Gadis Penari & Tuan Amnesia

Gadis Penari & Tuan Amnesia
53. Mengulang Kenangan


__ADS_3

Geon kaget sekaligus tergagap secara bersamaan. Pertanyaan Lenanda barusan, mengungkapkan kecurigaan wanita itu terhadap Geon. Buru-buru Geon menyangkal apa tuduhan itu.


"Lenanda, Kenapa kamu bisa berpikir sampai sejauh itu? Sudah kukatakan, aku hanya kasihan padanya, tidak lebih. Tapi, kamu malah berpikir yang aneh-aneh?" Geon terkekeh kikuk untuk menutupi kegugupan yang menjalar dalam hatinya.


'Aku pikir, dia memaksaku untuk ikut serta karena sudah merasa menyesal dan ingin menebus semua kesalahannya. Ternyata, dugaanku salah! Aku terlalu percaya diri,' batin Andah, merutuki dirinya sendiri.


"Yang benar saja? Sejak tadi Andah sudah menolak ajakanmu. Tapi, kamu terus-terusan memaksa. Apa maksudmu, Geon? Kalau dia tidak mau, ya biarkan saja lah!" sentak Lenanda lagi, suaranya sedikit meninggi sehingga memancing perhatian orang-orang yang berlalu lalang.


"Lenanda, ini tempat umum. Tolong jaga emosimu," kecam Geon.


"Kamu lah yang membuatku seperti ini, Geon. Bukannya merasa bersalah dan minta maaf, kamu malah memintaku untuk diam?" Lenanda semakin memperbesar masalah. Perhatian orang-orang tertuju pada mereka.


Sebelum masalah semakin melebar, Geon menarik tangan Lenanda dan Andah secara bersamaan. Dia berjalan secara perlahan, takut terjadi sesuatu pada kandungan Andah jika wanita itu sampai terjatuh atau tersandung.


"Geon, kamu mau membawaku ke mana? Bukannya kita mau makan siang?" Lenanda memberontak. Apalagi, saat melihat Geon juga menggenggam tangan Andah.


"Tidak jadi. Kita pulang saja!" tegas Geon.


"Tapi, kenapa membawanya ikut serta bersama kita? Kamu tidak berniat untuk mengantarnya pulang juga, kan?" selidik Lenanda.


"Memangnya kenapa? Kita jadi pusat perhatian juga karena suaramu yang begitu keras. Kalau aku meninggalkan dia di sana, bukankah dia akan dikerumuni masa?" kelit Geon, wajahnya begitu datar. Seolah sedang memberikan isyarat kalau dia tidak mau dibantah.


"Ya sudah, pesankan saja taksi untuknya!" usul Lenanda, menatap Andah sengit. Padahal, sejak tadi Andah hanya diam saja.


"Tidak usah. Aku akan mengantarkannya," tolak Geon.


Lenanda semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran Geon. "Serius kamu mau mengantar Andah pulang?" tanya Lenanda.


Geon menjawab dengan anggukan kepalanya. Dia membukakan pintu untuk Lenanda, kemudian baru untuk Andah di kursi belakang.


"Jangan seperti in! Biarkan aku pulang sendiri! Aku tidak mau kalian terus bertengkar gara-gara aku!" ujar Andah.


"Masuklah! Ada sesuatu yang harus kita bicarakan!" bisik Geon sangat pelan, hingga Lenanda tidak bisa mencuri dengar.


"Katakan sekarang juga! Jujur saja, aku sudah tidak mau berurusan lagi denganmu." Tatapan dingin Andah tertuju untuk Geon. Hati pria itu merasa sakit, tapi Geon terlalu pintar menyembunyikan perasaannya sendiri.

__ADS_1


"Kita tidak bisa bicara sekarang, Andah. Aku akan mengatakan semuanya nanti. Kamu butuh penjelasan, bukan?" tatapan sayu Geon berhasil membujuk Andah yang keras.


"Oooh, ternyata kamu masih mengingat namaku. Kenapa? Apa karena ada dia?" Andah tersenyum ketir di sela cibiran.


"Dulu, aku memang butuh penjelasan. Kenapa usai kebersamaan indah itu kamu menghilang tanpa kabar? Kamu tahu? Aku menggila mencarimu ke sana ke mari! Oh, ternyata dia sudah mengingat siapa dirinya, tanpa mengabariku. Aku sudah tahu semua. Sekarang aku sudah tidak membutuhkan penjalasan yang memuakkan itu!" Anda menatap Geon dengan hampa.


Akan tetapi, Geon kukuh mendorong Andah untuk tetap masuk ke dalam kendaraannya. Ia memiliki sesuatu yang tidak bisa ia ucapkan saat ini.


"Kenapa kamu masuk, sih? Sengaja mau menggoda calon suamiku, ya?" sungut Lenanda, tak ada lagi keramahan saat Lenanda berbicara dengan Andah.


"Calon suamimu yang memintaku masuk. Jadi, Anda jangan menyalahkan aku," jawab Andah seadanya.


'Calon suamimu itu adalah suamiku. Jadi, siapa yang seharusnya marah?' batin Andah, tersenyum getir karena dia hanya bisa berucap dalam hati.


Lenanda bungkam ketika Geon masuk ke dalam mobil dan mulai melajukan kendaraannya. Semua terdiam, hanya deruan nafas panjang Lenanda yang berulang kali terdengar.


Berulang kali pula Lenanda lirik Andah dari kaca spion tengah. Andah yang tahu dirinya sedang diperhatikan, hanya menyibukkan diri dengan menikmati pemandangan di sepanjang jalan.


Sesekali, Andah mengusap perutnya. Suasana hatinya menjadi berbeda ketika dia berdekatan dengan Ojan, suaminya.


Lenanda menyipitkan matanya. "Geon, ini arah ke rumahku, kan?" tanya Lenanda, menatap Geon yang hanya menjawab dengan anggukan kepala.


"Jika benar begitu, Aku tidak menyangka kalau dia ternyata anak orang kaya," cecar Lenanda terang-terangan.


"Aku akan mengantarmu lebih dulu," ucap Geon, mengalihkan perhatian Lenanda. Wanita langsung bersungut kesal.


"Kenapa aku duluan? Supaya kalian bisa bebas?" Lenanda bersedekap. "Aku tidak mau turun! Aku juga ikut mengantarkan dia." Lenanda mengerucutkan bibirnya, melirik ke arah Geon yang tampak tenang. Sehingga Lenanda berpikir, Geon menyetujui usulannya.


Namun, kenyataannya mobil Geon berhenti tepat di depan rumah Lenanda, wanita itu kembali bersungut kesal pada tunangannya itu.


"Geon, kamu benar-benar tidak mau membawaku ikut serta ya?" Lenanda kembali memastikan.


"Turunlah! Lain kali, kita akan dinner untuk menebus makan siang yang tertunda hari ini," pinta Geon tanpa menatap wajah Lenanda yang menatapnya jengkel.


"Aku tidak mau dinner, Geon. Cukup bawa aku pengantar wanita ini saja, itu sudah cukup! Aku tidak senang membiarkanmu bersama dengan wanita lain," rengek Lenanda tapi berikan efek apa pun. Keputusan Geon tidak bisa diubah.

__ADS_1


"Turunlah! Biasanya, kau selalu menurut," ujar Geon.


"Huh!" Sebelum keluar, Lenanda berdengus kasar ke arah Andah. Lenanda juga membanting pintu dan menendang roda mobil Geon, kesal.


Geon langsung melajukan mobilnya tanpa mempedulikan Lenanda yang melemparkan benda apa saja yang ditemuinya ke arah mobil Geon. Setelah mobil calon suaminya menghilang dari pandangan mata, umpatan beserta cacian keluar dari mulut wanita itu.


Lenanda tidak hati-hatinya mengumpati Andah mengucapkan bahwa Andah wanita yang menggoda Geon, calon suaminya.


"Lihat saja, Andah! Setelah aku mengetahui hubungan yang kalian sembunyikan, aku pasti akan membuat perhitungan denganmu!" tekad Lenanda sambil mengepalkan tinjunya.


Setelah beberapa meter berjalan, Geon menepikan kendaraannya di jalanan yang lumayan sepi. "Pindah!"


Andah sekedar melirik tak bergeming menatap ke luar jendela.


"Duduk di depan!" titah Geon, memutar kepala menatap Andah.


"Aku di sini saja," tolak Andah, membuat semburat wajah Geon yang berubah kesal.


"Aku bukan supirmu. Cepatlah!" desak Geon yang begitu tak sabaran.


Mau tak mau, Andah terpaksa pindah duduk ke kursi depan seperti permintaan Geon. Sesudahnya, keduanya kembali saling bungkam.


"Kebisuan ini, membuatku mengantuk," sindir Andah.


"Hem!" Geon berdehem keras untuk menetralkan suasana hatinya.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Geon, sesekali melirik wajah Andah.


"Seperti yang kamu lihat. Aku baik-baik saja meski tanpamu." Andah memaksakan senyum getir pada bibirnya.


"Kamu terlalu pintar berbohong dan menutupi suasana hatimu," ujar Geon. Kendaraan yang ia bawa berhenti di depan salah satu warung kaki lima.


"Apa kamu masih menyukai tempat seperti ini?" tanya Geon.


Andah mengangguk. "Masih," jawabnya singkat. "Seleraku belum berubah meski suamiku bukan orang miskin." Bibir Andah terulas senyum getir kembali.

__ADS_1


Geon tersentak mendapat sindiran yang tak bisa lagi dibilang halus. Namun, rasa itu ia tepis dengan kilat. "Kalau begitu, tunggu apa lagi? Ayo, kita makan dulu!" ajak Geon.


"Mengulangi kenangan yang pernah kita ukir bersama." Geon tertawa kikuk dalam hati lapuk setelah dipecut.


__ADS_2