
*Maaf ya kakak semua baru bisa update lagi🙏*
"Sayang, kamu harus kuat! Demi anak kita!" Geon memapah tubuh yang telah lemah itu dan berhasil mengangkatnya berjalan cepat menuju lorong rumah sakit.
"Suster! Tolong! Tolong!"
Mendengar teriakan pria yang menggendong wanita yang kesakitan, dengan gesit mereka membawa brangkar dan setengah berlari menuju Geon. Geon dibantu oleh para perawat tersebut segera memindahkan Andah ke atas brangkar dan dibawa ke unit emergensi.
Beberapa perawat dan dokter segera menutup tirai dan membiarkan Geon menunggu sendirian di luar dengan perasaan cemas. "Sayang, bertahan lah ...."
Beberapa waktu kemudian, Dokter muncul dengan raut kusut. "Sepertinya kita harus mengeluarkan bayi dari dalam rahim ibunya."
Geon menggelengkan kepalanya cepat. "Tapi, anak kami belum masuk tujuh bulan, Dok?"
Dokter memegang pundak Geon. "Ini pilihan hidup atau m4ti. Jika dibiarkan, maka keduanya akan dalam keadaan bahaya."
"Tapi anak kami—"
"Putuskan sekarang juga!" Dokter menyela karena waktu semakin sempit.
Geon menundukan kepala pasrah. "Baik lah, Dok. Lakukan yang terbaik untuk keduanya."
Dokter melirik perawat yang ada di belakangnya. "Siap kan surat izin dan surat pernyataan untuk suami pasien! Jangan lupa harus segera ditandatangani!"
__ADS_1
"Baik, Dok." Perawat menuju ruang administrasi dan menyerahkan surat-surat yang harus ditandatangani oleh Geon dengan segera.
Setelah ditandatangani, Geon menatap perawat itu dengan wajah penuh harap. "Sus, saya mohon selamatkan istri dan anak saya. Berapa pun akan saya bayar asalkan mereka berdua selamat!"
"Bapak banyak berdoa ya? Kami tim medis akan berusaha sebaik mungkin." Perawat tersebut kembali masuk ke ruang darurat tadi. Dan tak lama kemudian, Andah dikeluarkan dari sana menuju ruang operasi. Geon mengikuti sembari menggenggam tangan istrinya.
"A-anak kita?" rintih Andah sayu.
"Sayaang, semua akan baik-baik saja. Bertahan lah!"
Mereka semua membawa Andah masuk ke dalam ruangan mencegah Geon untuk turut serta dalam operasi kali ini.
"Tapi biasanya suami dibolehkan turut serta dalam operasi persalinan caesar, Sus?"
Tiba-tiba, rautnya berubah penuh dendam dan amarah. "Awas kalian!"
Geon mencari kontak milik Bram, sang asisten kepercayaan. "Cepat buat laporan agara Jonathan dan Lenanada ditangkap!"
"Jonathan tentu dengan senang hati, Tuan. Tapi, Lenanda? Bukan kah Anda pernah mencintainya?" tanya Bram dengan rasa heran.
"Persetan dengan masa lalu! Sekarag cepat laporkan mereka berdua ke pihak kepolisian! Dan, jangan beri maaf! Laporan atas tindak percobaan pembunuh4n!" Suara Geon begitu tinggi membuat semua orang yang ada di sekitar sana memperhatikan mereka.
"Ba-baik lah, Tuan," jawab Bram gugup. Ini untuk pertama kali ia mendapat cecaran amarah secara langsung dari Geon.
__ADS_1
Panggilan terputus dan sepi kembali menemani Geon yang masih menunggu kabar tentang proses persalinan istrinya jalur caesar. Tak beberapa lama, ponsel Geon kembali bergetar, masih dari Bram.
"Tuan, mereka telah dibawa ke kantor polisi ternyata," jelas Bram.
"Bagus! Pastikan mereka mendekam dalam kurun waktu yang sangat lama! Apalagi Jonathan!"
"Tapi, bagaimana dengan Lenanda?" Bram masih terdengar keberatan jika Lenanda turut disertakan dalam buncahan ledakan amarah ini.
"Bisa melalukan perintah tanpa harus protes? Atau kau akan saya pecat?" Nada Geon kembali meninggi.
"Ba-baik Tuan. Maafkan saya."
Setelah panggilan ditutup, hening kembali menjalar dalam hati Geon. Rasa kalut dalam pikirannya membuat ia tidak bisa berpikir dengan jernih.
Setengah jam kemudian, tampak perawat keluar mendorong box bayi yang dilengkapi barbagai macam peralatan.
"Ba-bagaimana kondisi bayi kami, Sus?" Wajah Geon tampak gugup memandangi bayi yang tak melebihi genggaman orang dewasa, dipenuhi peralatan dalam tubuhnya.
...****************...
Sembari Menunggu update-an author berikutnya, yuk mampir pada karya temen Author juga yaau
__ADS_1