Gadis Penari & Tuan Amnesia

Gadis Penari & Tuan Amnesia
31. Kehidupan yang Sebenarnya


__ADS_3

Ojan membuka mata perlahan dan menatap langit-langit ruangan yang ditempatinya dengan pandangan kosong. Pria yang saat ini tengah terbaring di rumah sakit dengan perban di kepala itu, nampak kebingungan dan mencoba mengingat-ingat kembali hal yang terjadi pada dirinya sebelumnya.


Aroma obat yang begitu menyengat, membuat Ojan segera menyadari kalau dirinya saat ini tengah berada di rumah sakit. “Ini … rumah sakit?” gumam Ojan.


Kepala pria itu mulai merasakan sakit yang luar biasa dan memori-memori yang sempat menghilang dari otaknya lekas bermunculan. Nama Geon terus terngiang di kepalanya dan mulai membawa kembali semua ingatan Ojan sebagai Geon, ia teringat akan senyuman Lenanda yang menggelayuti lehernya, bersama segala keagresifan Lenanda kepadanya.


Perawat yang melihat Ojan sudah sadarkan diri, bergegas memanggil dokter untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut pada Ojan. Beruntungnya, kecelakaan yang dialami oleh Ojan sebelumnya tak mengakibatkan luka parah fatal pada organ vital Ojan. Pria itu hanya mengalami cedera kepala ringan yang tidak terlalu membahayakan kondisi Ojan.


“Apa yang terjadi denganku?” gumam Geon.


Sebagian besar ingatan Geon pun mulai pulih dan kembali menjadi Geonino Luke Abraham, seorang pewaris keluarga konglomerat lagi. “Kenapa aku bisa ada di sini?”


Orang yang menabrak Geon pun segera masuk ke ruang rawat pasien dan melihat Geon yang masih terbaring lemah di atas brankar. “Kau baik-baik saja, kan? Dokter bilang tidak ada luka serius,” ujar pria asing yang bertanggung jawab mengurus Geon di rumah sakit itu.


Geon sama sekali tak menggubris perkataan dokter maupun orang-orang yang ada di sekitar ruangannya. Pria itu justru sibuk mencari orang yang dikenalnya di ruangan tempatnya berbaring, tapi sayangnya Geon tidak menemukan siapa pun. “Apa tidak ada keluargaku di sini?” tanya Geon.


“Hanya ada aku di sini,” tukas orang yang menabrak Geon itu. “Aku tidak tahu bagaimana cara menghubungi keluargamu. Aku bisa membantumu kalau kau mau,” tawar orang itu pada Geon.


Tentu saja Geon menyambutnya dengan senang hati. Pria itu segera menghubungi orang-orang yang ia kenal, bukan orang-orang yang berhubungan dengan istrinya, Andah, tapi orang-orang yang mengenal dirinya sebagai Geon. Ya, setelah ingatannya pulih, pastinya Geon ingin kembali ke kehidupannya yang sebenarnya sebagai Geonino, bukan lagi sebagai Ojan, suami dari Andah.


“Lenanda pasti mencari-cari aku,” gumam Geon mengkhawatirkan wanita yang selalu bersamanya, ditinggalkan oleh Geon selama pria itu menghilang saat mengalami amnesia.


“Lenanda, aku sudah kembali! Aku sudah mengingatmu kembali!” Geon benar-benar tak lagi mempedulikan gadis bernama Andah yang sudah merawat dirinya selama pria itu mengalami amnesia. Pria itu juga nampaknya tak menghiraukan lagi dirinya yang masih terikat pernikahan dengan gadis yang dipeluknya semalaman.

__ADS_1


Ah, itu hanyalah perasaan sesaat, ya hanya sesaat. Meskipun ... Pria itu memijit pelipis kiri kanannya. Ia mulai merasa kebingungan.


Di sisi lain, Andah sendiri yang masih merasa kesakitan dan jalannya yang tidak normal, terlihat risau mencari-cari sang suami yang tak kunjung kembali semenjak mencari sarapan. Gadis itu kebingungan mencemaskan sang suami yang awalnya berpamitan pergi mencari sarapan. Namun, sudah berjam-jam berlalu, Ojan tak kunjung muncul di hadapan Andah hingga membuat gadis itu pusing sendiri mencari keberadaan sang suami.


“Permisi, Bu! Apa ada yang melihat Ojan di sekitar sini?” tanya Andah berusaha mencari suaminya di sekitar rumahnya, tapi gadis itu tak dapat menemukan jejak Geon di mana pun.


“Kamu ke mana, Ojan? Kenapa belum juga kembali?” gumam Andah dibuat resah dan gelisah karena pria yang ia kira masih mengalami amnesia itu.


Andah menunggu di rumah hingga larut malam, tapi sayangnya sang suami tak juga menampakkan batang hidungnya. “Semoga Ojan baik-baik saja,” gumam Andah tak tahu lagi ke mana gadis itu harus mencari suaminya.


“Andah, kau tidak memasak makan malam?” tanya Inggrid saat melihat anak tirinya yang sejak tadi hanya melamun di depan pintu dan terus menatap ke arah halaman rumah.


Andah yang sibuk melamun, nampaknya tak menggubris sedikit pun sang ibu tiri yang sejak tadi mengajak dirinya berbicara. “Andah! Kau tidak mendengarku, ya? Kau tidak pergi bekerja?” omel Inggrid dengan suara makin kencang.


“Ojan sudah besar, kan? Untuk apa mengkhawatirkan pria itu? Lebih baik kau memasak makan malam sekarang daripada mengurus pria tidak berguna itu!” ketus Inggrid tanpa menghiraukan sama sekali kecemasan anak tirinya.


Sepanjang malam, Andah dibuat tak dapat tidur karena terus memikirkan Ojan. Gadis itu sudah berniat akan melaporkan orang hilang jika sampai Ojan tidak juga kembali esok hari. “Ojan, kau baik-baik saja sekarang, kan? Tidak apa-apa jika memang kau ada kegiatan di luar sana, yang penting kau tidak terluka,” gumam Andah mengharapkan sang suami segera kembali dengan selamat.


****


“Geon!” Lenanda berlari terurai air mata menghampiri sang tunangan begitu ia membuka pintu ruangan pasien yang ditempati oleh Geon.


Saat ini, Geon telah berkumpul bersama dengan orang-orang yang ada di kehidupan aslinya. Bram, sang asisten, dan Lenanda, tunangannya, kini sudah berkumpul di rumah sakit untuk menjemput dirinya pulang ke mansion tempat Geon tinggal.

__ADS_1


Lenanda terlihat begitu girang dapat berjumpa lagi dengan pria pujaannya, tapi Geon justru merasakan hal aneh dalam dirinya. Sebelumnya, Geon sangat yakin kalau dirinya merindukan Lenanda dan ingin sekali berjumpa dengan Lenanda secepatnya. Namun, setelah ia bertemu dengan tunangannya, pria itu justru tak merasakan apa pun yang istimewa saat dirinya melihat Lenanda yang sudah berdiri di hadapannya.


“Geon, apa yang terjadi padamu? Kau baik-baik saja, kan? Kau menghilang selama berminggu-minggu. Kupikir kau tidak akan kembali lagi,” ujar Lenanda sembari memeluk sang kekasih hati dengan erat.


Bukannya merasa senang mendapatkan pelukan wanita cantik yang sudah ia rindukan, Geon justru merasa sesak dan tak nyaman berada dalam dekapan Andah.


‘Ada apa denganmu, Geon? Bukankah kau sangat merindukan Lenanda? Lenanda lah yang hadir dalam kehidupanmu sebelumnya. Ia adalah calon istrimu!’


‘Andah … Andah bukan siapa-siapa, kan? Andah hanya orang asing yang kebetulan menolongmu saja, kan? Sudah saatnya kau kembali menjadi Geon! Kau bukan lagi Ojan apalagi suami dari Andah! Kau adalah Geon!’ Pria itu berperang dalam hatinya.


“Bos baik-baik saja, Nona. Bos perlu beristirahat!” cetus Bram menyela pertanyaan beruntun dari Lenanda pada Geon.


Geon melepaskan pelukan Lenanda dan menampakkan senyum canggung pada kekasihnya itu. “Aku ingin beristirahat. Aku akan menjelaskannya nanti,” ujar Geon pada Lenanda, yang kemudian mengundang wajah masam dari tunangan Geon itu.


“Aku ingin berbicara dengan Bram. Bisa tolong kau keluar sebentar?” pinta Geon dengan suara lembut, tapi tetap saja Lenanda merasa tersinggung dengan usiran Geon. Dengan berat hati, akhirnya wanita itu pun keluar dari ruangan Geon dan menunggu di luar selama Geon berbicara dengan Bram.


“Apa yang terjadi dengan perusahaanku selama aku menghilang?” tanya Geon dengan sorot mata tajam pada sang asisten yang saat ini masih setia mengurus perusahaannya selama Geon menghilang dan mengalami amnesia.


“Perusahaan saat ini dipimpin oleh Tuan Jonathan dan … seluruh pekerjaan kacau. Kondisi perusahaan cukup buruk dan mengalami kemerosotan,” ungkap Geon memberikan informasi pada sang bos.


Geon meremas kuat kain yang menyelimuti tubuhnya dengan amarah membara. “Bocah itu! Berani sekali dia mengambil alih perusahaan milik ayahku!” geram Geon.


“Lihat saja saat aku kembali nanti! Anita … Jonathan! Kalian akan tamat!” imbuh Geon mulai mempersiapkan diri untuk kembali menduduki tahta yang saat ini diambil alih oleh ibu tiri dan juga adik tirinya yang tidak tahu diri.

__ADS_1


****


__ADS_2