
Andah mulai menjalani hari-harinya seperti biasa. Sepulang bimbingan dari kampus, Andah menyempatkan waktu untuk mencari pekerjaan sampingan. Dia sangat sadar, dirinya membutuhkan banyak uang untuk membiayai anak yang masih berada dalam kandungannya, dan sang ayah yang saat ini masih terbaring di tempat tidur.
Ternyata menjadi web design itu tidak laj segampang yang ia pikirkan. Di mana tidak semua orang mau memakai jasa yang ia tawarkan. Saingan yang terlalu banyak dengan hasil yang jauh lebih keren dibanding dia yang baru masuk ke dalam dunia tersebut. Kali ini dengan terpaksa, Andah membawa bayi di dalam perutnya untuk berkeliling sekedar mencari pekerjaan.
"Maaf, kami sedang tidak membuka lowongan." Dalam satu hari ini saja, entah sudah berapa kali Andah mendengar kata-kata seperti itu.
Andah hanya bisa tersenyum sambil menghela nafas dalam menghadapinya. Andah membawa langkahnya keluar dari toko mainan anak setelah mendapat penolakan untuk kesekian kali.
"Bahkan, aku juga tidak diterima di sini," ujar Andah, mengusap lembut perutnya yang mulai membuncit. Hari-hari yang berlalu, Andah habiskan untuk terus belajar supaya dia bisa mencapai apa yang diinginkannya.
"Aku harus pergi ke mana lagi? Hutang Mami Lova belum terbayar sepersen pun, hingga saat ini. Aku harus cari uang di mana?" gumam Andah, mulai kebingungan dengan segala kerumitan hidupnya. Tapi, Andah tidak pernah menyesali dengan apa yang sudah dia lewatkan. Andah menjadikan semuanya sebagai pelajaran hidup.
Andah berjalan keluar dari mall dengan langkah gontai. Entah sudah berapa banyak toko yang dia masuki, tetapi tak ada satu pun yang mau menerimanya bekerja. Salah satu faktor terbesar mereka menolak Andah karena saat ini wanita itu sedang mengandung.
"Apa benar ruang gerak seorang wanita hamil sangat terbatas? Padahal aku sudah berjanji akan bekerja dengan rajin, tetapi mereka masih tetap menolakku dengan alasan yang sama. Huh… sungguh mengesalkan!"
Andah menghembuskan nafas pelan. Perutnya sudah sangat kelaparan, bibirnya juga mulai kering. Andah tau, bayinya membutuhkan asupan. Namun, dia juga tidak bisa berbuat banyak. Dia tidak memiliki uang walau hanya sekedar untuk membeli makanan.
"Sayang, kita akan makan di mana?" tanya seorang wanita yang sedang bergelayut manja panjang lengan kekasihnya.
"Terserah kamu saja," jawab si pria yang terkesan acuh.
Namun, bukan keacuhan pria itu yang menarik perhatian Andah. Melainkan suara pria tersebut yang terdengar tidak asing bagi Andah. Spontan, Andah mendongak, memastikan penglihatannya lagi.
'Ternyata dugaanku benar. Memang dia,' batin Andah, berusaha untuk tidak peduli pada dua orang yang sedang bermesraan itu.
Andah berjalan sambil menundukkan kepalanya melewati mereka. Akan tetapi, wajah itu masih dikenali oleh Lenanda.
"Andah!" Entah sengaja atau tidak, Lenanda malah memanggil Andah dan meminta waktu Andah.
Setelah Andah mendongak, Lenanda langsung memamerkan senyum di wajah cantiknya. "Ternyata memang benar kamu. Kupikir, aku tadi salah lihat," ucap Lenanda, semakin mengeratkan pelukannya pada lengan Geon.
__ADS_1
"Andah, ternyata kamu lagi hamil, ya?" tanya Lenanda, menutup mulutnya seolah terkejut dengan fakta ini baru ia ketahui.
"I-iya, Bu," jawab Andah sopan.
"Pantas saja semua mahasiswa di kampus kita, beberapa waktu lalu membulimu. Ternyata, kamu memang benar-benar hamil," tukas Lenanda lagi melirik pada pria yang sengaja ia dekap erat.
"Di mana suami kamu?" tanya Lenanda.
Entah dendam apa yang tersirat di sana, membuatnya berhasrat untuk menyentil salah satu mahasiswa di kampusnya ini. Seakan dia ingin terus mempermalukan Andah di depan Geon.
Saat pertanyaan itu dilayangkan Lenanda, tanpa sengaja tatapan Andah beralih pada Geon yang semenjak tadi juga terus memperhatikan perut Andah dalam diamnya.
"Suamiku … sudah pergi. Aku juga tidak mengetahui keberadaannya sekarang." Andah segera mengakhiri tatapan singkat mereka.
"Kasihan sekali kamu, Andah!" terdengar nada ejekan dibalut rasa simpati dari suara Lenanda barusan.
Andah tak berkomentar banyak. Dia hanya mengulas senyum sopan. "Bu, saya permisi dulu, ya." Andah merasa tak nyaman dicecar seperti ini oleh Lenanda.
Kruyuk kruyuk
Suara perut Andah juga terdengar oleh Geon. Pria itu menatap wajah Andah yang menyiratkan rasa malu karena suara perutnya terdengar. "Kamu belum makan?" tanpa sengaja pertanyaan dengan sirat kekhawatiran itu tercetus oleh Geon.
Andah hanya diam, tetapi ia menggigit jari menahan rasa lapar ini. Bagaimanapun Andah tak ingin terlihat lemah di hadapan laki-laki yang tidak menganggapnya lagi.
Namun, Geon yang tiba-tiba menjadi perhatian membuat Lenanda kesal. Dia menghunuskan tatapan tajamnya pada Geon tapi tidak digubris oleh pria itu. Akhirnya ia memutar otak.
Lenanda menyembunyikan rasa kesalnya. Menunjukkan kemurahan hatinya dengan mengajak Andah bergabung bersama mereka.
"Kalau begitu, kita makan bersama saja. Kebetulan, kami juga mau makan siang. Jangan khawatir, calon suamiku yang akan mentraktirmu," ucap Lenanda sambil menepuk pelan lengan Andah.
Dalam hatinya Lenanda tertawa riang. Dia mengira, Geon pasti tidak akan setuju jika Andah bergabung bersama mereka.
__ADS_1
"Benar. Ayo, bergabung bersama kami saja. Biar aku yang akan membelikan semuanya untukmu!" ajak Geon.
Namun, ternyata tebakannya itu langsung dibantah oleh kenyataan. Dari yang paling tidak diduga Lenanda, pria dingin yang sangat susah diambil hatinya ini malah tersenyum kepada Andah. Senyuman tampak tulus dan ia sendiri jarang mendapatkannya.
Andah menggelengkan kepala. Dia masih cukup tahu diri, makanya menolak ajakan Geon dan Lenanda. Melihat respon Andah, Lenanda cukup senang dan puas.
‘Bagus kalau kau masih tau diri. Awas saja kalau kau berani untuk mengiyakan ajakan calon suamiku!’ batin Lenanda menggeram kesal.
"Kenapa? Hanya sekedar makan siang bersama begini, aku rasa tidak masalah. Lagipula, kasihan calon anak … mu. Ia pasti sudah lapar juga, bukan?" ucap Geon tak memutuskan pandangannya kepada wanita hamil yang tepat berada di hadapannya.
Lenanda membesarkan mata semakin takjub dengan perubahan sikap Geon pada Andah. Lenanda tak percaya pria yang ini sangat perhatian kepada Andah. ‘Geon membujuknya?’ batin Lenanda membuat tanda tanya besar.
"Tidak apa-apa. Aku makan di rumah saja. Kalian nikmati saja kebersamaan yang indah itu! Aku permisi dulu!" Ketika Andah hendak melewati mereka, lengannya dicekal oleh Geon.
Mata Lenanda sampai hampir keluar memperhatikan tangan Geon yang menggenggaman lengan Andah.
"Mau ke mana!" cegah Geon.
"Ada apa lagi?" Andah merasa risih, cepat-cepat menepis tangan pria yang sampai sekarang masih menjadi suaminya.
"Kenapa tidak mau menerima ajakan dosenmu? Bukankah itu sangat tidak sopan?" ternyata Geon masih berusaha untuk membujuk Andah.
Andah melirik Lenanda yang kini tak lagi menyembunyikan wajah kesalnya. Terang-terangan Lenanda menunjukkan rasa keberatan, tapi Geon tak peduli dengan pendapatnya.
"Bukan begitu, Nan?" Geon meminta tanggapan Lenanda.
"Sayang, ehhm—" Lenanda menggelengkan kepalanya. "Kalau dia tidak mau, kita tidak perlu memaksanya. Biarkan saja dia pulang, mungkin ada sesuatu yang lebih penting yang harus dilakukan!" protes Lenanda.
"Kasihan dia sedang hamil." Alasan tak masuk akal yang diberikan Geon tidak bisa diterima akal sehat Lenanda.
"Sebenarnya, kalian ini ada hubungan apa, sih? Kenapa kamu perhatian sekali padanya? Kenapa sikapmu sangat berbeda dengannya! Jangan-jangan, suami yang dia maksudkan itu, adalah kamu?" tuding Lenanda, menatap Andah dan Geon secara bergantian. Lenanda sudah tidak bisa menutupi rasa cemburunya dan kecurigaannya.
__ADS_1