Gadis Penari & Tuan Amnesia

Gadis Penari & Tuan Amnesia
72. Kedatangan Lenanda


__ADS_3

"Andaaah, Ojan sakiiit ...." Dia merengek mengingatkannya Andah pada bayi besar kesayangannya yang telah hilang.


Andah hampir saja bergerak mendekati Ojan, tetapi langkahnya terhenti. "Kau bukan Ojan!"


Geon bangkit memegangi sikutnya yang terasa perih. "Ojan sakiiit," rengeknya mengadu pada Andah.


Andah mendorongnya. "Jangan deket-deket!"


"Aaa, Ojan sakiit ...."


Entah kenapa, melihat Geon seperti itu membuat Andah menjadi geli. Ia memilih keluar dari kamar. Setelah mengenal Geon, melihat dia berlaku sebagai Ojan, ada rasa aneh yang membuat perasaannya menjadi jijiik.


"Jangan seperti itu! Aku tak suka!"


Geon melihat reaksi Andah malah tertawa geli. "Aaah, Andaaah. Ayo obatin!" Geon kembali mendekati Andah.


Andah mendorong Geon kembali masuk ke kamar mandi. "Bersihkan diri dulu sanah!"


*


*


*


Di dalam kendaraan, suasana hening menghantui pasangan itu berjalan di heningnya malam. Geon melirik Andah mencoba menarik tangan Andah. Sang istri mendorong tangan itu membuang muka.


"Kenapa kau marah? Kan kamu sendiri yang menjawab panggilan itu? Aku sudah melarangmu."

__ADS_1


"Tapi kau sudah tidur dengannya!?"


Geon menginjak rem sejadinya. Hal ini membuat tubuh Andah terguncang hampir membentur dasbor depan kendaraannya. Dengan cepat, Geon menarik Andah ke dalam pelukannya.


Beberapa waktu, hening kembali mengiringi suasana di antara mereka dalam pelukan. Andah yang tadinya tampak shock, perlahan telah mengendor dan napasnya tak lagi.


"Kamu nggak apa kan?" bisik Geon.


Andah masih hening mencoba untuk menenangkan pikirannya dalam pelukan suaminya ini.


"Makanya, kamu jangan bicara yang tidak-tidak di saat aku sedang menyetir. Harusnya kamu memasang sabuk pengaman."


Andah masih hening. Dia mengusap perutnya. Ketika usapan itu mendapat respon sebuah tendangan dari sebuah nyawa yang ada di dalam, Andah baru bisa merasa lega.


"Syukur lah, Sayang," gumamnya.


"Apaan sih? Bahasamu itu terlalu tinggi. Anakku tak akan mengerti apa yang kamu katakan." Andah mencabik melirik Geon di ujung matanya.


"Kenapa kamu malah marah-marah seperti ini? Sedangkan kamu melarangku marah ketika memamerkan kemolekan tubuhmu menari-nari di tempat itu."


Andah hening, ia menyadari apa yang dikatakan Geon memamg benar. Teringat akan segala larangan Ojan, untuk tidak menari lagi di tempat Mamih Lova. "Itu beda konsep. Saat itu demi memenuhi kebutuhan hidup."


"Lalu apa bedanya aku dengan Lenanda? Kami memang sudah dekat semenjak aku masih duduk di bangku sekolah. Namun, percaya lah ... hanya kamu yang mampu memorak-porandakan jiwaku."


"Lebay," desis sang istri.


"Kamu jangan marah-marah terus! Aku ini sungguh-sungguh, kamu adalah orang yang pertama."

__ADS_1


Andah menghela napas dan kembali hening. Geon mengecup kening wanita yang berada dalam pelukannya itu. Ia membelai rambut panjang Andah, dengan lembut. "Maafkan aku, aku yang salah."


Andah mendongak menatap wajah suaminya. "Kenapa minta maaf? Bukannya nggak ngaku salah?"


"Iya ... Pokoknya aku salah. Aku minta maaf atas segalanya."


Andah kembali menyembunyikan wajahnya dalam dada Geon membalas pelukan itu. Setelah begini, Geon baru bisa merasa lega. "Love you, Honey ...." Ia mengecup kening Andah sekali lagi.


*


*


*


Keesokan hari, pagi-pagi Lenanda sudah berada di mansion keluarga Abraham. Ia memaksa masuk meskipun pengaman sudah menghalanginya.


"Geon! Tega sekali kau memerintahkan para satpam itu menghalangi kedatanganku?" Lenanda berteriak-teriak memaksa masuk ke dalam rumah.


Geon yang masih berada dalam kamar melirik ke arah pintu, wajahnya mengerut. Saat ini, tangannya sedang scrolling update informasi bisnis terbaru. Sementara itu, istrinya sedang membersihkan diri di dalam kamar mandi.


"Geoon! Keluar laaah!" teriakan itu kembali terdengar.


Helaan napas berat membuat pria yang masih mengenakan piyama itu bangkit dan keluar dari kamarnya. Melihat Geon muncul, Lenanda menyeringai. Dia mendekat dengan wajah sumringah mendekap masuk memeluk Geon.


"Aku tahu, sebenarnya kamu hanya main-main dengannya kan? Kamu hanya sekedar merasa hutang budi dengannya kan?"


Andah baru saja keluar dari kamar mandi. Tidak mendapati suaminya dalam kamar, ia pun menuju keluar dan saat membuka pintu, ia melihat suaminya tengah berpelukan dengan Lenanda yang sesegukan dalam dada Geon.

__ADS_1


__ADS_2