
Andah duduk di trotoar jalanan di malam yang gelap dan sunyi. Wanita itu menatap langit tak berbintang dengan pikiran melayang, membayangkan masa depan tak pasti yang sudah menanti.
“Ayo, pikirkan sesuatu, Andah! Kalau aku tidak segera mendapatkan pekerjaan baru, bagaimana kau dan bayi ini bisa bertahan hidup?” gerutu Andah mulai buntu mencari ide untuk bertahan.
Kehamilan yang tak disangka-sangka olehnya ini, membuat wanita itu tak memiliki persiapan apa pun, baik mental apalagi finansial. Hamil tanpa suami tentunya menjadi momen yang berat bagi setiap wanita. Tak ada satu pun wanita yang ingin mengalami hal ini. Andah juga ingin di masa kehamilannya ini mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari sang suami.
Namun, tampaknya Andah harus bersabar dan mau tak mau harus menghadapi ujian ini seorang diri, sembari berikhtiar mencari sang suami agar segera kembali. Wanita itu tak sudah memiliki banyak waktu lagi untuk menangisi nasib dan juga meratapi hidupnya yang kurang beruntung. Jalan satu-satunya yang bisa ia lakukan saat ini hanya bertahan menerjang badai sampai angina berhenti bertiup kencang.
“Angin malam tidak baik untukmu. Sebaiknya kita pulang sekarang!” oceh Andah berbicara dengan perutnya.
Seperti biasa, teriakan kencang Inggrid kembali menggema di rumah kecil yang ditinggali oleh keluarga Andah. Andah dibuat makin tertekan dengan sikap Inggrid yang selalu saja menekan dirinya dengan uang.
“Dari mana saja kau? Kenapa jam segini sudah pulang? Biasanya kau pulang lebih malam, bukan? Apa kau membawa uang yang banyak? Atau kau tidak membawa uang sama sekali?” omel Inggrid pada anak tirinya itu.
Lama kelamaan Andah makin muak teus-terusan ditodong uang saat dirinya tengah stress seperti sekarang ini. Wanita itu pun memilih untuk mengabaikan omelan Inggrid dan menyimpan tenaganya untuk melakukan hal lain.
“Hei! Kau sudah berani melawanku sekarang?” omel Inggrid sembari menarik rambut Andah dengan geram.
Andah memekik kencang sembari memegangi tangan Inggrid yang masih bertengger di rambutnya. “Bu, lepaskan! Aku sangat lelah hari ini! Tolong biarkan aku beristirahat!” pinta Andah dengan manik mata yang sudah basah.
“Kau ingin tidur? Kau bisa tidur nyenyak saat melihat ayah dan ibumu kelaparan tanpa makan malam?” omel Inggrid. “Kau pasti sudah membeli makanan di luar sana dan menikmatinya sendiri tanpa memikirkan kami di rumah. Ya, kan? Apa itu pantas dilakukan oleh seorang anak yang ayahnya sedang sakit?”
__ADS_1
Inggrid tiba-tiba melontarkan tuduhan-tuduhan tak benar mengenai Andah dan seenaknya mengatakan hal ngawur mengenai Andah tanpa tahu jika seharian ini Andah terlontang-lantung memikirkan pekerjaan baru, hingga wanita itu tak dapat menelan nasi dengan tenang. Karena kesabaran Andah sudah berada di puncaknya dan pengaruh stress yang dialaminya, Andah pun memberanikan diri menepis tangan Inggrid yang menjambaknya dan menjawab tuduhan tak benar yang dilayangkan padanya.
“Aku tidak melakukan itu! Seharian ini aku berusaha memikirkan cara untuk mendapatkan uang! Ibu pikir aku bisa bersantai dan memikirkan perutku sendiri?” bantah Andah pada sang ibu tiri. “Aku sudah lelah! Tolong biarkan aku beristirahat! Suara Ibu membuatku tidak bisa berpikir jernih!”
Inggrid cukup terkejut melihat Andah yang berani bersuara dengan nada tinggi di hadapannya. Wanita itu juga bergegas masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan kencang sebagai tanda kalau kemarahannya kali ini tak main-main.
“Sialan! Anak itu terus saja melawanku?” gerutu Inggrid tak terima mendengar suara nyaring Andah.
“Andah! Buka pintunya! Berani kau ya melawanku??” pekik Inggrid di luar kamar Andah sembari menggedor-gedor pintu kamar Andah dengan geram.
Andah sengaja mengunci pintu kamarnya dan berusaha menyumpal telinganya dengan earphone. Wanita itu pun duduk di meja belajarnya dan mulai membuka laptop untuk mencari-cari ide sumber penghasilan yang baru.
Wanita itu pun sibuk mengotak-atik laptopnya dan berselancar di internet di internet demi menemukan sesuatu yang bisa ia lakukan. Andah pun melirik beberapa bukunya yang ada di meja belajarnya dan memiliki ide untuk mencari kegiatan yang bisa ia lakukan dengan memanfaatkan keahliannya sesuai jurusan yang ia pelajari di perguruan tinggi.
“Aku cari project freelance saja,” gumam Andah mulai sibuk meluncur mencari situs dan grup yang memberikan informasi mengenai pekerjaan lepas maupun project yang bisa ia kerjakan. “Ayo, Andah! Pasti masih banyak jalan menuju Roma! Kau tidak boleh menyerah!”
Wanita itu duduk di depan laptop selama berjam-jam dan akhirnya memutuskan untuk membuka jasa web designer dengan memanfaatkan keahliannya. Andah mulai mencari-cari referensi dan menyiapkan banyak portofolio sebelum wanita itu resmi membuka jasa.
“Semoga saja ada jalan melalui web design ini,” gumam Andah penuh harap. “Aku juga harus mencari tambahan lain selagi menunggu project masuk,” cetus Andah masih bersemangat demi sang ayah yang tengah terbaring lemah di ranjang dan juga buah hatinya yang saat ini ada dalam perutnya.
“Doakan Ibu ya, Nak? Meskipun ayahmu sekarang tidak ada di sini, tapi Ibu tidak akan mneyerah begitu saja dan tetap akan membesarkanmu dengan seluruh kemampuan Ibu!” ujar Andah sembari mengusap perutnya sendiri.
__ADS_1
Keesokan harinya, Andah mencoba menyambut hari dengan semangat baru dan menjalani aktivitasnya seperti biasa sembari menunggu pekerjaan baru yang bisa ia lakukan. Wanita itu mulai sibuk menyiapkan diri untuk datang ke kampus dan memeriksa beberapa lembar uang yang masih tersisa di dompetnya.
“Uang simpanan hanya akan cukup untuk beberapa hari saja. Apa lebih baik aku jual beberapa barang saja?” gumam Andah.
Sebelum berangkat ke kampus, wanita itu terpaksa mengobrak-abrik lemarinya. Di sana masih ada uang yang ia kumpulkan untuk membayar hutang, tetapi seprtinya ia benar-benar belum bisa membayarnya saat ini.
“Sepertinya, aku harus menggunakan ini dulu. Nanti aku akan mencari dana dengan cara lain untuk membayar hutang dan bunganya. Ahh, sebenarnya hutang itu tidak terlalu banyak. Hanya saja, aku belum memiliki pekerjaan untuk membayarnya,” gerutu Andah. “Ah, ya. Aku harus bimbingan. Lebih baik aku pergi ke kampus dulu.”
Andah kembali lagi melanjutkan aktivitasnya di kampus dengan semangat agar dirinya bisa cepat lulus. Tinggal selangkah lagi, Andah akan lulus usai skripsinya selesai dan wanita itu bisa mulai membangun karir lebih baik menggunakan ijazah yang ia peroleh dari perguruan tinggi.
Begitu Andah memasuki gerbang kampus, gadis itu mendadak mendapatkan sambutan yang kurang menyenangkan dari beberapa mahasiswa yang berpapasan dengannya. Orang-orang yang ia temui di area kampus nampak sibuk menunjuk-nunjuk diri Andah, dan bahkan saling berbisik saat melihat Andah.
“Ada apa dengan mereka?” gumam Andah merasa aneh saat melihat tatapan orang-orang yang ditemuinya.
Makin banyak orang yang ia temui, makin santer pula terdengar kasak-kusuk orang-orang yang menatap sinis padanya, tanpa Andah tahu sebenarnya apa salah Andah pada mereka. “Sebenarnya, apa yang terjadi? Kenapa mereka melihatku dengan tatapan seperti itu?” gerutu Andah.
Wanita itu pun akhirnya melihat salah satu papan bulletin kampus yang berisi pengumuman mencengangkan tentang dirinya. Ya, alasan Andah menjadi pusat perhatian di kampus pada hari itu adalah karena sebuah pengumuman yang dipajang di papan bulletin universitas.
“Apa-apaan ini?” geram Andah saat melihat fotonya dijadikan tontonan dan dirinya dijadikan bahan cibiran oleh warga kampus karena kabar miring yang disebarkan tentang dirinya. “Siapa yang melakukan hal ini?”
****
__ADS_1