
Setelah namanya disebut Andah, Geon akhirnya tersadar dan buru-buru masuk ke dalam mobilnya. Ia langsung meninggalkan Andah yang masih termenung dengan segala kemelut hatinya.
"Ojan? Apakah itu kamu?" seru Andah, berusaha mengejar mobil Ojan yang mulai menjauh darinya.
"Ojan …" lirih Andah, dia tidak mengerti kenapa Ojan bisa berubah. Dari mulai penampilan, bahkan hatinya pun mungkin, telah berubah.
Sedangkan Geon, dia terus menerus memukul stirnya. Berulang kali menyugar rambutnya sampai berantakan. Dia kesal pada dirinya sendiri.
"Sial! Sial! Kenapa aku tidak berhati-hati seperti ini? Aaah, Andah ... dia memang berkuliah di sini. Jika dia sampai mencari tahu segalanya tentangku, maka Lenanda akan tahu kalau aku sudah menikah. Perang dunia ketiga pasti akan terjadi!" seru Geon.
Namun, hatinya tak sependapat dengan logika dan apa yang dikatakan mulut Geon.
Geon kembali memikirkan raut wajah Andah yang begitu senang ketika melihat dirinya. Dia merasa begitu berdosa, seperti telah menipu wanita yang dikasihinya itu.
Mobilnya melaju kencang, banyak mobil-mobil lain yang merasa terganggu dengan kecepatan Geon, tapi pria itu tak peduli. Hatinya sedang kacau dilanda risau tanpa ujung.
Wajah datar Geon memberikan kesan seram tersendiri untuk para karyawannya. Mereka hanya berani menunduk, tanpa berani menyapa langsung menoleh.
"Semenjak sembuh, Pak Geon semakin menyeramkan, ya. Aura dinginnya itu, loh. Membuat aku suka sekaligus takut. Katanya, Pak Geon dan Bu Lenanda akan menikah." Sikap Geon telah menjadi buah bibir di antara para karyawan wanitanya.
Mereka tak segan-segan memperlihatkan kekaguman mereka pada Geon, yang terlihat misterius dan tampan. Di belakangnya, Bram mengekori Geon dan senantiasa menemani ke mana pun sang bos itu pergi.
Di luar gedung perusahaan, Jonathan nampak berdiri di depan pintu dan bersiap untuk masuk. Sebagai mantan dari bos perusahaan tersebut, Jonathan masuk sembari memamerkan senyumannya pada para karyawan, mencoba mencari perhatian pada para karyawan supaya dia bisa menciptakan image ramah pada para karyawan dan lebih digemari dibandingkan Geon.
Namun, tak banyak yang merespon kehadiran bos yang sudah diusir itu. Lebih banyak yang sibuk bekerja tanpa menghiraukan Jonathan sedikit pun.
"Sialan!" umpat Jonathan, tak memperlihatkan wajah kesalnya sama sekali.
'Geon sialan! Aku pasti bisa melampaui ketenaranmu. Dibandingkan denganmu, aku lah yang lebih cocok menjadi Bos dan suami Lenanda!' batinnya sambil mengepalkan tangan.
Jonathan berjalan ke ruangan Geon. Tanpa mengetuk pintu, dia langsung masuk menyelonong. Bunyi decitan pintu mengalihkan perhatian Geon yang sedang memikirkan banyak hal.
"Sampai sekarang kau masih mengira kita sedekat itu, adik tiriku?" ucap Geon, nadanya terdengar sinis tapi tak dihiraukan oleh Jonathan.
"Aku hanya mau menyapamu saja," ujarnya, duduk di sofa sambil melihat-lihat ruangan Geon.
"Aku sedang tidak mau diganggu. Keluarlah!" cecar Geon tanpa menoleh pada lawan bicaranya.
__ADS_1
"Kenapa? Apakah ada yang mengganggu pikiranmu?" Jonathan tak berniat untuk langsung enyah pergi dari sana.
"Keluarlah!" Kini, tatapan Geon setajam pisau yang siap menusuk kapan saja.
"Aku hanya merindukanmu saja! Apa kau puas bisa menikmati semua ini sendirian?" sungut Jonathan.
"Merindukan aku? Kutebak, selama aku menghilang, pasti Ibumu mengaturmu untuk menggantikan aku. Kau cukup senang akan hal itu, bukan? Sekarang, aku sudah kembali, apa niatmu untuk membunuhku masih ada?" Geon tersenyum sinis. Seolah dia sudah bisa menjabarkan semua niatan Jonathan selama ini.
"Mana mungkin aku berniat membunuhmu! Kau sendiri yang sial, kenapa kau malah menyalahkanku?" sangkal Jonathan disertai gelengan kepala.
"Benarkah?" Geon terkekeh. "Baguslah kalau begitu. Berarti, kau cukup tau diri sampai di mana batas kemampuanmu," desis Geon, memancing emosi Jonathan tapi tetap tidak bisa dia lampiaskan.
"Nikmati saja selagi kau bisa! Aku pasti akan kembali untuk merebut bagianku" pamit Jonathan. Langsung pergi tanpa menunggu persetujuan dari Geon.
Setelah Jonathan keluar, Geon tersenyum sinis. Saat berdebat dengan adik tirinya itu, dia bisa melupakan tentang Andah sejenak.
"Apa aku harus selalu berdebat dengan anak sialan itu supaya bisa melupakan Andah?" gumam Geon sambil geleng-geleng kepala.
"Kurasa, ini bukanlah ide buruk," imbuhnya lagi.
Namun, wanita itu tak dapat berkonsentrasi dan terus memikirkan pria yang sangat mirip dengan suaminya, Ojan.
"Sepertinya pria yang memang mirip dengan Ojan itu memiliki hubungan khusus dengan Bu Lenanda," batin Andah mengingat kembali betapa mesranya dosennya itu berjalan bersama dengan pria yang mirip dengan suaminya.
Perbandingan sikap dan penampilan Ojan membuat Andah bingung. Saat dia sedang termenung memikirkan Ojan, tiba-tiba perutnya terasa bergejolak. Ada sesuatu yang ingin memaksa keluar tapi masih ditahan oleh Andah.
'Duh, bagaimana ini? Jika aku membuka mulutku, rasanya isi perutku akan keluar semua,' batin Andah. Dia sudah tidak tahan lagi. Di tengah-tengah lorong yang bangunan yang penuh dengan mahasiswa, Andah langsung berlari menuju toilet hingga tak sengaja menyenggol banyak orang. Sontak, semua pasang mata tertuju ke arahnya.
Wanita itu tak lagi peduli dengan tatapan orang-orang yang melihat sinis ke arahnya. Toh, semua orang memang sudah tahu kalau Andah memang tengah mengandung.
"Huek- huek-hue ...."
Andah merasa sedikit lega ketika dia sudah memuntahkan semua isi perutnya. Hingga dia terduduk lemas, menarik nafas panjang dan menghembuskannya lagi.
Saat dia keluar dari kamar mandi, dirinya dibuat terkejut dengan sosok Lenanda yang sudah menatapnya dengan seksama.
"Kenapa kamu muntah-muntah? Kamu sakit?" tanya Lenanda, sedikit cemas pada salah satu mahasiswa kampua ini.
__ADS_1
"I-iya, Bu. Saya lupa sarapan pagi," bohong Andah sambil memaksakan senyumnya.
"Kenapa? Apa kau terlalu terburu-buru? Jangan biasakan kebiasaan buruk itu," tukas Lenanda berpura-pura tidak tahu kalau gosip Andah hamil sudah menyebar ke seluruh penjuru kampus.
Andah kembali tersenyum. Muncul sebuah niat untuk bertanya tentang Ojan pada wanita di depannya. Namun, keraguan masih lebih mendominasi.
'Tapi, jika aku tidak bertanya, sampai kapan pun aku tidak akan menemukan jawabannya,' batin Andah bimbang.
"Kalau masih pusing, lebih baik beristirahat di klinik saja!" Lenanda bersiap-siap hendak pergi.
"Tunggu!" sanggah Andah. Lenanda langsung berbalik dan bertanya.
"Kenapa?"
"Bo-boleh aku bertanya sesuatu?" Andah memberanikan diri untuk angkat bicara.
"Pria tadi pagi itu siapa?" pertanyaan Andah membuat Lenanda bingung.
"Maksudmu, pria yang mana?" tanya Lenanda memastikan sebelum menjawab.
"Yang tadi pagi mengantarkan Anda, Bu," jelas Andah, menatap lekat wajah Lenanda, menantikan sebuah jawaban yang menurutnya sangat penting.
"Kenapa? Tampan, ya?" Lenanda terkekeh kecil.
"Bukan begitu. Saya bertanya hanya untuk memastikan sesuatu saja kok," tangkas Andah, dia tidak ingin disalahpahami oleh Lenanda.
"Dia adalah tunangan tunangan saya. Beberapa minggu lagi kami akan menikah. Nantinya, semua mahasiswa di kampus ini juga akan saya undang, termasuk kamu." Lenanda berujar dengan senyum yang tak luput dari wajahnya.
"Tu-tunangan?" wajah Andah seketika berubah. Dia menunduk dengan wajah muram.
"Benar. Kenapa? Apa kau mengenal Geon?" tanya Lenanda, dia ikut heran dengan perubahan wajah Andah yang terkesan aneh.
"Jadi, nama calon suami Ibu itu, Geon?" tanya Andah yang masih belum percaya dengan semuanya.
"Hum … apa calon suamimu memiliki saudara kembar?" tanya Andah lagi. Dia hanya ingin menuntaskan rasa penasarannya saja.
"Saudara kembar? Kurasa tidak ada," jawab Lenanda lugas sembari menatap Andah curiga.
__ADS_1