnya membuahkan hasil sedikit demi sedikit. Wanita itu perlahan mulai bangkit kembali dan pikirannya mulai teralihkan dengan kesibukan pekerjaan hingga membuat Andah tak lagi meresahkan hal-hal buruk yang menimpa dirinya hari ini.


Sementara Andah tengah berjuang seorang diri, Geon nampak dibuat tidak tenang setelah pertemuannya dengan Andah. Wajah pucat dan mata sembab yang dilihatnya saat dirinya berjumpa dengan Andah, membuat Geon merasa makin bersalah dan ikut bertanggung jawab atas hidup Andah yang carut marut.


"Andah semakin kurus. Wajahnya juga pucat sekali," gumam Geon tak tega jika mengingat-ingat kembali keadaan sang istri yang tidak cukup baik.


"Dia pasti tidak baik-baik saja," oceh Geon membayangkan bagaimana nasib Andah setelah ditinggal olehnya. "Apa ibunya masih saja berulah? Wajah Andah juga sembab. Dia pasti banyak menangis."


Pikiran Geon tak dapat lepas dari Andah dan membuat pria itu tak dapat tidur nyenyak. Geon begitu menyesal sudah mengabaikan Andah dan berpura-pura tidak mengenali Andah saat mereka berpapasan di kampus, hanya karena Lenanda.


"Maaf, Andah ... aku masih belum tahu apa yang harus kuucapkan saat bertemu denganmu. Haruskah aku mulai mengenalkan diriku sebagai Geon padamu?" gumam Geon.


"Andah pasti akan datang ke kampus hari ini, kan?" gumam Geon penuh harap.


Pria itu menutupi wajahnya dengan masker dan menunggu di sekitaran gerbang kampus. Namun, sayangnya Geon tak melihat batang hidung Andah di sekitar area bangunan universitas hingga siang menjelang.


"Kenapa Andah tidak juga terlihat? Apa memang Andah tidak datang ke kampus?" gerutu Geon menerka-nerka.


Pria itu pun berpindah tempat dengan mengunjungi rumah kecil Andah yang sepi. Sama seperti saat menunggu di kampus, Geon juga mengawasi rumah Andah dari luar dan berharap dapat melihat Andah keluar dari rumah. Sayangnya, hingga sore menjelang, gadis itu juga menampakkan diri dan rumah kecil itu hanya diisi dengan kebisingan dari suara Inggrid.

__ADS_1


"Sebenarnya Andah pergi ke mana?" gerutu Geon mulai kesal.


Sebagai pilihan terakhir, pria itu pun akhirnya mengunjungi tempat kerja Andah sebagai penari striptis dan lagi-lagi melakukan hal yang sama, yaitu menunggu di sekitar pintu masuk. Tentu saja Andah tak akan pernah muncul lagi di tempat itu, karena gadis itu sudah berhenti menjadi penari dan memilih pekerjaan lain.


Penantian Geon selama seharian penuh pun akhirnya berakhir sia-sia dan dirinya tak dapat berjumpa dengan sosok gadis yang ia rindukan. "Andah, kau baik-baik saja, kan?" gumam Geon makin dilanda kecemasan berlebihan karena tak dapat melihat Andah di mana pun.


Ternyata selama seharian penuh, Andah berdiam diri di dalam kamarnya untuk mengerjakan job baru yang ia lakoni. Ya, wanita itu mulai mengambil banyak project pekerjaan lepas, karena itu waktu Andah cukup tersita untuk menyelesaikan pekerjaan. Wanita itu terus duduk di depan layar monitor dan mengerjakan project kecil yang sudah ia dapatkan dengan susah payah.


Akhirnya Andah dapat menyelesaikan pekerjaan pertamanya dan berhasil mendapatkan uang dengan cara lain, meskipun jumlahnya tak seberapa. Melihat uang yang masuk ke akunnya, membuat Andah kembali bersemangat dan mendapat dukungan untuk melanjutkan hidup.


"Lihat, Nak! Ibu berhasil mendapatkan uang dengan cara lain!" sorak Andah begitu senang dengan bayaran pertama yang ia dapatkan dari pekerjaan lepas yang dilakoninya.


Wanita itu pun bergegas mencairkan uangnya dan membelikan makan malam untuk sang ayah juga ibu tirinya. Dengan uang seadanya, Andah juga bisa menikmati makan malam bersama dengan sang buah hati yang ada di perutnya. Kesibukan mengerjakan job pertama membuat Andah tak lagi memusingkan perkara uang, suami, maupun gosip yang hampir menghancurkan dirinya.


"Terima kasih sudah menguatkan Ibu, Nak! Ibu akan bertahan demi kau! Ibu akan menyambutmu dan mendukungmu untuk datang ke dunia Ibu! Tolong kau juga bertahan demi Ibu, Nak!" gumam Andah sembari mengusap perutnya dengan lembut dan membelai malaikat kecilnya dengan penuh kasih.


Akhirnya wanita itu pun menemukan kembali keberanian untuk bertahan dari badai dan lebih menghargai kesempatan hidupnya kali ini. Andah juga kembali bertekad akan menemukan Ojan dan menyelidiki pria mirip Ojan yang ditemuinya tempo hari. "Aku akan menemukan ayahmu! Ojan, kau harus melihat anakmu!" gumam Andah mulai bertekad akan mengejar pria mirip Ojan yang dilihatnya dan memastikan kembali apakah pria itu benar Ojan atau hanya seseorang yang mirip.


****

__ADS_1


__ADS_2