
Geon dan Lenanda menikmati makan siang bersama di sebuah restoran yang tak jauh dari kampus tempat Lenanda mengajar. Kedua sejoli itu melahap makan siang favorit mereka dalam keheningan, tanpa membuka perbincangan.
Makin lama Lenanda mulai merasa ada yang aneh mengenai sikap Geon. Setelah bertemu kembali, sikap Geon tidak sehangat dan seramah biasanya. “Em, sepertinya kau sangat sibuk. Sedang ada masalah besar di perusahaan?” tanya Lenanda membuka perbincangan di sela acara makan siang mereka di restoran tersebut.
Geon meletakkan sendoknya sejenak, kemudian mengangguk pelan. “Begitulah. Jonathan menyebabkan banyak masalah, jadi aku agak kerepotan,” cetus Geon.
Lenanda manggut-manggut dan menanggapi curahan hati Geon sekenanya. “Oh, begitu? Sepertinya kau harus lembur beberapa hari ini, ya?” tanya Lenanda.
“Sepertinya begitu,” jawab Geon singkat. Geon kembali menyibukkan diri dengan sendok dan makanannya tanpa tertarik melanjutkan obrolannya dengan sang tunangan.
Makan siang hari ini terasa begitu membosankan karena Geon yang terus saja diam dan melamun. Meskipun bersama dengan Geon, tapi Lenanda merasa seperti menikmati makan siang seorang diri.
“Apa kondisi kesehatanmu belum membaik juga? Kau belum mengatakan apa pun padaku tentang kejadian yang menimpamu saat kau menghilang,” cetus Lenanda mulai penasaran dengan hal yang terjadi pada Geon saat pria itu menghilang berminggu-minggu.
Geon termenung sejenak, tanpa tahu dari mana ia harus memulai ceritanya pada sang kekasih. Satu-satunya hal yang ada di pikirannya sekarang hanyalah Andah. Namun, Geon tak ingin membahas Andah di depan Lenanda demi menjaga perasaan tunangannya itu. Terlebih lagi saat Lenanda tahu jika dirinya sempat menikah dengan Andah, pasti wanita itu akan kecewa meskipun kejadiannya tidak disengaja dan Geon dalam keadaan amnesia.
“Aku … sempat mengalami kecelakaan dan ditolong warga. Aku terluka cukup parah dan kesulitan menghubungi orang rumah. Hanya itu saja,” terang Geon dengan penjelasan singkat tanpa ingin membongkar kondisinya yang sempat mengalami hilang ingatan.
“Kau terluka parah? Lalu sekarang bagaimana? Kau sudah baik-baik saja? Kau sudah tidak memerlukan perawatan medis di rumah sakit?” tanya Lenanda cemas pada sang kekasih hati.
Geon mengulas senyum tipis pada tunangannya dan mencoba menenangkan Lenanda yang panik. “Seperti yang kau lihat, aku sudah baik-baik saja sekarang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” ujar Geon.
__ADS_1
“Lalu di mana kau selama menghilang? Kau ada di kota ini? Atau ada di tempat lain? Sebelumnya sepertinya aku pernah melihat seseorang yang mirip denganmu,” tukas Lenanada.
“Aku … ada di kota ini. Aku tidak pergi jauh. Hanya saja, memang keadaan membuatku tidak bisa kembali,” timpal Geon tanpa menjelaskan lebih rinci keadaan yang membuat dirinya tak dapat kembali ke keluarganya yang sebenarnya.
“Benarkah? Tepatnya di mana? Apa kau dirawat di rumah sakit selama ini?” Lenanda makin cerewet menanyakan banyak hal pada Geon.
Geon pun makin kebingungan dan tak ingin menjelaskan lebih detil mengenai musibah yang sempat menimpanya. “Maafkan aku, Lenanda. Aku tidak ingin membahasnya lebih jauh,” tukas Geon mencoba menyudahi perbincangan mereka. Geon makin teringat pada Andah dan rasa bersalah pun makin menumpuk di hati pria tampan itu.
Lenanda pun menghentikan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Geon merasa tidak nyaman. “Maaf, aku tidak akan bertanya lagi. Kau pasti sangat menderita,” ujar Lenanda merasa tak enak hati pada Geon.
“Aku terlalu cerewet, ya? Tidak perlu dijawab,” sambung Lenanda dengan kepala tertunduk.
Suasana pun menjadi hening seketika. Pasangan kekasih yang sudah bertunangan itu tiba-tiba menjadi canggung satu sama lain setelah lama tak jumpa semasa Geon menghilang. ‘Kenapa Geon menjadi aneh begini? Geon tidak terlihat seperti Geon yang aku kenal,’ batin Lenanda agak kecewa.
Geon sendiri makin dibuat tak mengerti dengan sikapnya sendiri pada Lenanda. Seharusnya pria itu senang bisa berkumpul lagi dengan calon istrinya dan kembali ke kehidupan lamanya. Namun, nyatanya pria itu justru merasa tak nyaman dan tertekan.
“Aku tidak akan bertanya lagi. Hal terpenting sekarang adalah … kau sudah kembali dengan selamat, dan itu sudah cukup membuatku merasa senang. Awalnya kupikir aku tidak akan bisa bertemu denganmu lagi. Terima kasih banyak kau sudah bertahan dan kembali dalam keadaan baik,” ungkap Lenanda begitu bersyukur dengan kembalinya sang tunangan ke sisinya lagi.
“Aku tahu kau memiliki banyak hal yang harus dikerjakan saat ini. Perusahaan yang memburuk pasti membuatmu sibuk dengan pekerjaan. Aku juga tidak akan menuntut banyak waktu darimu. Asal sesekali kau masih mengingatku dan meluangkan waktu untuk makan siang bersama seperti ini, aku sudah cukup senang,” imbuh Lenanda.
Geon kembali melempar senyum usai mendengar permintaan kecil sang kekasih. Tidak seharusnya pria itu menyakiti perasaan Lenanda dengan bersikap buruk seperti sekarang ini. “Maaf kalau aku tidak bisa meluangkan banyak waktu untukmu. Terima kasih banyak kau sudah mau mengerti keadaanku saat ini,” ujar Geon.
__ADS_1
Lenanda menatap nanar cincin pertunangan yang melekat di jari manisnya. Sekarang Geon sudah kembali bersama dengannya lagi. Sebelum hal yang buruk memisahkan mereka untuk kedua kalinya, Lenanda pun memberanikan diri untuk menanyakan kejelasan hubungan mereka yang sudah melangkah hingga jenjang pertunangan.
“Karena sekarang kau sudah kembali, bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanya Lenanda dengan suara lirih. Mungkin memang ini bukan waktu yang tepat untuk membahas pertunangan di sela kesibukan Geon, tapi wanita itu juga membutuhkan kejelasan mengenai arah hubungan mereka selanjutnya.
“Tanyakan saja!” tukas Geon santai.
Lenanda menarik napas dalam-dalam, kemudian menyodorkan tangannya yang dilingkari cincin tunangan mereka. “Kita tidak tahu kapan musibah akan terjadi. Aku juga tidak menyangka akan kehilangan dirimu setelah acara pertunangan kita. Aku hanya … ingin memastikan hubungan kita sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan lagi,” ucap Lenanda.
“Cincin ini … kau akan menggantinya dengan cincin pernikahan, kan?” tanya Lenanda sembari menatap lekat calon suaminya yang duduk tepat di hadapannya.
Geon dibuat terdiam tanpa bisa memberikan jawaban pada Lenanda. Setelah kembali, pria itu sama sekali belum memikirkan tentang rencana untuk membawa hubungannya dengan sang tunangan ke jenjang selanjutnya.
“Aku tidak akan mendesakmu untuk menikah dalam waktu dekat. Aku hanya … ingin memintamu agar kita lekas memikirkannya mulai dari sekarang. Kita juga sudah tidak muda lagi, Geon. Kita sudah bertunangan. Tidak ada alasan lagi untuk menunda-nunda peresmian hubungan kita ke jenjang pernikahan, bukan?”
Bukannya memikirkan desakan pernikahan dari sang kekasih, pikiran Geon justru melayang membayangkan kondisi Andah saat ini. Pria dewasa itu nampak bimbang dan memerlukan waktu lebih lama untuk mempertimbangkan banyak hal sebelum mengambil keputusan.
“Aku … akan mulai mempertimbangkannya. Tolong beri aku waktu untuk bernapas sejenak. Kau … bisa menungguku dengan sabar, kan?” pinta Geon mencoba mengulur waktu untuk menegaskan sikap dan perasaan sekali lagi pada Lenanda.
“Aku janji, aku tidak akan membuatmu menunggu terlalu lama,” sambung Geon sembari mengusap cincin yang menghiasi jemari sang kekasih hati.
****
__ADS_1