
Andah langsung berlari menemui Ayahnya, perasaannya jadi tak menentu. Dia sangat takut saat Inggrid bilang Ayahnya kejang-kejang. Namun, saat melihat keadaan ayahnya secara langsung, ternyata semua baik-baik saja, Andah menghela nafas lega.
"Bu, kenapa mengada-ada? Padahal, Ayah baik-baik saja." seru Andah memberengut kesal pada Inggrid.
"Kalau kamu tidak kerja, Ayahmu tidak akan makan. Nanti dia bisa kejang-kejang!" sentak Inggrid tak mau disalahkan.
Andah malas untuk melanjutkan perdebatan. Karena perutnya sudah kenyang, Andah masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Apalagi, seluruh bagian tubuhnya terasa sangat lelah karena dia terlalu banyak berjalan kesana-sini saat mencari pekerjaan baru.
"Mau ke mana kamu?" tanya Inggrid, tatapannya begitu mendiskriminasi.
Andah tak menjawab, dia langsung masuk ke kamarnya. Namun, Inggrid malah menahan pintunya.
"Pasti kamu mau tidur, kan? Asik tidur saja taunya, ya! Kamu itu benar-benar pemalas!" Inggrid berdecak. "Mumpung kamu di rumah, kerjakan pekerjaan rumah sana!" titah Inggrid.
"Maaf, Bu, aku merasa kelelahan. Aku ingin beristirahat sejenak," ujar Andah menolak.
Andah langsung meninggalkan Inggrid dengan perasaan kesal yang membara. Dia tahu, jika Inggrid terus diladeni, maka perdebatan sengit itu tidak akan berakhir.
Di dalam kamarnya, Inggrid menguapkan semua rasa sakit hatinya terhadap Geon. Meskipun mulutnya bisa berbicara untuk ikhlas, tetapi hatinya tidak bisa melakukan itu.
Berselang lima menit, Inggrid kembali mengetuk pintu kamar Andah. Membuat wanita itu kesal, tetapi dia tetap membukakan pintu untuk ibu tirinya itu.
"Kenapa lagi, Bu?" tanya Andah.
"Kamu habis menangis? Menangisi siapa? Anak bodoh itu?" cecar Inggrid ketus.
"Kalau tidak ada yang penting, Aku tutup lagi pintunya," ucap Andah.
__ADS_1
"Teman kamu yang bernama Yana ada di depan. Dia datang mencarimu!" ucap Inggrid kemudian langsung melenggang pergi begitu saja.
Mendengar Kak Yana datang, Andah bergegas ke depan dan menemui sahabatnya itu. Melihat Andah menghampirinya, Kak Yana langsung memeluk Andah.
"Andah, kamu apa kabar? Kenapa tidak pernah mengabariku lagi?" tanya Kak Yana, melerai pelukan mereka dan duduk di bangku tua rumah Andah.
"Maaf, Kak, selama ini aku terlalu sibuk mencari pekerjaan baru ke sana kemari. Kakak pasti sangat tahu bagaimana keadaanku. Jadi, aku tidak bisa diam saja. Aku harus membiayai ayah dan calon anakku ini," ujar Andah bercerita sambil tersenyum kecut.
"Maaf karena aku tidak bisa membantumu banyak. Semoga kau bisa cepat menemukan pekerjaan lain yang lebih baik," tukas Kak Yana.
"Aku juga sudah berusaha mencari client untuk web design, tapi aku belum lagi mendapatkan client sampai saat ini. Sudah beberapa hari ini aku terlontang-lantung mencari pekerjaan di luar sana, tapi masih belum juga membuahkan hasil," ucap Andah, ketabahan hati Andah membuat kak Yana kagum.
"Kak …." panggil Andah.
"Hum?" Kak Yana siap mendengarkan keluh kesah sahabatnya itu.
"Ojan akan menikah? Dengan siapa?" Kak Yana terlihat menggebu-gebu ingin mengetahui yang sebenarnya.
Andah kembali tersenyum. "Bukan Ojan, Kak. Namanya Geonnino Luke Abraham!" ucap Andah.
"Geonnino Luke Abraham? Bukankah dia pemilik perusahaan terbesar?" Kak Yana nampak kaget mendengar fakta baru dari Andah.
"Entahlah, Kak, yang penting dia akan menikah dengan tunangannya. Mereka pun sudah bertunangan sebelum Ojan menikah denganku. Apa itu artinya aku yang menjadi orang ketiga diantara hubungan mereka? Kalau memang kenyataannya seperti itu, berarti aku lah yang harus tahu diri dan melupakan semua kisahku bersama Ojan. Sebab, Ojan milikku!" ujar Andah. Mendengar nada bicara Andah saja, kak Yana sudah cukup mengerti, seberapa besar rasa kecewa yang kini sedang menggantung di hati Andah.
"Apa dia mengatakan sesuatu padamu?" tanya Kak Yana lagi.
"Ya." Andah mengangguk membenarkan. "Katanya, pernikahan kami ini sebuah kesalahan. Wanita yang paling dicintainya tetaplah Lenanda, bukan aku."
__ADS_1
Kak Yana menarik tubuh Andah ke dalam pelukannya. Air mata yang sempat Andah simpan kembali terburai dalam pelukan kak Yana.
"Sudah, sudah, kamu tidak perlu lagi menangisi pria itu. Apalagi, sekarang semuanya sudah jelas. Dia sudah menyatakan perasaannya yang mencintai wanita lain. Kamu kuat, Andah!"
Andah mengangguk. "Sejak awal dia berpura-pura tidak mengenalku, aku memang sudah melupakannya. Tetapi, saat dia mengatakan mencintai wanita lain, aku tetap tidak bisa menyimpan rasa sedihku, Kak!" Andah kembali mengadu.
Usapan lembut dari tangan kak Yana membuat Andah perlahan menjadi tenang.
"Terima kasih suka karena sudah mau mendengarkan keluh kesah dan rasa sakit hatiku, Kak. Ngomong-ngomong, Kenapa Kakak datang ke sini?" tanya Andah. Andah melirik ke atas meja, terdapat banyak sekali bungkusan yang Andah sendiri tidak mengetahui isinya.
"Aku hanya ingin menemuimu saja kok," ucap Kak Andah, mendorong semua kantong plastik berisi makanan ke hadapan Andah. "Ini untukmu. Aku membawakan banyak makanan sesuai permintaanmu hari itu. Benar, bukan?" Kak Yana terkekeh.
"Ahhh… aku hanya bercanda saja, Kak! Kenapa kakak malah benar-benar membawakannya?" Andah tersenyum senang. Dia langsung membuka salah satu bungkusan makanan dan memakannya dengan lahap.
"Walaupun kamu bercanda aku tetap akan membawakannya, Andah. Aku membawakannya bukan untukmu, tapi untuk calon keponakanku ini!" Kak Yana menunjuk ke arah perut Andah. Perutnya semakin terlihat membuncit ketika Andah menggunakan baju rumahan.
"Kak, apa Mami Lova yang memintamu datang ke sini? Aku tau, kemarin sudah jatuh tempo saatnya aku membayar hutang pada Mami. Tapi, aku tidak memiliki uang, Kak." saat mengingat perihal hutangnya pada Mami Lova, makanan yang anda kunyah seakan tak tertelan. Semuanya terasa begitu pahit di mulut wanita itu. Pahit, seperti takdir hidupnya.
Kak Yana ragu untuk berbicara. Tapi, sejurus kemudian dia menganggukkan kepalanya. "Benar, Mami Lova yang memintaku datang ke sini. Sebenarnya, aku juga tidak tega. Tetapi, dia malah mengancam jika aku tidak mau datang menemuimu. Maka dia sendirilah yang akan turun tangan. Aku khawatir dia akan berbuat onar di sini, makanya aku langsung menyetujui permintaannya. Maafkan aku, ya, aku tidak bisa membantumu," ujar Kak Yana.
"Tidak apa-apa, Kak. Aku tau, keadaanmu juga hampir mirip denganku."
Saat mereka sedang berbincang-bincang, melupakan sejenak perihal hutang yang membuat Andah pusing. Ada beberapa orang pria mengenakan jas hitam datang ke rumah Andah. Awalnya, Andah berpikir mereka juga suruhan Mami Lova yang datang untuk mengangkut barang-barang di rumah Andah.
Namun, ketika melihat barang bawaan di tangan mereka, Andah langsung tau jika praduganya salah.
"Siapa kalian?" tanya Andah, tentu dia takut pada orang-orang yang tidak dikenalnya itu.
__ADS_1