Gadis Penari & Tuan Amnesia

Gadis Penari & Tuan Amnesia
37. Kabar Tak Terduga


__ADS_3

Sudah beberapa hari terakhir, Geon terus saja berkutat mengurus pekerjaan tanpa mempedulikan Lenanda. Wanita yang setiap hari menunggu kabar dari Geon itu mulai muak dan tak tahan lagi menghadapi sikap cuek Geon yang semakin menjadi. Baru saja tempo hari Geon berjanji akan mempertimbangkan tentang pernikahan mereka dan tidak akan membuat Lenanda menunggu lama, tapi beberapa hari berikutnya Geon justru mengabaikan Lenanda dan selalu menjadikan pekerjaan sebagai alasan.


Akhirnya, Lenanda pun memutuskan untuk kembali berkunjung ke kantor, tapi bukan untuk menemui sang kekasih, melainkan berjumpa dengan asisten dari Geon. Rasa penasaran yang sudah meluap membuat Lenanda ingin menggali segala hal yang tidak ia ketahui tentang Geon melalui Bram.


“Bram!” Lenanda melambaikan tangan begitu ia melihat Bram keluar dari lift. Kedua orang itu bergegas mencari tempat yang nyaman untuk berbincang dan tentunya tanpa diketahui oleh Geon.


“Apa yang ingin Nona tanyakan padaku?” tanya Bram begitu dirinya dan Lenanda duduk di sebuah coffee shop yang berada tak jauh dari kantor bersama dengan Lenanda yang mengundang dirinya karena rasa penasaran pada Geon yang sedikit berubah setelah pria itu kembali.


Lenanda menyeruput minumannya sejenak, kemudian melirik ke arah Bram. “Tidak ada topik lain yang bisa kubahas denganmu selain tentang Geon, kan?” cetus Lenanda.


Bram mulai gugup begitu mendengar nama sang bos yang dilayani olehnya. Pria itu tentunya tak ingin terlibat dengan masalah pribadi dua sejoli itu. Informasi yang ia berikan pada Lenanda nantinya mungkin saja bisa memicu pertengkaran antara Lenanda dengan Geon nantinya.


“Kalau ada hal yang ingin Nona tahu tentang Bos, kenapa tidak bertanya langsung saja?” saran Bram dengan kata-kata sesopan mungkin.


“Kalau Geon mau memberitahuku, kau pikir aku akan mencarimu?” sungut Lenanda jengkel.


Bram juga tak kalah jengkel mendengar perkataan Lenanda yang seenaknya. Kalau dari awal Geon saja sudah tak mau memberitahu, bagaimana ia bisa membongkar infromasi yang memang tidak ingin dibagi oleh sang bos pada Lenanda?


“Maaf, Nona! Kalau memang Bos sendiri tidak mau memberitahu Nona, bagaimana bisa aku memberitahu Nona dan membocorkan informasi seenaknya?” sungut Bram.


“Ayolah! Aku hanya akan bertanya sedikit. Dan juga menurutku tidak terlalu pribadi. Kau bersama Geon setiap hari, jadi kupikir kau pasti tahu sesuatu,” bujuk Lenanda tak ingin menyerah. “Aku hanya ingin bertanya saja apa yang dilakukan Geon akhir-akhir ini dan sebenarnya apa yang terjadi dengan Geon saat dia menghilang. Itu saja,” ungkap Lenanda dengan wajah muram.


Melihat wajah memelas Lenanda, Bram menjadi iba pada wanita yang diabaikan oleh Geon selama beberapa pekan ini. Geon memang terlihat lebih sibuk dengan pekerjaannya hingga mengabaikan hal lain, termasuk memberikan perhatian pada tunangannya, Lenanda.

__ADS_1


“Apa kau tidak merasa kalau Geon menjadi sedikit berbeda sejak dia kembali? Atau dia hanya bersikap berbeda kepadaku saja? Atau memang aku melakukan kesalahan?” cecar Lenanda dengan wajah putus asa. “Aku ingin sekali membahas tentang rencana pernikahanku dengan Geon, tapi melihat Geon yang seperti ini, bagaimana aku bisa mendapatkan kesempatan untuk membahas masa depan kami?”


Bram terdiam sejenak dan mendengarkan keluh kesah wanita itu dengan seksama. Pria itu juga tak tahu banyak mengenai hal yang terjadi pada Geon saat menghilang, karena Geon sendiri memang menutupinya dari siapa pun. “Aku akui, Bos memang sedikit berbeda sejak kembali. Bos terlihat seperti kurang bersemangat, tapi aku tidak tahu apa yang sedang dikhawatirkan oleh Bos dan aku juga tidak berhak untuk mencari tahu. Mungkin saja Bos memang sedang ada masalah pribadi yang ingin dia selesaikan sendiri,” terang Bram.


“Selama beberapa pekan ini Bos terus mengurus pekerjaan. Jika Nona cemas Bos meluangkan waktu dengan wanita lain, hal itu tidak akan terjadi karena Bos lebih mementingkan pekerjaan dari apa pun. Kondisi perusahaan perlahan sudah mulai membaik sekarang. Setelah semuanya kembali normal, aku yakin Bos akan kembali menghubungi Nona,” ujar Bram berusaha bersikap netral dan sebisa mungkin membuat citra Geon tidak jelek di mata Lenanda.


“Begitu, ya? Jadi, Geon memang benar-benar sibuk dengan pekerjaan?” cetus Lenanda. “Apa yang sudah kupikirkan? Kukira Geon sudah bosan padaku dan memang sedang mencoba mengabaikanku dengan alasan pekerjaan,” imbuh Lenanda dengan senyum kecut.


Setidaknya wanita itu tahu kalau Geon memang berkata jujur dan tidak mencoba mencari-cari alasan hanya demi menghindar dari dirinya. “Sepertinya aku terlalu berlebihan, ya? Seharusnya aku tidak melakukan hal seperti ini pada Geon. Aku benar-benar malu pada diriku sendiri.”


“Tidak perlu begitu, Nona! Wajar saja kalau Nona bertanya-tanya mengenai Bos saat sedang tidak bersama seperti ini,” timpal Bram. “Hal terpenting sekarang, Nona harus memupuk kepercayaan pada Bos!”


Meskipun tak mendapatkan cerita apa pun tentang hal yang membuat Geon berubah, tapi setidaknya Lenanda sudah tahu kalau Geon tidak sedang mencoba mencari orang lain untuk mengisi hati pria itu. Lenanda pun mengakhiri pertemuan singkatnya dengan Bram dan kembali ke kampus lagi.


Tak hanya terancam tak bisa pergi ke kampus, Andah juga pastinya tak dapat menari dalam kondisi seperti ini. Gadis itu mulai kebingungan karena dirinya tak memiliki uang untuk membeli obat demi meredakan rasa mualnya sejenak.


“Andah! Sampai kapan kau akan bermalas-malasan begini?” omel Inggrid pada Andah yang masih berbaring di ranjang saat matahari sudah tinggi.


Andah benar-benar tak memiliki tenaga meladeni omelan sang ibu tiri. Gadis itu terus mengeluarkan isi perut sejak pagi dan belum sempat mengisikan makanan lagi pada perutnya yang kosong saat ini.


“Cepat bangun dan masak makan siang! Kau sudah beralasan sejak pagi, kali ini kau juga ingin bermalasan seperti ini?” omel Inggrid membuat kepala Andah makin pening.


Terpaksa, gadis itu pun segera bangkit dan menggunakan sisa uangnya untuk memasak makan siang sederhana, terutama untuk mengurus sang ayah. Dengan wajah pucat, Andah pun juga memaksakan diri berangkat ke kampus, meskipun gadis itu hampir tumbang. Semenjak beberapa waktu terakhir, usai kehilangan Ojan, Andah telah rutin kembali bolak-balik ke kampus demi melanjutkan skripsinya.

__ADS_1


Profesor Yosa telah memberikan kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. Meski hatinya remuk redam, kehilangan seseorang yang bena-benar dicintai, setelah malam itu. Malam yang dia kira indah, ternyata malam menjadi malam petaka.


“Ayo, Andah! Kau tidak boleh membolos hari ini! Aku harus berangkat ke kampus! Aku juga bisa meminta obat gratis di klinik nanti, kan?” gumam Andah mencoba menyemangati diri.


Gadis itu pun akhirnya berangkat ke kampus dengan langkah gontai dan tubuh lesu. Setelah bersusah payah melewati perjalanan berat menuju kampus, akhirnya gadis itu pun sampai juga di pintu gerbang.


Namun, pandangan Andah pun mulai kabur dan matanya lekas berkunang-kunang sebelum gadis itu berhasil sampai menuju ke kelas. Kebetulan sekali, Andah bertemu dengan Bella dan wajah pucat gadis itu tertangkap jelas oleh penglihatan Bella, teman dekatnya.


“Kau baik-baik saja?” tanya Bella pada Andah yang sudah tak sanggup lagi menopang tubuh dan hampir pingsan.


Andah berusaha sekuat tenaga mempertahankan kesadaran dirinya dan berusaha melanjutkan perjalanan. “Hai, Bel, kamu sendirian?” sapa Andah.


“Wajahmu pucat! Kenapa tetap memaksakan diri datang ke kampus? Ayo kita ke klinik dulu,” tawar Bella.


“T-tidak perlu!” tolak Andah.


Bella sama sekali tak menggubris penolakan Andah dan memaksa untuk mengantar ke rumah sakit. Gadis itu melakukan pemeriksaan menyeluruh dari dokter di rumah sakit dan menemukan penyebab kondisi tubuh Andah yang turun beberapa hari belakangan ini.


Tangan gadis itu bergetar begitu ia melihat lembar hasil pemeriksaan yang ia dapatkan dari dokter. Andah benar-benar tak percaya saat menatap kertas di tangannya yang menunjukkan hasil pemeriksaan lab mengenai kondisi tubuhnya.


“Ini tidak mungkin!”


****

__ADS_1


__ADS_2